TOTAL RECALL : MORE WARS, WITHOUT MARS

TOTAL RECALL

Sutradara : Len Wiseman

Produksi : Original Film, Columbia Pictures, 2012

Sama seperti banyak remake dan reboot ke karya-karya yang sebelumnya sudah menuai prestasi cukup baik, dalam trend yang sekarang berkembang di Hollywood, ‘Total Recall’ versi Len Wiseman ini juga sejak awal dianggap tak perlu. Dari anggapan-anggapan klasik ‘unnecessary’ hingga resepsi-resepsi negatif ‘nothing’s worth recalling’ setelah peredaran filmnya, hingga ke perolehan weekend box office sebesar $26 juta AS yang tak sebesar yang diharapkan. But let’s not be the one who judge that. Sejak awal kita semua sebenarnya sudah tahu, bahwa Len Wiseman punya pendekatan yang jauh sekali berbeda dengan seorang Paul Verhoeven. Bukan berarti jelek, tapi dimana kelas film-filmnya, dari franchise ‘Underworld’ hingga ‘Die Hard 4’ , adalah sebuah hiburan murni tanpa filosofi macam-macam. Wiseman means hi-tech action. Bukan classic sci-fi. So make your compare, but draw the lines.

Dan walau berwujud sebuah remake dari film 1990 berikut source aslinya, cerpen sci-fi terkenal tahun 1966 milik Phillip K. Dick, ‘We Can Remember It For You Wholesale’, yang sama-sama diadaptasi lepas dari versi lamanya, Wiseman memang menggagas pendekatan yang berbeda dari Verhoeven. Unsur terpenting yang ada dalam plotnya, Mars dan invasi alien, kini dihilangkan. Versi ini lebih ke sci-fi action dalam koridor spesialisasi Wiseman. Hanya ada beberapa homage yang memorable dari film aslinya kembali ditampilkan, termasuk yes, yang banyak menjadi pertanyaan sebelumnya, that three-breasted mutant chick. You wont get that much creatures seperti racikan Rob Bottin di versi lamanya, tapi payoff berupa kick and fist action dibalik tampilan muse sekaligus pasangan nyata Wiseman, Kate Beckinsale, bersama Jessica Biel dan Colin Farrell yang berhasil menggeser Michael Fassbender dan Tom Hardy sebagai calon awalnya, tak bisa ditampik, pastinya juga cukup menjual untuk sebuah amunisi summer blockbuster. Oke, sebagus apapun performa Farrell yang sudah cukup lama tak muncul di film-film blockbuster sejak ‘Miami Vice’ yang gagal total itu, ia memang bukan Arnold Schwarzenegger, yang selain legendaris, juga salah satu action hero Hollywood yang masih bisa menarik hati kritikus lewat film-filmnya dibanding yang lain. But then again, bukankah penonton sekarang lebih suka kesensitifan ketimbang otot dibalik tampilan leading man mereka?

Pasca PD III, di tahun 2084, manusia kian kekurangan ruang untuk bisa hidup karena radiasi. Dua lokasi yang tertinggal adalah UFB (United Federation of Britain) dan ‘The Colony’ yang dihuni para pekerjanya. Satu-satunya sarana untuk bisa menghubungkan keduanya adalah ‘The Fall’, alat transportasi yang harus menempuh perubahan gravitasi atmosfer pusat bumi. Social-gap yang terjadi juga memunculkan kelompok pemberontak yang dikepalai Matthias (Bill Nighy). Douglas Quaid (Colin Farrell), penghuni koloni yang bosan dengan kehidupannya walaupun punya seorang istri cantik, Lori (Kate Beckinsale), tergoda dengan iklan sebuah perusahaan implantasi memori artifisial bernama ‘Rekall’. Ia pun memilih implan memori seorang agen rahasia tanpa menyadari rahasia masa lalu dan eksistensinya sekarang. Dalam sekejap, ia menjadi buruan polisi, agen rahasia UFB dibawah pimpinan Vilos Cohaagen (Bryan Cranston), dan satu-satunya yang bisa membantunya adalah wanita misterius yang selama ini dikenal Quaid lewat mimpi-mimpinya, Melina (Jessica Biel). Quaid pun harus memutuskan nasibnya di tengah perseteruan UFB dan para pemberontak, sekaligus berusaha untuk keluar hidup-hidup dari konspirasi ini.

Sebagai sebuah karya sci-fi klasik, cerpen Phillip K. Dick yang menjadi source ‘Total Recall’ ini pun sebenarnya tak jauh beda dengan pakem karya-karyanya yang lain. Sesuatu yang terasa hebat karena pemikiran-pemikiran sci-fi yang melebihi masanya, ditambah plot yang menyenggol gap sosial ekonomi serta simbol politik masyarakat AS era 50-60an, plus sedikit nafas kisah-kisah detektif dibalik twist-twist identitas ke tiap konfliknya. So dari sana, tak ada yang berbeda dari versi 1990 dengan racikan Wiseman ini, secara Dick juga tak pernah menggagas gambaran gap sosial-nya dalam garis klise buruh kasar dan pengusaha berdasi sekontras dunia nyata. Walau berbeda kelas, semuanya berdiri dibalik kemajuan teknologi dengan nafas sci-fi yang sangat jelas. And there you go. Wiseman, dibalik bangunan set ciamik timnya dari ‘Double Negative Visual Effects’ (yang juga mengerjakan ‘John Carter’, ‘The Dark Knight Rises’ dan ‘Man Of Steel’ nanti), art director Patrick Banister (‘Sucker Punch’) dan sinematografi Paul Cameron (‘Man On Fire’, ‘Deja Vu’, ‘Collateral’) sudah menggambarkan gap-nya dengan jelas. ‘The Colony’ yang di awal-awal selalu berlatar malam dengan dasar air kanal dan bangunan-bangunan ala Chinatown, sementara UFB yang terang benderang dengan dasar aspal.  Mereka boleh saja kehilangan Mars dan Rob Bottin’s creatures, mostly, namun set ini menjadi salah satu kekuatan ‘Total Recall’ versi baru dibalik semua pemaparan teknologi dalam plotnya dari ponsel implan, inovasi ‘Rekall’ berikut ‘The Fall’ yang pergantian gravitasinya digambarkan Wiseman dengan sangat keren.

Now comes the action. Sebagai modal utama dalam film-film Wiseman, skrip baru yang ditulis oleh Kurt Wimmer, penulis/sutradara yang sebelumnya sudah kita lihat kiprahnya dalam ‘Equilibrium’-nya Christian Bale, yang meskipun sedikit banyak dianggap epigonnya ‘The Matrix’ namun cukup bagus itu, Mark Bomback (juga ikut menulis skrip ‘Die Hard 4’) plus James Vanderbilt (uncredited) dari ‘The Losers’ dan ‘The Amazing Spider-Man’) memang memberi lebih dari separuh ruang plotnya untuk membombardir adegan-adegan aksi ala Wiseman. Aura Farrell mungkin belum sekuat Schwarzenegger dalam penerjemahan twist identitas Quaid, tanpa quote-quote memorable pula di skripnya, tapi Farrell terlihat cukup bagus di adegan-adegan aksinya. Sementara duet Beckinsale-Biel, di banyak sisi, terutama aksi, hadir dalam kapasitas berbeda dengan paduan Sharon Stone bersama Rachel Ticotin di versi lamanya. Meski kerap agak susah dibedakan karena kemiripan fisiknya, Beckinsale, seperti dalam ‘Underworld’,  menjadi faktor yang sangat penting dalam membangun excitement terhadap intensitas adegan aksinya. Dan kalau harus menyebutkan satu lagi, skor Harry Gregson-Williams yang bekerja cukup baik mungkin tetap tak bisa menyamai Jerry Goldsmith. Namun begitu, sisi action, dari chasing scenes ke body combats yang sangat seru ini mampu menjadi payoff yang layak terhadap semua kekurangan itu.

So yes, ini memang harus dilihat sebagai sebuah remake dengan pendekatan yang berbeda, tak peduli seberapa besar kemungkinan kita akan membanding-bandingkannya dengan versi 1990. ‘Total Recall’-nya Verhoeven boleh saja menjadi klasik dengan faktor Schwarzenegger-Stone, skrip yang lebih fokus ke storytelling, Oscar’s Special Achievement Award  untuk Rob Bottin dkk di visual effects-nya berikut identity twist yang di era itu masih jarang-jarang dibuat orang. Namun bukan berarti versi Wiseman adalah remake yang jelek. Dalam banyak sisi, versi ini tetap punya unsur yang jauh lebih menjual secara global buat penonton-penonton sekarang, di luar kritikus pastinya, apalagi untuk sajian penuh hingar-bingar di deretan summer blockbuster. This is more Wiseman’s than its other sources. Just enjoy the big bang, and you’ll have fun! (dan)

~ by danieldokter on August 5, 2012.

One Response to “TOTAL RECALL : MORE WARS, WITHOUT MARS”

  1. […] Total Recall […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: