LEWAT DJAM MALAM : A LOOK BACK AT OUR CINEMATIC GREATNESS

LEWAT DJAM MALAM

Sutradara : Usmar Ismail

Produksi : Perfini & Persari, 1954

Tak usah jauh-jauh ke luar negeri. Cukup hanya di Asia Tenggara, name all. Malaysia? Thailand? Filipina? Negara-negara itu punya katalog film yang terus direstorasi dan diedarkan dalam DVD secara luas sehingga generasi sekarang bisa menonton harta karun dalam sejarah sinema mereka. Sementara kita? Selain sebagian besarnya teronggok tanpa perawatan layak atas perhatian pemerintah yang minim di Sinematek Indonesia, cuma segelintir yang bisa didapat di pasaran. Itu pun bukan yang terlalu lama rentang waktunya. Sebagian lagi, ada yang sudah rusak, atau hilang entah kemana. Padahal, sejarah kita mencatat karya-karya klasik jaman dulu itu sudah memiliki kualitas yang patut disandingkan dengan karya-karya sinema internasional.

So, kita sangat perlu berterima kasih pada tiga pihak : Yayasan Konfiden, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta dan Sinematek Indonesia serta pendukung-pendukungnya termasuk JB Kristanto yang sudah mengusahakan proses panjang restorasi ‘Lewat Djam Malam’ lewat kolaborasi dengan National Museum of Singapore (NMS) di sebuah laboratorium film ‘L’Immagine Ritrovata’ di Bologna, Italia. Bahkan World Cinema Foundation (WCF), yayasan film dunia yang didirikan oleh Martin Scorsese ikut memberikan sumbangsihnya. Dan ‘Lewat Djam Malam’ memang bukanlah karya yang sembarangan. Selain memenangkan film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1955 berikut A.N. Alcaff sebagai aktor terbaik, Dhalia sebagai aktris pendukung terbaik, Bambang Hermanto sebagai aktor pendukung terbaik, plus penata musik G.R.W. Sinsu, penata artistik Chalid Arifin dan skenario Asrul Sani, film produksi Perfini yang diproduksi Bapak Perfilman Nasional kita, Usmar Ismail (sekaligus sebagai sutradara) bersama Djamaluddin Malik, memiliki signifikansi historis serta kualitas sinematis yang masih up to date dengan saat ini. Pemutarannya di Cannes Film Festival Mei lalu dalam ajang Cannes Classic, juga memperoleh apresiasi besar dari sineas-sineas internasional disana. Melewati masa 1,5 tahun untuk restorasinya semaksimal mungkin, kini ‘Lewat Djam Malam’ kembali ditayangkan secara estafet di bioskop-bioskop kita dan nantinya juga akan didistribusi ke seluruh dunia oleh WCF. Meski terbatas, ini sudah seharusnya jadi bagian sejarah yang sangat layak untuk ditunggu. Bahwa jauh sebelum pikiran-pikiran murni komersil mengotori sejarah sinema kita hingga sempat terpuruk seakan tak mampu bangkit lagi, Usmar Ismail sudah menghasilkan banyak mahakarya. Ini adalah salah satunya.

Iskandar (A.N. Alcaff), seorang bekas pejuang yang mencoba kembali ke masyarakat menemukan bahwa adaptasi itu tak semudah yang ia kira. Selain trauma perang masih terus menghantuinya, usaha Norma (Netty Herawati), kekasihnya, untuk membantu Iskandar bekerja di sebuah instansi negara berujung pada kekacauan. Keadaan pasca kemerdekaan yang belum benar-benar aman serta pemberlakuan jam malam juga makin memperparah kondisi sosial sekitarnya bersama keadaan keluarga Norma dengan adiknya (Aedy Moward) yang hanya gemar berpesta sana-sini. Usaha Iskandar untuk meminta pertolongan rekan seperjuangannya, Gafar (Awaludin) malah makin memperburuk keadaan saat ia bertemu lagi dengan Gunawan (Rd Ismail) yang menjalankan bisnis secara kotor atas aji mumpung dari penyebab traumanya di masa-masa perang. Bersama bekas anak buahnya, Pujo (Bambang Hermanto) yang mengelola rumah bordil, Iskandar merencanakan penegakan keadilan terhadap Gunawan. Namun pertemuannya dengan Laila (Dhalia), pelacur pemimpi disana justru makin membuat kemarahannya memuncak. Di tengah jam malam, impian Iskandar untuk bisa kembali ke masyarakat pun semakin jauh.

See? Baca lagi sinopsis itu. Jauh sebelum Hollywood memulai gempuran trend mereka terhadap tema-tema veteran perang yang mencoba kembali ke society di tengah trauma kekejaman perang terlebih pasca perang Vietnam yang menggerogoti jiwa masyarakat mereka bersama borok-borok ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya, seorang Usmar Ismail sudah memiliki visi yang luarbiasa terhadap penggalian tema-tema seperti ini. Teknologi sinematis yang belum lagi tergolong modern dengan penyajian B & W itu pun semakin mengesankan pendekatannya seolah sebuah film noir yang penuh dengan penelusuran psikologi jiwa-jiwa karakternya yang terluka. Wujudnya bisa jadi adalah sebuah drama, namun apa yang dilakukan Usmar Ismail, tanpa juga membuang jauh trend musikal yang masih marak sekali waktu itu termasuk di karya-karyanya atas pengaruh sinema Amerika dan India, jauh lebih dalam dari sebuah psychological thriller dengan detil-detil yang sama terjaga. Bersama naskah Asrul Sani, ia membawa kita secara bertahap ke kegelisahan pikiran Iskandar, menyentil satu demi satu kegilaan karakter-karakter sampingannya hingga semuanya meledak ke bagian-bagian ending yang meski penuh klise-klise film jadul kita, punya keterkaitan yang sangat utuh dalam benang merah plotnya, bahkan tanpa terlalu banyak flashback dalam tendensi jualan menggambarkan suasana peperangan. Gripping at any arousing tension. Dan entah bangsa kita yang belum juga bisa maju-maju, sentilan-sentilan sosialnya atas keadaan masyarakat serta pemerintahan zaman itu pun, masih klop dengan apa yang terjadi sekarang-sekarang ini.

Selebihnya, A.N. Alcaff sebagai karakter utamanya memang bermain sangat baik menokohkan Iskandar yang penuh dengan kegelisahan. Gestur dan gerak-geriknya sempurna menggambarkan semuanya. Pendukung-pendukung lain juga sama baiknya termasuk Bambang Hermanto dan Aedy Moward, yang juga belakangan semakin menanjak namanya dalam perfilman kita, dalam porsi scene-stealer yang cukup. Namun tak ada yang lebih baik dari Dhalia sebagai Laila yang tampil sangat komikal di tengah absurditas karakternya sebagai seorang pelacur kelas bawah. Skor garapan G.R.W. Sinsu juga juara dalam membangun feel ke tiap adegannya. Sekarang, semuanya semakin terasa dengan hasil restorasi yang tergolong cukup luarbiasa di kejernihan gambarnya meski menyisakan audio yang masih terdengar agak kotor di beberapa bagian. Apalagi bila Anda pernah menyaksikan versi unrestored-nya dalam kondisi sekarang.

Jadi jangan heran mengapa Martin Scorsese begitu memuji ‘Lewat Djam Malam’. Bisa jadi, ia melihat cikal bakal ‘Taxi Driver’ dengan atmosfir dan konflik-konflik kejiwaan karakter yang sangat mirip ada disini, serta Alexander Payne, sineas yang kerap menyorot jiwa-jiwa terluka dalam karyanya yang juga jadi salah satu juri film feature ikut menyebutnya sebagai film yang emosional. Dengan semua kelebihan yang dimilikinya, ‘Lewat Djam Malam’ jelas bukan hanya sekedar masterpiece dari Usmar Ismail, tapi juga sebuah masterpiece dari sejarah sinema bangsa ini. A look back at our cinematic greatness! (dan)

~ by danieldokter on June 26, 2012.

3 Responses to “LEWAT DJAM MALAM : A LOOK BACK AT OUR CINEMATIC GREATNESS”

  1. Sayangnya belum masuk (atau bahkan diragukan bakal masuk) ke Semarang / Surakarta / Yogya – at least itu wilayah yg dekat dg saya sekarang. Saya dengar perolehannya di bioskop juga menyedihkan. Bang Daneil nonton di bioskop berapa orang waktu itu? Semoga kelak rilis DVD-nya.

  2. sulit utk dibilang menyedihkan walaupun jumlahnya di bawah 1000 penonton, karena copynya memang sangat terbatas, cuma ada di beberapa bioskop. limited release. yg nonton lumayan kok waktu saya nonton. tapi ya balik2 lagi ke minimnya jumlah bioskop yg muter makanya dibuat estafet ke beberapa kota, giliran.

  3. […] Lewat Djam Malam (Remastered) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: