THE DOUBLE : A RATHER EXPIRED POST COLD WAR THRILLER

THE DOUBLE

Sutradara : Michael Brandt

Produksi : Hyde Park Entertainment, Imagenation Abu Dhabi, Imagine Entertainment, 2012

Mungkin kita sudah sampai ke masa-masa dimana hanya satu dua aktor senior yang bisa bertahan di industri film Hollywood dengan peran-peran layak. Bahkan nama-nama besar seperti Al Pacino atau Robert De Niro saja bisa jatuh ke dasar terbawah mereka, dan sebagian ‘action heroes’ ‘80-‘90an kini terpuruk ke film-film homevideo. Richard Gere, mungkin belum separah itu. Tapi agaknya mencoba bertahan di genre-genre cop action thriller, genre yang dulu sebenarnya bukan spesialisasinya, walau sebagian seperti ‘No Mercy’, ‘Internal Affairs’, ‘The Jackal’ ataupun ‘Brooklyn’s Finest’ tergolong bagus, juga bukan pilihan tepat. Saat trend sinema sekarang banyak menghasilkan letupan-letupan yang bagus dari drama-drama indie berkapasitas kecil, genre action thriller yang dibuat tanggung-tanggung untuk konsumsi bioskop justru semakin menjatuhkan karir bintang-bintang terkenal itu. ‘The Double’, yang lumayan telat dirilis disini, adalah juga salah satunya. Dalam kelas mirip seperti ‘Righteous Kill’ atau ‘Son Of No One’, bahkan twist-twist yang diselipkan ke dalam premisnya, tetap tak lagi bisa menolong film-film itu di tengah status medioker-nya. Begitulah.

Dan ‘The Double’, pada kenyataannya memang punya satu faktor medioker dalam sinema Hollywood. Meski barisan castnya lumayan kuat, dan sutradara debutan Michael Brandt sebelumnya sudah punya nama sebagai penulis dalam film-film terkenal seperti ‘2 Fast 2 Furious’, ‘Wanted’, dan ‘3:10 To Yuma’-nya Russell Crowe dan Christian Bale, produsernya adalah Ashok Amritraj. Amritraj, produser India yang berasal dari Chennai, Tamil Nadu, yang sekarang menjabat sebagai CEO Hyde Park Entertainment, memang tak bisa lepas sepenuhnya dari warna film-film B produksinya di awal-awal karirnya, di era awal ‘90an, saat trend thriller erotik seperti ‘Night Eyes (1-3)’ atau ‘Illicit Behavior’ merambah sinema sebagai epigon kesuksesan ‘Basic Instinct’. Deretan film-film produksi Amritraj menuju milenium baru, walau naik kelas dibalik sejumlah peningkatan kapasitas produksi dengan satu-dua film berkategori lumayan (‘Bringing Down The House’, ‘Death Sentence’ atau ‘Walking Tall’), tetap saja mentok di kelas medioker tadi. Sebut diantaranya, dari ‘Street Fighter : The Legend Of Chun-Li’, ‘Killers’, ‘Dylan Dog’ hingga ‘Ghost Rider : Spirit Of Vengeance’ barusan. Hampir semuanya mengecewakan. Apa boleh buat.

Pembunuhan seorang senator membawa sebuah kasus lama dalam tubuh intelijen AS kembali terangkat. Atas modus yang sama, direktur CIA Tom Highland (Martin Sheen) mencurigai kembalinya seorang agen ganda Rusia sekaligus pembunuh berdarah dingin bernama Cassius yang selalu melaksanakan operasinya dengan gorokan kawat baja di leher korbannya dan tak pernah tertangkap. Maka agen CIA Paul Shepherdson (Richard Gere), orang yang dianggap paling tahu sepak terjang Cassius dulunya, diaktifkan kembali dari masa pensiunnya. Paul pun dipaksa bekerja sama dengan agen rookie FBI, Ben Geary (Topher Grace) yang pernah menggunakan Cassius sebagai bahan tesisnya hingga sedikit terobsesi hingga kerap meresahkan istrinya, Natalie (Odette Yustman). Berdua mereka melakukan investigasi yang mengarah pada agen Rusia yang berhasil menyusup ke AS, Bozlovski (Tamer Hassan), namun semakin dalam mereka masuk, semakin besar pula rahasia atas sebuah konspirasi tingkat tinggi dalam tubuh badan intelijen sekaligus pribadi masing-masing itu terkuak satu demi satu.

Masalah terbesar ‘The Double’ adalah skrip yang terlalu berusaha untuk jadi sebuah thriller spionase yang solid. Bukan saja karena tema-tema pasca perang dingin seperti ini sudah jarang bisa terlihat menarik di zaman sekarang, lembar-lembar lapisan twist itu tak memiliki keseimbangan satu sama lain untuk dibuka satu demi satu dengan rapi. Tak ada yang salah dengan pace keseluruhannya, namun twist final yang mendadak sontak muncul dalam durasi akhir kelewat singkat itu jadi lebih terasa ridiculous dan dipaksakan ketimbang menghentak, sementara twist yang terkesan sangat penting justru terlalu cepat buat dibuka di bagian-bagian awal. Entah mungkin untuk membuatnya sedikit beda dengan genre-genre sejenis, namun ini justru jadi bumerang yang mengganggu intensitas dalam tautan plotnya. Apart of that, chemistry diantara Gere dan Grace kelihatan mentah sekali di pengembangan karakter yang juga terlalu berusaha membuat dua karakter ini kelihatan lovable di tengah sisi abu-abu mereka. Sebagai antagonisnya, Tamer Hassan yang seolah KW2-nya Antonio Banderas dan nyaris tak pernah selektif memilih peran ini pun seperti biasanya, serba tanggung. (Mungkin akan jadi jauh beda bila mereka benar-benar meng-casting Banderas untuk peran Bozlovski) . Plus Martin Sheen yang sekedar tempelan belaka, hanya ada Odette Yustman yang berusaha menjadi dayatarik di tengah-tengah maskulinitas yang tak tertata rapi ini.

And so, begitulah. Tanpa bisa dipungkiri, nama Richard Gere dan Topher Grace bagi sebagian penggemar mereka mungkin tetap punya daya jual meski rentang waktu edarnya disini sudah sangat terlambat. Namun kenyataannya, ‘The Double’ memang merupakan thriller spionase yang serba tanggung dan bakal lewat begitu saja. A rather expired post cold war thriller. (dan)

~ by danieldokter on July 31, 2012.

One Response to “THE DOUBLE : A RATHER EXPIRED POST COLD WAR THRILLER”

  1. […] The Double […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: