THE AMAZING SPIDER-MAN : A WEBB-SHOOT THROUGH THE HEART

THE AMAZING SPIDER-MAN

Sutradara : Marc Webb

Produksi : Marvel Entertainment & Columbia Pictures, 2012

A reboot, dalam rentang waktu 5 tahun, may sounds a bit ridiculous. Tapi inilah keputusan para eksekutif Sony. Ketimbang maju dengan instalmen keempat Spider-Man Sam Raimi yang sudah punya patokan release-date, mereka memilih sebuah penyegaran. Ini sama sekali bukan karena cercaan banyak pihak atas hasil ‘Spider-Man 3‘, tapi lebih pada ‘creative differences’ yang kelewat kompleks dibalik pengembangannya. Mereka tetap sadar, bahwa di luar banyaknya bad reception itu, hasil BO ‘Spider-Man 3‘ justru jadi yang tertinggi diantara instalmen lainnya. So, tak ada alasan untuk tak melanjutkan franchisenya. And in nowadays trend, di saat unsur-unsur utama sebuah franchise sulit untuk dibawa kembali, reboot, adalah jalan paling aman.

Tak terlalu jauh setelah itu, berbagai press release pun muncul. Marc Webb, sineas yang baru sekali menyutradarai ‘(500) Days Of Summer‘ dengan resepsi fenomenal itu didapuk menjadi sutradara reboot ini, dengan Andrew Garfield dan Emma Stone sebagai pemeran utama yang mengalahkan banyak kandidat. Webb memang tak sekedar aji mumpung. Walau baru mengenal komik Spider-Man di usia yang lebih dewasa, ia mengerti betul bahwa universe superhero ini dari serial komik-komiknya yang berbeda, ala Marvel biasanya, masih punya banyak sekali sisi yang bisa diangkat dalam memulai pendekatan yang beda dengan versi Sam Raimi, namun tanpa juga kehilangan jembatan atas benang merah-benang merah karakter klasiknya.

Then again, berbeda dengan superhero-superhero legendaris Marvel maupun DC yang lain, seorang Stan Lee sebagai kreator awalnya memang mengembangkan Spider-Man dalam universe penuh romance. Ketimbang menampilkan balas dendam sebagai latar utamanya, ia lebih membidik psikologi karakter Peter Parker dalam pengalihan kehilangan-kehilangan itu ke sebuah kepahlawanan luarbiasa. So, in some cases, Marc Webb bisajadi kandidat yang tepat atas kiprahnya di ‘(500) Days Of Summer’. Skenario yang ditulis Steve Kloves, Alvin Sargent dan James Vanderbilt tak hanya menggunakan satu basis untuk keseluruhan plotnya. Walau villain yang mereka pilih, ‘The Lizard’, dibesut berdasarkan komik ‘The Amazing Spider-Man #6’, unsur lainnya diracik dengan penggabungan serial komik lain seperti ‘Ultimate Spider-Man’ serta beberapa inovasi baru. Tujuannya hanya satu. Membuat gambaran karakternya lebih scientifically logic dalam set dunia nyata, tapi tak sampai harus merusak semuanya jadi realistis tanpa arah. Jangan lupa bahwa ini adalah produk Marvel dimana mereka, terlebih dalam usahanya sekarang merebut kembali semua rights atas franchise-nya untuk bisa mempertahankan visi terhadap industri yang kadang maunya aneh-aneh, hampir tak pernah mengecewakan fans-fans sejati-nya seperti DC. A superhero universe, bagaimanapun, tetap merupakan sebuah fantasi. Bukan realita. Dan orang-orang ini sudah memunculkan inovasinya dengan seimbang.

Peter Parker muda (later played by Andrew Garfield) yang sudah kehilangan kedua orangtuanya (Campbell Scott & Embeth Davidz) secara misterius sejak dititipkan pada Uncle Ben (Martin Sheen) dan Aunt May (Sally Field). tumbuh dewasa sebagai sosok nerd yang kerap di-bully, namun punya kepintaran luarbiasa. Penemuannya atas sebuah tas tua milik orang tuanya dulu membuat Peter nekat menyelusup ke gedung Oscorp, sebuah laboratorium penemuan tempat highschool crush-nya, Gwen Stacy (Emma Stone) bekerja part time, untuk menemukan sejumlah data sekaligus menemui Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), kolega ayahnya dulu yang bertangan satu. Disana, secara tak sengaja, Peter tersengat seekor laba-laba elektrik yang sudah dimodifikasi secara genetik dalam usaha panjang penelitian Connors bersama orangtuanya mengembangkan teknologi regenerasi DNA, atas permintaan Dr. Ratha (Irrfan Khan), asisten pemilik Oscorp.  Peter pun mulai menyadari bahwa efeknya membuat ia memperoleh sebuah kekuatan mirip laba-laba, yang lantas digunakannya untuk membuat perhitungan pada siswa-siswa nakal di sekolah. Namun sebuah tragedi yang terjadi pada Ben membuat Peter mengalihkan kemampuan ini menjadi vigilante yang keluar di malam hari menangkapi penjahat untuk menemukan pembunuh pamannya. Sosoknya yang menggunakan topeng merah atas inspirasi poster seorang wrestler latin pun mulai menarik perhatian NYPD di bawah pimpinan George Stacy (Denis Leary), ayah Gwen. Saat Connors yang dipecat Ratha kalap dan mencoba penemuan itu langsung pada dirinya,  ia berubah wujud menjadi sesosok monster reptil raksasa yang ganas. Maka Peter yang sudah menyempurnakan penampilannya pun muncul untuk menyelamatkan kota sekaligus Gwen yang terjebak dalam Oscorp Tower untuk mencari antidotum bagi Connors serta sebagian penduduk yang dikontaminasinya. Awal dari sepak terjang Peter yang kini dikenal luas sebagai superhero bernama Spider-Man.

So, ‘The Amazing Spider-Man‘, seperti yang dikatakan Webb, bukanlah hanya sebuah reboot. Plot yang mereka racik atas penggalan-penggalan sumber berbeda komik-komik aslinya itu seolah hadir dengan sebuah ‘Untold Story’ dari Spider-Man universe. Mau sebagian besar plot klasiknya tetap muncul, Webb membuatnya terasa berbeda dengan pendekatan Raimi yang tak mengkompromikan sisi fantasinya sebagai sebuah franchise superhero. Secara sejarah Spider-Man memang sangat kental di sisi dramatisasi plotnya, dari problem psikologis Peter Parker yang kehilangan orangtuanya hingga sisi kecerdasannya yang dieksplor lebih dengan tampilan kostum non-spandex buatan sendiri yang bisa berkerut-kerut dengan potongan kacamata, artificial webshooter seperti dalam ‘Ultimate Spider-Man’, bukan jaring organik tapi biokemikal sebagai efek samping kekuatannya, plus pastinya bagian-bagian lovestory Peter Parker dan Gwen Stacy sebagai love-interest Spider-Man sebelum Mary Jane yang sangat harus mencuat ke permukaan, versi Webb memang terasa sangat full of hearts. Apalagi dengan skor yang kali ini ditangani James Horner dan nomor-nomor OST yang terasa sangat indie dalam style Webb di ‘(500) Days Of Summer‘.

Begitupun, bukan berarti Webb bersama penulis skenarionya mengorbankan gegap-gempita gelaran klasik genre superhero dalam terms summer blockbuster. Mereka boleh saja membuat kita kehilangan gerakan-gerakan klasik khas Spider-Man yang berhasil di-capture Raimi dengan sempurna demi menggantikannya dengan stunt parkour yang tak kalah asyik, quote-quote smartass Peter Parker saat beraksi sebagai Spider-Man dan merubah keseluruhan tone-nya jadi aksi malam hari, namun bersama dramatisasi yang di-push sedemikian rupa hingga lovestory Peter-Gwen yang tampil sangat campy seperti aslinya, pameran efek demi efek tetap disusupkan ke action-action kecil dalam jalinan plotnya sehingga tak sekalipun menurunkan pace-nya. Mereka malah menyempalkan lagi hubungan-hubungan manusiawi Spider-Man dengan beberapa tokoh dalam menekankan sisi logical itu termasuk lewat sebuah karakter thankful father yang diperankan oleh seorang mantan bratpack C.Thomas Howell yang sudah terlalu lama jatuh ke film-film kacangan.

Hasilnya, pendekatan itu terasa jauh lebih logis serta humanis dengan penerjemahan yang sangat baik dari Andrew Garfield sebagai pemeran Spider-Man baru, namun tak lari jauh dalam koridornya sebagai storytelling berbasis fantasi. Mereka pun tetap bermain-main dengan sempalan komedi dan aksi serta fantasi yang seru, termasuk di cameo Stan Lee terbaik yang pernah ada dalam film-film adaptasi Marvel. Sedikit beda dengan Peter Parker-nya Tobey Maguire yang serba naïf, bukan juga berarti tak bagus, Garfield, seperti peran-perannya di film lain, menelusuri penderitaan dan ambisi Peter Parker dengan kesempurnaan berbeda. Dan mirip seperti pendekatan yang digunakan dalam ‘James BondDaniel Craig atau ‘Star Trek‘, keseluruhan inovasi ini memang menekankan bahwa ‘The Amazing Spider-Man‘ adalah sebuah metamorfosis awal karakter klasiknya.

Polesan CGI berikut visual yang dibesut dengan kamera 3D mutakhir di bawah supervisi James Cameron bekerja sangat baik di adegan-adegan action, lengkap dengan visual POV yang sangat asyik ketika Spider-Man berayun-ayun di tengah pencakar langit New York. And Emma Stone sebagai Gwen Stacy, as ever, semakin menambah pesona dalam romantisasinya bersama aktor-aktor senior yang meski tampil singkat tapi tetap menghadirkan kesan spesial. Dari Campbell Scott, Embeth Davidz, Denis Leary, aktor India bertampang pas-pasan namun kian dikenal penonton internasional yang dimunculkan untuk memuluskan BO-nya di India, Irrfan Khan, dan pastinya, duet Martin Sheen dan Sally Field. Rhys Ifans sebagai Dr. Curt Connors aka The Lizard pun tampil dengan karakterisasi yang kuat.

So you see? inilah kedigdayaan Marvel. Inovasi yang sangat menggali sisi lain tanpa harus keluar dari jalur orisinilnya, dengan penerjemahan cast yang sempurna pula. Meninggalkan kita dengan lebih dari 5 menit antiklimaks yang sangat heartbreaking sebelum mempesona semua visual kita lewat kemegahan Spidey-swinging menembakkan webshooternya tepat ke depan mata dan sedikit hint after credits ke sekuelnya nanti,  this Spider-Man has dig deeper without ever losing its excitement as a classic superhero blockbuster! Shoot the next web, Webb! We’re waiting for another sequels! (dan)

~ by danieldokter on July 3, 2012.

4 Responses to “THE AMAZING SPIDER-MAN : A WEBB-SHOOT THROUGH THE HEART”

  1. terakhirnya curt connors ngmg amaa siapa sii?

  2. [spoiler] It’s Norman Osborn. aka Green Goblin🙂

  3. […] The Amazing Spider-Man […]

  4. Tapi sya kok lebih ngeh sama spiderman yang sebelumnya mungkin karena itu yng muncul duluan ,,, tapi it’s okey sama kyak yng di cartoon nya tak terlalu mengecewakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: