CINTA DI SAKU CELANA : LOVE BEYOND METAPHORS

CINTA DI SAKU CELANA

Sutradara : Fajar Nugros

Produksi : Starvision, 2012

Ok. Tampilan poster itu mungkin sangat mengesankan sebuah komedi romantis biasa dibalik barisan castnya yang sangat menjanjikan. Namun seorang Fajar Nugros, sineas yang sebelum ini sudah menghasilkan ‘Queen Bee’ dan menulis skenario ‘Tendangan Dari Langit’ bukan sedang sekedar ingin melucu dibalik sebuah kisah cinta. Datang dari buah pikirannya yang awalnya tertuang di notes facebook sebelum lantas diracik ke dalam sebuah novel kumpulan cerpennya yang diterbitkan Gramedia, ‘I Didn’t Lose My Heart, I Sole It On Ebay’, penerjemahan ke skenarionya kini ditangani oleh Ben Sihombing. Judul itu sendiri sebenarnya sudah sedikit banyak menjelaskan, bahwa ‘Cinta Di Saku Celana’ memang dibesut Fajar dengan pendekatan filosofis. Menggunakan banyak metafora serta simbol-simbol, seolah lovestory-lovestory karya Wong Kar-Wai, jawabannya adalah seperti apa narasi itu dibawa Fajar dalam pendekatan tersebut.

Berbeda dengan Gifar (Dion Wiyoko), sahabatnya yang sama-sama tumbuh di sebuah panti asuhan tapi agresif luarbiasa terhadap wanita, dari kecil, Ahmad (Donny Alamsyah) tak pernah mengenal cinta. Rutinitasnya bekerja sebagai pegawai kantorpos membawanya mengenal Bening (Joanna Alexandra) di gerbong KRL yang dinaikinya setiap hari. Tapi Ahmad tak pernah bisa menyatakan perasaannya selain hanya bisa merekam Bening dengan handycam jadulnya dan menulis surat cinta, hingga sebuah peristiwa naas membawanya pada Gubeng (Ramon Y. Tungka), pencopet Pasar Senen, yang disewanya untuk mencopet cinta Bening. Bukan Gubeng mengingkari janjinya, namun cinta Bening yang sudah dicopetnya tertinggal di saku celana yang mereka cuci di laundry sebelum ia memilih insyaf karena tertangkap. Sementara pemilik laundry yang juga gembong narkoba, Roy (Gading Marten) juga berusaha mendapatkan cinta itu. Ahmad pun terus berusaha menelusuri jejak cinta Bening, meski kenyataannya cinta itu makin sulit ia raih.

Donny Alamsyah, Joanna Alexandra, Ramon Y. Tungka, Lukman Sardi, Dion Wiyoko, Gading Marten, Agus Kuncoro, Masayu Anastasia, Endhita, hingga aktris senior Yati Surachman plus Luna Maya dalam satu film, meski sebagiannya hanya sekedar numpang lewat, berakting bagus atau tidak, itu tak bisa dipungkiri, sudah memberikan daya tarik ‘Cinta Di Saku Celana’ jauh lebih gede dari ukuran sebuah saku celana. Tak heran kalau Starvision yang biasanya cenderung lebih suka tontonan-tontonan pasaran batal memasarkannya secara terbatas seperti rencana awal. Soundtracknya pun tak kalah asyik seperti satu yang paling menarik perhatian dalam trailernya, ’Foto Dalam Dompetmu’-nya Slank. Namun bukan berarti kolaborasi itu semua tertata rapi. Masing-masing nama besar itu memang muncul dengan akting komikal senada dengan absurditas plot yang digelar Fajar bersama Ben, namun chemistry Donny dan Dion yang paling mendominasi terkadang masih kelihatan canggung, jauh di bawah duetnya dengan Ramon yang terasa lebih kompak. Di luar mereka masih ada Imey Liem, Vita Ramona, Eko Kristianto dan Pricillia Tanamal yang mencuri perhatian dalam peran singkat mereka.

Dan pendekatan penuh simbol serta metafora mulai dari kartupos, gerbong dan rel commuter, dompet, lorong-lorong pasar, palu stempel petugas pos hingga borgol dan pistol untuk menjelaskan cinta di setiap sisi plotnya, mau tak mau memang membawa tone ’Cinta Di Saku Celana’ jadi sama surealnya. Di banyak sisi, terasa absurd hingga mungkin jadi segmental buat sebagian penonton yang tak biasa akrab dengan style seperti ini. Sinematografi  Padri Nadeak juga sayangnya masih sama dengan kontinuitas bagian-bagian awal plot sebelum masuk ke wilayah yang jauh lebih sureal dengan metafora-metafora yang lebih lagi. Tak seluruhnya konsisten memberikan visual secantik absurditas plotnya. Cesa David Luckmansyah di departemen editing sebenarnya sudah terlihat mencoba menyambung benang merah-benang merah ini sebisa mungkin, namun inkonsistensi itu masih tetap terasa di banyak bagian.

Begitupun, di ranah film kita, dalam genre lovestory, Fajar dkk sudah memberikan sebuah usaha penyegaran yang baik dibalik pack of stars-nya untuk urusan pasar. Ditambah skor Tya Subiakto dan tata suara yang bagus dari Khikmawan Santosa, begitu menariknya tampilan cast itu sampai penonton mungkin mau sedikit lebih berkompromi untuk bisa lebih memahami tiap-tiap simbol yang ditampilkan Fajar. Thus, sangat sulit untuk tak menyukai ’Cinta Di Saku Celana’ dengan sederet kompromisme visual yang sangat menghibur itu. This is love beyond metaphors. Pendekatan baru dalam sinema rom-com kita, dan siap-siap untuk merasakannya! (dan)

 

~ by danieldokter on June 29, 2012.

8 Responses to “CINTA DI SAKU CELANA : LOVE BEYOND METAPHORS”

  1. Aku sukaaaaa! Film keren😛

  2. Sempet bingung juga pas di tengah-tengah cerita.. Tapi overall emang terhibur ama film ini..

  3. abraham lincoln or this movie? and thanks to you, saya milih film ini nanti malem. Lokal FTW!

  4. haha dua2nya punya kelebihan dan kekurangan kok🙂

  5. […] Cinta Di Saku Celana […]

  6. […] Cinta Di Saku Celana […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: