ICE AGE 4 : CONTINENTAL DRIFT ; STILL CRACKIN’ UP!

ICE AGE 4 : CONTINENTAL DRIFT

Sutradara : Steve Martino & Mike Thurmeier

Produksi : Blue Sky Studios, 20th Century Fox Animations, 2012

Sebagai salah satu franchise animasi paling gede di luar wilayah Pixar, dimana letak kehebatan ‘Ice Age’? Produksi Blue Sky Studios yang jadi bagian dari 20th Century Fox Animations ini memang sudah memiliki franchise begitu besar di umur hampir satu dasawarsa. Tak hanya sebagai film layar lebar yang sudah mencapai instalmen ke-4 dan terus melaju di box office, ‘Ice Age’ punya seabrek animated shorts dalam peredaran DVD, television specials, games tie-in, bahkan live shows, di luar produk-produk jualan official merchandise lainnya. Hasilnya? Hampir 2 milyar USD secara keseluruhannya, sebelum instalmen ke-4 ini turut menggebrak di box office-nya.

Hanya satu yang utama. Ia melaju dengan sebuah keunikan yang beda dengan franchise animasi lain. Tak seperti Pixar yang kuat sekali heart factor-nya dalam tema-tema modern, bukan ‘Shrek’ yang meng-crossover fairytale legendaris ke dalam ‘Never-Never Land’-nya, serta meski sama-sama berupa fabel, ia tak menggagas sisi adventure-nya sama seperti ‘Madagascar’. Di tengah set zaman es purbakala itu, selain petualangan tiga tokoh utamanya, Manny The Mammoth, Sid The Sloth dan Diego The Sabre-Toothed Cat, ‘Ice Age’ membangun plot serta komedinya dari fenomena geografis yang meski timeline-nya kacau-balau menyalahi teori yang ada, lengkap dengan ancient creatures-nya sebagai pengetahuan populer yang sangat kaya. Dan overall, adalah tokoh Scrat The Sabre-Toothed Squirrel, yang sebenarnya jadi inovasi terbaik franchise ini.

Digagas dengan parallel distraction ke tiap-tiap plot utamanya, dari opening animated short, Scrat dilempar ke tengah-tengah plot utamanya demi membangun komedi nyeleneh yang membuat dayatariknya semakin besar. Dari sendiri, sampai punya karakter-karakter tambahan dalam plot paralelnya bahkan makin besar porsinya menuju sekuel-sekuel berikutnya. Bersama karakter-karakter hewan prasejarah berbeda di tiap sekuel yang tak harus punya kesinambungan penuh, fenomena alam itu tampil layaknya sebuah sajian dokumenter namun tak pernah sekalipun melupakan wujudnya sebagai blockbuster animasi tontonan keluarga yang seru, lucu, namun juga punya pesan berharga terhadap alam dan hubungan keluarga/persahabatan. Satu-dua karakter yang menarik, bahkan tetap dipertahankan ke instalmen selanjutnya.

Dalam ‘Continental Drift’, kreator-kreatornya menyuguhkan inovasi baru lagi. Selain disutradarai oleh Steve Martino (sutradara ‘Horton, Hears A Who!’, sebelumnya dari art department Blue Sky) dan Mike Thurmeier (co-director ‘Ice Age 3 : Dawn Of The Dinosaur’ berikut animation supervisor di instalmen-instalmen sebelumnya) yang memegang regenerasi bakat-bakat di Blue Sky, ini kali pertama dalam pengertian sebenar-benarnya, franchise ‘Ice Age’ hadir dengan nuansa musikal dan theme song official-nya. Untuk tendensi itu, mereka pun menggamit sebaris nama penyanyi terkenal ke dalam voice castnya. Ada Jennifer Lopez, Nicki Minaj, Keke Palmer, Drake, Ester Dean yang kini mendampingi Queen Latifah yang sudah jadi karakter tetap, dengan dua themesong yang hadir di end creditsnya. Satunya, dinyanyikan oleh seluruh voice cast, ‘We Are’, dalam penutup ala videoklip yang meriah, serta ‘Chasing The Sun’ dari The Wanted.

Melanjutkan petualangan mereka setelah berhadapan dengan para dinosaurus, Manny (Ray Romano) harus menghadapi ‘coming-of-age’ sang putri, Peaches (Keke Palmer) yang selalu bertentangan dengan dukungan sang ibu, Ellie (Queen Latifah), di tengah cinta segitiganya dengan mammoth jantan, Ethan (Drake) dan molehog mini, Louis (Josh Gad). Tak hanya itu, Sid (John Leguizamo) juga menambah masalah dengan ulah keluarganya yang membuang sang nenek, Granny (Wanda Sykes) yang sudah pikun untuk dirawat Sid. Sementara populasi mereka tengah berada dalam ancaman gempa besar akibat ulah Scrat. Kala benua mereka terbelah, Manny, Sid, Diego (Denis Leary) pun terpisah dari keluarga mereka. Granny yang tak sengaja ikut serta turut menambah apes keadaan ini. Dan Ellie, Peaches bersama sekawanan hewan purba di populasinya pun harus berjuang mencapai lokasi aman di sebuah jembatan penghubung.

Namun perjuangan itu juga tak semudah yang dibayangkan. Tiga sekawan ini harus menghadapi geng perompak pimpinan monyet purba Gutt (Peter Dinklage) tangan kanannya Shira (Jennifer Lopez), dan hewan-hewan kawanannya (Nick Frost, Aziz Ansari, Kunal Nayyar, Rebel Wilson & Alain Chabat ; yang terakhir ini merupakan sineas serba bisa dari Perancis, dari aktor/produser/penulis sampai sutradara yang karyanya sudah kita saksikan dalam ‘Asterix Et Obelix : Mission Cleopatre’ & ‘RRRrrrr!’) yang menawan mereka. Usaha mereka bergabung dengan pasukan hyraxes (kelinci purba) akhirnya bisa menyelamatkan mereka dari kumpulan Gutt termasuk Shira yang malah menyeberang untuk bergabung dan mulai tertarik dengan Diego. Tapi dendam Gutt membawanya menyandera Ellie dan Peaches di tengah perjuangan mereka mencapai jembatan penghubung yang mulai runtuh. Dan Scrat, masih melanjutkan petualangannya hingga ke Scratlantis dengan penasehatnya, Ariscratle (Patrick Stewart), yang lagi-lagi punah terbenam ke dasar laut karena ulahnya.

Skenario ‘Ice Age 4 : Continental Drift’ yang dikerjakan Michael Berg yang sudah jadi penulis sejak instalmen pertamanya, kini bersama Jason Fuchs yang sebelumnya lebih banyak berperan sebagai aktor dalam sejumlah serial televisi dan co-writer Mike Reiss yang juga dikenal sebagai produser/penulis beberapa episode ‘The Simpsons’ ,memang tak membawa film keempat ini beranjak jauh dari pakem aslinya. Namun tambahan karakter yang kelewat banyak, belum lagi mereka tetap mempertahankan banyak karakter lama termasuk dua possum nakal Crash & Eddie yang disuarakan Seann William Scott bersama Josh Peck, berikut subplot-subplot yang disempalkan ke dalamnya jadi semakin padat mau tak mau membuat instalmen ini jadi terasa sedikit overloaded dibanding pendahulunya. Tapi ketimbang jatuh jadi sia-sia, detil-detil yang dibangun Berg bersama timnya boleh dibilang bisa menyelamatkan kondisi penuh sesak tadi dengan sisi komedi dan adventure seru-nya. Dengan cerdik, mereka menyelipkan metafora Alkitab ke karakter-karakter ini. Dari kisah Nabi Nuh, Nabi Yunus degan Paus-nya dan Nabi Isa yang berjalan di atas air. Chemistry para tokoh utamanya tetap tak luntur, dan Scrat tetap muncul sebagai distraksi sempurna ke wilayah lucu-lucuannya. Malah, sejumlah karakter baru itu mampu muncul sebagai highlight, dari Gutt si perompak, Louis si molehog, Shira-nya J-Lo, hingga yang paling bersinar, karakter Granny, yang mengambil porsi besar di konklusi akhirnya.

Then the rest is just visuals. Seperti studio animasi lain dengan franchise mereka yang tetap bisa dipertahankan sama jauhnya, Blue Sky berhasil mengeksplorasi visual ‘Ice Age 4 : Continental Drift’ ini dengan fenomena prehistoric yang makin sinting dengan kecantikan penuh. Meski gimmick 3D-nya tak terasa se- ‘eye-popping’ ‘Madagascar 3’ barusan, adegan-adegan aksi pertarungan di tengah laut dan es purbakala-nya masih tertata dengan intensitas seru bersama skor John Powell yang menggantikan komposer David Newman sejak film pertamanya. Dan jangan lupa juga untuk tak melewatkan animated shorts ‘The Simpsons : The Longest Daycare’ sebagai openingnya.

So, ok, semua boleh saja punya pilihan berbeda tentang instalmen mana yang paling mereka sukai dari keseluruhan franchise-nya, namun apapun pilihan serta kekurangannya, yang sudah pasti akan sangat relatif, ‘Ice Age’ tetap memancarkan kehebatan itu, dimana masing-masing instalmennya, seperti biasa, selalu punya highlight karakter dan adegan jagoan berbeda untuk mempesona para pemirsanya. Bisa Ellie di ‘Ice Age 2’, Buck di ‘Ice Age 3’ atau Granny di film keempat ini, dengan momennya masing-masing. Faktor yang tetap bisa mereka pertahankan sekuat instalmen sebelumnya walau di tengah gempuran para superhero dari ‘The Avengers’, ‘Spider-Man’ dan ‘Batman’-nya Nolan, atau franchise animasi yang lain. Yang jelas, ketika seluruh voice cast tadi tampil dalam themesong ‘We Are’ yang meriah itu di endingnya, you’ll feel nothing but entertained! (dan)

~ by danieldokter on July 16, 2012.

One Response to “ICE AGE 4 : CONTINENTAL DRIFT ; STILL CRACKIN’ UP!”

  1. […] Ice Age: Continental Drift […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: