SANUBARI JAKARTA : NOT PERVERSIONS, JUST HEARTS

SANUBARI JAKARTA

Sutradara : Tika Pramesti, Dinda Kanyadewi, Lola Amaria, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Adriyanto Dewo, Billy Christian, Kirana Larasati, Fira Sofiana & Sim F.

Produksi : Kresna Duta Foundation, Ardhanary Foundation, Fond Foundation, 2012

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), sekarang mencuat menjadi singkatan yang lazim digunakan untuk menghaluskan anggapan kelainan seksual yang tak lagi jadi fenomena serba tertutup di kehidupan kaum urban. Dan bahwa orientasi seksual ini merupakan pilihan, memang mengharuskan kita tak lagi menghakimi mereka sebagai sebuah kesalahan. Lewat usaha seorang Lola Amaria, yang mengajak serta 9 sutradara muda lainnya untuk membesut masing-masing segmen film mereka secara independen dalam sebuah omnibus yang sedang jadi trend, ‘Sanubari Jakarta’ punya misi dibalik fenomena itu. Dulu sebenarnya sudah ada film kita yang membahas soal waria dan transgender dalam pendekatan mirip, ‘Mereka Memang Ada‘ (1982) arahan Mardali Syarief namun peredarannya di tahun 1982 tersandung resepsi yang belum se-terbuka sekarang meskipun film itu sempat diikutsertakan dalam festival film gay dan lesbian di AS tahun 1984. Ah, mari tak meributkan perbedaan pendapat yang mungkin masih punya persepsi berbeda-beda di masyarakat kita, namun memandangnya sebagai sebuah karya. Sebuah gerilya sinematis yang jauh lebih penting untuk tendensi genre yang beragam, sekaligus regenerasi bakat-bakat baru dalam sinema kita. 10 Sutradara, 10 Kisah, 10 Cinta. ‘Sanubari Jakarta’ memang merupakan sebuah love omnibus yang sangat layak untuk dinikmati dengan kedalaman hati. Now let’s go to each segments.

1/2 (Sutradara : Tika Pramesti)

Kisah tentang hubungan dua orang pria, Abi (Irfan Guchi) dan Biyan (Hernaz Patria), serta seorang wanita, Anna (Pevita Pearce) yang hadir di tengah mereka. ½ menjadi pembuka yang sangat menarik dengan tone melankolis serta segmentasi warna dibalik landscape panoramik yang cantik. Dan akting Pevita Pearce yang natural, selalu asyik buat disimak.

Malam Ini Aku Cantik (Sutradara : Dinda Kanyadewi)

Kisah tentang Agus (Dimas Hary CP) dibalik dilema dan tujuannya melakoni profesi sebagai seorang waria. Diangkat dari cerpen berjudul sama, segmen ini tak bermain dengan surealitas dan senjata sinematis lain secara berlebihan. Cukup dengan penyampaian yang mengalir linear dengan narasi, tapi penuh dengan emosi, serta berani. Dinda Kanyadewi sudah menunjukkan bakatnya sebagai seorang sutradara.

Lumba-Lumba (Sutradara : Lola Amaria)

Seorang guru TK, Adinda (Dinda Kanyadewi) yang suka mengajarkan tentang lumba-lumba pada anak didiknya, bertemu dan menjalin hubungan dekat dengan Anggya (Ruth Pakpahan), ibu dari salah seorang muridnya. Ini segmen yang kelihatan biasa saja, namun metafora lumba-lumba yang beberapa spesiesnya merupakan hermaprodit dan memiliki perilaku homoseksual membuatnya jadi lebih menarik. Twist kecil di akhir, karakter Agastya Kandou sebagai suami Anggya serta chemistry Dinda dan Ruth juga hadir dengan baik.

Terhubung (Sutradara : Alfrits John Robert)

Dua wanita dengan latar masalah berbeda, Agatha (Permatasari Harahap) dan Kartika (Illfie) bertemu di sebuah toko secara tak sengaja. Alur yang tricky harusnya bisa jadi lebih menarik serta unik, namun sayangnya hadir dengan eksekusi tak maksimal. Castnya pun tampil tanpa memberikan kesan lebih. Sayang sekali.

Kentang (Sutradara : Aline Jusria)

Kentang di segmen keempat ternyata dilanjutkan dengan eksekusi segmen kelima yang sangat baik. Pasangan homoseksual Acel (Gia Partawinata) dan Drajat (Hafez Ali) yang penuh konflik melepas kerinduan mereka di sebuah kamar kos, and everything went berserk. ‘Kentang’ punya dialog-dialog yang sangat kicking, mengundang ledakan tawa dalam naskah mantap dan single set, dan diterjemahkan dengan baik pula oleh dua pemerannya dibalik chemistry mereka yang sangat kompak. Absolutely the most entertaining highlight dari ‘Sanubari Jakarta’.

Menunggu Warna (Sutradara : Adriyanto Dewo)

Pembesut segmen ‘Pasar Setan’ dalam omnibus ‘Hi5teria’, Adriyanto Dewo,  menunjukkan kekuatan yang makin besar di segmen ini. Dibalik kisah Satrio (Rangga Djoned) dan Adam (Albert Halim) yang berlanjut menjadi pasangan ketika bertemu di sebuah lampu merah, segmen ini hadir dengan penyajian B&W dan tanpa dialog, namun bicara dengan sangat lantang. Sesuai judulnya, twist dan eksekusi endingnya digagas dengan metafora visual yang menjadi poin terbesar atas tema omnibus ini secara keseluruhan terhadap sebuah resepsi dan pengakuan. Luar biasa.

Pembalut (Sutradara : Billy Christian)

Sama dengan ‘Menunggu Warna’, ‘Pembalut’ juga mencatat salah satu sutradara dari ‘Hi5teria’, Billy Christian (segmen ‘Kotak Musik’). Premisnya mungkin biasa, tentang rendezvouz dua wanita, Theresia dan Bianca (sama-sama diperankan Gesata Stella, aktris yang mengawali karirnya dari LOOK Models), yang bertemu di sebuah kamar hotel dengan masalah hubungan yang memuncak. Namun kekuatan utamanya ada pada Gesata Stella yang sekaligus memerankan 4 karakter termasuk dua lagi yang hadir dalam segmennya, dengan penerjemahan akting yang sangat powerful. Billy sendiri bisa menyajikan flow yang mengalir dengan sangat efektif dibalik set tunggalnya. Salah satu highlight dalam ‘Sanubari Jakarta’.

Topeng Srikandi (Sutradara : Kirana Larasati)

Tak mau ketinggalan dengan Dinda, Kirana Larasati juga menunjukkan bakat penyutradaraannya sekaligus ikut tampil dalam segmen ini. Premisnya menarik, tentang seorang wanita bernama Srikandi (Herfiza Novianti) yang merubah penampilannya demi membalas perlakuan rekan serta atasannya (Deddy Corbuzier)  yang penuh dengan pelecehan, namun sayang, eksekusinya hanya sebatas simbol gender yang tak menjelaskan lebih jauh orientasi seksual sebagai bagian dari tema LGBT yang diusung secara keseluruhan.

Untuk A (Sutradara : Fira Sofiana)

Berkisah tentang Ari (Arswendi Nasution) yang menulis sebuah surat pengakuan kepada A dibalik keberadaan gendernya sejak lahir. Ini adalah konflik yang hampir  selalu jadi dasar sebuah orientasi seksual, tentang kecenderungan perilaku yang terperangkap dalam medium yang salah, dan Arswendi menerjemahkan kegalauan karakternya dengan cukup baik. Nuansa muramnya juga cukup mewakili kegelisahan itu, namun memang twistnya bukan lagi sesuatu yang spesial.

Kotak Coklat (Sutradara : Sim F.)

Sebuah kotak coklat yang ditemui Reuben (Reuben Elishama) di atas meja kerja kekasihnya, Mia (Miea Kusuma), membuka kenyataan masa lalu mereka berdua. Akhirnya, setelah kenyataan-kenyataan miris yang dipaparkan dalam tiap segmen, ‘Kotak Coklat’ sebagai penutup bisa muncul sesuai dengan judulnya. Dibalik color tone yang terkesan sangat romantis, dialog-dialog wajar serta chemistry Reuben-Miea, segmen ini menjadi penutup yang sangat manis serta mengingatkan kita kembali, tak perduli sejauh apa sebuah orientasi seksual menghadang identitas gender, semuanya adalah pilihan hati.

Selayaknya sebuah omnibus, you’ll have some ups and downs. Horor, lovestories, drama, itu sudah biasa jadi segmentasi sebuah omnibus. Tapi yang spesial bicara soal LGBT, ini masih sangat fresh, dan Lola Amaria bersama rekan-rekannya, magma baru sinema kita, sudah memulai perjuangan mereka. As to me, highlight terbaik dalam ‘Sanubari Jakarta’ justru ada dalam sub-tema yang berbeda-beda. ‘Kentang’ bila Anda ingin tertawa, ‘Pembalut’, bila Anda ingin menyaksikan keseriusan penggarapan, serta ‘Kotak Coklat’, sebagai dessert yang sempurna. Tapi yang paling dahsyat adalah ‘Menunggu Warna’ atas metaforanya terhadap persepsi sebagian orang yang masih menganggap LGBT merupakan penyimpangan dalam sebuah orientasi seksual dan pengkotak-kotakan gender. Apapun itu, ‘Sanubari Jakarta’ sudah mencoba membuka mata kita dengan cukup berani, bahwa sama seperti mahkluk hidup lain yang kadang tak bisa memilih eksistensi mereka, cinta, lagi-lagi hanya soal hati. (dan)

 

~ by danieldokter on April 23, 2012.

2 Responses to “SANUBARI JAKARTA : NOT PERVERSIONS, JUST HEARTS”

  1. […]        15. SANUBARI JAKARTA […]

  2. […] Sanubari Jakarta […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: