TED : A LAUGH OUT LOUD COMEDY ABOUT EVERYTHING

TED

Sutradara : Seth MacFarlane

Produksi : Media Rights Capital, Fuzzy Door Productions, Bluegrass Films, Smart Entertainment & Universal Pictures, 2012

Sometimes, miracle comes from the crazy minds. Begitulah ‘Ted’, yang datang dari kegilaan seorang Seth MacFarlane. Sineas multitalenta dari aktor, voice actor, animator, komedian, penulis skrip sekaligus produser dan sutradara yang sangat dikenal lewat ‘Family Guy’, serial animasi komedi yang juga gila. Tak heran kalau ia lebih akrab dengan dunia animasi, karena Seth, memang memulai karir dunia pertelevisiannya lewat kiprahnya di Hanna-Barbera, termasuk versi baru ‘The Flintstones’ yang nanti bakal muncul tahun depan. Memulai debut penyutradaraan layar lebarnya, Seth menulis skripnya bersama dua rekannya dari ‘Family Guy’, Alec Sulkin dan Wellesley Wild, mengisi suara bahkan jadi motion capture object buat judul karakternya, boneka Teddy Bear bernama ‘Ted’. Premisnya simpel, komedi tentang persahabatan seorang lelaki dengan ‘came aliveteddy bear-nya. Dan tak jauh dari ‘Family Guy’ yang template-nya bak animasi keluarga namun sangat adult oriented dari karakter-karakter yang nyaris serupa tapi tak sama, tampilan teddy bear tak serta-merta membuat genrenya jadi family movies. Here it comes. ‘Ted’, is a filthy minded – foul mouthed – and dope smoking teddy bear. Posternya ‘sakit’ meski merupakan repetisi tak resmi dari ‘Big Daddy’-nya Adam Sandler, dan trailer-nya pun sama gilanya. So, how sick is that gonna be?

Lewat narasi yang disuarakan Patrick Stewart, kita pun dibawa ke sejarah persahabatan itu. Keajaiban natal datang pada John Bennett kecil (later played by Mark Wahlberg) yang selalu kesepian, dimana doanya agar teddy bear hadiah natal yang diberinya nama Ted (later voiced by Seth) bisa hidup dan bicara selayaknya manusia. Dalam sekejap, keajaiban ini jadi milik semua orang. Ted pun jadi seleb yang melewati masa-masa keemasannya hingga kehilangan semuanya dibalik problem alkohol, narkoba dan self confidence-nya yang mulai terganggu. Tapi dibalik semuanya, ia tak pernah jauh dari John. Mereka tetap tinggal berdua bak saudara kandung. Sebagai teman, saling menjaga, dari mabuk-mabukan serta menikmati ‘Flash Gordon (1980)’ sebagai film favorit mereka tiap malam. Masalah mulai muncul kala kekasih Bennett, Lori Collins (Mila Kunis) mulai meminta kejelasan hubungan mereka dan keberatan dengan ulah Ted yang serba vulgar. Artinya, John harus berpisah dengan Ted, dan mereka sama-sama tak mudah menerima kenyataan ini. Hasilnya adalah kekacauan, apalagi ada pihak yang mencoba mengambil kesempatan dalam konflik ini, dari atasan Lori, Rex (Joel McHale) yang mati-matian mengejarnya serta stalker sakit jiwa Donny (Giovanni Ribisi), fans berat Ted yang menginginkannya jadi milik anak laki-lakinya (Aedin Mincks).

 

Why a miracle? Pertama, pastinya adalah box office yang melambung hingga memberikan rekor ‘the highest grossing R-rated movies of 2012’ hingga menempatkannya dalam urutan 10 film terlaris 2012 hingga beberapa saat setelah perilisannya. Kritikus juga menyambutnya dengan resepsi baik bersama dead-fan moviegoers dibalik hype yang langsung bermunculan dimana-mana. Kedua, adalah keberhasilan Seth meracik elemen-elemen dalam plot dan komedinya, which is, truly overloaded, not that original dan sebenarnya bias sampai jauh kemana-mana jadi sebuah karya yang terus terang, hasilnya sangat solid. Dari mish-mash berbagai genre hingga bromance, romance, drama sekaligus thriller yang tetap rapi dibalik komedinya, tak ketinggalan pula elemen fantasy dalam genre family movies yang bertolak belakang dengan keseluruhannya sebagai pembuka dan penutup yang bahkan bisa membuat semuanya tersentuh, that includes christmas miracle dan feel holiday movies-nya, hingga referensi-referensi yang membuatnya tampil bak sebuah meta atau ensiklopedi pop culture dalam rentang jauh dari atmosfer kental 80an ke era sekarang.

Dari feel friendship yang mirip ‘E.T.’, tribute-tribute ke ‘Flash Gordon’, ‘Octopussy’, ‘Star Wars‘ hingga ‘Top Gun’ dan celebrities’ real life problems yang bertaburan di sepanjang filmnya hingga menampilkan jelas elemen-elemen itu dalam sejumlah cameo (ada Sam Jones, pemeran ‘Flash Gordon’ bersama excerpts  asli dan editan CGI-nya, Tom Skerritt, Norah Jones, Ryan Reynolds dan Brandon Routh – Taylor Lautner yang ikut disebut-sebut) serta soundtrack (themesong ‘Flash’-nya Queen, hit single-nya Tiffany, ‘I Think We’re Alone Now’ dan themesong James Bond’s Octopussy, ‘All Time High’ – originally sang by Rita Coolidge), yang semuanya jadi highlight penting dalam adegan-adegan memorable-nya. Di satu sisi, ini membuat penyampaian komedinya jadi jauh lebih segmented buat masing-masing kalangan penonton yang beragam, namun kegilaan vulgar, kurangajar dan adult oriented comedy-nya tetap terjaga bersama quote-quote tak kalah sinting dalam mengocok perut penontonnya sebagai salah satu komedi terlucu yang pernah ada. For these, ‘Ted’ memang jadi terasa benar-benar cerdas luarbiasa.

Lantas, di sisi penggarapannya, Seth juga tak main-main. Motion capture yang dibesutnya untuk karakter ‘Ted’ memang tak menyajikan tampilan efek spesial yang ‘wah’ namun luarbiasa rapi dan cermat dalam tiap movement hingga penjelasan emosinya. Mark Wahlberg bermain pas menampilkan kekonyolannya sebagai John Bennett dengan chemistry superglued ke Ted, Mila Kunis seperti biasa muncul dengan kualitas sweetheart-nya, dan Giovanni Ribisi yang sangat mencuri perhatian sebagai stalker maniak bersama Aedin Mincks, pemeran putra gembulnya. Masih ada pula skor yang sangat bernuansa holiday movies dari Walter Murphy serta themesongEverybody Needs A Friend’ dari Norah Jones, yang membuat feel-nya sebenarnya seakan lebih pas dirilis menjelang liburan natal akhir tahun ketimbang sekarang. Namun diatas semuanya, kredit terbesar layak diberikan pada voiceover Seth menyuarakan Ted bersama tingkah slenge’an-nya.

So what are you waiting for? Semua elemen dalam racikan itu sudah membuat ‘Ted’ tampil untuk memuaskan segala kalangan penontonnya, a laugh out loud comedy about (almost) everything, overloaded tanpa terasa overloaded karena penyusunan yang pas, serta di satu-dua bagiannya bahkan bisa membuat kita terharu setengah mati. And there you go. Sama seperti subplot miracle-miracle-nya, ‘Teditself, is a miracle, and absolutely, one of this year’s best. One of this year’s best! (dan)

~ by danieldokter on September 24, 2012.

5 Responses to “TED : A LAUGH OUT LOUD COMEDY ABOUT EVERYTHING”

  1. sy sdh nnton iniiiiiiii bang Dan🙂
    stjuuu,one of this year’s best🙂

  2. […] TED […]

  3. […] Ted […]

  4. […] Needs A Best Friend” from TED Music by Walter Murphy; Lyric by Seth […]

  5. […] Needs A Best Friend” from TED Music by Walter Murphy; Lyric by Seth […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: