BRAVE : PIXAR’S BROTHER BEAR

BRAVE

Sutradara : Mark Andrews & Brenda Chapman

Produksi : Pixar Animation Studios & Walt Disney Pictures, 2012

Mempertahankan kedigdayaan yang sudah melampaui satu dekade itu sulit. Begitulah Pixar Animation Studios. Meski perjalanannya sudah dimulai sejak akhir ‘70an, berganti kepemilikan dari divisi Lucasfilm ke tangan Steve Jobs dari Apple, Inc. sebelum akhirnya resmi dibeli Walt Disney Company setelah gonjang-ganjing perceraian mereka dalam distribusi, Pixar tetap jadi raja di ranah animasi. Mau digempur oleh Fox, DreamWorks atau yang lain, Pixar selalu punya sisi lebih dalam kualitas film-filmnya, bahkan pada satu-dua film yang boleh saja dianggap gagal bagi sebagian orang. Mereka punya kedalaman, tanpa harus mengorbankan childish factor-nya sebagai definisi paling dasar dari sajian animasi sekaligus bisa diterima sama baiknya oleh penonton dewasa.

Then comes this innovation. Dalam trend yang sangat dipuja-puja sekarang, where everything must be dark and mature, mereka justru jadi tanggung-tanggung. Kelihatan sekali ada usaha ke arah sana tapi tampaknya mereka juga belum rela melepas klasik-klasik hiburan animasinya. So, tak usah heran kalau sejak awal trailer panjangnya diluncurkan, orang-orang sudah terbagi ke dalam dua kelompok. Meski ini juga jadi salah satu ciri Pixar biasanya dalam memancing ekspektasi pemirsanya, kenyataannya, ‘Brave’ justru seolah menciptakan jalan tengah bagi gap resepsi-nya kebanyakan. Suka atau tidak suka, selalu ada persyaratan atau ‘tapi begini’ dan ‘tapi begitu’. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa Pixar memang masih terlalu tangguh buat dikalahkan. Namun di sisi lain, terus-terusan tak menunjukkan pencapaian sebanding kartu as-kartu as-nya, juga bisa bahaya.

Kebingungan Pixar juga sudah terlihat dari penggantian sutradara Brenda Chapman ke Mark Andrews (dua-duanya ikut menulis skenarionya, dan semua bukan pentolan terpenting Disney-Pixar di filmografi mereka) di tengah pembuatannya, over ‘creative differences’ termasuk penggantian judul yang awalnya jauh lebih tak menarik, ‘The Bear And The Bow’.  Apalagi dalam attempts mengetengahkan genre ‘fairytale’ yang biasanya cenderung jadi bagian animasi klasik Disney, bukannya Pixar yang penuh inovasi plot-plot modern, ada kemiripan formula dengan ‘Brother Bear’ yang jadi bumerang mengantarkan animasi klasik Disney ke awal-awal kejatuhan mereka tempo hari. Semoga ini tak begitu.

Di kerajaan Viking Skotlandia, DunBroch, hidup seorang putri bernama Merida (Kelly MacDonald). Ia sebenarnya memiliki sifat pemberani dan jago memanah, cenderung barbar, seperti sang ayah, the legendary King Fergus (Billy Connolly), yang kehilangan sebelah kakinya atas tragedi serangan beruang iblis bernama Mor’du. Ini bertentangan dengan paham sang ibu, Queen Elinor (Emma Thompson) yang selalu mengajarkan Merida bagaimana menjadi seorang putri raja yang anggun dan elegan.  Hubungan mereka pun kian berjarak hingga ketika Merida menginjak usia remaja, dimana tradisi yang ada mengharuskannya menerima satu dari tiga lamaran klan sekutu DunBroch, Lord MacIntosh (Craig Ferguson), Lord MacGuffin (Kevin McKidd) dan Lord Dingwall (Robbie Coltrane) dengan masing-masing putra mereka, Merida pun memberontak. Ia melarikan diri dan bertemu dengan tukang sihir (Julie Walters) yang didesaknya memberikan mantera untuk merubah keputusan sang ibu. Then things got worse. Sihir itu merubah Elinor menjadi seekor beruang yang lantas harus diselamatkan Merida dari serangan para viking termasuk ayahnya sendiri, sementara si tukang sihir yang raib entah kemana meninggalkan Merida dan Elinor dalam sebuah quest anak dan ibu yang harus berjuang bersama menemukan mantera pemulihnya. Their own hearts.

 

Secara visual, ‘Brave’ masih menunjukkan kelasnya dibalik kedigdayaan Pixar dalam ranah animasi. Dari gambaran karakter hingga tanah serta hutan Skotlandia yang tampil begitu hidup, tak sekalipun kehilangan intensitas adegan-adegan aksi plus dialek sempurna dari para pengisi suaranya yang memang rata-rata aktor Inggris. Skor Patrick Doyle yang membawa unsur Skotlandia secara kental lewat bagpipes, celtic harps dan alat musik tradisional mereka pun sama juara dengan pemilihan lagu-lagu soundtracknya yang dinyanyikan penyanyi Gaelic Skotlandia Julie Fowlis. Meski kali ini merambah genre fairytale, kecantikan visual bersama unsur-unsur sinematis ala Pixar-nya tetap terasa berbeda dengan animasi-animasi klasik Disney. Luarbiasa.

Selain itu, faktor feminisme-nya yang kali ini terasa begitu mencuat diantara produk-produk Pixar lain sebagai sebuah inovasi baru, berikut usaha untuk merubah persepsi bahwa karakter princess selalu tampil cantik bahkan juga tanpa karakter prince charming sebagai bagian dari produk-produk Disney, juga sangat patut diberi pujian. Brenda Chapman yang sebelumnya menyutradarai ‘The Prince Of Egypt’ membuat warna feminis itu begitu terasa di tengah catatannya sebagai sutradara wanita pertama dalam sejarah Pixar.

Namun dari sisi plot, ada imbalance of powers yang sangat kentara dengan sinergisme visual itu. Bukan ‘Brave’ dengan tema sentral hubungan ibu dan anak berbalut pesan berharga tentang kasih sayang, maaf yang tulus hingga soul redemptions itu tak mampu membuat mata pemirsanya berkaca-kaca, namun penelusuran plotnya, selain di satu sisi terasa kelewat berat untuk pemirsa belia di tengah usaha mereka memberikan sentuhan ‘dark and mature’ secara tak berimbang dengan komedi nyeleneh serta childish-childish ala Pixar, bentukan karakternya justru kelewat ekstrim dalam membangun empati penontonnya. Sementara mereka memaksa kita mengerti budaya viking yang barbar dibalik usia belia Merida yang masih penuh dengan kenaifan seorang anak-anak menghadapi problematika perjodohan ala dewasa, di bagian-bagian awal Elinor juga dibiarkan keluar jalur nyaris seperti karakter antagonis yang harus jadi timpaan kesalahan atas paham-paham didikannya.

Dan ini masih diperparah lagi dengan turnover yang kelewat dipaksakan dalam menggambarkan kasih sayang yang tulus antara dua karakter sentral itu, justru di kala konfliknya sudah semakin jauh dilepas kemana-mana dengan ‘kekejaman’ yang mereka lakukan terhadap karakter masing-masing. Persis seperti kegagalan ‘Brother Bear’ dalam premis yang serupa tapi tak sama dibalik usahanya membuat seluruh kalangan usia penonton mau ber-empati terhadap unsur-unsur redemption yang sangat segmental untuk sebuah sajian animasi segala umur. Bahkan karakter-karakter lucu serta komedi gila-nya tak lagi bisa menyelamatkan bentukan karakter Merida dan Elinor berikut konflik utama itu jadi racikan jitu antara excitement serta heart factor yang seimbang.

Jadi inilah kesalahan ‘Brave’. Jauh dari faktor-faktor klise yang ada dalam ranah genre animasi dimana kita akan mendapatkan jawaban yang sama seperti yang kita perkirakan, Brenda Chapman yang menulis draft awal hingga mendapat penyempurnaan dari Mark Andrews, Steve Purcell dan Irene Mecchi, agaknya masih kebingungan untuk memperhalus naskahnya ke sebuah sajian animasi yang harusnya bisa lebih akrab bagi pemirsa usia belia. Ia tampaknya terlalu jauh membawa konflik anak dan ibu dalam koridor film-film live action ala soap opera, sementara konklusinya harus dipaksa tetap sangat ‘fairytale’ dalam tendensi itu. Ini sangat tak jauh dari ketimpangan yang ada dalam ‘Brother Bear’ yang menelusuri konfliknya seberat film-film drama Clint Eastwood  dibalik tampilannya sebagai fabel animasi klasik. Dan ternyata, eksekutif Disney  jatuh lagi ke lubang yang sama. So apa boleh buat. Sebagai produk Pixar, ‘Brave’ mungkin masih menyisakan kehebatan mereka dalam keseluruhan penggarapan teknisnya, tapi dari unsur lain, ini adalah sebuah penurunan kualitas. Imbalance of powers demi sebuah usaha berinovasi, yang akhirnya akan susah sekali untuk diperbaiki. (dan)

~ by danieldokter on June 26, 2012.

8 Responses to “BRAVE : PIXAR’S BROTHER BEAR”

  1. sepertinya setelah masterpiecenya Pixar yaitu Toy Story 3, kualitasnya jadi menurun (seperti Cars 2 dan yg ini) thanks reviewnya doc

  2. sama2🙂. tapi biar melenceng dari pakem film awalnya, dari drama komedi jadi tribute ke film2 action eurospy 60-70an, dalam konteks tontonan keluarga saya jauh lebih suka Cars 2 ketimbang yg pertama. IMO, yg pertama itu selain ga punya kedekatan nostalgik ke penonton luar AS, dialognya kaya nenek2 cerewet ga boleh begini dan ga boleh begitu. adegan race yg paling diharapkan banyak penontonnya, juga minim🙂

  3. Memang Brave gk se ‘groundbracking’ Toy Story 3, tapi menurut saya itu wajar mengingat Sutradaranya masih kurang familiar di “dunia animasi”, paling sutradara yang dikenal itu yang pernah ngedirect Prince of Egypt, yang lain….not so familiar.

    Soal musik….saya setuju kalo Patrick Doyle memang jempol, aroma skandinavia-nya memang berasa.

    Soal plot….not original, krn pencinta disney pasti ngerasa ….”kok mirip brother bear yah?”, trus ada joke2 yang rasanya …”garing” aka nanggung

    Soal animasi…..wuuuu Disney/Pixar gk perlu diragukan soal itu. IMHO😉

  4. ya begitulah. Brave msh menyisakan kehebatan Pixar, tapi sayangnya spt gak yakin dimana mau berdiri diantara penonton dewasa dan anak2. One that the usual Pixar never doubted, bahwa produk2 mereka selalu seimbang bisa diterima semua golongan umur dgn enak, tanpa satu ngerasa terlalu dewasa atau satu lagi ngerasa terlalu kekanak2an.

  5. This is not Pixar’s best, tp overall masih worth watching daripada Cars 2😀

  6. […] Brave […]

  7. […] BRAVE – Mark Andrews & Brenda Chapman […]

  8. […] BRAVE – Mark Andrews & Brenda Chapman (WINNER) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: