GET THE GRINGO : EXTREME CASE & RACE PREJUDICE

GET THE GRINGO

Sutradara : Adrian Grunberg

Produksi : Icon Productions & 20th Century Fox Home Entertainment, 2012

What happened to Mel Gibson? Nama yang selalu lekat ke produk-produk blockbuster, jaminan box office, aktor dengan dua franchise besar (‘Mad Max’ dan ‘Lethal Weapon’), sutradara berkelas Oscar, dan entah apa lagi? Well, welcome to Hollywood. Tak seorangpun yang bakal menyangka nasib Mel Gibson akan jadi seperti ini. Oh ya, pasca kasus rasis antisemit-nya, ia masih mencoba bangkit lewat ‘The Edge Of Darkness’ dan ‘The Beaver’. Namun saat Anda sudah di-plot jadi villain utama di film kelas B yang penuh mocking, grindhouse yang sengaja dibuat seperti grindhouse, that’s in the next sequel of ‘Machete’, bagi Hollywood, itu adalah tanda paling dalam sebuah keterpurukan dan bakal susah buat bangkit lagi di industri perfilman terbesar itu. Kenyataan.

Dan entah apa lagi jadinya kalau ‘Get The Gringo’ beredar dengan judul aslinya yang sangat, sangat, tidak menarik. ‘How I Spent My Summer Vacation’, yang kedengaran seperti 80s Hollywood Teen Movie yang stuck di rak terbawah video-video rental dan berdebu. Untunglah kenyataannya belum sejelek itu. Despite his case, di negara luar AS, tak bisa tidak, harus diakui, nama Mel Gibson masih cukup bisa dijual. Ini sebenarnya masih lebih baik dari dua film sebelumnya, walaupun Gibson harus menyerah pada aturan main disana. ‘Get The Gringo’ hanya dilaunch secara eksklusif melalui saluran televisi kabel berbayar tanpa distribusi ke bioskop-bioskop AS sebelum homevideonya beredar Juli nanti, tapi tetap tercatat sebagai theatrical release di negara lain termasuk Indonesia. Apa boleh buat.

Seorang kriminal asal Amerika (Mel Gibson) yang baru saja mencuri uang dari gembong mafia tertangkap di perbatasan Mexico. Ia pun jadi makanan empuk polisi-polisi korup disana. Dicampakkan ke penjara yang lebih berupa criminal society, kota kecil dibalik tembok penjara dimana aktifitas miring dari judi, pelacuran, obat bius bahkan pembunuhan bisa didapat dengan uang, dengan bantuan seorang bocah kecil (Kevin Hernandez) yang jadi bagian dari konspirasi kartel obat bius, Gringo (sebutan untuk pria asing (khususnya Amerika) bagi orang-orang Meksiko) ini berusaha keluar sambil merancang pembalasan telak buat orang-orang yang menjebaknya. Kalau bisa, sambil menyelamatkan ibu si bocah (Dolores Heredia) yang sejak awal langsung menarik perhatiannya.

Sounds a bit ‘Payback’, doesn’t it? Gibson yang menulis sendiri skripnya sebenarnya sudah menelusuri koridor yang layak untuk sebuah gelaran film aksi ala dia biasanya. Keras dan tanpa kompromi. Dan latar Meksiko dengan penjara society-nya yang kumuh, busuk serta penuh dengan tampang-tampang sangar juga jadi pelengkap yang pas dibalik tujuan itu. Tak ketinggalan, dalam trend sekarang, belitan plotnya dibubuhi snake and ladder twist yang menarik. Mau dalam soal akting Gibson tetap melekat dengan karakter Martin Riggs dari ‘Lethal Weapon’ dengan kegilaan ekspresinya, tak juga akan banyak berpengaruh. Lagipula, ia tak sedang menghina etnis tertentu dalam tujuan rasis. Apa yang dipaparkannya disini, sedikit banyak, memang tak jauh dari kenyataan-kenyataan drug cartel dan corrupt force disana. Adrian Grunberg yang biasanya menjabat sebagai assistant director dari film-film Gibson (‘Apocalypto’ dan “The Edge Of Darkness’) juga bekerja cukup baik menyajikan film action dengan pace cukup kencang.

Hanya saja, Gibson harusnya memikirkan juga sedikit sisi estetika untuk membuat lebih banyak lapisan penonton yang tertarik buat menyaksikannya. ‘Machete’ saja masih punya Lindsay Lohan dan Jessica Alba untuk kepentingan ini. Salahnya, Gibson hanya mengandalkan dirinya seorang untuk beraksi, sementara Peter Stormare yang juga jadi nama jualan di sisi lain tak terlalu banyak dimunculkan. Karakter-karakter villainnya boleh jadi cukup sangar, dan pemeran si bocah, Kevin Hernandez, cukup mencuri perhatian, namun Dolores Heredia yang diplot jadi faktor sex-appealnya malah terlihat nyaris sama tua dan penuh kerutan, sama dengan Gibson. So apa boleh buat. Trailernya yang menampilkan kekumuhan Meksiko dengan nuansa serba kuning itu memang jadi benar-benar terasa tak menarik untuk disimak, tapi kalau saja Anda mau meluangkan waktu atas memori Anda ke film-film blockbuster Gibson dulu,  percayalah. Ini sama sekali tak separah yang dibayangkan. Not bad, but also not that good. Paling tidak, dibalik tampilannya yang tergolong sangat cepat kelihatan tua, Gibson masih menyisakan gestur yang keren di tengah hingar-bingar film aksi. (dan)

~ by danieldokter on June 13, 2012.

3 Responses to “GET THE GRINGO : EXTREME CASE & RACE PREJUDICE”

  1. Ralat om. Mel Gibson sudah menang 2 piala Oscar. Hehe. Bukan nominee aja.

  2. […] Get The Gringo […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: