THE CABIN IN THE WOODS : A CELEBRATION OF HORROR

THE CABIN IN THE WOODS

Sutradara : Drew Goddard

Produksi : Mutant Enemy Productions & Lionsgate, 2012

So you think you’re a horror fans? Explore more. Seberapa jauh Anda mencintai genre itu. Seberapa jauh tujuan dan ekspektasi Anda menyaksikannya selama ini. Sebagian, pastinya mengharapkan pengalaman menakutkan sebagai penonton yang suka ditakut-takuti. Sebagian lagi, suka pameran goryness yang penuh darah. Sebagian penonton sekarang, mengharapkan kedalaman cerita dan motivasi yang banyak diusung horor Asia dibaliknya, dan diatas semua, ada juga yang teruji sepanjang perkembangannya. Dengan analisis atau bak ensiklopedi berjalan. Kenyataannya, genre ini memang terus berkembang mengikuti trendnya. Dari sosok evil, demons, monsters or even humans, bersama tipe-tipe slasher ataupun torture porn, semua adalah bias-bias di dalamnya. Mostly were fantasies. Tapi yang dibalut dengan genre fantasi sebagai satu kesatuan yang seimbang, itu jarang. Dan dari sini, Joss Whedon dan Drew Goddard, dua sineas jenius yang selama ini sudah kita lihat kolaborasinya dalam dua serial televisi ‘Buffy The Vampire Slayer’ serta ‘Angel’, menggelar kecintaan mereka terhadap elemen-elemen yang ada di perjalanan panjang genre itu. A homage. A tribute. Dan semuanya, dibungkus dalam perpaduan dua genre yang hampir selalu muncul sebagai trademark mereka. Horor, dan fantasi.

Selagi Whedon yang multitalented termasuk penulis komik sudah berhasil membangun sosoknya sebagai sineas dengan kultus-kultus penggemar fanatik, termasuk lewat serial ‘Firefly’ yang sempat diangkat ke layar lebar dengan judul ‘Serenity’, plus tentu saja, ‘The Avengers’ barusan serta kiprah panjangnya di Marvel nanti, nama Goddard mungkin belum sebesar itu. Walau juga ikut berkolaborasi di serial-serial J.J. Abrams (‘Alias’ dan ‘Lost’), karya penyutradaraan layar lebarnya, ‘Cloverfield’ masih terbentur banyak segmentasi resepsi. Dan ‘The Cabin In The Woods’ yang sebenarnya sudah memasuki tahapan finalnya di tahun 2009 masih harus berurusan lagi dengan kasus kebangkrutan studio MGM. Haknya yang akhirnya jatuh ke Lionsgate pun masih tergeser terus dengan hype-hype yang mulai membanjir di kalangan horror fans. Dari plot, twist, serta (kabarnya) shocking ending, semuanya penuh dengan antisipasi bahkan hanya ke single spoiler. Semuanya seakan sadar ada rahasia yang masih terus harus tersimpan dibalik plotnya. So, sekarang hanya ada satu pertanyaan. Is it really worth waiting for? You decide. But still, jangan lupa menggaris batas sejauh mana Anda kecintaan Anda terhadap genrenya.

And no, I still won’t spoil you with any details, karena ketidaktahuan itu yang justru jadi elemen paling menarik dari semua mish-mash homage di plotnya. There’s just a cliché plot tentang lima anak muda ; Curt (Chris Hemsworth), cowok stereotipe jagoan dengan kekasihnya Jules (Anna Hutchison) yang binal, Holden (Jesse Williams), sahabat Curt yang ingin dijodohkan dengan Dana (Kristen Connolly) yang polos serta Marty (Fran Kranz), geek pemadat berat, merencanakan liburan mereka ke sebuah kabin terpencil di tengah hutan. Lalu kita semua sudah tahu. The fun trip is going berserk.

So you think you know the story? Konsep inilah yang dibangun Whedon bersama Goddard dalam plot penuh homage yang kerap mereka jelaskan sebagai ‘a loving hate letter’ tentang perkembangan genre horor yang belakangan jatuh ke subgenre ‘torture porn’ berikut sadisme-sadisme lainnya. Bahwa dari banyak pemaparan urban legends dan mythical things, genre ini lantas sering jadi pameran ketololan para karakternya yang malah digilai banyak orang. So, mereka memang sedang mengggagas sebuah tribute, tapi dibaliknya, juga penuh protes dan mocking terhadap sejarah genre yang mereka sukai ini. Dan disana fantasi-fantasi jenius dan cenderung gila itu masuk untuk membombardir visual fansnya, dengan sebuah kecerdasan bertingkat yang sudah dimulai dari awal, sekaligus menunjukkan betapa luas referensi mereka sebagai horror fans, or even geeks.

Seolah menyaksikan layar televisi dengan SBS mode dari dua frame penceritaan berbeda, plot itu akan membuat penontonnya bergumam ‘Oh, ini seperti bla-bla-bla…’ dan ‘Oh, bukan itu…’ sambil mengingat kembali referensi mereka satu-persatu. Menertawakan ketololan dan dialog para karakternya seolah sebuah dark comedy penuh sindiran, tapi di sisi lain juga akan berdecak kagum kala tebakan itu tak pas di sasarannya. Like a chess game with full strategy, Whedon dan Goddard terus menyerang dengan pola yang bergantian menyajikan semua feel yang pernah ada di semua subgenre horor, dari rasa takut, terkejut dan excitement lainnya, hingga sebuah klimaks fantastis penuh efek visual cantik dan blood goryness yang boleh jadi dianggap sebagian penonton yang lebih menyukai horor-horor serius sebagai ketololan lain, atau apapun itu, tampil mengantarkan kita ke bagian akhir kisahnya. Dan penyuka horror, dalam cakupan universal sebenar-benarnya, trust me, will jump off their chair!

Dua aktor senior yang sering mentok jadi pemeran pembantu namun berkualitas, Richard Jenkins dan Bradley Whitford, tampil bagus. Kelima aktor utamanya juga bermain sesuai porsi karakternya. Kristen Connolly yang akan membuat penonton terlena oleh kepolosan dibalik paras cantiknya, Chris Hemsworth yang sudah memercikkan aura-aura action hero mudanya, Anna Hutchison yang bermain sangat tempting, sementara Jesse Williams jadi dayatarik ke penonton wanita plus Fran Kranz, Owen Wilson’s type yang membawa turnover karakternya dengan baik. Jangan lupakan juga aktris cilik spesialis peran-peran mengerikan Jodelle Ferland (‘Silent Hill’, ‘The Messengers’, ‘Case 39’ and the upcoming ‘The Tall Man’) plus cameo seorang aktris senior terkenal di penghujung filmnya. Dua hal lain yang patut mendapat kredit adalah kerja DoP Peter Deming yang sudah teruji di genre horor dan crossover-crossovernya, dari ‘Evil Dead 2’, ‘Scream 3 & 4’ ke ‘Drag Me To Hell’, dan pilihan lagu-lagu soundtrack-nya yang juga kick ass dengan Iggy Pop, Nine Inch Nails, serta lagu lawas Reo Speedwagon, ‘Roll With The Changes’.

So as a very good friend of mine said, ‘Look closely… very very closely.. and we, horror fans, can see ourselves on screen in this movie’, Anda boleh saja menganggap ‘The Cabin In The Woods’ adalah sekedar horor nyeleneh ala ‘Evil Dead’, ‘Braindead’ atau ‘Thirteen Ghosts’, a loving hate letter seperti kata Whedon & Goddard, sebuah fully reference tribute atau homage yang cerdas, ensiklopedi horor yang komplit, a magic mirror of horror fans atau bahkan sebuah studi analitik terhadap genre-nya. But for me, it’s just simple. Dari sejarah perjalanan panjang genre horor, ini bagaikan sebuah perayaan akbar bagi seluruh fans genre-nya. A Celebration Of Horror, and yes, something that worth waiting for! (dan)

~ by danieldokter on August 12, 2012.

6 Responses to “THE CABIN IN THE WOODS : A CELEBRATION OF HORROR”

  1. oh i’m so glad somebody noticed the kick-ass closing song by NIN🙂 well sir, you’re my hero!😉

  2. sure they deserve to be noticed🙂. It’s NIne Inch Nails. thank you🙂.

  3. spoiler ga yah….waktu ampir selesei nonton ni film,
    ane bener2 dejavu sama filmnya Jim Carrey yang ini http://www.imdb.com/title/tt0120382/

    ^^

  4. gpp, its just a small part. yg ngerasa di-spoiler masih tetep bakal terkejut-kejut kok🙂. wajar aja. namanya penonton yg referensinya banyak, pasti bakal kena kesana-sini. kemaren ada jg yg nyebut film lain, tapi rasanya dlm kapasitas mirip juga, that part was more like Hostel🙂, ya kalo ditambah faktor filosofis, ya kena juga si filmnya si Carrey😀. After all, kan TCITW ini emang tetep punya bangunan dari ratusan, bahkan ribuan mgkn, elemen2 di film lain, dan itu yg justru buat mish-mash nya jadi asik!

  5. […] THE CABIN IN THE WOODS […]

  6. […] The Cabin In The Woods […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: