DI TIMUR MATAHARI : HEARTS AND NAIVENESS

DI TIMUR MATAHARI

Sutradara : Ari Sihasale

Produksi : Alenia Pictures, 2012

I know what some people think. Tapi pesan moral dalam film, kadang bukan sesuatu yang perlu dicemooh, selama ada dalam koridor yang benar. Menggurui atau tidak, nanti dulu. Yang jelas, selama pesan itu menyatu dengan ide yang ingin disampaikan penulis serta pembuatnya, sah saja. Apalagi dalam konteks film anak. Mau kental dalam sisi hiburan atau berfantasi sejauh manapun, pesan-pesan mendidik itu sangat perlu disempalkan di dalam temanya. Film-film Alenia Pictures, dari ‘Denias’, ‘King’, ‘Tanah Air Beta’ hingga ‘Serdadu Kumbang’ punya ciri itu. Selalu menekankan perlunya pendidikan dari bagian-bagian premisnya, dengan satu ciri lebih khas. Karakter anak. Dan tanpa menampik etnis pemiliknya, Ari Sihasale, kecuali ‘King’ dan ‘Serdadu Kumbang’, ada misi lain yang diemban film-film mereka. Tanah Papua yang penuh konflik, dengan satu pandangan jelas bagi orang-orangnya. Nasionalisme yang kental. Betapa hati para karakternya cuma punya satu keinginan. Menjadi bagian dari negara ini, no matter what.

So is it bad? Ah, tentu saja tidak. Di tengah gempuran banyaknya film-film kita dari kelas sampah ke luarbiasa bagusnya, yang sekarang trend-nya sedang gemar-gemarnya bermain dengan darah, kesadisan serta penelusuran psikologis yang digenjot sedalam mungkin, film mereka setia di koridornya. Punya hati. Untuk ukuran film-film kita yang rata-rata minim informasi, produk-produk Alenia juga rata-rata mencerdaskan. Tak hanya berisi pesan, mereka juga memberikan pengetahuan yang dikemas ke dalam plotnya. Dari gambaran geografis dalam kemasan sinematografi yang ciamik, karakterisasi yang manusiawi dan tak berculas-culas ria seperti sinetron-sinetron kita, hingga sosial budaya latarnya yang jelas tergelar. Jadi, kita beruntung punya Alenia sebagai salah satu produsen film nasional? Jelas iya.

Namun, satu yang tetap tak bisa hilang, adalah kejelasan fokus. Begitu banyak ide serta pesan yang dibenturkan satu dengan lainnya dalam membangun sebuah plot yang akhirnya sebagian besarnya jadi terasa bagai pengulangan, dan satu yang paling parah, adalah mindset. Kelebihan yang mereka punya membuat pesan tumpang tindih itu jadi kelihatan pretensius tanpa fokus, dan semua disampaikan satu arah konklusi tanpa mau menimbang-nimbang aspek lain yang ikut ada di dalamnya. Priest-like mindset. Pembenaran searah yang seringnya makin diperparah dengan kebiasaan penulis-penulis kita membelit konflik kemana-mana hingga semuanya terlihat sulit untuk diselesaikan, tapi lantas serba digampangkan dalam mengambil solusinya. Belum lagi karakter-karakter yang ditambahkan di sana-sini demi tendensi sebuah jualan agar bisa kelihatan lebih menyenangkan, namun bila tak ada juga tak mengapa. Overall, naif luar biasa hingga lari sepenuhnya dari kewajaran yang ada.

Dan mari lupakan sinopsis official-nya di press release yang juga (maunya) penuh puitisasi lompat-lompat seperti kenaifan itu. I’m gonna describe it once again. Di sebuah daerah Papua, beberapa anak dari dua desa berseberangan; Mazmur (Simson Sikoway), Thomas (Abetnego Yogibalom), Yokim (Razz Manobi), Agnes (Maria Resubun), Suryani (Frisca Waromi) begitu mendambakan pendidikan dari sekolah tanpa guru pengganti yang tak kunjung tiba. Mereka tetap bernyanyi dan mencari pembelajaran hidup dari alam sekitarnya. Namun konflik antar dua desa yang akhirnya berujung ke perang adat itu meluluhlantakkan segalanya. Di saat orangtua mereka saling membunuh, bersama orang-orang desa yang peduli, pendeta Samuel (Lukman Sardi), dokter Fatimah (Ririn Ekawati), kontraktor Ucok (Ringgo Agus Rahman) serta Michael (Michael Jakarimilena) dan istrinya Vina (Laura Basuki) yang datang dari Jakarta, anak-anak ini siap berdiri dengan nyanyian mereka untuk menyadarkan semuanya.

Jangan bilang sinopsis itu tak memberikan kesan naif luarbiasa terhadap konfliknya, apalagi dengan penelusuran yang digelar Jeremias Nyangoen dalam skenarionya. Lantas, begitu banyak pula karakter yang ditampilkan tanpa fokus yang seimbang dalam subplot-subplot-nya, dimana yang seharusnya bisa lebih dipentingkan justru tak cukup tergali, sementara yang tak begitu penting justru mendapat detil-detil lebih lagi. Konsep pesan pendidikannya memang terasa begitu kuat di awal-awal, namun memasuki konflik demi konflik, ‘Di Timur Matahari’ justru kehilangan komunikasi yang akrab bagi penonton anak sebagai sasaran salah satu pesan utama tadi. Jeremias dan Ari lebih memilih untuk bermain-main dengan sisi komersial jualan bintang-bintang terkenalnya tanpa menyisakan ruang lebih untuk karakter anak-anaknya yang terasa hanya difokuskan begitu penuh ke karakter Mazmur. Belum lagi ending yang kelewat dipaksakan untuk jadi menyentuh namun sepenuhnya lari dari kewajaran, dan sepenggal kalimat epilog yang meski menarik jadi terasa sangat pretensius.

Begitupun, jangan tanya soal sinematografinya. Selain lewat remarkable work DoP Nur Hidayat dan art directing Frans XR Paat, Ari tetap bisa menampilkan keindahan alam Papua dibalik kritik-kritik sosialnya terhadap hukum adat ala rimba yang tak lagi bisa diandalkan demi perdamaian, semua pendukung ‘Di Timur Matahari’ sampai ke aktor-aktris lokalnya juga rata-rata baik terutama Simson Sikoway sebagai Mazmur, Putri Nere sebagai Elsye dan Paul Korwa sebagai Alex. Di barisan penghias itu, Lukman Sardi tampil sangat meyakinkan sebagai seorang pendeta Kristen dan Ringgo serta Laura juga tak bisa ditampik, bisa menabur dayatarik dalam menjaga pace-nya, menutupi kelemahan Michael Jakarimilena yang lepasan Indonesian Idol dan baru saja kita lihat dalam ‘Hattrick’ sebagai salah satu karakter sentral dewasa yang dibangun se-naif plotnya. Skor dan lagu-lagunya termasuk themesong ‘Aku Papua’ yang dinyanyikan Edo Kondologit juga bagus, dan ada banyak dialog-dialog yang informatif tentang sosial budaya serta pengenalan adat Papua.

Jadi inilah kurang lebih itu. Seperti produksi Alenia pasca ‘King’, sinematografi cantik serta akting bagus yang lagi-lagi harus berdiri di skenario penuh kenaifan dengan sejuta kerumitan yang digampang-gampangkan. Fokus antara konflik dengan pesan moral yang mendidik itu pun blur terhadap dualisme sasaran penyampaiannya, nyaris sama seperti ‘Serdadu Kumbang’ tempo hari, penuh dengan penghakiman searah dalam priest-like mindset nya.  But I’m gonna tell you. We’ll be having no hearts untuk menampik kelebihan serta pesan-pesan kebaikan yang terkandung di dalamnya, bukan saja untuk pengetahuan dan kesadaran dalam ragam etnis nusantara yang ada, tapi juga untuk lagi sebuah pemahaman tentang pentingnya pendidikan dalam wujudnya yang lebih menonjol sebagai film anak. For these, let’s give a good shot untuk ‘Di Timur Matahari’. Semoga Alenia tak berhenti untuk meramaikan perfilman kita dengan hati. (dan)

~ by danieldokter on June 15, 2012.

3 Responses to “DI TIMUR MATAHARI : HEARTS AND NAIVENESS”

  1. perang antar suku, akhirnya damai berkat keberadaan anak-anak di tengah-tengah peperangan.

  2. if only kenyataannya seperti itu🙂

  3. […] Di Timur Matahari […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: