LOOPER : A MIND-BENDING NEO-NOIR SCI-FI

LOOPER

Sutradara : Rian Johnson

Produksi : FilmDistrict, Endgame Entertainment, TriStar Pictures, Alliance Films, 2012

Ah, lagi-lagi Joseph Gordon-Levitt. Aktor yang satu ini memang sedang bersinar-bersinarnya di Hollywood. Setelah ‘Premium Rush’, ‘Looper’ yang beredar hampir bersamaan, memasangkannya bersama Bruce Willis. Hype-nya sudah terdengar sejak jauh hari dan semakin menanjak saat rata-rata review kritikus melemparkan pujian mereka sekaligus bandrol-bandrol overlooked yang disematkan padanya sebagai salah satu sci-fi terbaik yang pernah ada. And who is Rian Johnson? Sutradara yang memulai karir layar lebarnya lewat ‘Brick’ (2005), juga dibintangi Levitt, memang sudah meraih banyak award termasuk ‘Special Jury Prize’ di Sundance atas kiprah debutnya itu. Film Johnson selanjutnya, ‘The Brothers Bloom’, dengan deretan bintang jauh lebih gede, juga dapat resepsi bagus. Dalam sekejap ia masuk ke kelas sutradara-sutradara avantgarde yang hadir dengan visi, orisinalitas serta kecerdasan lebih. But do look back. Sebagian orang, bisa menganggap storytelling yang kerap dibangun Johnson dari puzzle-puzzle itu terkesan tak rapi. Tapi inilah Johnson. Penceritaannya dalam ‘Looper’ tetap tak berubah. Seakan-akan ia mau menekankan bahwa ia hanya mau bercerita bagi orang yang peduli akan konklusinya.

Dan ‘Looper’ tetap punya gagasan unik ala Johnson. Jika ‘Brick’ digagas penuh dengan homage ke genre ‘hardboiled detective story’ yang kental dengan nuansa noir-nya, dan ‘The Brothers Bloom’ ke genre heist atau con man klasik ala ‘The Sting’, ‘Looper’ kembali meletakkan style neo-noir-nya dalam genre sci-fi. Hasilnya adalah penuturan yang lebih terkesan seperti thriller ketimbang ‘boom bang fantasy’ seperti yang terlihat dalam promo-promonya. Tetap dengan kepingan puzzle, dan seperti ‘Brick’, ‘Looper’ juga punya kemampuan meledakkan kepala penontonnya. Mind-bending. Jadi tak usah heran. Trend puja-puji kritikus yang ada sekarang, memang mengutamakan kedalaman penuturan. Meski ‘Looper’ dibangun dari elemen-elemen klise dalam sebuah sci-fi, dari universe dystopia futuristik, Gods paradox hingga tema time travel-nya. It means, jangan buru-buru terbawa dengan hype ke resepsinya bila Anda tak benar-benar akrab dengan sci-fi yang tak sekedar menjual aksi. Beware.

Bersetting di tahun 2044, Amerika sudah beralih rupa menjadi dunia distopia dimana gap sosial dalam masyarakatnya menyebabkan banyak kejahatan terorganisir yang sulit buat dibasmi. Sebagian penduduknya juga mengalami mutasi yang menyebabkan mereka memiliki kemampuan telekinesis, namun gagal diolah menjadi sarana penegakan hukum. Muncullah ‘Loopers’, para pembunuh bayaran yang digaji dengan batangan perak yang diikatkan bersama tubuh korbannya. Caranya adalah melalui teknologi time travel yang sudah ditemukan di 30 tahun setelahnya, 2074, dimana para target ini dikirim ke masa lalu untuk dimusnahkan. Namun perjalanan waktu itu juga sekaligus jadi pelanggaran hukum yang ketat bagi penduduk lainnya, dan malangnya, para ‘Loopers’ ini harus menutup putaran mereka dengan merelakan masa hidup mereka usai setelah 30 tahun dengan membunuh sendiri satu-persatu diri mereka yang juga dikirim dari masa depan untuk menjaga keamanan informasi. Dan melanggar kontrak, berarti mati. Joe Simmons (Joseph Gordon-Levitt), seorang looper handal dari Kansas sebenarnya sudah setia melaksanakan kontrak ini setelah sahabatnya melakukan pelanggaran, namun Joe di 30 tahun kemudian (Bruce Willis), yang tak rela dimusnahkan atas dendam terhadap keluarganya yang jadi korban justru melakukan pelanggaran dengan kembali ke masa lalu dan mencoba mengubah segalanya dengan mencari The Rainmaker, pimpinan looper di masa depan, untuk dilenyapkan. Namun Joe muda tetap ingin menunaikan tugasnya. Pengejaran itu lantas membawa Joe muda ke seorang single mother, Sara (Emily Blunt) yang tinggal bersama anaknya, Cid (Pierce Gagnon), dan dari sini, satu demi satu sejarah ini mulai terbuka.

So you’ll see. Premis dan plot itu saja sudah jauh lebih membingungkan dari apa yang kita semua saksikan dalam trailernya. Bukan saja karena plot ambisius yang ditulis Rian Johnson sendiri itu tak konsisten memenuhi teori fisika kuantum dalam penjabaran time travel science (however, ini sah saja dalam genre-genre fantasi), tapi penjabaran keseluruhan plot berikut gambaran karakter sama dalam dua sosok berbeda sedikit banyaknya akan membuat sebagian penonton sulit untuk mengikuti alurnya. Belum lagi Johnson tetap menyampaikan storytelling-nya seperti film-filmnya sebelumnya. Seakan puzzle yang dibiarkan berserakan tanpa tersusun rapi buat penonton bisa memprediksi hint-hint-nya. Dan ini, sedikit banyaknya memberikan pengaruh pada pace filmnya, dimana sebagian besar penonton lebih mengharapkan action ketimbang teka-teki. Prolog yang sudah dimulai dengan seru bak sebuah neo-noir sci-fi action kemudian dibiarkan berjalan lambat di tengah-tengah. Dalam bandingannya, ini mirip dengan ‘Witness’-nya Peter Weir-Harrison Ford yang memang merupakan salah satu referensi Johnson saat menulis ‘Looper’.

Begitupun, Johnson memang seakan-akan yakin betul semua penonton akan sabar menunggu akan ada twist yang menghentak di penghujungnya. Penuturan lambat di tengah-tengah itu tetap menyisakan daya tarik dari penampilan Emily Blunt, aktor cilik Pierce Gagnon serta chemistry mereka dengan Joseph Gordon-Levitt, sementara adegan-adegan aksinya tetap diracik dengan seru tanpa melupakan style action film-film bad-ass Bruce Willis biasanya. Jeff Daniels juga tampil menarik sebagai Abe, pimpinan para looper di tahun 2044, Noah Segan sebagai Kid Blue, looper ambisius serta masih ada Piper Perabo di deretan cast yang cukup dikenal. Lupakan pula efek make-up prostetik yang dibuat dengan tendensi memiripkan Levitt dengan Willis. Meski make-up itu kelihatan seperti post-botox, apalagi kita di-distraksi penampilan Levitt dalam film-film lainnya yang beredar dalam waktu tak terlalu lama berselang, akting Levitt dalam meniru gestur serta ekspresi-ekspresi Bruce Willis secara luarbiasa detil benar-benar patut diacungi jempol, bahkan lebih baik dari Josh Brolin ke Tommy Lee Jones dalam ‘MIB 3’. Kunci selebihnya hanya satu. Kalau memang Anda mau bergelut dengan faktor mind-bending-nya mengikuti puzzle-puzzle sesuka Johnson hingga ke klimaksnya, meski penyuka sci-fi sejati tak akan kesusahan, ‘Looper’ tetap menyisakan konklusi yang cukup dahsyat.

So be it. Dibalik banyak pujian atas orisinalitasnya dan eksplorasi cerdas yang jarang terjamah dalam karya yang tak sekedar ingin jualan, Johnson sebenarnya tak pernah benar-benar orisinil secara keseluruhannya. Pun dalam ‘Brick’, ‘The Brothers Bloom’ atau ‘Looper’ ini, Johnson tetap menggunakan elemen-elemen konvensional berdasar genre yang dipilihnya, dan ‘Looper’ punya sebaris elemen dan atmosfer klasik dari banyak sci-fi terkenal, dari ‘Blade Runner’, ’The Terminator’, atau yang agak senada, ’12 Monkeys’, hingga fondasi noir kegemarannya dari ‘Witness’ hingga ‘Casablanca’. Jadi dimana letak keunggulannya sebagai sineas yang diperhitungkan? Itu dia. Di saat trend sekarang membuat para sineas berlomba-lomba menghadirkan banyak homage, referensi ke dalam sebuah karya yang bisa dianggap jadi meta atau ensiklopedi bagi genre-nya, disitulah keunggulan Johnson menyusun kepingan-kepingannya jadi penggabungan yang terasa fresh bahkan brilian. Dan sama seperti yang lainnya, ditambah faktor mind-bending tadi, ‘Looper’ akan membagi penontonnya ke dalam banyak resepsi. You might love it like hell, sekedar suka dengan action atau star factor-nya, atau malah pusing jungkir balik mencerna puzzle-nya. Just draw that line, and enjoy the rest! (dan)

~ by danieldokter on October 3, 2012.

3 Responses to “LOOPER : A MIND-BENDING NEO-NOIR SCI-FI”

  1. woooo
    msh nunggu tayang d makassar🙂
    must be great too🙂

  2. emang masih slot midnite kok, nunggu Premium Rush turun kayanya. biar ga semuanya Joseph Gordon-Levitt🙂

  3. […] Looper […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: