RUMAH DI SERIBU OMBAK : INDISTINCT WAVES OF GOOD DEEDS

RUMAH DI SERIBU OMBAK

Sutradara : Erwin Arnada

Produksi : Tabia Films & Winmark Pictures, 2012

I really don’t wanna judge. Tapi, rasa-rasanya, sebagai novel, meski bukan berupa biografi, ‘Rumah Di Seribu Ombak’ memang berisi uneg-uneg Erwin Arnada selama menjalani masa tahanan atas persepsi-persepsi tak adil sekelompok ‘pahlawan kesiangan’ negeri ini. Betapa ia menjadi korban dari sebuah kepentingan kelompok moral yang ditup-tutupi serta didukung para penguasa bertopeng itu, dimana jauh dibaliknya, lagi-lagi, ada isu-isu SARA yang tak pernah bisa terselesaikan. So yes, saya percaya, novel itu memang memberikan pandangan-pandangan sangat berharga tentang sebuah toleransi dibalik kacamata persahabatan dua orang anak berbeda latar belakang di Singaraja, Bali. Lengkap pula dengan isu-isu kehidupan sosial disana yang menyimpan borok-borok dibalik keindahan alamnya. Maklumlah, ini memang Indonesia yang notabene masih tergolong negara dunia ketiga.

Jadi tak heran, unsur personal itu memang mendorong Erwin yang selama ini lebih dikenal sebagai produser, rata-rata bukan film sembarangan, dari ‘Tusuk Jelangkung’, ‘Catatan Akhir Sekolah’, ‘Cinta Silver’ hingga ‘Jakarta Undercover’, turun tangan sendiri untuk menyutradarai adaptasinya. Naskahnya memang ditulis oleh seorang Jujur Prananto, namun pasti sulit untuk tak mengikuti koridor keinginan Erwin yang juga ikut menulisnya, yang pasti lebih secara personal mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Hanya saja, mungkin mereka lupa, bahwa berbeda dengan novel, sebuah adaptasi dalam medium film memerlukan koneksi instan untuk berkomunikasi dalam durasi terbatas dengan penontonnya. Bukan penggarapannya tak bagus, tapi apa yang tampil kemudian adalah konflik demi konflik yang penuh sesak tanpa mereka bisa memilih fokus ke satu tema sentral sekaligus menentukan sasaran audiensnya, secara pada dasarnya, meski dipenuhi konflik dewasa yang tak bisa ditampik sebagai bagian dari surga bernama Bali, semua orang pasti lebih melihatnya sebagai kisah persahabatan antara dua orang anak. Ya, anak-anak. Dari poster, promo dan apapun itu, begitulah kesannya. Dan lupakan juga SDM kita yang tak pernah beres menuangkan sinopsis dari naskah panjang dalam press release sebuah film. ‘Rumah Di Seribu Ombak’ memang punya unsur human story sebuah kisah perjuangan sejati menggapai cita-cita, pun juga demikian dengan pesan toleransi. Namun yang satu ini, punya nada berbeda dalam konklusinya.

Persahabatan Samihi (Risjad Aden), bocah muslim berusia 11 tahun dengan Wayan Manik/Yanik (Dedey Rusma), bocah Hindu 12 tahun di desa Kaliasem, Singaraja, berawal dari sebuah peristiwa saat Samihi diganggu sekelompok anak-anak di pinggir pantai. Sejak itu, mereka mulai mengeksplorasi ketakutan dan trauma masing-masing dalam persahabatannya tanpa memandang perbedaan itu. Samihi memiliki trauma terhadap laut atas tragedi yang menimpa kakak dan ibunya, sementara Yanik ditempa kerasnya kehidupan putus sekolahnya sebagai guide lokal tur lumba-lumba di pantai Lovina demi membantu ibunya yang sakit-sakitan, selain mendapat pelecehan seksual dari seorang bule disana, juga harus berhadapan dengan tragedi lain yang lebih besar lagi. Trauma inilah yang membuat Yanik kerap menghilang dari sisi Samihi yang tetap berusaha membantunya, namun begitupun, Yanik tak pernah berhenti menyemangati Samihi untuk bisa mengatasi ketakutan-ketakutannya.

So there you go. Sebuah kisah persahabatan sejati yang seharusnya bisa sangat menyentuh dibalik semua aspek yang ada. Dari dialog-dialog yang hadir menjelaskan toleransi itu kala Samihi disunat, dibawa Yanik berguru vokal pada seorang ibu Hindu Bali demi memenangkan kejuaraan MTQ di sekolahnya, mengatasi ketakutannya pada laut hingga saling menunggu kala satunya melaksanakan ibadah ataupun di perayaan hari besar masing-masing, bahkan ke karakter-karakter lain seperti ayah Samihi, Aminullah (Lukman Sardi) dan adiknya, Syamimi (Bianca Oleen/Andriana Suri) bersama penduduk setempat, diantaranya tetua adat Ngurah Panji yang diperankan Jerinx SID, yang sangat memandang tinggi toleransi dalam kehidupan sosial mereka. Bahkan isu hubungan beda agama saat Yanik dewasa (Riman Jayadi) dengan Syamimi pun tak disorot jadi konfliknya. Semua tergelar dengan pesan moral dibalik protes halus Erwin yang sangat baik untuk diteladani. Di tengah sinematografi cantik dari Padri Nadeak terutama di detil-detil adegan surfing yang masih jarang sekali tampil di film-film kita, skor duet Thoersi Argeswara – Gung Alit Bona yang turut memberi kesan mystical dengan sentuhan etnis Bali, serta akting yang rata-rata sangat baik pula dari pendukung-pendukungnya, terutama Risjad dan Dedey yang membawa benang merahnya selama tigaperempat durasi filmnya.

Namun sayangnya, fokus ke plot sentral ini dipenuh-sesakkan oleh begitu banyak subplot yang tak dibarengi dengan storytelling yang lancar. Tanpa menggambarkan relasi yang seimbang antara perjuangan melawan trauma masing-masing, yang tampil ke layar justru karakter Yanik yang terus-menerus jadi seolah ‘guardian angel’ untuk Samihi ketimbang sebaliknya. Konflik Samihi yang kerap kehilangan Yanik itu pun terus-menerus digagas dari dialog yang repetitif dalam adegan-adegan flashback tanpa reaksi yang juga kelewat jelas. Timbul-tenggelam dan timbul-tenggelam lagi. Trauma pelecehan pedofilia yang sebenarnya wajar menjadi gambaran kerasnya interaksi penduduk lokal dengan turis-turis disana juga seakan bingung mau ditampilkan secara halus, terutama bagi penonton belia yang menyangka ini lebih ke sebuah film buat mereka. Isu bom bali yang dihadirkan pun muncul kelewat mendadak seolah hanya sebagai sempalan, apalagi tanpa pengenalan sebelumnya ke karakter korbannya.

Dan puncaknya, ketika perempat akhir, setelah tone-nya sempat berubah menjadi sebuah kisah sukses perjuangan Samihi seorang, malah hampir sama sekali melenyapkan karakter Samihi dewasa (Andre Julian) serta kehilangan fokus di hubungan cinta Yanik dengan Syamimi yang tak dibangun dengan baik sejak awal. Pemeran Yanik dewasa, Riman Jayadi, juga terasa jomplang sekali menjembatani aktingnya dengan Dedey , selain membangun chemistry-nya pada Andriana Suri, pemeran Syamimi dewasa. Klimaks yang harusnya mau menggambarkan kesedihan luarbiasa dengan menambah dan menekankan lagi penderitaan dan trauma Yanik yang tak habis-habis dalam kaitannya ke Samihi atau Syamimi pun jadi mentah begitu saja. Bahkan skor dan sinematografi cantik dengan tampilan lumba-lumba yang mengusung judul indahnya tak lagi bisa menyelamatkan bagian-bagian yang sudah muncul mengacaukan plot sentral tentang persahabatan itu.

Jadi begitulah, dibalik keberhasilan beberapa unsurnya yang bekerja dengan baik menghadirkan ‘Rumah Di Seribu Ombak’ ini sebagai tontonan yang tetap tergolong sangat-sangat layak untuk ukuran film kita, tujuan baik dalam membangun subplot dan konflik sebanyak itu akhirnya terasa overloaded dan kehilangan fokusnya terlebih di bagian-bagian akhir yang harusnya bisa jadi konklusi yang sangat menyentuh serta membuka mata. ‘Rumah Di Seribu Ombak’ jelas bukan sebuah karya yang jelek, tapi andai saja Erwin dan timnya mau sedikit lebih berkompromi dengan usaha-usaha ke koneksi instan dalam keterbatasan durasi film tadi, ini bisa jadi karya yang jauh lebih baik. Like indistinct waves of good deeds, ini benar-benar sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on September 3, 2012.

One Response to “RUMAH DI SERIBU OMBAK : INDISTINCT WAVES OF GOOD DEEDS”

  1. […] Rumah Di Seribu Ombak […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: