SULE, AY NEED YOU : AJI MUMPUNG YANG LUMAYAN

SULE, AY NEED YOU

Sutradara : Cuk Fk

Produksi : E-Motion Entertainment, 2012

Tak ada yang salah dalam mengangkat komedian solo atau tim yang sudah lebih dulu mencetak kesuksesan mereka lewat media yang lain. Rating pemirsa di televisi adalah salah satunya. Komedian-komedian sukses kita dulunya juga memulai karir mereka tak langsung lewat layar lebar. Yang penting, ada proses yang membuat alasan itu lebih kuat ketimbang hanya sekali lewat melalui situs-situs seperti Youtube. Komedian Sutisna atau lebih dikenal dengan Sule, dalam hal ini, sudah teruji lewat ‘Opera Van Java’, bahkan sudah punya slot sinetron komedi sendiri dari ‘Awas, Ada Sule’ yang sudah wara-wiri di salah satu televisi swasta dari 2009 sampai sekarang. Secara mendasar ia mungkin komedian solo, namun interaksinya yang kompak dengan karakter lain di dua acara komedi itu sudah terasa se-solid sebuah grup lawak. Produser pun  memanfaatkan crossover antara keduanya.

Aji mumpung, tapi bila ditangani dengan benar, bukan kesalahan. Malah, kemungkinan untuk jadi franchise yang solid bisa terbuka lebar. Templatenya klise, komedi slapstick dengan karakter ‘beauty and the beast’ dalam bangunan lawakan biasanya. Tapi penulis skenarionya tak main-main. Mereka menggamit seorang Jujur Prananto, penulis senior yang paling dikenal lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta?’. Seperti biasanya, skenario Jujur, juga jujur menyorot kritik sosial dalam bangunan komedinya. Tapi apa kombinasi ini bisa berhasil saat kita tahu, Sule yang kita inginkan adalah Sule seperti biasanya, yang total mengandalkan slapstick tanpa harus ber-drama ria?

Dan kritik sosial ala Jujur Prananto itu sudah nampak dari awal premisnya. Sebagai orang desa, Sule yang anak petani bersama ibunya harus menanggung malu karena ayahnya jadi gila sejak gagal dalam pemilihan lurah (Ketiganya diperankan Sule). Ia pun mengadu nasib ke Jakarta, berharap pada Uwak Salim (Dicky Chandra), adik ibunya yang konon kaya-raya. Sebuah kekacauan membawa Sule pada pada Parto (Parto), seorang polisi yang menaruh simpati pada keluguannya, dan lantas bertemu dengan Ayla (Titi Kamal), cewek yang diselamatkannya dari seorang pencopet setelah sebelumnya hampir menabrak Sule. Keluarga Ayla ternyata juga sedang ditimpa masalah dengan hilangnya Dava (Bio-One), adik Ayla. Ini jelas mengganggu Drs. Andre (Andre Taulany), ayahnya, pengusaha kaya yang sedang mencalonkan diri jadi walikota serta ibu Ayla (Kanjeng Mami/Maya Wulan) yang terus dirundung kesedihan sampai stroke. Ayla yang sudah punya supir pribadi Makmur (Ery Makmur) namun menolak disupiri merekrut Sule sebagai supirnya hingga Sule menyalahartikan kedekatan ini. Sekarang, dengan hadiah yang dijanjikan Ayla bagi siapapun lelaki yang menemukan Dava untuk jadi suaminya, Sule pun berusaha keras untuk menemukan Dava.

Penampilan para pentolan ‘Opera Van Java’, rekan-rekannya di ‘Awas Ada Sule’, plus Indro Warkop, Agus Kuncoro dan Titi Kamal sebagai primadonanya, mau tak mau sudah memberikan premis komedi yang menjanjikan bagi penampilan perdana Sule sebagai peran utama di layar lebar. Tak hanya chemistry yang sudah terbangun kompak antar mereka, eksistensi Sule di dunia komedi juga harus diakui, jauh lebih lumayan dari komedian-komedian lain yang kerap malang-melintang menghiasi komedi horor-seks ala Maxima atau KKD. Skenario Jujur memang terlihat berusaha sekali meracik drama sosial dibalik gila-gilaan slapsticknya, bukan juga tak bagus. Walau sebenarnya boleh-boleh saja, namun sayangnya, jarak kedua sisi itu jadi terlalu jauh.

Akibatnya, komedi slapstick sebagai sajian utama yang diinginkan sebagian besar penontonnya, jadi ikut terganggu. Betapapun celotehan-celotehan para komedian ini masih mampu membuat kita tergelak, sementara sisi kritik sosialnya masih mampu membuat tersenyum plus Sule yang harus diakui dengan cukup baik bisa meng-handle porsi dramanya tanpa harus mengorbankan aura komedi yang sudah melekat di performanya, kombinasi slapstick dan plot dalam skenario Jujur jadi terasa pincang dan mengkanibalisasi timbal balik dua unsur utama itu.

Belum lagi soal skor yang dibesut Didi AGP, yang terasa kelewat penuh sesak mengiringi hampir seluruh adegannya. Di luar sempalan lagu-lagu atau adegan musikal untuk jadi selingan sekaligus jualan, sebuah slapstick sebenarnya sangat tak memerlukan bantuan skor yang terdengar mem-badut dengan efek ini itu untuk menggiring penontonnya ke feel komedi yang sudah kuat. Sementara untuk membangun dramatisasinya, skor itu malah dipaksa agar terdengar seperti film-film drama serius. Jadi begitulah, slapstick ala Sule memang agaknya punya daya tarik yang terlalu kuat untuk bisa disusupi dengan niat-niat pretensius lainnya. Jika saja ‘Sule, Ay Need You’ dibiarkan berjalan seperti apa adanya tanpa unsur-unsur dramatisasi yang dicoba menyatu ke dalamnya, ini akan jauh lebih baik dalam konteks hiburan. Sebagai proyek aji mumpung, ini cukup lumayan, tapi percayalah, tawa itu tak akan pernah jadi total seperti tampilan mereka di layar kaca. (dan)

~ by danieldokter on June 11, 2012.

One Response to “SULE, AY NEED YOU : AJI MUMPUNG YANG LUMAYAN”

  1. […] Sule Ay Need You […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: