ABRAHAM LINCOLN : VAMPIRE HUNTER ; HOLLYWOOD’S MASHUP MOVIE TREND

ABRAHAM LINCOLN : VAMPIRE HUNTER

Sutradara : Timur Bekmambetov

Produksi : Bazelevs Company, Dune Entertainment, Tim Burton Productions, 20th Century Fox, 2012

Terserah Anda mau menganggap genre mashup yang baru lahir jadi trend di Hollywood menyusul musik dan novel ini sebagai kemerosotan ide atau justru sebuah kreatifitas. But I’ll go for a second one, secara ide-ide baru tetap saja perlu dihargai, apalagi sampai berkembang menjadi trend. Masalahnya adalah seberapa besar kombinasinya bisa melahirkan suatu harmoni dalam penggarapannya. Apalagi, adaptasi dari novel bestseller karya Seth Grahame-Smith yang juga menulis mashup lainnya, ‘Pride And Prejudice And Zombies’, diproduseri oleh Tim Burton dengan sutradara Timur Bekmambetov, sineas Rusia yang terkenal dengan definisi visual dan stylish actionnya. Dan siap-siap kalau setelah ini akan makin banyak lagi yang muncul dalam menggabungkan legenda-dongeng klasik, historical romance ataupun biopik dengan kisah-kisah fiksi fantasi.

Walau bukan orang Amerika, pasti semua tahu nama Abraham Lincoln. Presiden ke-16 Amerika yang dalam masa singkat pemerintahan sebelum tragedi pembunuhannya sudah mengakhiri perbudakan dengan perjuangan persamaan hak kulit hitam-kulit putih dalam American Civil War, membawa Amerika ke salah satu sejarah konstitusional terbesar mereka termasuk dalam militer dan ekonomi. Sesuai dengan novel Grahame-Smith yang juga terlibat langsung dalam penulisan skenarionya, ‘Abraham Lincoln : Vampire Hunter’ pun punya visi yang jelas dalam metafora vampirisme terhadap penindasan hak-hak kemanusiaan dalam gambaran Lincoln yang membantai legion itu dengan template wajib latar seorang superhero. With secret life. With sidekicks. With revenge. So yes, ini sangat menarik. Bedanya, Grahame sedikit membelokkan endingnya demi menambah misi heroisme untuk trik pemasarannya yang di-screening bagi para prajurit Amerika Serikat.

Rekaan sisi lain kehidupan Lincoln pun dimulai dari masa perbudakan di sebuah desa di Indiana, 1818 dimana Abraham Lincoln kecil (later played by Benjamin Walker) menyelamatkan sahabatnya, budak berkulit hitam Will Johnson (later played by Anthony Mackie) bersama sang ayah yang juga seorang buruh perkebunan. Akibatnya, Jack Barts (Marton Csokas), kepala perkebunan yang ternyata seorang vampir itu membunuh ibunya. Lincoln pun tumbuh dewasa dengan niat membalas dendam pada Barts, dengan Henry Sturges (Dominic Cooper), pemburu vampir yang merekrut Lincoln sebagai muridnya. Menggunakan kapaknya, Lincoln pun memulai takdirnya sebagai seorang vampire hunter sambil belajar hukum hingga akhirnya mengundang kemarahan pemimpin vampir, Adam (Rufus Sewell) serta adik perempuannya, Vadoma (Erin Wasson). Ini juga sekaligus mengancam hubungan seriusnya dengan seorang gadis cantik, Mary Todd (Mary Elizabeth Winstead), yang lantas diperistri Lincoln hingga membuahkan seorang anak. Lelah dengan perjuangannya, Lincoln akhirnya memilih untuk berjuang dengan diplomasi politiknya bersama dua rekannya, Will dan Speed (Jimmi Simpson), berseberangan dengan Henry yang tetap bertahan walau kondisi aslinya sudah diketahui Lincoln. Hingga sebuah tragedi akhirnya membuat Lincoln kembali memulai perjuangannya mengakhiri penindasan di tengah perang konfederasi. Di atas kereta api yang melaju kencang dan kecurigaan atas orang-orang terdekatnya, Lincoln siap berhadapan dengan Adam dan Vadoma. Once and for all.

Mungkin keterbatasan masa putar-lah akhirnya yang membuat Grahame-Smith tak bisa mengembangkan karakterisasi dalam novelnya yang juga mengundang review beragam itu secara detil dan seimbang antara pemaparan sejarah dan sisi fantasinya. Terlalu banyak storytelling yang melompat terlalu jauh menyisakan motivasi karakter yang jadi sedikit blur serta emosi mati dibalik editingnya yang juga tak tampil terlalu rapi. Part-part actionnya memang sangat ala Bekmambetov-Burton dengan visual cantik dan showdown-showdown intens, namun sisi historikal yang seharusnya tampil dengan semangat luarbiasa patriotis atas perjuangan Abraham Lincoln aslinya jadi seakan lewat tanpa kesan. Penerjemahan yang muncul ke layar malah mengesankan Lincoln di paruh akhirnya sebagai sosok obsessed psychopath ketimbang pemimpin yang punya hati.

Tak heran kalau lantas justru banyak protes yang menuduhnya mengkhianati patriotisme Lincoln, tak peduli berapa banyak narasi yang disempalkan untuk menekankan kebesaran perjuangan serta kombinasi karakter nyata dengan fiktif yang harusnya bisa memperkuat sosok Lincoln sebagai karakter utamanya. Departemen make-up-nya juga tak bekerja dengan rapi dan konsisten dalam menjelaskan rentang waktu yang melompat-lompat terlalu jauh terhadap karakter-karakter manusianya. Mereka seperti membuat hanya Lincoln dan Mary yang bertambah tua di universenya.

Begitupun, sulit untuk ditampik, sebagai action fantasy, ‘Abraham Lincoln : Vampire Hunter’ tetap muncul cukup menghentak dibalik metafora cerdasnya antara vampirisme dengan sejarah perbudakan AS. Adegan-adegan perangnya cukup kolosal bersama adegan-adegan action yang juga intens. Darkly / gory beatiful visuals dari kerja sinematografi Caleb Deschanel, efek spesial berikut mockup para vampirnya yang impresif hingga skor Henry Jackman plus themesong Linkin’ Park, ‘Powerless’ yang menghiasi end creditsnya, juga tetap bisa menghadirkan kelebihan kelas karya-karya Bekmambetov dan Burton. And never forget. Di tengah pecutan cambuk, desingan peluru perak, debu-debu mesiu dan percikan api, 3D konversinya muncul dengan sangat gorgeous.

Benjamin Walker yang memang mirip sampai pernah memerankan Liam Neeson versi muda dalam ‘Kinsey’ bermain sangat baik di bagian-bagian awal, namun cukup payah memancarkan kharisma sebagai Lincoln tua, sementara karakter pendukungnya seperti Dominic Cooper, Jimmi Simpson, Anthony Mackie dan Erin Wasson justru muncul dengan lebih solid. Sayang Mary Elizabeth Winstead tak diberi kesempatan lebih berikut Rufus Sewell yang bukan lagi mengejutkan untuk bermain dalam karakter-karakter villain. So be it. Mungkin harusnya Grahame-Smith cukup berfokus di fantasinya, atas nama Burton dan Bekmambetov, ketimbang berusaha seolah menciptakan biopik patriotis yang jadinya malah serba tanggung. Tapi percayalah, dengan kadar hiburan tinggi di visual dan action tadi, trend mashup ala Hollywood ini pasti belum bakal berakhir dalam waktu dekat. (dan)

~ by danieldokter on June 21, 2012.

One Response to “ABRAHAM LINCOLN : VAMPIRE HUNTER ; HOLLYWOOD’S MASHUP MOVIE TREND”

  1. […] Abraham Lincoln: Vampire Hunter […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: