THE BOURNE LEGACY : A FULLY TACTICAL AND CONVINCING SEQUEL

THE BOURNE LEGACY

Sutradara : Tony Gilroy

Produksi : Relativity Media, The Kennedy/Marshall Company, Universal Pictures, 2012

Tak ada yang menyangka sejauh mana tim produksi membawa ‘The Bourne Trilogy‘ ke tahapan lanjut kesuksesannya. Dibalik anggapan kegagalan ‘sequels after trilogy’ yang kesannya aji mumpung dan dipanjang-panjangkan, apalagi novel source aslinya yang ditulis Robert Ludlum sudah berhenti di film ketiganya, Universal malah mendapat seabrek problem berat yang menghancur-leburkan rencana mereka melanjutkan petualangan Jason Bourne. Mulai dari George Nolfi – script writernya, Matt Damon dan sutradara Paul Greengrass, semua menyatakan mundur. Tapi mereka tak kehabisan akal. Niat itu tetap berjalan dengan perombakan besar-besaran. Tak lagi menonjolkan karakter utama yang tetap menempel di judulnya, mereka menggagas petualangan karakter lain dalam timeline paralel ke film terakhirnya. Tony Gilroy, sutradara dan penulis ‘Michael Clayton’ serta ‘Duplicity’, yang juga merupakan co-writer di film-film sebelumnya, bersama saudaranya Dan Gilroy (‘Freejack’), kini sebagai co-writer muncul untuk menyelamatkan kelanjutan franchisenya. Pertanyaannya saat itu adalah siapa aktor yang bakal menggantikan Damon, and after a while, it was one of Hollywood’s most wanted actor these days. Jeremy Renner. Semuanya, well, tak semuanya juga sebenarnya, senang.

Tanpa menyadari misinya dalam sebuah operasi bernama Operation Outcome, agen rahasia Aaron Cross (Jeremy Renner) terjebak dalam sebuah kabin di Alaska bersama agen operatif (Oscar Isaac). Ternyata, Operation Blackbriar dan Treadstone Project yang baru saja diekspos oleh Jason Bourne (karakter Damon dalam ‘The Bourne Trilogy’) yang kita saksikan dalam ‘The Bourne Ultimatum’ bukan satu-satunya operasi rahasia dari Departemen Pertahanan AS untuk menciptakan agen-agen super melalui eksperimen laboratorium yang dirancang bersama-sama dengan CIA. Direktur CIA Ezra Kramer (Scott Glenn) beserta agen operatif Blackbriar, Noah Vosen (David Straithairn) dan agen Departemen Pertahanan Marc Turso (Stacy Keach) pun menugaskan mantan intelijen Air Force Eric Byer (Edward Norton) untuk menggagas misi rahasia, mengeliminasi operasi-operasi yang sudah tersebar di seluruh penjuru dunia. Dalam sekejap, Cross menemukan dirinya menjadi satu-satunya agen Outcome yang selamat dan kini jadi target buruan pemerintah. Bergabung bersama Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz), pelaksana eksperimen yang luput dari pembunuhan terencana atas perintah Byer, Cross pun mencari jalan keluar untuk menyelamatkan dirinya, sekaligus membongkar seluruhnya operasi rahasia ini hingga ke Manila yang jadi pabrik rekanan obat-obatan agen super itu diproduksi. Dan di belakang mereka, bersama para agen-agen CIA, seorang supersoldier (Louis Ozawa Changchien), siap untuk meringkus Cross bersama Shearing.

Mengembangkan instalmen ini seperti sebuah spin-off, walaupun tak dengan karakter utama yang sudah muncul di film sebelumnya, dalam timeline paralel ke paruh akhir ‘The Bourne Ultimatum’, di satu sisi memang menjadi perhitungan taktis yang dirancang dengan kecermatan penuh ke universe franchise-nya, selain juga membuka kesempatan lebar untuk sekuel-sekuel selanjutnya. Namun di sisi lain, garis besar plot itu mau tak mau juga jadi terasa sangat repetitif terhadap intrik yang berkembang lebar dari ‘The Bourne Identity’ ke ‘The Bourne Ultimatum’.

Namun untunglah, Tony dan Dan Gilroy menggagas kesinambungan benang merahnya ke trilogi Bourne secara sangat teliti, dengan penghormatan penuh ke style film-film pendahulunya. Selain tetap menghadirkan karakter-karakter sampingan dari Albert Finney, David Straithairn, Scott Glenn hingga Joan Allen, termasuk penggalan-penggalan informasi tentang Jason Bourne sendiri, bahkan themesongExtreme Ways‘ yang tetap dibawakan Moby, mereka juga kelihatan menyadari betul kekuatan franchise Bourne yang ada di atmosfer realis di adegan-adegan aksinya. Latarnya tetap menyentuh tema-tema science supersoldier experiment yang terasa makin kental detil-detilnya disini, namun keseluruhan aksi Cross sebagai karakter barunya dihadirkan dengan kemanusiawian ala Bourne yang lebih beraksi bak seorang MacGyver ketimbang James Bond. Tanpa gadget-gadget fantastis tapi mengandalkan akal dan kepintarannya. Chasing scenes yang juga jadi resep wajib di film-film sebelumnya juga tetap muncul.

Dan penampilan Renner serta Rachel Weisz, juga menghadirkan dayatarik berbeda dengan Damon-Julia Stiles ataupun Franka Potente di film-film sebelumnya. Walaupun masih di koridor popularitas tak terlalu jauh, Gilroy tampak benar-benar maksimal memanfaatkan tampilan Renner yang tengah jadi trending actor di franchise-franchise gede Hollywood sebagai leading man-nya. Renner memang tak punya tampang kelewat rupawan, namun aura manly-nya terlihat sesuai dengan kebutuhan kebanyakan penonton sekarang yang tak lagi menginginkan kapstok terlalu mulus di depan layar. Edward Norton juga bermain sangat baik menjadi villain bersama aktor Jepang, Louis Ozawa Changchien yang terlihat sangat tangguh dan mampu mencuri perhatian saat berhadapan dengan Renner di chasing scenes yang intens menyusuri jalanan ramai dan gang-gang kumuh Manila. Penampilan aktor senior Stacy Keach yang sudah cukup lama tak muncul pun ikut menjadi highlight yang tak kalah menarik.

So yes, semua keberhasilan dalam penggarapan itu membuat repetisi-repetisi dalam franchise Bourne itu tak lagi terasa jadi membosankan. Seperti sebuah franchise baru dengan penyegaran penuh, kontinuitasnya dirancang Gilroy bersaudara dengan sangat taktis. Realism action-nya tetap tampil ke depan meski tak lagi terlalu shaky seperti style Doug Liman – Paul Greengrass, dan motorbike chasing scenesnya, berhasil melampaui intensitas film-film sebelumnya. Ini adalah persyaratan cukup untuk membawa franchise-nya ke wilayah baru, and now I’ll assure you. If you love Bourne, you’ll love this fully tactical and convincing sequel, too! Sekarang, mari berharap Damon mau merubah keputusannya untuk bergabung bersama Renner demi menyambung ending yang menyimpan sejuta potensi ke sekuel-sekuel berikutnya itu. (dan)

~ by danieldokter on September 1, 2012.

3 Responses to “THE BOURNE LEGACY : A FULLY TACTICAL AND CONVINCING SEQUEL”

  1. satu hal yang saya tidak suka dari seri Bourne ya dari shaky factor itu dalam adegan pertarungan. Sayangnya menurut saya Legacy masih seperti itu, walau mungkin memang terasa lebih seru. Tapi buat saya ntn adegan bertarung spt itu bikin pusing, sayangnya bbrp film hollywood terkenal lainnya juga senang pakai gaya “bat-bet, bat-bet” spt gitu, mulai dari Bourne series, 007 quantum of solace, Red, Salt, etc. Buat saya lebih enak kalau liat org tarung kelihatan dia menggerakkan apa – nendang mukul ke mana (tentu saja view angle-nya juga musti kreatif) dan kalau kejar2kejaran jelas mobil musuh di mana kalau mepet juga maunya ke mana…just my thought🙂🙂

  2. […] The Bourne Legacy […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: