RADIO GALAU FM : POTRET GALAU ABG ZAMAN INI

RADIO GALAU FM

Sutradara : Iqbal Rais

Produksi : Rapi Films, 2012

Menyambung trend adaptasi akun twitter yang mampu menarik puluhan ribu followers, kemudian diangkat ke novel, lantas ke film, seperti ‘Poconggg Juga Pocong’ tempo hari, ‘Radio Galau FM’ memang bukanlah sebuah kisah tentang radio. Sejalan dengan akunnya yang menampung kegalauan follower-followernya yang segmennya memang para remaja di twitter, novel karya Bernard Batubara yang juga terinspirasi dari sana kini diangkat ke layar lebar. Benang merahnya kedua produk trend itu ada di penulis skripnya, Haqi Achmad, yang sudah bekerja dengan sangat baik di ‘Poconggg Juga Pocong’ dalam menangkap fenomena yang ada di kalangan remaja sekarang. Dialog-dialognya segar, sangat up-to-date dengan trend itu. Dan selain referensi curhat-curhat dunia maya yang diangkat ke novel itu, Haqi kelihatannya juga menuangkan sebagian kisahnya sendiri sebagai anak muda yang sedang mengejar impian jadi seorang penulis sukses. Sisanya, tentunya ada di pemilihan cast yang tepat.

Beruntung pula, mereka berhasil menggamit Iqbal Rais, salah satu sutradara muda kita yang tetap konsisten dalam deretan karya-karyanya, sebagai storyteller yang biasanya sangat enak dalam bercerita. Dalam konteks jualan, mengangkat fenomena yang sedang trending, jelas tak ada salahnya. Apalagi galau-galau dunia remaja, meski istilahnya lagi populer sekali sekarang, bukanlah produk baru. Dulu juga ada film ‘Galau Remaja Di SMA’ yang sama-sama diangkat dari novel dan memasang duet Meriam Bellina-Paramitha Rusady. Zaman demi zaman, dekade demi dekade, genre film dimanapun, tak pernah bisa lepas dari teen movies, dengan perkembangan warna dan atribut-atribut yang berbeda. Selain membidik hiburan, socially, ini juga selalu patut jadi referensi. Kalaupun sebagian penonton yang bukan lagi remaja merasa mereka sudah melewati usia ini sehingga tak pantas atau malah mengejek pola perilaku abege-abege sekarang, just realize. Bukan tak berhak, tapi yang namanya zaman pasti akan berubah terus. Kalau Anda-Anda yang di luar usia itu bisa menikmati teen movies dari belahan Asia luar seperti Korea atau Thailand yang juga sedang populer sekarang, kenapa tidak di sinema kita? Once in a while, look back. Dalam kapasitas galau yang berbeda, semua remaja, pasti pernah mengalami cinta.

Bara (Dimas Anggara), seorang siswa SMU selama ini tak pernah memikirkan pacaran karena sibuk dengan impiannya menjadi penulis. Tak seperti anak seusianya, malam minggunya kerap dilewatkan Bara bersama laptop untuk menulis cerpen di mading sekolahnya. Sahabatnya, Rio (Jordi Onsu), juga jomblo sejati. Namun cerpen itu juga yang akhirnya membawa Bara pada adik kelasnya, Velin (Natasha Rizki) yang mengagumi karya-karya Bara. Lewat Tata (Indri Giana), Velin yang berkenalan dengan Bara akhirnya jadian. Tapi kebahagiaan mereka tak lama. Perlahan Bara mulai merasa gerah dengan sifat manja dan drama-dramanya Velin. Ia berpaling pada Diandra (Alisia Rininta), kakak kelasnya yang jauh lebih dalam segala hal dibanding Velin. Ternyata hubungannya dengan Diandra berjalan jauh lebih ribet dari yang diharapkan, dan Bara pun jadi semakin galau menghadapi masalah-masalahnya.

So, what will you expect dari sebuah adaptasi akun twitter dengan permasalahan galau-galau remaja itu? Pendalaman psikologis yang jelas-jelas bukan bidikan segmennya, just like its own source? Oh, c’mon. Seperti sumber-sumbernya, ini memang murni sebuah film remaja yang dibangun dari trend yang ada. Tanpa muluk-muluk lewat plotnya yang memang tak harus muncul dengan pendalaman lebih. Karakter-karakter yang masuk dan dibangun dengan kegalauan tingkat tinggi, mencla-mencle kemana-mana demi sebuah kebutuhan hubungan bernama cinta. Tanpa pernah sekalipun jadi pretensius seperti banyak kebiasaan film remaja kita yang suka ber-ngeres-ngeres ke masalah hamil muda atau narkoba, konfliknya tak lari kemana-mana, dan atmosfer remaja dengan segala kepolosan dan kedangkalan pikiran itu muncul dengan menarik di skrip Haqi. Dan mereka tak sama sekali menghilangkan benang merahnya ke istilah radio dan FM untuk jadi bagian dari plotnya, walaupun hanya sebatas jadi background tak penting. Toh sourcenya hanya akun yang menggunakan nama ‘radio’ untuk menampung curhatan. Anda boleh saja tertawa, tapi sekarang, inilah dunia remaja yang ada.

Dan di tangan Iqbal Rais, pilihan-pilihan cast yang memang sudah tepat ini jadi terlihat hidup dan membawa karakter mereka se-santai storytelling lancar ala Iqbal. Ok, Dimas Anggara mungkin terlihat sedikit terlalu menarik untuk karakter Bara yang sulit mendapat perhatian cewek-cewek di sekolahnya, namun ia sangat bersinar dalam debut layar lebarnya menjadi seorang lead actor. Aktingnya santai, tak pernah jadi over meskipun skrip Haqi tak selalu meletakkannya jadi lovable di tengah konflik-konfliknya, cukup dengan kemanusiawian ala remaja abege yang mencla-mencle tadi. Dan tak sekedar cantik, Natasha Rizki dan Alisia Rininta juga masing-masing bisa mengimbangi Dimas sebagai deretan cast utamanya tanpa harus kelihatan seperti kapstok penghias tak penting. Selipan-selipan komedi dari dialog-dialognya terasa segar, dan karakter-karakter sampingan mulai dari Jordi Onsu, Indri Giana, Tiara Sumiarto yang sangat komikal memberikan sentuhan banyolannya sebagai kakak Bara, penampilan khusus Ramon Y. Tungka, Franda hingga Joe P Project yang selalu jadi andalan komedi di film-film Iqbal, muncul begitu menyita perhatian dengan tingkah gokilnya sebagai ayah Bara. Chemistry-chemistry mereka juga terbangun dengan sangat baik diantara satu dengan lainnya, dan penggarapan keseluruhannya pun tak jelek.

Jadi begitulah. ‘Radio Galau FM’ ini memang hanya berupa penggalan episodik galau-galau abege sekarang dalam memandang dan berinteraksi seputar masalah percintaan mereka. Sama seperti source-nya, ia juga tak memerlukan pola pikir dewasa dan mendalam untuk bisa mengerti jiwa mereka. Tergantung ekspektasinya saja, tapi apapun itu, Iqbal, Haqi dan Bernard sudah cukup sukses memotret fenomena itu. Sesaat, bisa jadi, namun untuk mendalami secara sosial tipikal kehidupan remaja kita dari masa ke masa, ini bisa jadi versi yang mewakili zamannya dengan cukup baik. Sekali waktu nanti, siapa tahu, Anda mungkin boleh-boleh saja melihatnya kembali. (dan)

~ by danieldokter on September 23, 2012.

3 Responses to “RADIO GALAU FM : POTRET GALAU ABG ZAMAN INI”

  1. Wah. Kelihatannya saya perlu menonton supaya kalau adik saya yang masih SMU galau bisa saya beri petuah.😛

  2. GALAU…

  3. […] Radio Galau FM […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: