CINTA SUCI ZAHRANA : FANTASI-FANTASI DI TENGAH KETERBATASAN PENGHARAPAN SURGA

CINTA SUCI ZAHRANA

Sutradara : Chaerul Umam

Produksi : SinemArt, 2012

Silahkan sebut saya terlalu modern. Tapi sebagian hal, terutama bila Anda hidup sebagai bagian dari zaman ini, tak juga di tanah Arab sana, sebaiknya tak dipaksakan untuk berjalan bersama dengan sebuah bentuk dakwah secara Islami. Walau bisa diterima sebagian penganutnya yang sama-sama berpikiran sempit, ekses lain di tengah pandangan lebih banyak orang, adalah suatu ketololan. If you did read my review onDalam Mihrab Cinta’, juga datang dari penulis yang sama, you sure will understand. Seperti seberapa anehnya di zaman ini Anda didatangi seseorang di mesjid yang menanyakan identitas Anda untuk dikenalkan pada anak perempuannya yang belum pernah Anda lihat. Dan inilah ruang karya-karya Habiburrahman El-Shirazy yang lebih dikenal dengan Kang Abik. Roman yang katanya menawarkan konflik dan solusi-solusi umum di tengah pandangan Islami, tapi akhirnya hadir dengan logika sama dengan sinetron. Serba ajaib, penuh mukjizat dan ternyata-ternyata dibalik penderitaan tipikal film kita yang digelar ; sudah jatuh, tertimpa tangga dan tertabrak lagi oleh mobil. Okelah, satu dua karakter itu mungkin memang bisa saja kita jumpai di kehidupan sehari-hari, tapi labelnya pasti ‘orang aneh’. Bukan yang membuat kita mau mengangguk hormat setiap berjumpa. Kenyataan.

Zahrana (Meyda Safira) adalah seorang wanita 34 tahun yang serba sukses dalam kehidupannya, dari dosen peraih penghargaan, taat beribadah, dan cantik. Hanya satu kekurangannya. Ia belum punya jodoh dan kerap dilecehkan orang, termasuk dekan di universitasnya (Rahman Yacob), duda yang setengah mati mengharapkan Zahrana mau menjadi istrinya. Tekanan pun muncul dari kedua orang tua Zahrana (Amoroso Katamsi – Nena Rosier) yang jadi pasrah-pasrah saja asal Zahrana mau menikah. Tapi Zahrana tetap pada pendiriannya, hingga akhirnya menyadari usia sang ayah tak akan lama lagi akibat penyakit jantung yang dideritanya. Solusinya, ia tak lagi mementingkan kualitas calon jodohnya, kecuali soleh dan taat beribadah. Maka tujuan satu-satunya adalah keluarga Kyai pesantren tempat ia mengajar untuk mencari jodohnya. Sasarannya jatuh pada Rahmat (Kholidi Asadil Alam), santri lepasan pesantren itu yang kini menduda dan hidup dari menjual kerupuk. Awalnya Zahrana ragu, namun begitu mengetahui bahwa Rahmat, selain sesuai kriterianya, soleh dan taat beribadah, ‘ganteng’ pula, jatuh hatilah ia tanpa perhitungan lain. Orangtuanya pun dengan senang hati mendukung pilihan ini. Biar tukang kerupuk, biar tak berpendidikan, yang penting soleh, taat beribadah, dan pilihan Kyai dan Nyai. Namun musibah demi musibah kembali muncul ke depan Zahrana, hingga akhirnya, sorry for a little spoiler, salah satu siswanya (Miller Khan) yang sejak lama saling memberi isyarat menjadi sebuah twist ending yang lagi-lagi penuh dengan satu ‘ternyata’ ke ‘ternyata’ berikutnya. Lengkap pula dengan sedikit crime story ala koran lampu merah. Astaga.

Begitulah jalinan plot yang sudah sangat tak wajar itu digelar lengkap dengan dialog-dialog dengan akting yang sebagian besarnya ‘sangat’ sinetron, termasuk satu yang paling mengganggu, akting komikal (ah, bahkan tak pantas juga menyebutnya komikal) Rahman Yacob dan dosen asistennya, si ibu berlogat Batak yang jatuhnya bukan wajar tapi seolah menghina, yang seakan ingin disempalkan sebagai komedi dengan ketololan tingkat tinggi. Penggarapan teknisnya juga tak jauh-jauh dari sinetron, lengkap dengan skor Anto Hoed-Melly Goeslaw yang seperti lari sendiri kepingin jadi bagian yang lebih besar daripada pendukung adegan-adegannya.

Begitupun, ada sedikit pujian yang harus diberikan pada jajaran bintang-bintang seniornya, yang dengan enak bisa men-tackle skrip dan dialog-dialog tak wajar tadi dengan kewajaran seolah kita menyaksikan segelintir orang-orang aneh itu di tengah-tengah masyarakat. Amoroso Katamsi, Nena Rosier, mantan bintang panas era ‘80an yang justru sangat meningkat aktingnya, dan diatas semuanya, aktris senior Lenny Marlina yang tampil dengan kualitas akting luarbiasa menjelang akhir film. Selebihnya, sama seperti karakter-karakternya yang penuh makhluk ajaib ala sinetron, akting-aktingnya pun serba sinetron. Skrip besutan alm. H. Misbach Yusa Biran itu memang tak punya salah, secara ia bercerita dengan runtut dan lancar, tapi penuh dengan logika sinetron yang saya percaya sudah tertuang dalam novel Kang Abik sendiri. Dan sutradara Chaerul Umam, juga salah satu sineas terbaik kita di era ‘80an, agaknya memang terlalu nyaman untuk tak meng-update style penyutradaraannya, selain harus menyerah dengan atmosfer asli novelnya.

So, mari tak lagi berpanjang-panjang. Apapun itu, ketika sebuah adegan akhir yang entah apa tujuannya tetap dimasukkan ke dalam film ini, tanpa akting layak dan juga zero chemistry muncul ke tengah-tengah kita dengan dialog kira-kira seperti ini ; ‘Mas, bolehkah aku menciummu?’ ‘Tapi aku malu, dik’. ‘Malu sama siapa mas? Kita kan sudah menikah, halal dan kita sendirian’. ‘Ya, malu sama… bulan’, itu pun setnya bukan di malam hari, then we all know. Ini, seperti wilayah novel-novel Kang Abik lainnya. Bagi sebagian orang, bisa jadi sebuah dakwah, sedangkal logika patokan soleh hanya berupa ucapan ‘Assalamualaikum’, ‘Insyaallah’, ‘Alhamdulillah’, dan riwayat pernah mendapat pendidikan pesantren. Tapi bagi sebagian yang lain, apa boleh buat, ini hanyalah fantasi-fantasi di tengah keterbatasan pengharapan akan Surga. (dan)

~ by danieldokter on August 31, 2012.

2 Responses to “CINTA SUCI ZAHRANA : FANTASI-FANTASI DI TENGAH KETERBATASAN PENGHARAPAN SURGA”

  1. […] Cinta Suci Zahrana […]

  2. Belajar lebih banyak lagi nak.. saya seperti melihat bak ‘seorang kakek tua yg srlalu menyimpan dendam, tidak ingin membuka hati utk menerima maaf dan pertolonhan dr saudara²’… kau tau bagaimna akhirnya? ia mengenaskan karna selalu menganggap buruk niat baik siapapun selain dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: