STREET DANCE 2 : HOTTER, NOT BETTER

STREET DANCE 2

Sutradara : Max Giwa & Dania Pasquini

Produksi : Vertigo Films & BBC Films, 2012

Trend dance movies yang dibawa franchise ‘Step Up’ kembali ke puncak kejayaannya, ternyata juga merambah Inggris. Hasilnya adalah ‘Street Dance’ (2010) yang lebih dulu menggunakan gimmick 3D ketimbang ‘Step Up 3’. Walau sedikit banyak berstatus epigon dengan premis tak beda jauh dari dua instalmen awal ‘Step Up’, susah buat disangkal, ‘Street Dance’ memang tampil solid dengan latar Inggris-nya. Dalam kapasitas berbeda, dance sequences yang dihidupkan dari bakat-bakat berbagai reality show itu, berikut soundtrack-nya, sama dahsyatnya seperti film-film bergenre dance besutan Hollywood. Resepsi yang baik di peredaran globalnya pun membuat ‘Street Dance’ langsung muncul sebagai saingan utama ‘Step Up’, apalagi, mereka langsung merencanakan sebuah sekuel dengan twist baru yang belum sempat disentuh ‘Step Up’. A latin twist named ‘Salsa’ untuk mewarnai hoppin’ and poppin’-nya. Dan tak tanggung-tanggung, rilisnya yang berdekatan dengan instalmen keempat ‘Step Up’ juga seolah sebuah dance battle diantara keduanya.

Dipermalukan oleh grup Street Dance tak terkalahkan, The Invincible, saat mencoba menunjukkan bakatnya, seorang popcorn boy, Ash (Falk Hentschel) mendapatkan motivasi dari anak muda ambisius, Eddie (George Sampson) untuk menebusnya melalui sebuah kompetisi Street Dance di Paris. Bersama mereka kemudian berkeliling Eropa merekrut bakat-bakat emas untuk membentuk grup Street Dance yang solid. Ada Bambam (Elisabetta Di Carlo), Ali (Ali Ramdani), Steph dan Yo Yo (Stephanie Nguyen-Delphine Nguyen), Terrabyte (Kaito Masai), Legend (Niek Traa), Killa (Ndedi Ma-Sellu), Tino (Samuel Revell), Skorpion (Brice Larrieu), dan Junior (Akai Osei-Mansfield). Sekarang masalahnya hanya mencari formula baru yang belum pernah ada dalam kompetisi Street Dance, dan kunjungan mereka ke sebuah klub milik Manu (Tom Conti) akhirnya mempertemukan Ash-Eddie dengan keponakannya, Eva (Sofia Boutella), seorang penari salsa disana. Namun menyatukan dua aliran berbeda ini dibalik ketertarikan pribadi Ash pada Eva, juga bukan hal yang mudah.

Ambisi Max Giwa & Dania Pausini (now credited as Max & Dania), duo sutradara dibalik kesuksesan ‘Street Dance’ mengeksplor wilayah baru dalam tema-tema serupa, sayangnya tak berjalan mulus di skripnya. Tampilan begitu banyak bakat-bakat yang mereka saring dari berbagai para b-boy dan reality show disana termasuk ‘Britain’s Got Talent’ dan ‘So You Think You Can Dance?’ berikut penggabungan koreografi Street Dance dengan Salsa, dalam durasi terbatas, mau tak mau terasa overloaded untuk diterjemahkan ke dalam masing-masing karakterisasi yang rapi. Detil-detil spesialisasi koreografi mereka mungkin berhasil ditampilkan, namun sebaris peran pendukung ini terpaksa mentok di tempelan yang mengiringi plot utama antara Ash dan Eva, apalagi dengan tampilnya bintang senior Tom Conti ke tengah-tengahnya. Bahkan karakter Eddie yang diperankan George Sampson, pemenang ‘Britain’s Got Talent’ 2008  sebagai benang merah penghubung ke instalmen pertamanya, yang tetap tampil mencuri perhatian, juga tak mendapat ruang cukup banyak. Masih ada pula grup Street Dance terkenal, Flawless, dari acara yang sama dan tampil sebagai main villain di ‘Street Dance’ yang kembali muncul di salah satu adegan Street Dance battle-nya.

 

Sebagai fokus plotnya, Falk Hentschel, aktor muda yang sebelumnya pernah muncul dalam ‘Knight And Day’ dan Sofia Boutella, talenta tari asal Algeria-Perancis yang dikenal sebagai bintang iklan Nike serta background dancer Madonna di ‘Confessions Tour’, juga menyimpan segudang kekurangan. Walau masing-masing punya paras dan fisik sangat menjanjikan, chemistry mereka tak terhandle dengan sempurna. Kemampuan dance dan akting Falk yang bagai paduan antara Thomas Jane dan Stephen Dorrf dibalik body gede ala Vin Diesel-nya juga terlihat agak kaku, pincang dengan Sofia yang jauh lebih bersinar dengan keluwesan gerakan dan aura keseksian ala Latin-nya setiap muncul di adegan-adegan dance dan porsi romance, disamping lagi-lagi skrip yang seakan tak sanggup memunculkan thrill-thrill cukup likeable dalam karakter mereka. Karakter Ash malah kerap cenderung jadi leader menyebalkan ketimbang passionate. Justru Tom Conti yang sangat berhasil menokohkan Manu dengan gaya flamboyan tua yang sangat menyita perhatian.

But then again, jangan tanya dance sequence-nya. Di bawah arahan Richmond ‘Rich’ Talauega dan Anthony ‘Tone’ Talauega untuk koreografi hip-hop dan breakin’ serta Maykel Fonts untuk salsa-nya, kombinasi koreografi itu tampil sangat cantik. Soundtrack-soundtracknya juga cukup menghentak biar tak ada track se-memorable ‘Tiny Dancer (Hold Me Closer)’-nya Ironik seperti dalam ‘Street Dance’. Walau gimmick 3D untuk dance sequences-nya mungkin tak se-eyepoppin’ ‘Street Dance’ serta ‘Step Up 3’, porsi inilah yang sangat, sangat, menjual dalam sekuel ambisius ini, untuk menjaganya tetap jadi sebuah hiburan solid bagi penggemar genre-genre dance movies. In the end, skrip yang tak terhandle dengan baik serta sulit menghindari klise-klise itu memang bukan lagi jadi masalah ketika adegan klimaks stageact street dance battle-nya datang menggempur ke depan penonton. So yes, ini memang tak sebaik ‘Street Dance’ atau ‘Step Up’ series, namun paduan salsa dan street dance, serta pastinya tampilan Sofia Boutella yang penuh passion dan sangat mengundang itu, adalah nilai plus. Hotter, but not better. (dan)

~ by danieldokter on August 1, 2012.

One Response to “STREET DANCE 2 : HOTTER, NOT BETTER”

  1. […] Street Dance 2 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: