THE THREE STOOGES : BRING ‘EM BACK ALIVE!

THE THREE STOOGES

Sutradara : The Farrelly Brothers

Produksi : C3 Entertainment, Conundrum Entertainment, 20th Century Fox

The truth. Kadang kita memang tak bisa begitu saja dengan enak menikmati sebuah film tanpa tahu source aslinya. Even if you’re not a real moviegoers yang harusnya peduli dengan tetek-bengek di seputar latar belakang filmnya, walaupun penilaian sebuah film itu berdasar selera yang beda-beda, some movies, were meant to be that way. Segmental. Bukannya semua orang tak punya hak sama buat memilih tontonan, namun lebih baik mundur ketimbang mengeluarkan pendapat lucu yang tak sinkron dengan kenyataannya. Relatif itu wajar, tapi tetap, harus punya dasar. Bukan asal.

Dan genre komedi, punya sisi lain lagi dalam penilaiannya. Ia bisa sangat subjektif bila tak berhasil memancing tawa, dan pengaruhnya akan besar sekali bila orang yang melawak di depan itu, atau gaya lawakannya, tak kita sukai. Even if we all know Jim Carrey, Mike Myers, Adam Sandler ataupun Will Ferrell diakui industrinya sebagai komedian terkenal, some people just don’t like them. Mau dibandrol rating jeblok dan seabrek Razzie Awards sekali pun dari berbagai bentuk sentimen kelompok yang tak suka, ada box office yang tetap bicara sebagai penentuan akhirnya. Face it.

Dan ‘The Three Stooges’-nya Farrelly Brothers ini, duo sutradara kakak beradik Peter Farrelly dan Bobby Farrelly yang sudah punya stempel kuat di genre-genre komedi nyeleneh mereka, bukanlah sebuah biografi karakter nyata atau adaptasi film-film klasiknya. Ini lebih ke sebuah usaha menghidupkan kembali karakter-karakter legendaris itu ke penonton zaman sekarang. Layaknya sebuah tribute yang membuat kita kembali menyaksikan kegilaan mereka, yang sebenarnya perlu terus dihidupkan untuk mengenang betapa berjasanya mereka terhadap perkembangan komedi bukan hanya di negaranya sendiri, tapi juga mendunia sama seperti Charlie Chaplin atau duo Laurel & Hardy. Cuma sayang, kecuali orang-orang yang suka mengeksplor film-film klasik, kebanyakan pemirsa Indonesia mungkin tak mengenal mereka sebesar Chaplin. Paling yang cukup menarik perhatian adalah rencana panjang re-living-nya dengan ultimate cast Jim Carrey, Sean Penn dan Benicio Del Toro, walau akhirnya batal, yang sampai ke kuping banyak orang untuk mengeksplorasi siapa mereka-mereka ini sebenarnya.

So who’s The Three Stooges? Sebagai pelawak yang terkenal di pertengahan abad ke-20, mereka kerap muncul dalam film-film pendek hingga panjang-nya. Gaya komedinya sedikit kasar dengan slapstick-slapstick fisik, dari memukul kepala sampai mencolok mata, lineups-lineups khas yang diterjemahkan penggemarnya dengan ‘nyuk, nyuk, nyuk’ serta tingkah lain dari clamping, clapping dan knuckling yang juga sangat khas. Tiga personilnya adalah Moe, si cemberut dengan rambut berpotongan batok kelapa, Larry dengan kribo botak tengah-nya dan Curly si tambun yang masuk menggantikan kakaknya, Shemp, sebagai formasi awal ‘The Three Stooges’. Sejak itu, ‘The Three Stooges’ berkembang menjadi sebuah franchise komedi solid yang tak hanya punya film, tapi juga komik, album musik, hingga perusahaan bernama Comedy III (C3) Entertainment. Walau semua personilnya sekarang sudah tak ada, franchise itu masih terus berkembang dalam museum, merchandise, dan peredaran homevideos.

Mengikuti pakem klasik aslinya, The Farrelly Brothers menggagas ‘The Three Stooges’ dalam tiga chapter/acts yang diawali dari asal-usul fiktif mereka. Dalam act 1, ‘More Orphan Than Not’, Moe (later played by Chris Diamantopoulos), Larry (later played by Sean Hayes) dan Curly (later played by Will Sasso) yang dibuang orangtua mereka dititipkan ke panti asuhan ‘Sisters Of Mercy’ yang dikelola biarawati-biarawati Katolik pimpinan Sister Superior (Jane Lynch) bersama Sister Rosemary (Jennifer Hudson) dan Sister Mary-Mengele (Larry David) yang kejam dan belakangan punya sentimen pribadi terhadap Moe, Larry dan Curly yang suka mengerjainya secara tak sengaja. Moe sebenarnya hampir diadopsi oleh sebuah keluarga kaya (Stephen Collins & Carly Craig) namun permintaannya membawa serta dua sahabatnya malah memberi kesempatan buat anak kecil lain bernama Teddy (later played by Kirby Heyborne) yang akhirnya terpilih. Mereka hidup hingga dewasa di panti itu sampai akhirnya Uskup Ratliffe (Brian Doyle-Murray) datang untuk menutup ‘Sisters Of Mercy’ dengan sebuah alasan, kecuali mereka bisa mendapatkan uang sebesar $830.000 untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan. Moe, Larry dan Curly pun berniat menjadi pahlawan, hijrah ke kota demi mencari dana ini.

 

Act 2 : ‘The Bananas Split‘ mengisahkan perjuangan mereka di kota. Tak sengaja bertemu dengan Lydia (Sofia Vergara) yang ingin membunuh suaminya demi bisa lari bersama Mac (Craig Bierko) berujung kacau hingga akhirnya memisahkan Larry dan Curly dengan Moe yang secara tak sengaja terpilih tim casting reality show ‘Jersey Shore’ karena emosinya. Dan twist dalam plotnya baru terbuka di Final Act ‘No Moe Mister Nice Guy’ yang mempertemukan Moe, Larry dan Curly kembali dengan Teddy dan usaha akhir mereka menyelamatkan ‘Sisters Of Mercy’. Dan Farrelly Brothers masih melanjutkan kegilaan mereka dalam sebuah post epilogue dimana mereka berdua diperankan Antonio Sabato, Jr dan Justin Lopez, awkwardly, yang menjelaskan trik-trik slapstick ‘The Three Stooges’ agar tak ditiru pemirsa anak-anak di rumah, secara rating film ini adalah PG sesuai dengan kondisinya sebagai tontonan yang turut bisa dinikmati anak-anak dengan pengawasan orangtua.

Oke. Carrey, Penn dan Del Toro boleh saja batal tampil dalam proyek Farrelly Brothers yang cukup ambisius ini, namun tak ada yang lebih baik dari pemilihan cast yang mereka lakukan dengan kecermatan tinggi, membuat kita seolah kembali melihat ‘The Three Stooges’ asli, lengkap dengan tingkah komedi khas mereka ke layar lebar. Chris Diamantopoulos, aktor televisi yang muncul di serangkaian serial terkenal dari ‘Nip/Tuck’, ‘Boston Legal’ hingga ‘24’ yang harus bekerja keras mengerutkan wajahnya di sepanjang film agar menyerupai Moe asli, Sean Hayes dari sitkom ‘Will And Grace’ yang di ‘hair-do’ sebagai Larry dan Will Sasso, komedian luwes yang punya spesialisasi impersonating selebritis terkenal sebagai Curly yang harus bekerja tak kalah keras me-mimicking slapstick-slapstick fisik karakter aslinya, ketiganya tampil sukses menirukan ‘The Three Stooges’ persis seperti aslinya. Nyaris sempurna, dan luarbiasa.

Selebihnya adalah bintang-bintang pendukung yang cukup dikenal termasuk Jennifer Hudson dan Sofia Vergara, yang dipadukan dengan kegilaan khas Farrelly Brothers di film-film komedi gaya mereka. Walau tetap setia mengangkat atmosfer asli ‘The Three Stooges’ dari banyak referensi film-film lamanya, mereka tetap menyempalkan mocking dan kekurangajaran khas mereka, hingga ‘The Three Stooges’ versi ini mendapat cercaan dari sebagian kelompok Katolik yang menganggap tampilan biarawati-biarawati itu, termasuk nama Mary-Mengele yang dianggap terinspirasi Josef Mengele, Nazi penjahat perang terkenal (as portrayed by Gregory Peck in ‘The Boys From Brazil’) dan biarawati seksi berbikini yang diperankan model swimsuit Kate Upton.

So, terlepas dari keberhasilan luarbiasa menghadirkan ulang ‘The Three Stooges’ dibalik skrip yang juga cukup kreatif mengulang banyak penggalan film lamanya sebagai tribute yang solid, ‘The Three Stooges’ memang merupakan tontonan yang sangat segmental. Tak hanya gaya komedi slapstick apalagi dengan aksi-aksi fisik ini makin terkikis dengan komedi-komedi ‘berotak’ ala Judd Apatow dkk di trend komedi yang ada sekarang, ketidaktahuan penonton luar AS terhadap format aslinya berikut crossover-nya dengan reality show ‘Jersey Shore’ berikut cameo bintang-bintangnya yang juga tak akrab dengan penonton luar itu jelas akan sangat mempengaruhi kenyamanan untuk menikmatinya. Mungkin tak akan banyak penonton yang bisa tertawa sekeras orang-orang yang sudah lebih dulu mengenal dan pernah menyaksikan film-film aslinya disini. Sebagian malah mungkin akan menganggapnya luarbiasa aneh. Lagi-lagi kembali ke pengenalan source sebuah produk yang mau tak mau akan membuat repot sebagian moviegoers sejati, tapi percayalah, once you enjoyed the original, this one will bring ‘em back alive just as you wanted! (dan)

~ by danieldokter on July 27, 2012.

5 Responses to “THE THREE STOOGES : BRING ‘EM BACK ALIVE!”

  1. ah ternyata ada juga orang yang menikmati The Three Stooges versi Farrelly Brothers as I do.
    Hahahaha…
    kirain gw udah yg paling nyeleneh di tengah orang-orang yang benci film ini.
    I think at least it’s still “hearty”, don’t u think?

  2. Whoaa, always love to read your review, selalu ada sudut pandang baru dalam menilai filmnya🙂

  3. @vincentjose : Benci krn ga kenal, biasa🙂

  4. @tyazism : thank u, mam!🙂

  5. […] The Three Stooges […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: