THE DARK KNIGHT RISES : AND THE LEGEND ENDS IN EPIC

THE DARK KNIGHT RISES

Sutradara : Christopher Nolan

Produksi : Legendary Pictures, DC Comics, Syncopy Pictures, Warner Bros, 2012

Lebih dari inovasi dalam style penyutradaraannya, Christopher Nolan adalah seorang mastermind. Let’s admit that. Tak semua sineas bisa punya penggemar fanatik dalam kultus-kultus serupa. Dari perdebatan dan pertengkaran panjang, ancaman-ancaman, hingga realita pahit kriminalitas yang terjadi barusan di Colorado, Denver. Betapa ‘Memento’ dan ‘Inception’ sampai sekarang masih diperdebatkan, betapa ‘The Dark Knight’, instalmen kedua dari adaptasi Batman versi dia masih memancing banyak keributan antara fans dalam kelas-kelas berbeda, dan pastinya, kiprahnya sebagai produser dengan kontrol penuh di ‘Man Of Steel’ yang bakal tayang tahun depan.

So draw the differences. Real fans Batman dalam sejarah panjang metamorfosis karakternya, real fans Nolan, atau sekedar fans-nya Batman versi Nolan yang makin jauh melenceng sejak instalmen kedua yang fenomenal itu, adalah sesuatu yang berbeda, dalam menjelaskan beda-beda persepsi seputar perdebatan itu. Namun sebuah adaptasi, apalagi superhero dalam comic universe sebagai pakem paling dasar sourcenya, tetap merupakan pop culture. Nolan boleh saja melawan arus mainstream, tapi ranahnya, tetaplah sebuah blockbuster, bukan arthouse movies yang jauh dari persepsi-persepsi komersial. Baik ‘Batman Begins’, ‘The Dark Knight’ dan ‘The Dark Knight Rises’, sebagai bagian dari trilogi ‘The Caped Crusader’ ini tak bisa secara universal Anda golongkan sebagai film yang diinginkan fans, bagaimana-pun besar pencapaian di kualitas filmis dan box office-nya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan dari kacamata kelas fans yang berbeda-beda tadi. Ada Batman, ada Nolan dan ada pula Batman versi Nolan.

And what do we need to know about Batman/Bruce Wayne dalam sejarah panjang karakter itu? Let me give you an overview. Bahwa Bruce Wayne, dibalik trauma masa kecil yang membentuknya jadi seorang superhero bernama Batman, adalah sosok milyuner introvert yang jenius dan cenderung psikopat. Dan sisi inilah yang dikembangkan dalam metamorfosisnya dari era ‘golden age’ yang penuh warna-warni dan campy ke universe yang lebih gelap dan dewasa belakangan, tanpa peduli dengan adanya karakter Robin sebagai sidekicknya yang susah bisa melepaskan warna komikalnya. Ia tak pernah punya kapabilitas hasil rekayasa atau radiasi, bukan juga makhluk planet lain. Kejeniusan dan latar traumatik itulah yang membentuk kekuatannya. Dengan kostum dan gadget. Dengan sidekicks dan dukungan orang-orang terdekatnya. Dengan kemampuan bermacam-macam bela diri dan penguasaan senjata ringan sampai berat yang dipelajarinya. Dengan kemampuan strategi luarbiasa di tiap aksinya. Even at worst times, Batman is a mastermind, dari aksi solo hingga kolaborasinya dalam ‘Justice League of America (JLA)’ dan organisasi superhero DC lainnya.

Sesuai bangunan awal karakternya yang diinspirasi dari ‘Zorro’ dan ‘Sherlock Holmes’, ia beraksi seolah seorang detektif. Dan jauh dari nuansa romantisasi komikal ‘Superman’ atau saingan dari Marvel, ‘Spider-Man’, mau punya karakter wanita yang dipacarinya hingga punya keturunan, Batman, tak pernah punya love interest dalam definisi paling dasar. Karena itu, di luar penggambarannya di era ‘golden age’ yang sebenarnya juga sudah memaparkan semua unsur tadi secara superfisial, Batman memang punya nuansa dark dan pendekatan realis, dibalik metafora New York yang digagas secara gothic dengan nama Gotham, yang sedikit banyak memberi keseimbangan realisme tadi dengan nuansa komikalnya. Dan Batman, butuh sebuah kecantikan koreografi yang menjelaskan metafora karakternya dengan kelelawar yang jadi inspirasinya, dimana kostum dan gadget tadi tak sekedar jadi tempelan tanpa fungsi. Cara dia bergerak, cara dia muncul di tengah kegelapan, cara dia meng-counter serangan, dan masih banyak lagi. Bukan seperti Bruce Lee atau Jackie Chan, tapi murni sebagai Batman dalam keunikan tersendiri.

Now let’s look back, secara masing-masing instalmen itu memang mengambil inspirasi plotnya dari penggalan komik-komik Batman yang berbeda. ‘Batman Begins’ (2005) mengambil ‘Batman : Year One’, ‘Batman : The Long Halloween’, dan ‘The Man Who Falls’ dalam sisi lain perjalanan awal Batman dan crossover twist karakter Henri Ducard dengan salah satu seterunya yang terkenal, ‘Ra’s Al Ghul’ yang diperkenalkan pertama kali dalam komik ‘Birth Of A Demon’. Gambaran keseluruhannya tetap tak bisa lepas dari sisi komikal dengan kemegahan Gotham yang serba gothic, dalam kapasitas berbeda dengan Batman versi Tim Burton yang sebenarnya juga sudah memulai nuansa ‘dark and mature’ dalam atmosfer adaptasinya. Di luar usaha membangun realisme dari identitas Batman dengan suara Bruce Wayne yang harus dibuat berat dan serak saat berubah rupa sebagai Batman serta sempalan karakter fiktif Rachel Dawes sebagai love interestnya, hanya ada satu kekurangan fatal seperti yang diakui Wally Pfister, sinematografer Nolan bersama Chris Corbould, supervisor efek spesialnya, adegan action dalam ‘Batman Begins’ belum tertata dengan baik. Kita tak bisa jelas melihat detil adegan-adegan itu se-seru Batman versi sebelum-sebelumnya.

Kegagalan itu mungkin yang membuat Nolan melanjutkan instalmen keduanya, ‘The Dark Knight’ (2008) dalam style yang berbeda. Resikonya adalah sebuah inkonsistensi dari predesesornya. Karakter Batman diobrak-abrik sedemikian rupa tanpa benang merah yang sudah dimulai dari ‘Batman Begins’, bertindak tanpa strategi secara sangat berlawanan dari latar belakang beladirinya. Dalam set yang sama, kemegahan dan sisi gothic Gotham itu juga hilang entah kemana. Dan dalam membangun plotnya, sisi love interest yang sayangnya diganti dari Katie Holmes ke Maggie Gyllenhall yang maaf, sama sekali tak punya fisik menarik untuk disandingkan dengan Christian Bale itu, malah semakin merusak penerjemahan karakternya. Yang terparah, usaha Nolan makin me-realisasikan atmosfernya, justru jadi pincang dengan tampilan ‘Two-Face’-nya Harvey Dent yang selain kelewat komikal, merupakan salah satu blunder medis terkonyol dalam konteks realisme sinema Hollywood, hampir setaraf dengan adegan obrak-abrik otak di klimaks ‘Hannibal’.

Namun dalam sisi lain eksplorasi plotnya, mengambil part dari dua komik perdana Batman, novel grafis ‘Batman : The Killing Joke’ dan ‘Batman : The Long Halloween’,  ‘The Dark Knight’, harus diakui, membawa nuansa baru ke dalam genre film-film sejenis. Bersama berkembangnya trend yang diinginkan sebagian penonton dalam sisi ‘darker and more mature’, pendekatan psychological thriller, layered twist dan unsur sinematis lainnya muncul dengan sempurna. Apalagi, tragedi nyata pemeran ‘Joker’, bagian terpenting dalam sejarah Batman sebagai nemesis abadinya, Heath Ledger, membawa kesempurnaan sinematis yang benar-benar sulit buat ditampik. Walau diakhiri dengan open ending tragis tanpa bisa berbuat banyak pada kejelasan konklusi karakter Joker, resepsinya pun terpecah membawa perdebatan panjang antara kelas-kelas fans tadi, di luar box office yang juga melambung setinggi langit berikut 2 kemenangan dari 8 nominasi Oscar. Overrated atau tidak, ‘The Dark Knight’ menjadi adaptasi yang diinginkan fans Nolan serta Batman versi Nolan, tapi bukan real fans karakter serta komiknya.

And this has set another expectation to the sequel, which is the last part of the trilogy, yang sempat diwarnai keraguan Nolan untuk kembali bila tak benar-benar memiliki plot yang diinginkannya. Ketika press release bermunculan menyatakan Nolan bersedia kembali, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana ia bersama adiknya, Jonathan bersama David S. Goyer membawa konklusi akhir dari trilogi Batman versi mereka. Banyak ekspektasi muncul dari penempatan cast, villain yang dipilih hingga keyakinan-keyakinan bahwa ‘The Dark Knight Rises’, judul yang dipilih sebagai penutup itu akan membawa franchise ini ke arah yang lebih lagi dari ‘The Dark Knight’, apalagi dengan sebagian besar cast yang dibawa Nolan dari kesuksesan ‘Inception’ (2010). Namun ketika real fans Batman kian merasa ditinggalkan, menjelang perilisannya, promo-promo serta trailer yang bermunculan kembali memunculkan harapan terhadap sebuah tampilan yang lebih komikal. Kenyataannya, Nolan dkk memang belajar untuk mengeksplorasi lebih dalam karakter ini, dan lagi, pernyataan Pfister dan Corbould menyebutkan bahwa proses pembelajaran mereka dalam desain produksi sudah jadi semakin matang lewat ‘Inception’ yang muncul dengan adegan aksi serta efek visual serba mutakhir itu. Dan sedikit clue tentang koreografi dan tampilan ‘The Bat’ yang jauh lebih komikal dari Batmobile versi ‘Tumbler’ serta setingkat diatas ‘Batpod’, semakin menjelaskan semuanya. Yang tertinggal akhirnya hanya bagian ending yang di-salah persepsikan oleh sebagian orang yang mendapat kesempatan menyaksikannya sebelum world premiere-nya sebagai sisi yang bakal mengundang kontroversi. Kenyataannya, real fans Batman, bukan Nolan atau Batman-nya Nolan, akan jauh lebih peduli terhadap kesetiaan mereka ke karakterisasi di komiknya.

8 tahun setelah kepergian Batman dari Gotham City, kota itu berada dalam keadaan aman. Namun Komisaris James Gordon (Gary Oldman) tetap merasa bersalah dengan kamuflase kejahatan Harvey Dent (dalam ‘The Dark Knight’ diperankan Aaron Eckhart) dan berniat membuka semua dengan pengunduran dirinya. Bersamaan dengan itu, Gotham ternyata mulai diserang oleh seorang kriminal bernama Bane (Tom Hardy), mantan anggota League Of Shadows (dalam komik,  League Of Assassin) –nya Ra’s Al Ghul (Liam Neeson) yang berniat merancang sebuah revolusi lanjutan bersama teroris-teroris kawanannya. Saat Gordon menjadi korban dan terpaksa memindahkan komando pada deputi Peter Foley (Matthew Modine) dibantu seorang polisi muda, John Blake (Joseph Gordon Levitt), Bruce Wayne (Christian Bale) yang menyepi dibalik Wayne Manor pun berniat untuk kembali mengenakan kostumnya. Apalagi setelah mengetahui lewat CEO Wayne Enterprise, Lucius Fox (Morgan Freeman) bahwa serangan ini punya hubungan dengan posisi perusahaannya yang berada di ambang kebangkrutan dengan investasinya di sebuah reaktor nuklir pengatur banjir yang didanai seorang pengusaha wanita misterius, Miranda Tate (Marion Cotillard), berikut John Daggett (Ben Mendelsohn) yang ingin mengambil kesempatan bersama Bane yang disewanya. Meski ditentang sang pelayan setia, Alfred J. Pennyworth (Michael Caine), Bruce kemudian kembali beraksi sebagai Batman dan menghadapi Bane lewat seorang perampok yang menarik perhatiannya, Selina Kyle (Anne Hathaway). Namun ia malah terjebak dan dalam keadaan cedera parah dibuang ke sebuah penjara terasing. Gotham pun kian berada di ujung tanduk dengan Bane yang menjebak seluruh polisi terkubur di bawah tanah, melepaskan seluruh narapidana Arkham Asylum, dan siap mengaktifkan reaktor nuklir yang akan meratakan seluruh kota. Sekarang, apapun resikonya, Bruce harus kembali menelusuri takdirnya dibalik sejarah hidup Bane untuk bisa kembali dengan sebuah perhitungan terakhir demi keselamatan Gotham dan orang-orang terdekatnya.

Digagas dari penggalan-penggalan komik ‘Batman : Knightfall’, ‘Batman : Legacy’, ‘No Man’s Land’ , ‘Catwoman : Selina’s Big Score’, sedikit part dari ‘Batman : R.I.P.’, plus literatur klasik ‘A Tale Of Two Cities’-nya Charles Dickens dalam metafora beberapa karakter serta gambaran chaos dan dekadensi sosial antar kelas dibalik set Gotham, Nolan kembali menghadirkan eksplorasi mendalam dari sisi plotnya. Tetap tak hanya sekedar seorang superhero melawan seterunya, skenario yang ditulisnya bersama Jonathan berdasar plotline-nya bersama Goyer, menampilkan plot berlapis yang mengembalikan benang merahnya pada ‘Batman Begins’. Bersama karakter-karakter baru yang dimunculkan, durasinya juga semakin melebar hingga 165 menit yang beresiko menurunkan kans box officenya sebagai sebuah blockbuster, namun eksposisi karakter di paruh awal itu memang terbangun rapi untuk membuka lembar demi lembar layered twist yang disiapkan sebagai konflik utama dari penggalan komik-komik tadi bersama sedikit inovasi terhadap crossover-nya. Apalagi, cast yang tampil sekilas hingga yang lebih penting, bukan sembarangan. Dari aktor-aktor junior namun cukup dikenal seperti Aidan Gillen, Josh Pence, Daniel Sunjata, Juno Temple hingga senior seperti Matthew Modine dan Tom Conti dalam mewarnai ensemble cast utamanya yang tetap solid plus Liam Neeson dan Cillian Murphy yang kembali tampil.

Di luar Bale yang makin intens menokohkan Bruce Wayne dibalik kerapuhan karakternya, Michael Caine yang seperti biasa menambah kekuatan dramatisasi franchise ini, Gary Oldman dan Morgan Freeman yang tetap memberi thrill-thrill keren sebagai Gordon dan Lucius Fox, empat karakter barunya juga muncul dengan sangat menarik. Joseph Gordon-Levitt sebagai officer John Blake yang memegang peranan sangat penting dalam salah satu twist sekaligus screen-stealer terkuatnya, sama seperti penampilannya di ‘Inception’, Marion Cotillard sebagai Miranda Tate yang mampu menyembunyikan turnover twist karakternya serta Tom Hardy yang harus merelakan wajahnya nyaris terus tertutup sebagai Bane, plus Anne Hathaway, yang membawa kualitas berbeda ke deretan aktris-aktris terkenal yang pernah muncul sebagai Selina Kyle aka Catwoman. Plotnya mungkin tak memberi kesempatan lebih terhadap Hardy sebagai Bane bila dibandingkan Joker-nya Heath Ledger, seperti yang banyak dibandingkan orang-orang, namun aura warrior Hardy yang kerap mencuri perhatian dalam film-filmnya tetap muncul dengan solid lewat gestur, postur kokoh dan tatapan tajam matanya. Sebagian kritik terhadap intonasinya yang jadi tak jelas dibalik topeng yang dikenakan Bane justru menambah penekanan penting terhadap karakternya.

Namun diatas semuanya, pencapaian terunggul dalam ‘The Dark Knight Rises’ adalah sebuah keseimbangan dalam konteks adaptasi dan genre superhero. Lebih dari ‘Batman Begins’ yang menyimpan sejumlah kekurangan dan ‘The Dark Knight’ yang kelewat segmental dan mengecewakan real fans Batman, Nolan dkk menunjukkan bahwa mereka bisa menggagas atmosfer komikal yang tak pernah disangka bisa sejauh ini dibalik kedalaman plot serta tampilan twist berlapis yang tetap bisa dipertahankan. Tanpa harus sepenuhnya kehilangan relasi ke template yang lebih realis seperti sebelumnya, konsistensinya sebagai kelanjutan ‘The Dark Knight’ tetap dipertahankan sejak awal sebelum dialihkan dengan rapi pada perempat film dengan kembalinya sosok Batman ke arah ‘Batman Begins’ dan semakin menanjak ke bagian-bagian akhir, lengkap pula dengan sekuens-sekuens flashback dari film-film sebelumnya. Gotham yang tetap kosong dan realis di bagian-bagian awal juga kembali ke nuansa gothic-nya dengan butiran salju di perempat akhir bersama tone suara Batman yang digagas jauh lebih wajar, tetap berat tapi tak lantas jadi kelewat aneh.

Karakter Batman sebagai psikopat jenius penuh strategi pun sangat menyeruak ke depan bersama koreografi yang pas dalam konteks karakter aslinya. Tak nihil seperti dalam dua instalmen sebelumnya, namun tak juga berlebih seperti dalam genre-genre martial arts. Gerakan sayap saat Batman berdiri tegak memandang Gotham dari atas gedung tinggi, gestur jatuhnya dengan menutup sayap itu ke dalam, dan kali ini, dalam tiap hand to hand combat fights, Batman memukul, menangkis dan meng-counter serangan baliknya dengan strategi. Just like the Batman we knew from his origin. Bahkan taste komikal itu semakin menjulang di final showdown ‘The Bat’ yang melayang-layang menghindari rudal di atas Gotham di tengah kehancuran. Dalam kapasitas yang pastinya beda dengan blockbuster hingar-bingar seperti ‘Transformers’ atau ‘The Avengers’, tapi tetap di intensitas yang terjaga, ataupun sempalan romantisme dan dramatisasi di sempitnya timeline di adegan klimaks saat Batman harus mengambil keputusan telak demi menyelamatkan Gotham. Lengkap pula dengan skor Hans Zimmer yang terdengar makin menggelegar. All comics.

Terakhir, tak ada yang lebih baik dari sekuens demi sekuens untuk menghadirkan konklusi dari trilogi ini dengan twist yang terus digempur bersama final scenes-nya yang sangat emosional. Sebuah epilog yang akan membuat Anda tersenyum, terharu, dan ini yang paling penting. Mau ternyata penonton yang sebelumnya begitu memuja-muja sisi dark dan mature genre yang sebelumnya banyak dinilai kekanak-kanakan ini tetap tak rela jagoan mereka terkubur bersama instalmen final sementara real fans Batman akan bisa menebak kemana arah penutup itu bergerak, ‘The Dark Knight Rises’ akan menyisakan aplaus panjang yang tak akan bisa tertahan, dibalik lagi-lagi, dentuman skor Zimmer yang sangat majestis mengantarkan kita ke penghujungnya. Nolan sudah menggaris batas akhir konklusi trilogi legendaris ini sebagai satu yang terbaik dalam sejarah sinema. Here goes the warmest handshake untuk Nolan dan timnya sebagai sineas terkenal yang tetap mau mendengar kritik dan tak pernah malu mengaku untuk sebuah usaha pembelajaran. An epic masterpiece, and the truest Batman we all wanted in years! (dan)

Exclusively written for Movie Monthly (M2)

~ by danieldokter on July 22, 2012.

14 Responses to “THE DARK KNIGHT RISES : AND THE LEGEND ENDS IN EPIC”

  1. I’ve been waiting for ur review, mas Daniel🙂. So far this is the best review of TDKR. Reviewnya berimbang, membahas trilogy Batman-nya Nolan secara keseluruhan, bukan cuma utuh TDKR saja. Dan sebagai pecinta Batman-Nolan, akhirnya saya malah jadi tahu kekurangan yang ada pada TDK. Great review as always🙂

  2. thank you🙂

  3. ulasan yg berimbang dan memuaskan.🙂

  4. There Will No Other Batman Like Nolan Trilogy… This Epic Finalle Will Be The Best Movie To Me….

    Thank You for A great Review

  5. reaktor nuklir pengatur banjir. seriously?
    reaktor nuklir pengatur banjir..
    reaktor nuklir pengatur banjir
    dafuq did I just said.

  6. sori kalo melencengkan persepsi. reaktor itu kan untuk clean source of energy. through hydropower. cara kerjanya ya seperti dam. menggunakan air sebagai sumber energi, ya sedikit banyak pengertiannya kesana. mengalihkan banjir kanal dalam pengertian aliran air secara masif ; bukan bencana🙂

    • reaktor nuklir make nuklir sebagai sumber energi. hydropower make energi kinetik air sebagai sumber energi (tanpa bantuan nuklir).

      adapun banjir yang disebut-sebut di Rises adalah skenario antisipasi jika reaktor tersebut tidak terkendali dan terlalu panas sehingga perlu didinginkan dengan aliran air yang masif. (inget kejadian raktor nuklir fukushima di jepang pasca tsunami lalu yg harus dialiri air biar dingin?)

  7. I think the fusion reactor is intended to imitate the process that powers the sun… It can be a pollution free, near limitless, and cheap source of energy

  8. thanks for the info, anyway🙂

  9. hah, ngomongin yang gak penting! yang penting ni pilm epic! dahsyat abis! gak bakal ada yang bisa nandingin!

  10. arits artis sebelumnya yang berperan sebagai selika kyle aka catwoman ??????

  11. Ada Julie Newmar & Eartha Kitt (Batman Adam West series), Lee Meriwether (Batman Adam West movie), Michelle Pfeiffer (Batman Returns), dan Halle Berry (Catwoman) sebelum Hathaway.

  12. […] THE DARK KNIGHT RISES […]

  13. […] The Dark Knight Rises […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: