MAMA CAKE : AMBIGUITAS DIBALIK DAKWAH

MAMA CAKE

Sutradara : Anggy Umbara

Produksi : Falcon Pictures, 2012

Saya memang bukan pendengar musiknya Purgatory. Tapi dari seorang teman, saya diberi tahu, bahwa sutradara sekaligus otak di belakang semuanya, Anggy Umbara, yang notabene adalah personil/DJ band tadi, punya ambiguitas unik. Anak metal, dari aliran musik death metal yang kerap dipandang sebagian orang sangat tidak relijius secara Islami, tapi alim. Toh ranah lirik-lirik lagu Purgatory memang juga secara ambigu ada di ajaran-ajaran Islam. Bahkan, ia bisa berlari kalau mendengar adzan.Aneh, tapi unik. Kira-kira begitu. Jadi tak heran, itu juga ambiguitas yang dibawa Anggy yang juga anak bungsu sutradara terkenal kita, Danu Umbara (‘Lima Cewek Jagoan’ dan ‘Perawan Rimba’ diantaranya) selain sudah memulai karir sutradaranya lewat sejumlah videoklip, ke benang merah plotnya beserta karakter-karakter dalam ‘Mama Cake’ ini. Dan tak hanya itu, hal aneh tapi unik itu juga sekaligus muncul dalam keseluruhan penyampaiannya. Buat sebuah film Indonesia, storytelling ala komik berteks ala videoklip itu tergolong baru, begitu juga dengan atmosfer background-nya yang direkayasa tapi ada sisi lain yang bisa membuat penonton betah mengikuti gelaran ambisi Anggy yang memakan durasi hingga lebih dari dua jam itu.

Dan Anggy, jelas-jelas sedang menyampaikan pesan dan dakwahnya. Lewat premis simpel, klise, serta akrab dengan keseharian kita, namun sayangnya sering lepas dari bidikan sineas-sineas kita. Lebih sering kita menjumpai premis-premis model begini, termasuk sempalan karakter ‘angel in disguise’ di film-film drama atau komedi luar. Tapi pesan yang dimuatnya juga seperti orang galau tingkat tinggi terhadap apa yang ada di sekitar dia, termasuk katanya keresahan akan arus budaya barat yang mengikis nilai-nilai agama dan budaya ketimuran kita (walaupun kita semua tahu nama band Anggy dan influence-nya saja termasuk salah satu ambiguitas tadi). Mencampuradukkan perilaku sosial dengan penyetaraan-penyetaraan awkward ke agama, kadang jadi terdengar seperti seorang weirdo. Bukan hanya hubungan keluarga, persahabatan, perilaku anak muda, keterkungkungan minat oleh kemauan orangtua, virginitas dan seks bebas, sains versus reliji, sholat, pesan alam serta lingkungan, homoseksual, geng motor, kehidupan marjinal,  tapi juga cinta, bahkan sampai masalah sepakbola dan kentut yang dirangkumnya ke dalam adegan-adegan singkat, dengan gaya sangat MTV. Karakter utamanya yang diperankan Ananda Omesh pun sudah menunjukkan itu dengan rambutnya yang dicat merah. So ini memang sama anehnya seperti kita melihat cowok berambut merah di syaf orang-orang yang sedang beribadah dalam sebuah mesjid. But in other way, mengundang perhatian. Dan ini yang jadi sisi baik dalam penyampaian kisahnya, selain beberapa unsur filmis lain yang tergarap dengan baik.

O ya, lupakan juga sebaris istilah yang ada dalam sejumlah press release-nya, entah itu gaya fresh-raw-alternative ataupun comedy pip urban yang entah apa maksud keseluruhannya. ‘Mama Cake’ mengisahkan tiga sahabat, Rakha (Ananda Omesh), Willy (Boy William) serta Rio (Arie Dagienkz) yang punya karakter dan gaya hidup sangat berbeda. Rakha yang berambut merah ini adalah anak orang kaya yang cenderung kalem, pemalu dan alim dibalik tampilan modern dan hidup serba mewahnya, sedangkan Willy, secara bertolak belakang, adalah seorang playboy yang kerap berkomunikasi dengan bahasa bercampur yang kebarat-baratan. Rio lain lagi. Mirip seorang pujangga, ia adalah introvert yang mencari harmoni dalam setiap sisi hidupnya. Sekarang, amanat nenek Rakha (Nani Widjaja) yang tengah kritis di rumahsakit melalui ayahnya (Rudy Salam) untuk dibawakan Brownies Kukus Mama Cake langsung dari Bandung membuat ketiganya menempuh perjalanan sehari semalam yang diwarnai banyak masalah serta musibah, namun di sisi lain juga membawa pencerahan terhadap hubungan ketiganya, serta tujuan dan pilihan hidup mereka.

Satu yang jelas, plot ‘Mama Cake’ harusnya bisa jauh lebih efektif dan tak memerlukan durasi sepanjang itu untuk penyampaian pesan-pesannya. Hanya dengan kisah sebuah perjuangan melaksanakan amanah yang bisa menyentil sampai kemana-mana, itu sebenarnya sudah bagus tanpa harus terasa overloaded. Namun seperti sutradara film indie debutan yang seringkali sayang mengorbankan adegan hingga memasukkan semua ide-idenya tanpa korelasi yang jelas, Anggy terlalu memaksakan diri untuk menyempalkan semuanya walau harus mengorbankan jumlah tayang filmnya sebagai sebuah produk dagang. Skrip yang ditulisnya bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul memang tak melupakan benang merah yang mereka pilih sebagai judul, sebagai satu sisi baik diantara banyak film kita yang tak sinkron judul dengan ceritanya, namun konflik-konfliknya, tanpa bisa dihindari, melebar kemana-mana secara tak rapi, dan seringkali terasa kelewat panjang mengulur waktu. Sebagian quote-quote dalam dialognya terasa sangat menyentil, ada beberapa adegan yang juga sangat ‘kena’ dalam penyampaian pesannya, menyentuh luarbiasa, namun sebagian lagi, terjebak dalam ambiguitas aneh tadi. Kadang bisa cenderung terlihat munafik. Mulai dari benturan sains dan reliji yang sayangnya dieksplorasi dengan logika mengada-ada sedangkal pikiran anak SD, sempalan-sempalan hitam putih virginitas sebagai patokan ‘budaya ketimuran’ hingga teori elemen yang sangat dipaksakan sebagai metafora sholat. Bahkan lihat saja, gambaran ‘angel in disguise’ yang diperankan orang tak jauh Anggy, Fajar Umbara, juga sesuai dengan karirnya sebagai vokalis band disamping aktor, bak seorang rocker gondrong ber-jeans, tak ubahnya seperti menjelaskan status Anggy sebagai anak band, atau ya, rocker.

But however, ‘Mama Cake’ juga sekaligus unik, dan tanpa bisa ditampik, mencuri perhatian untuk bisa diikuti selama durasi panjangnya. Tampilan konflik overloaded, dialog-dialog preachy serta keluh-kesah yang kelihatan seperti orang cerewet tanpa arah itu, bisa tertutupi oleh pengadeganan yang stylish, walaupun over tapi harus diakui jadi inovasi baru buat film kita, apalagi penekanan kata-kata yang dipilih untuk dialog ala komiknya justru menambah kelucuan komedinya. At least, Anggy bersama Bounty (co-director yang juga personil Purgatory) dan kru-nya terlihat meng-handle semua inovasi sinematis ini dengan keseriusan bukan main-main, termasuk color editing yang mau dianggap sebagian orang sia-sia tapi cukup memberikan kesan bersama rambut merah karakter Rakha.

Selain itu, kekurangan tadi juga teralihkan lewat akting yang sangat baik dari sebaris pendukungnya. Ananda Omesh yang seperti biasanya, santai tapi terjaga, Boy William, VJ MTV yang kerap disebut Cinta Laura versi cowok, namun tetap jauh lebih wajar dan disini kelihatan seperti memerankan dirinya sendiri tanpa beban, dan Arie Dagienkz yang berkonyol-ria dibalik karakter yang sangat annoying, bisa menerjemahkan karakter mereka dengan baik dengan chemistry yang kompak pula. Renata Kusmanto dan Dinda Kanya Dewi juga muncul dengan kualitas sweetheart yang sangat masuk ke sempalan tema lovestory-nya (mungkin Anggy lebih baik memilih tema-tema romantis buat film berikutnya nanti karena bakat itu terlihat sangat jelas disini), berikut tampilan singkat karikatural pendukung lain, dari Candil, Didi Petet, Ferry Maryadi, Kinaryosih, Bagus Netral, Rudy SalamHerichan hingga Nani Widjaja yang muncul memberikan kesan paling dalam di bagian-bagian penghujungnya. Dan themesong-nya yang me-rearrange karya lawas Iwan Fals, ‘Belum Ada Judul’, juga jadi daya tarik lain.

So begitulah. ‘Mama Cake’ secara keseuruhan jelas bukan sebuah film jelek di tengah kegagalannya mengefektifkan storytelling dan dakwah secara sinkron. Di satu sisi, overloaded, preachy, kadang tolol dan cerewet luar biasa, namun di sisi sebaliknya, dakwah itu punya kekuatan mengundang perhatian, yang membuat komunikasinya terasa akrab dibalik gaya penceritaan unik serta tak mau mengikuti trend yang sudah ada. After all, we’re really living this way of life. Akan jauh lebih menarik menyaksikan ambiguitas ketimbang dakwah kelewat terus terang. Begitu kan? Seperti dakwah-dakwah di televisi yang dibungkus dengan komedi, kadang bisa nyeleneh bahkan tak jarang menjurus jorok. Dalam persepsi-persepsi berbeda, ini kurang lebih, sama juga. Silahkan ambil positifnya, bahwa selama bisa menyampaikan pesan yang baik, semua jadi sah-sah saja. (dan)

~ by danieldokter on September 18, 2012.

3 Responses to “MAMA CAKE : AMBIGUITAS DIBALIK DAKWAH”

  1. udh nnton film ini Bang Dan,iya jg,tellingstorynya agk over,tp overall,this movie’s good,aplg mlht film2 dlm negeri yg krg bs mnyampaikan pesan2 trtntu d baliknya🙂

  2. […] Mama Cake […]

  3. Mama Cake keren filmnya juga ada kocaknya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: