AMBILKAN BULAN : A BACK TO BASIC CHILDREN MUSICAL WITH A GLIMPSE OF FANTASIES

AMBILKAN BULAN

Sutradara : Ifa Isfansyah

Produksi : Mizan Productions & Falcon Pictures, 2012

The truth. Film Anak, memang bukan barang langka dalam perfilman kita. Meski tak terlalu banyak, genre ini masih terus dibuat oleh sineas-sineas kita yang masih punya hati. Tapi masalahnya adalah sejauh mana niat baik itu membawa pesan-pesannya untuk jadi lebih dari sebatas hiburan tanpa harus bersusah-susah juga memberikan perenungan di sana-sini dengan pola pandang orang dewasa. Klise-klise dalam premisnya? Ah, itu biasa. Film-film anak di luar juga seperti itu. Let’s just say, pengulangan yang sah-sah saja dalam ranah genre ini. Dan seorang Ifa Isfansyah, sineas yang sudah berpengalaman dalam genrenya lewat beberapa film pendeknya, menyutradarai ‘Garuda Di Dadaku’ serta menulis skenario ‘Rindu Purnama’, kini menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Bukan sejarah film kita tak punya film anak-anak dengan genre fantasi. Dulu pun sudah banyak musical fairytale yang menghiasi film anak-anak kita. Tapi dalam bentuk yang berbeda, ini bisa dianggap usaha pertama untuk menyajikan efek visual karya anak bangsa sebagai jiwa yang menyatu bersama plotnya, dengan hasil yang bisa dibilang luarbiasa pula. Lengkap pula dengan penyampaian musikal, namun kali ini berwujud sebuah repertoire, tribute bagi karya-karya komposer lagu anak legendaris kita, A.T. Mahmud.

So here it is. Menyampaikan pesan yang nyaris sudah banyak ditinggalkan, Ifa membesut ‘Ambilkan Bulan’ secara back to basic. Mengajak anak-anak dalam era modern ini untuk lebih menyukai liburan ke desa dan menghargai alam daripada themepark gede di luar negeri atau hingar-bingar mall kota besar. Mengajak anak-anak untuk kembali mencintai lagu-lagu yang memang diciptakan untuk mereka, no matter how simple, ketimbang terus-terusan menyenandungkan lagu-lagu cinta dewasa yang mereka saksikan setiap saat di layar kaca kita. Bahkan permainan tradisional anak-anak yang sudah sebegitu jauh digantikan oleh teknologi dan gadget-gadget canggih. Naif luarbiasa? Melawan zaman? Might be, tapi semua pasti masih setuju ini perlu. Template itu boleh saja sangat klise, tapi Ifa meracik kombinasinya jadi sesuatu yang berbeda.

Amelia (Lana Nitibaskara) adalah gadis cilik berusia 10 tahun penggemar kupu-kupu yang sibuk membangun imajinasi di tengah kesepiannya. Kehilangan ayahnya (Agus Kuncoro) dalam sebuah kecelakaan, sementara ibunya, Ratna (Astri Nurdin) juga kelewat sibuk membangun karir. Chat facebook lantas mempertemukan Amelia dengan sepupunya, Ambar (Berlianda Adelianan Naafi), yang tinggal di sebuah desa di Karang Anyar, Solo, jauh dari kehidupan kota besar, sekaligus orangtua sang ayah yang tak pernah dikenalnya sejak kecil. Maka Amelia pun memaksa Ratna untuk membiarkannya berlibur kesana bersama paman dan bibinya. Konflik mulai berkembang ketika Amelia bersama Ambar dan tiga temannya, Pandu (Hemas Nata Negari), Hendra (Jhosua Ivan Kurniawan) dan Kuncung (Bramantyo Suryo Kusumo) tersesat ke dalam sebuah hutan penuh mitos tentang Mbah Gondrong (Landung Simatupang) yang tinggal disana.

Yup, bangunan plot itu memang klise. Lagi-lagi tentang anak-anak dalam liburan yang harus berhadapan dengan sekumpulan penjahat lokal. Tapi tak usah khawatir. Sekali ini, plot penuh pesan konvensional itu muncul dengan polesan yang sangat mumpuni. Ifa dengan lancar menyiasati itu dengan inovasi efek visual animasi yang dibesut oleh rekannya saat mendalami sinematografi di ISI (Institut Seni Indonesia), Yogyakarta, CGI Artist Kelik Wicaksono dari rumah produksi Four Colours Films yang sudah sangat berpengalaman lewat beberapa iklan bersama Eddie Cahyono sebagai Visual Effect Supervisornya. Tak hanya memberi warna berbeda pada pengadeganan imajinasi-imajinasi Amelia dan tambahan animasi di tengah sinematografi alam yang panoramik dari Mohammad Daus secara sangat memanjakan mata, visual efek ini juga hadir memperkuat dramatisasi hubungan Amelia lewat lukisan-lukisan ayahnya dengan sangat menyentuh. Magical di hampir semua sisi adegannya.

Di departemen akting, barisan pemeran anak-anaknya juga bermain dengan baik, namun sayangnya porsi pemeran utama yang dipegang Lana Nitibaskara malah tertinggal dengan Bramantyo Suryo Kusumo yang mencuri perhatian dengan kepolosan serta kejenakaannya sebagai Kuncung yang serba lepas. Aktor-aktris seniornya juga cukup baik termasuk Landung Simatupang dan Agus Kuncoro, meski tampil kebanyakan hanya dalam porsi flashback. Sayangnya ada sedikit kekurangan skenario Jujur Prananto dalam membangun dramatisasi plot di bagian-bagian benturan konflik ibu Amelia dan keluarga ayahnya, yang seharusnya mencuat jadi salah satu subplot penting akhirnya jadi terasa kurang wajar. Interkoneksi Amelia dan ibunya pun tak mampu mengimbangi feel touching di part Amelia dengan ayahnya. Lantas koreografi adegan-adegan tarinya, seperti biasanya film kita, jarang sekali tertata dengan sempurna.

Begitupun, semuanya bisa tertutupi dengan dayatarik lain yang hadir tak kalah kuat bersama inovasi visual itu , berupa tribute ke lagu-lagu A.T. Mahmud dalam membangun nuansa musikal yang terasa begitu padu dengan filmnya ketimbang hanya menjadi lagu-lagu latar. Dari ‘Ambilkan Bulan’ yang selain dinyanyikan langsung oleh Lana Nitibaskara yang memiliki kapabilitas sebagai penyanyi cilik juga dibawakan Sheila On 7 yang ikut muncul dalam adegan penutup, ada sebarisan grup/penyanyi terkenal yang menyanyikan lagu-lagu legendaris A.T. Mahmud seperti Numata (Amelia), She (Paman Datang), The Changcuters (Libur Telah Tiba), Cokelat (Mendaki Gunung), Judika (Kereta Apiku), Superman Is Dead (Aku Anak Indonesia), /rif (Gembala), Tangga (Pelangi) serta Astrid (Bintang Kejora). Skor dari Krisna Purna juga bekerja dengan baik di tiap adegannya.

Jadi begitulah. Dibalik klise-klisenya, ‘Ambilkan Bulan’ memang bukan hanya merupakan tontonan yang mengajak anak-anak mencintai kembali lagu-lagu yang diciptakan buat mereka serta menghargai alam, namun juga bagi seluruh keluarga untuk bernostalgia, kembali ke masa kanak-kanak sebagian dari mereka yang tumbuh besar dengan komposisi klasik itu. Ini seperti membaca children pop-up books dengan visual cantik serta iringan musik yang asyik di tiap-tiap halamannya. Sebuah fantasi musikal yang membawa kita ke akar tradisional anak-anak negeri ini. One to be always remembered, and as lovely as their good will! (dan)

~ by danieldokter on July 1, 2012.

One Response to “AMBILKAN BULAN : A BACK TO BASIC CHILDREN MUSICAL WITH A GLIMPSE OF FANTASIES”

  1. […] Ambilkan Bulan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: