RAYYA : CAHAYA DI ATAS CAHAYA ; THE BEAUTY OF ABSURDITY

RAYYA : CAHAYA DI ATAS CAHAYA

Sutradara : Viva Westi

Produksi : MAM Production, Pic[k]lock Production, 2012

Jangan pernah menilai film dari jumlah penontonnya. Malah, film yang lebih bagus biasanya malah lebih dijauhi oleh penonton awam kita. Dan film seperti ‘Rayya : Cahaya Di Atas Cahaya’ ini, dalam konteks sinema kita, trust me, jarang-jarang. Dalam kuantitas yang meski sudah lumayan namun tetap tergolong cukup minim, susah menggolongkan sejumlah film kita ke kategori arthouse. Tampilannya boleh saja mengarah kesana, tapi secara komunikatif, kebanyakan film kita yang dianggap sebagian orang ada di kelas arthouse, masih punya koneksi yang jelas ke penontonnya. Hanya saja, secara artistik, film-film itu digarap jauh lebih cermat dalam wrapping sinematisnya. And basically, ‘Rayya’ ini adalah sebuah lovestory dengan interaksi minim antar dua orang lead-nya. Masih ada sejumlah pendukung lain, malah nama-nama besar yang sangat dikenal, dalam style road movie yang menerjemahkan perilaku humanisme di tengah-tengahnya, but still, basically, it’s a lovestory. Dan interaksi minim, bukan lantas berarti tak dalam.

Disitulah ‘Rayya’ memulai kisahnya. Tentang Rayya (Titi Sjuman), artis sekaligus supermodel sukses yang sedang berada di puncak ketenarannya. Dunia sekelilingnya tampak glamor dengan keangkuhan luarbiasa, namun dibalik itu, masalah hidupnya, juga tak kalah kompleks. Malah, ia sampai memikirkan untuk bunuh diri di tengah rencana pembuatan novel otobiografinya. Menolak didampingi oleh seluruh tim penerbit dan managernya untuk pengambilan foto, Rayya pun mencampakkan Kemal (Alex Abbad), fotografer yang dianggapnya sulit diatur. Maka datanglah Arya (Tio Pakusadewo), fotografer senior dengan teknik konvensional yang siap menjadi bumper atas keangkuhan Rayya. Dalam perjalanan itu, luka-luka dalam kehidupan keduanya mulai terbuka. Dan hati-hati yang terjatuh, tercampak, dan terpuruk itu, perlahan-lahan menemukan cahayanya.

Walau termasuk sineas yang cukup diperhitungkan lewat sebagian karyanya, Viva Westi sempat juga terpuruk lewat ‘Pocong Keliling’ dan karya penulisan skenarionya di sebaris film-film Nayato (‘Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets’, ‘Affair’,  ‘18+’, ‘Not For Sale’, ‘Belum Cukup Umur’ serta ‘Gaby Dan Lagunya’), sementara film horornya, ‘Suster N’, tergolong cukup lumayan. Tapi bakatnya yang terlihat dari ‘May’ rasanya cukup buat meyakinkan bahwa dibalik (mungkin) alasan dapur itu, Viva cukup potensial sebagai sutradara.

Disini, skripnya yang ditulis Viva bersama Emha Ainun Nadjib, memang muncul seperti puisi. Penuh dengan dialog-dialog absurd yang juga jadi pilihan bersama atmosfer human story dalam nafas road movie yang digelar di sepanjang film. Mirip seperti style sastra modern kita. Kadang penuh simbol, termasuk di pemilihan nama ‘Rayya’ dan beberapa kali metaforanya terhadap Indonesia, serta sekaligus bisa luarbiasa gamblang tanpa harus selalu sinkron dengan bahasa sehari-hari dan menyisakan ambiguitas di tengah abusrditasnya. Tapi tanpa bisa dipungkiri, ini adalah jalan yang baik untuk menggelar konflik-konfliknya di tengah realita yang ada, sekaligus juga membawa makna di tengah dialog-dialognya yang mendalam. Sebagaimana rata-rata film dengan style road movie, ini sedikit absurd, namun tak lantas jatuh jadi surealis dan sulit buat dipahami. Sinematografi besutan DoP Ipung Rachmat Syaiful juga bekerja dengan baik menyajikan keindahan sinematis yang luarbiasa cantik, berikut skor dari pasangan Aksan-Titi Sjuman yang makin menekankan emosinya. Kostum-kostum yang dipilih penata kostum Musa Widyatmojo juga ikut jadi highlight yang masuk bersama jalinan plotnya dan tata suara dari Satrio Budiono pun tergolong sangat baik secara keseluruhan durasinya dipenuhi dengan konten dialog buat membangun feel-nya.

Di deretan cast, ada pula sejumlah cameo dari Arie Dagienkz, Masayu Anastasia, Fanny Fabriana serta pendukung-pendukung lain dari Tino Saroenggalo, Verdi Soelaiman, Alex Abbad hingga Christine Hakim yang masing-masing memberi thrill-thrill berkelas dalam penampilan mereka. Sayangnya, ada sebagian pemeran pendukung yang entah atas alasan apa, seperti pemeran istri dan anak Arya yang kelihatan jauh tertinggal di belakang pendukung lain. Namun diatas semua, dua lead-nya dimana ‘Rayya’ memusatkan kekuatan sinematisnya, Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo, benar-benar bersinar menerjemahkan seluruh plotnya. Ini seperti menyaksikan lovestory dengan interaksi hanya sepasang pendukung ala ‘Before Sunrise’, namun dengan kapasitas konflik yang jauh berbeda. Sentilan-sentilan sosial di tengah dialognya juga muncul dengan asyik ke tipikal manusia-manusia berbeda yang mereka jumpai di tengah perjalanan panjang itu. Mereka tampak santai, namun kesan yang ditinggalkan, luarbiasa mendalam. Selagi Titi menerjemahkan karakter Rayya dengan emosi berapi-api dan keangkuhan maksimal dari gestur dan intonasinya, Tio Pakusadewo muncul dengan ketenangan penuh serta terjaga sebagai Arya. Begitupun, interaksi keduanya lewat sorot mata serta gestur-gesturnya, jelas-jelas, menerjemahkan chemistry dan electricity ketertarikan yang sama kuatnya.

So, memang miris menyaksikan minimnya jumlah penonton yang mau meluangkan minat mereka untuk menonton film ini. Dalam jumlah film bagus yang masih minim pula, penonton kita tak pernah tergerak untuk memilihnya. I’ll assure you one more time to watch this movie, resapi quote-quote dalam penggalan dialognya, dan menyadari bahwa perfilman kita masih bisa menghasilkan produk-produk yang layak disandingkan dengan film-film luar. Katanya, ‘The first object of beauty is absurdity’, dan ‘Rayya’ sudah menemukan cahayanya disana. Bahwa dibalik tema lovestory yang sangat mendasar tentang absurditas sesosok makhluk bernama manusia, ‘Rayya : Cahaya Di Atas Cahaya’ adalah human story yang cantik sekali. Cantik sekali. (dan)

~ by danieldokter on September 25, 2012.

5 Responses to “RAYYA : CAHAYA DI ATAS CAHAYA ; THE BEAUTY OF ABSURDITY”

  1. Setuju banget bro… “Jangan pernah menilai film dari jumlah penontonnya”. Dibatam cuma bertahan 2 hari pilem ini. Kadang sedih, film Indonesia yang berkualiatas harus berakhir dijumlah penonton. -___-”

    Salam kenal…

  2. […] RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA […]

  3. […] Rayya Cahaya Di Atas Cahaya […]

  4. Sugoi. . .
    saya suka kata absurdnya, tapi. . .terus terang belum ngerti makna dari absurd/absurdity . cahaya yang absurd itu maksudx gmana?

  5. Sugoi. . .
    saya suka kata absurdnya, tapi. . .terus terang belum ngerti makna dari absurd/absurdity . cahaya yang absurd itu maksudx gmana?

    mohon di jelaskan^^
    onegaishimasu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: