PROMETHEUS : REDEFINING MASTERPIECE

PROMETHEUS

Sutradara : Ridley Scott

Produksi : ScottFree Productions, Brandywine Productions, 20th Century Fox, 2012

In Space, No One Can Hear You Scream’. Oke, if you’re into movies, pasti kenal tagline keren itu. Walau ambisi dibalik pembuatannya tergolong cukup besar, seorang Ridley Scott bersama eksekutif Fox di tahun 1979 itu mungkin tak pernah sadar dari awal bahwa mereka sedang membuat sebuah karya klasik dalam ranah sci-fi. Nope, ini bukan sci-fi gegap gempita dari trend yang dibawa ‘Star Wars’ pada era itu. Desain produksi serba cantik dari H.R. Giger yang belakangan melegenda itu lebih mereka gunakan untuk melawan arus, menakut-nakuti penontonnya sampai ke ubun-ubun mereka. Sekuens-sekuensnya jadi adegan wajib kala orang-orang menyebutkan favorit mereka. Alien menyembul menembus perut John Hurt. Spacecrafts Interior. And overall, cast-cast pria bernama cukup besar di Hollywood tak menjamin mereka sebagai hero yang tertinggal di akhir. It was the mostly unknown Sigourney Weaver. yang tanpa mereka sadari bakal melanjutkannya menjadi franchise raksasa. Reviewnya boleh jadi beragam di awal launchingnya, tapi beberapa preview membuat word of mouth-nya berkembang dari penonton yang berteriak-teriak bahkan lari keluar dari gedung bioskop. Dalam sekejap, selain meraih Box Office bukan main di masa itu, Oscar untuk Best Visual Effects dan award-award lainnya, ‘Alien’ menjadi template wajib bagi ripoff film-film sejenis, bahkan puluhan tahun sejak kesuksesannya, baik dari premis ensemble crew yang terjebak monster, hingga genre sci-fi horror.

And we didn’t get the same after that. Walaupun ‘Aliens’ (1986), bagi kebanyakan orang adalah sekuel yang lebih baik dari pendahulunya, kursi sutradara yang berpindah ke James Cameron membuatnya beralih menjadi sci-fi action. Walau basicnya tetap sci-fi, ini adalah sebuah pure survival movie yang nyaris menempatkan Ripley ke porsi superheroine even in a deep shit. Kita bersorak melihatnya membantai satu-persatu alien itu sampai hancur, dengan rare surprise di extended ending yang membuat penonton yang sudah bersiap keluar bioskop kembali tersentak. Lantas ‘Alien 3‘ (1992) David Fincher merusak semuanya. Bukan pendekatan psychological thriller mirip POW theme dengan Ripley plontos itu salah, tapi premisnya merusak semua karakternya. Bahkan Ripley diganjar nasib termalang dalam sejarah franchise terkenal. Entah Fincher dulunya memandang hubungan Alien-Ripley secara pervert, Ripley mengandung benih Alien dan memutuskan bunuh diri. Long after that, ‘Alien Resurrection’ (1997) yang sangat lumayan dan me-refresh franchisenya dengan Ripley cloning plus Winona Ryder’s android part pun tak lagi bisa menyelamatkan franchise ini. Nyawanya habis sampai disana, and all they left for us was ‘Alien Quadrilogy’ DVD.

Barulah hampir satu dekade berikutnya, rencana yang sebenarnya sudah dimulai sejak 2002 namun terbenam lagi oleh dua crossovernya dengan ‘Predator’ (yang pertama keren, namun sekuelnya gagal setotal-totalnya), menemukan jalannya. It was Scott trying to redefine the origin of his masterpiece. Tentang bagaimana semuanya berawal. But with a twist. Proyek yang membuat kita bertahun-tahun menunggu kolaborasi kembali Scott dengan Aliens, dengan press release berubah-ubah. First was a prequel, than a whole different movie, tapi kala official trailernya diluncurkan, mereka tak lagi bisa menipu. Bahkan dalam beberapa interview, Scott serta penulis skenario Damon Lindelof dari ‘Lost’, yang belakangan direkrut menyempurnakan skrip awal Jon Spaiths (‘The Darkest Hour’) dengan gamblang memaparkan benang merahnya. Oh yes, apapun alasannya, sekuel dengan timeline balik ke sebelum film awalnya, adalah prekuel. No more Weaver, of course. And H.R. Giger was also long gone. Tapi kita percaya, dari trailer dan ensemble cast yang menjanjikan itu, terutama Michael Fassbender berambut pirang, Charlize Theron dan pastinya, Noomi Rapace yang tak jauh dari aura Weaver muda, Scott tengah membangun kembali keajaiban itu. Premisnya, sort of a spiritual journey, dengan metafora judulnya yang diambil dari greek mythology tentang titan terhukum yang melambangkan mankind’s scientific knowledge. Buat sebagian, menghujat. Buat sebagian, ‘gotcha!’. As to me, ini adalah sebasic-basicnya sebuah science. Sebuah pertentangan dengan konsep ketuhanan, only then you know, Scott hanya ingin bicara sesuai kapasitasnya sebagai manusia tanpa harus pretensius ke satu sisi. And most of all, we just wanna see how Scott redefines the first movie’s origin.

Di tahun 2093, pesawat angkasa ‘Prometheus’ yang didanai multimilyuner Peter Weyland (Guy Pearce) dari The Weyland Corporation mendarat di planet LV-223 untuk memulai eksplorasi atas penemuan dua arkeologis, Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) beberapa tahun sebelumnya. Misinya adalah menemukan ‘The Engineers’ yang diyakini sebagai kunci dari asal mula manusia. Pemimpin misi mereka, Meredith Vickers (Charlize Theron) adalah keturunan Weyland yang ambisius dengan pilot bayaran profesional Janek (Idris Elba) dan pengawasnya adalah android pria bernama David (Michael Fassbender). Tim yang juga mengikutsertakan Shaw dan Holloway ini kemudian menemukan patung monolith berbentuk kepala humanoid serta mayat alien raksasa yang mereka bawa ke kapal. Namun selagi meneliti mayat itu, dua anggotanya, Fifield (Sean Harris) dan Milburn (Rafe Spall) diserang alien reptil, sementara Holloway terinfeksi cairan dari DNA alien yang mereka curigai sebagai ‘The Engineer’ atas kesamaan persis DNA-nya dengan manusia. Kekacauan pun mulai merebak dengan kembalinya mereka untuk mencari Fifield dan Milburn, sementara Vickers bersikukuh dengan tujuan pribadinya. David yang sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi pada para alien itu juga tetap setia pada Weyland, dan Shaw harus berjuang sendirian menghentikan alien humanoid lain yang siap menerbangkan pesawatnya untuk mengkontaminasi bumi.

Setelah 4 film sebelumnya yang masing-masing punya subgenre dan tone yang saling berbeda, Scott tak lantas memilih pendekatan salah satunya. Walau terkesan berdalih, ada benarnya juga, bahwa ia tak sepenuhnya menggagas sebuah prekuel. Benang merah itu tetap ada, tapi itu sebenarnya bukan intinya. Mau dibilang a whole separate story, unless you didn’t pay a good attention dan benar-benar mengingat sekuens-sekuens dalam film pertamanya, itu pun tak benar. Yang ada, Scott bersama Lindelof dan Spaiths memilih sesuatu yang jauh lebih fresh untuk trend sci-fi era sekarang yang lebih mengutamakan kedalaman plot ketimbang menggelar gory-ness. Mereka memilih untuk berjalan di tengah-tengah namun dengan kecermatan tinggi, membuat kita sama seperti tim Prometheus yang mengeksplorasi misinya. Di tengah pertanyaan, di tengah ketidaktahuan sambil mereka-reka clue yang ada dibalik semua temuan sepanjang jalan itu.

And the ensemble cast is another highlight. Disamping sebagian karakter crew yang tak lagi dieksplorasi sebesar film-film sejenis, Charlize Theron membawakan peran Meredith Vickers dengan aura misterius yang pas. Logan Marshall-Green yang langsung memperoleh segudang buzz atas kemiripan fisiknya dengan Tom Hardy juga bagus, dan ada Idris Elba yang cukup baik memerankan seorang space cowboy yang tak diberi kesempatan tampil lebih serta Guy Pearce dibalik make-up nya yang sedikit over. Masih ada lagi Patrick Wilson yang muncul sekelebat. Namun dua yang paling bersinar dan sepertinya memang disiapkan Scott untuk membawa franchise ini ke wilayah baru, as heroine and android became an important part in this franchise, adalah Noomi Rapace dan Michael Fassbender. Selagi Noomi muncul dengan aura heroine ala Weaver yang tak pernah sekalipun meninggalkan sisi feminin dibalik ketangguhannya, Fassbender tampil dengan ekspresi datar yang sangat android. And sure, android kali ini jauh lebih good looking dibandingkan Ian Holm dalam ‘Alien’ serta Lance Henriksen dalam sekuelnya.

Bersama pameran set yang sangat gigantis, visual-visual keren Dariusz Wolski, sinematografer yang sangat sci-fi (‘Dark City’, ‘The Crow’ dan ‘Pirates Of The Caribbean’ franchise adalah bukti-buktinya),  dan efek dari Douglas Trumbull (‘2001 : Space Oddysey’, ‘Blade Runner’ & ‘The Tree Of Life’, dua pertama adalah sci-fi yang sangat psikologis sementara yang terakhir menggunakan sentuhan sci-fi dalam banyak visualnya) bersama lebih dari lima perusahaan efek spesial termasuk WETA Digital yang meneruskan legacy H.R. Giger dalam tampilan alien-alien ini, ‘Prometheus’ menjadi sebuah sci-fi yang jauh lebih dalam dari pendahulu-pendahulunya. 3D semi konversinya juga bekerja dengan baik di beberapa sekuens, namun yang muncul paling menyolok memang adalah sebuah konsep spiritual journey dalam kacamata science yang muncul dalam dialog-dialog dan beberapa adegannya. Tapi percayalah, ini tak lantas jatuh ke dalam sci-fi yang jadi pretentiously religious dalam pertentangannya seperti ‘Contact’, dan tak juga membiarkan Anda tertidur lelap seperti ‘The Tree Of Life’ dengan template franchisenya yang tetap dijaga Scott dengan beberapa benang merah. Sama seperti karakternya, Scott akan meninggalkan kita dengan sepenggal jawaban, tapi jauh dibaliknya, juga kenyataan yang belum pernah bisa terjawab dalam sebuah pencarian identitas. So this is Scott redefined his masterpiece. What you hoped is an answer. A few might be, but what you’ve got is another chapter, and possibly, a chance to a new saga! (dan)

~ by danieldokter on June 6, 2012.

4 Responses to “PROMETHEUS : REDEFINING MASTERPIECE”

  1. Gw demen banget lho, and dari awal w udah tau psati ini prekuel Alien, walaupun dibantah gimana kek, n emank bener walaupun bukan direct prequel tapi jelas disini kita jadi tahu asal usul Allien… Hehe…

  2. […] Prometheus […]

  3. […] PROMETHEUS – Richard Stammers, Trevor Wood, Charley Henley and Martin Hill […]

  4. […] PROMETHEUS – Richard Stammers, Trevor Wood, Charley Henley and Martin Hill […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: