TANAH SURGA …KATANYA : SATIR LANTANG ALA DEDDY MIZWAR

TANAH SURGA …KATANYA

Sutradara : Herwin Novianto

Produksi : Gisela Citra Sinema & Brajamusti Production, 2012

Ah, lagi-lagi satir ala Deddy Mizwar. Walau kali ini tanpa Musfar Yasin yang sebelumnya berkolaborasi bersama Deddy dalam skenario ‘Ketika’ dan ‘Alangkah Lucunya  (Negeri Ini)’, suaranya tetap terasa keras dan lantang sebagai produser bersama Gatot Brajamusti disini. Dan mereka kini melangkah ke fenomena lain lucu-lucuan negeri ini. Jika ‘Ketika’ menyorot pejabat koruptor dan ‘Alangkah Lucunya’ menyorot gelar sarjana, ‘Tanah Surga …Katanya’ yang terinspirasi dari lagu lawas ‘Kolam Susu’-nya Koes Plus dan juga digunakan sebagai themesong ini, menyorot hijau-hijaunya rumput negara tetangga kita, Malaysia dengan segala eksesnya bagi bangsa ini. Skenario besutan Danial Rifky ternyata juga tak kalah vokal ketimbang Musfar. Begitulah fenomena yang ada sekarang, di tengah konfrontasi panjang (dan tak pernah selesai) antara Indonesia dan Malaysia sebagai negara yang sebenarnya masih serumpun, kita banyak bergantung pada mereka. Dimana batas kemakmuran dari pendapatan, pendidikan dan kesehatan, juga setipis garis perbatasan itu di daerah pedalaman Kalimantan Barat. Rilisnya memang disiapkan untuk blockbuster lebaran tahun ini, namun ‘Tanah Surga …Katanya’ terasa lebih pas buat merayakan hari kemerdekaan dengan sebuah perenungan. Bahwa belum semua rakyat kita benar-benar merasakan kemerdekaan itu, dan lirik-lirik dalam lagu ‘Kolam Susu’, nyatanya masih hanya jadi sebatas mimpi.

Hasyim (Fuad Idris), seorang lansia di pelosok itu harus bersitegang dengan anaknya sendiri, Haris (Ence Bagus) yang mengajaknya ikut pindah ke Malaysia bersama dua anaknya, Salman (Osa Aji Santoso) dan Salina (Tissa Biani Azzahra). Pasalnya, Hasyim adalah mantan relawan perang konfrontasi Indonesia-Malaysia di tahun ‘60an, dengan jiwa nasionalisme tinggi. Hasyim yang bersikeras tinggal pun akhirnya ditemani oleh Salman yang mulai memahami arti nasionalisme dan cinta negara dari sang kakek, kontras dengan Haris yang justru menikah dengan warga Malaysia demi memperoleh hak tinggal dan mendukung tim sepakbola Malaysia disana. Sementara itu, ada pula guru muda Astuti (Astri Nurdin) yang harus berjuang mengajar di sekolah darurat sendirian dimana kelas-kelas hanya terbagi atas sebuah dinding tripleks partisi, serta dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman) dan kepala dusun, Gani (Norman Akyuwen).

Sekali lagi, ini adalah satir ala Deddy Mizwar, yang memang bermain di wilayah-wilayahnya seperti biasa. Sebuah dakwah yang disampaikan dengan cara mocking kesana kemari, tak hanya dalam wilayah reliji seperti ‘Kiamat Sudah Dekat’ atau sinetron ‘Para Pencari Tuhan’, tapi juga dalam franchise ‘Nagabonar’-nya, dua film tadi plus ‘Kentut’ dimana Deddy tampil sebagai aktor dalam warna tak jauh beda dari hasil penyutradaraan Aria Kusumadewa. Resikonya, plot yang diusung juga harus berbagi dengan celah penyampaian sindiran-sindirannya, yang bagi sebagian orang bisa jadi dianggap terlalu cerewet tanpa menawarkan adanya solusi. Namun itulah satir gaya mereka. Dan Danial Rifky tetap bisa secerdas Musfar dalam menyampaikan crossover dramaturgi dengan mocking-mockingnya, lengkap dengan seabrek informasi yang mungkin membuat sebagian orang yang belum pernah tahu, jadi terbuka matanya. Betapa nilai rupiah kita tak pernah dipandang dalam kehidupan sosial mereka, betapa pendidikan itu serba salah kaprah sampai-sampai anak-anak disana tak tahu bendera merah putih atau lagu Indonesia Raya, atau betapa dalam pekerja-pekerja kita menjual harga diri mereka demi mendapatkan sesuap nasi, atau sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dari jauhnya titik tempuh ke fasilitas lengkap. Garis tipis perbatasan itu pun unik tanpa penjagaan ketat dimana penduduk dua negeri serumpun ini bisa melintas sesuka hati demi sebuah simbiosis yang terus membuat pemerintah keduanya menutup mata, serta latar budaya yang sangat dekat dari dialek Melayu mereka.

Sindiran-sindiran dalam dialognya juga sangat menyentil kesana kemari, termasuk dalam puisi berisi penggalan lagu ‘Kolam Susu’ yang dibacakan Salman di tengah kibaran bendera yang membuat dua pejabat yang diperankan Deddy Mizwar dan Gatot Brajamusti secara karikatural seakan tertampar. Dan penggarapan teknisnya, di sisi lain, merupakan kekuatan sinematis yang sangat layak mendapat pujian. Sinematografi Anggi Frisca yang menggambarkan keterpurukan itu secantik film-film anak Ari Sihasale, skor Thoersi Ageswara yang juga membenturkannya dengan orkestrasi penuh kemegahan, serta tata artistik dari Ezra Tampubolon. Dan satu yang cukup penting, yang jarang bisa mendapat pencapaian layak di film-film kita, deskripsi dan dialog medisnya tersampaikan dengan cukup baik meski di satu adegan harus mengalah terhadap kepentingan sponsor.

Di departemen akting, pemilihan castnya pun solid. Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Fuad Idris bahkan Ence Bagus yang biasanya lebih sering mendapat peran-peran tak penting menghadirkan akting bagus yang sangat masuk dalam karakterisasi mereka. Norman Akyuwen yang memang berprofesi sebagai coach akting muncul sebagai scene-stealer bersama bocah tambun pemeran Lized, Muhammad Rizky. Namun yang paling bersinar disini adalah pemeran utama ciliknya, Osa Aji Santoso, sebagai Salman. Bertugas membawa benang merah cerita sebagai karakter utama, ia menunjukkan bakat akting yang sangat natural.

Begitupun, bukan berarti ‘Tanah Surga …Katanya’ ini tak punya cacat. Dengan tampilan iklan sponsor yang cukup kasar, dari produk sosis ke obat-obatan yang memang jadi trademarknya Deddy Mizwar. Untung dalam beberapa adegan, sutradara Herwin Novianto, yang sebelumnya pernah mengarahkan Ringgo dalam ‘Jagat X Code’ yang juga kualitasnya cukup baik, bisa menyiasati kaitannya pada skrip yang ada, sehingga tak jatuh sekonyol ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ tempo hari. Endingnya juga sedikit terasa berpanjang-panjang dengan penjelasan nasib salah satu karakter setelah sebuah adegan sangat patriotis yang sebenarnya sangat layak dijadikan sebagai adegan penutup. However, metafora pertandingan bola Indonesia vs Malaysia itu di lain sisi juga masih sangat pantas mengantarkan konteks sindirannya.

Sekali lagi Deddy Mizwar sudah menyampaikan protes lantangnya terhadap carut-marut bangsa ini. ‘Tanah Surga …Katanya’ jelas merupakan sajian yang baik dalam banyak sisi penyampaiannya. Loose that harsh commercials, ini bahkan bisa menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Tapi itulah masalahnya. Penonton kita, lagi-lagi akan lebih memilih genre lain ketimbang dicekoki satir penuh perenungan seperti ini dibalik sajian dramatis dan jualan pemainnya yang tak juga begitu bombastis. Jadi jangan heran kalau teater-teater sebelahnya akan jauh lebih dipenuhi penonton, dengan menyisakan jumlah minim buat film ini. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on August 17, 2012.

9 Responses to “TANAH SURGA …KATANYA : SATIR LANTANG ALA DEDDY MIZWAR”

  1. Ini merupakan ungkapan nasib orang2 perbatasan,ini bukan cuma cerita tapi ini kisah nyata saudara2 kita di perbatasan!

  2. sayang sekali film ini release di saat yang tidak tepat, harus bertempur dengan perahu kertas, expendables 2 dan step up revolution yang notabene film komersil

  3. yup, sayang sekali, dan promosinya juga minim.

  4. Filmnya mengahrukan,,,,keren…
    Rugi kalo gak nnton

  5. aku sengat terharu dengan flm ini, semoga para pihak yang berwajib tergugah hatinya, sehingga saudara kita yang mengalami kenyataan pahit seperti adegan dalam flm ini dapat merasakan kebahagiaan yg didambakan layaknya kehidupan kami yg dikota.

  6. […]      12. TANAH SURGA… KATANYA […]

  7. […] Tanah Surga…Katanya […]

  8. this is a film very amazing .terharu :’)

  9. pada intinya smua tergantung para pejabat” yg di pusat yang bisa menolong di smua perbatasan wilayah indonesia khusus nya di perbatasan kalimantan terbut.smoga para pejabat dan bapak presiden bisa membantu negri ini.trimaksh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: