TITANIC 3D : ONLY A CLASSIC WORKS LIKE MAGIC!

TITANIC 3D

Sutradara : James Cameron

Produksi : 20th Century Fox, Lightstorm Entertainment & Paramount Pictures, 1997,2012 (3D)

Film, memang tak pernah punya formula khusus untuk jadi sebuah klasik. Baik di mata penonton maupun di perolehan box office. Genre apapun punya kesempatan yang sama, namun ada satu celah yang bisa membawanya ke pencapaian itu, yakni sejauh mana kemampuannya bisa mencuri hati. And when they did, word of mouth akan membuat penonton datang berduyun-duyun ke bioskop. The rest, is just magic. Mau dibantai penonton serius hingga kritikus sekali pun, kebanyakan cheesy-cheesy itu tetap jadi faktor paling disukai penonton. Dan sebagian boleh saja berpendapat kemenangannya dengan 11 Oscar dari 14 nominasi di Academy Awards tak layak mengingat dua saingan terberatnya, ‘L.A.Confidential’ atau ‘As Good As It Gets’, yang jauh punya plot lebih serius dan dalam sementara dari sisi ala festival, ‘Titanic’ hanya menyisakan departemen teknis menyajikan sempalan genre disaster secara luarbiasa dibalik lovestory-nya yang cheesy tak kepalang. Oh yeah, the main thing, ‘Titanic’ ini berhasil dengan gemilang mencuri hati, hingga akhirnya bertengger di urutan teratas film terlaris sepanjang masa sejak era-nya, sebelum ditumbangkan oleh ‘Avatar’, yang konsepnya tak jauh beda serta datang dari tangan yang sama. James Cameron.

So the classic works like magic. Dan saat sebuah karya sudah mencapai taraf itu, pencintanya pasti tak akan keberatan datang dan datang lagi menonton produk re-issue-nya untuk sebuah feel nostalgik. Namun mengikuti trend sekarang, Cameron menyajikannya dengan tampilan baru. Polesan 3D, yang kabarnya memakan waktu hingga 60 minggu dengan biaya super mahal, untuk menyambut peringatan 100 tahun tragedi tersebut. Tapi tak bisa disangkal juga, teknologi konversi yang ada sekarang memang masih terbatas untuk source asli 2D. Selain sasaran ke penggemarnya, untuk generasi sekarang yang belum pernah menikmati karya klasik itu di layar lebar, inilah saatnya. So, are you ready to go back to ‘Titanic’?

Sebuah tim eksplorasi yang dipimpin oleh Brock Lovett (Bill Paxton) menelusuri jejak kapal legendaris RMS Titanic yang sudah karam di dasar lautan atas tragedi puluhan tahun yang lalu. Sasarannya adalah ‘The Heart of The Ocean’, kalung permata yang disinyalir masih berada di dalam atas tuntutan masa lalu keluarga milyuner Hockley. Namun saat mereka gagal memperolehnya kembali, seorang wanita tua bernama Rose Calvert (Gloria Stuart) yang melihat sebuah penemuan lukisan lewat televisi memaksa cucunya, Lizzy (Suzy Amis) menyusul keatas kapal eksplorasi itu. Rose yang mengaku bahwa dirinyalah yang ada di lukisan wanita telanjang yang tengah mengenakan permata itu, dan sebuah kisah kemudian membawa semuanya kembali ke tragedi ‘Titanic’ yang karam pada pelayaran perdananya saat menabrak gunung es dulu. Sebuah kisah cinta yang mengawali segalanya, antara seorang putri keturunan bangsawan, Rose DeWitt Bukater (Kate Winslet) dengan bocah oportunis miskin dari Chipewa Falls yang bernama Jack Dawson (Leonardo DiCaprio).

Call it on you. Apa yang paling menarik dari ‘Titanic’ sehingga jadi karya se-klasik dan se-legendaris itu? Groundbreaking technical effects-nya yang menggambarkan tragedi itu secara begitu sempurna sekaligus menyayat hati? Atau haru-biru kisah cinta terlarang Jack dan Rose yang mirip Romeo and Juliet? Atau malah themesong karya James Horner yang dibawakan Celine Dion, ‘My Heart Will Go On’ yang sama abadinya dengan filmnya (yang untungnya muncul di saat terakhir pre-produksinya setelah James Cameron menolak themesong ‘In My Arms Again’ yang ditulis Michael W. Smith)? Terserah, namun James Cameron sejak awal memang mengarahkannya jadi sebuah epic lovestory ketimbang rekonstruksi tragedi yang bakal membuatnya jatuh ke genre disaster. Ia berjuang untuk meyakinkan eksekutif 20th Century Fox yang tak punya gambaran bakal seperti apa jadinya ‘Titanic’ dengan genre bertolak belakang dengan film-film aksi science fiction James Cameron, termasuk tentunya franchise ‘The Terminator’ yang sudah menghasilkan pundi-pundi uang berlimpah buat mereka. Cameron bahkan bersikukuh menekankan bahwa beyond any technical achievement, dasar setiap filmnya, adalah sebuah lovestory. Namun ia tak main-main dengan sejarahnya. Berbagai riset hingga memunculkan karakter-karakter historikal yang memang ada dalam kapal mewah itu ikut dimasukkannya ke skenario, selain kru-kru ‘Titanic’, juga beberapa tokoh seperti Margaret ‘Molly’ Brown (Kathy Bates) yang jadi survivor dalam tragedi itu.

Dan ia menggagas keinginan itu dengan sebuah keseimbangan. Lovestory-nya memang digelar dengan pendekatan klise paling ‘murahan’ untuk memikat penonton. Cinta si kaya dan si miskin dalam garis batas penuh penghakiman, keterkungkungan hati dibalik gelar dan kehormatan, tragedi Romeo-Juliet yang dirancang dengan pengorbanan sesedih mungkin hingga dialog-dialog yang sangat cheesy untuk membangun love atmosphere-nya. Pengadeganannya pun tak kalah cheesy. Namun siapa sangka, itulah cara terampuh untuk mencuri hati penontonnya. Quote-quote dan adegan itu lantas jadi begitu memorable. Dari ‘I am the king of the world!’ hingga ‘You jump, I jump’, serta adegan merentang tangan sambil berpelukan di ujung dek kapal itu, sampai sekarang masih kita lihat berulangkali ditiru serta diparodikan di film-film lain. Sementara sempalan historikal berupa rekonstruksi karamnya ‘Titanic’ digagas dengan sisi teknis luarbiasa kolosal untuk zaman itu. Dengan bujet pembuatan termahal di zamannya, sekira 200 juta dolar AS, kita dibuat terperangah hingga mungkin menahan nafas dengan mulut menganga menyaksikan detik demi detik visual kehancuran ‘Titanic’ sampai hilang ditelan lautan dengan kecermatan yang juga sama luarbiasa dari Digital Domain yang mengerjakan efeknya. Kombinasi ampuh yang membuatnya jadi sebuah sajian sinematis bernilai klasik, dan jadi dasar yang sama untuk ‘Avatar’ yang lagi-lagi menorehkan rekor yang kurang lebih sebanding. So at last, how’s the 3D gimmicks?

Yup, ini adalah sebuah teknologi konversi. Mau Cameron dan timnya menghabiskan waktu teramat panjang untuk sebuah konversi, keberadaan source asli 2D-nya mau tak mau akan membuat hasilnya terasa tak semewah yang diharapkan banyak orang. Konversi dari format 2D aslinya memang akan berbeda ketimbang film-film sekarang yang memang sudah diarahkan dari berbagai shot serta editingnya menjadi sebuah 3D. That’s if you open your 3D glasses, objek utama yang mendominasi layar seringkali akan terlihat sama tanpa adanya konversi. Teknologi ini memang baru sampai disana, tak jauh dari sebagian besar 3D konvensional, dimana yang menjadi sasaran buat dikonversi lebih ke objek-objek latar untuk memberi kesan objek utamanya terasa timbul ke depan. Namun begitu, bukan lantas berarti kesan timbul itu tak muncul sama sekali. Dan Cameron pun merombak beberapa part seperti tampilan bintang-bintang yang atas saran seorang ahli terlihat tak akurat. Bedanya tak akan terlihat jauh dengan yang ada di film aslinya, tapi tetap akan terasa lebih mewah lagi. And so, sama seperti produk aslinya, resepsi terhadap pendekatan lovestory klise dan cheesy yang menampilkan pesona DiCaprio muda yang masih kurus bersama poni lemparnya berikut tubuh sintal Kate Winslet yang jauh lebih gempal dari sekarang itu akan mengundang persepsi yang berbeda. Ada yang menganggapnya percuma, sekedar aji  mumpung, sementara sebagian penggemarnya akan merasakan nostalgia luarbiasa dengan sebuah penekanan lebih, dan yang belum pernah menikmatinya di layar lebar sudah pasti ingin merasakan pengalaman bersejarah ini. As to me, tak pernah ada kata percuma untuk mengulang lagi sebuah karya dengan nilai klasik. Even over and over. Mau ditambah gimmick atau tidak, mau menghabiskan 3 jam lebih durasinya pun, a classic, will still work like magic! (dan)

~ by danieldokter on April 5, 2012.

2 Responses to “TITANIC 3D : ONLY A CLASSIC WORKS LIKE MAGIC!”

  1. Hmmm, klo gw sich, gimana ya, mendingan nonton Battleship 2x di bioskop daripada Titanic… Hehe…😀

  2. […] Titanic 3D […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: