DREDD : THE ULTIMATE 4D EXPERIENCE

DREDD

Sutradara : Pete Travis

Produksi : DNA Films, IM Global, Reliance Entertainment & Lionsgate, 2012

So this is technology. Belum puas dengan trend 3D yang masih terus marak dan kini sudah menjangkau film-film Asia termasuk Indonesia? Here comes 4D film, yang mungkin selama ini masih lebih dikenal sebagai wahana di theme park atau kalaupun sudah cukup banyak di fasilitas-fasilitas hiburan, masih sebatas film pendek 5-10 menit. Tapi sekarang, film panjang dan blockbuster Hollywood pun sudah dipresentasikan dalam efek 4D (sebagian datang dalam paket resmi dari studio-nya), yang menggabungkan film-film 3D atau 2D digital dengan efek fisik lewat peralatan yang sudah terlebih dulu di-install di teater-teaternya yang disebut 4Dx, 4Dplex, and so on. Ini meliputi moving chairs/motion seats bersama environmental effects dari getaran, semburan angin, percikan air, dry ice/fog, lighting & laser effect hingga aroma tanpa harus menggosok kertas spesial seperti ‘Spy Kids 4D’ tempo hari. Sayangnya, lokasinya masih terbatas di beberapa negara seperti AS, Meksiko, Korsel, Hong Kong, Nepal, India dan Thailand. Dan kita harus merogoh kocek cukup mahal, untuk Thailand bervariasi dari 400-600 baht (sekitar 120-180 ribu rupiah) per film-nya. Here are some pictures of the theatre in Bangkok. (source : http://www.majorcineplex.com/en/ais-4dx/)

However, dengan presentasi serta detil-detil efek yang berbeda di tiap film, ini memang bahkan lebih menarik dari presentasi IMAX. I happened to watch 3 movies with different effects, ada ‘Real Steel’ yang highlight terbaiknya adalah penggunaan dry ice di ronde terakhir klimaksnya, ‘Step Up Revolution’ dengan laser/lighting effect yang keren di adegan museum, namun ‘Dredd’, adalah yang terbaik. Not only the movie has a lot of actions yang membuat vibrasi dari pergerakan kursi itu jauh lebih terasa maksimal, punching action/back-butt kicker dari bagian belakang kursi yang menghantam (pelan) punggung kita di adegan-adegan fight-nya atau semburan angin saat desingan peluru muncul di layar, the coolest effect adalah water bursts setiapkali ada darah yang muncrat dari adegan-adegan itu. So yes, terlebih untuk film-film seperti ‘Dredd’, kombinasi efek fisik ini bisa membuat filmnya terasa berkali-kali lebih hidup. The Ultimate 4D Experience. Now let’s talk about the movie.

Dredd’, yang diangkat dari komik strip Inggris 2000 AD, ‘Judge Dredd’, merupakan karakter komik semi-superhero besutan John Wagner & Carlos Ezquerra yang cukup dikenal dalam genre action. Versi baru yang disutradari Pete Travis (‘Vantage Point’) dan diproduseri Alex Garland (penulis ’28 Days Later’, ‘Sunshine’,’Never Let Me Go’ termasuk novel ‘The Beach’) yang sekaligus menulis skripnya ini memang sejak lama dimaksudkan untuk me-reboot versi 1995 yang dibintagi oleh Sylvester Stallone sebagai Judge Dredd. Kegagalan versi lama ini memang cukup luar biasa. Selain resepsi buruk dari kritikus, flop besar-besaran hingga mengantarkan Stallone dalam nominasi aktor terburuk Razzie Award, ini bahkan tak diakui sebagai adaptasi oleh Wagner sendiri. Sebagai film action futuristik, ‘Judge DreddStallone mungkin tak terlalu buruk, namun kesalahan utamanya adalah karakterisasi yang melenceng dari komik asli hingga tampilan Dredd yang lebih sering tanpa helm legendarisnya, yang langsung diprotes para fans-nya. Karena itu pula, Karl Urban yang didapuk jadi pemeran Dredd baru mau tak mau harus menyetujui tampil di keseluruhan film dengan helm yang menutupi separuh wajahnya.

Dan gaungnya sudah terdengar dari pre-produksinya di sejumlah festival serta San Diego Comic-Con 2010. Ketika trailernya diluncurkan beberapa bulan lalu, ada sedikit kericuhan yang menuduhnya mirip dengan film kita, ‘The Raid’ yang juga sudah merambah distribusi internasional. Tapi sulit juga, karena premis sama dalam film-film sejenis, which is cops (future cops, here) vs evil drug lords memang sudah jadi template kelewat biasa. Lagipula, sejak lama Garland memang sudah mempublikasikan premisnya tak akan mengangkat kompleksitas asal-usul karakternya seperti yang semula direncanakan, namun lebih memilih cara simpel dan singkat untuk memperkenalkan (kembali) karakter ‘Dredd’ dalam petualangan sehari penuh aksi di Mega-City One, set asli komiknya. Skala produksinya juga tak main-main. Digagas dengan kolaborasi dengan sebuah studio di Cape Town, Afsel (Cape Town Film Studio), set dan efek visual hingga peralatan dari senjata sampai kendaraan wajib Dredd, motor gedenya, disiapkan dengan cermat. Dan tampilan Dredd sendiri, tak banyak berubah kecuali adanya beberapa penyesuaian. Namun tanpa bisa ditampik, entah disengaja seperti komiknya juga yang dulu sempat membuat pemilihan Sylvester Stallone sempat dipuji sebelum versi 1995-nya beredar karena adanya kemiripan alami, atau memang Karl Urban memiliki bentuk bibir, rahang bahkan tone voice yang ternyata menyerupai Stallone, kita tak pernah bisa membuang jauh image Dredd di versi 1995 itu. Bahkan, secara tampilan atau aura-nya, Dredd versi Urban terasa sangat Stallone.

Sesuai komiknya, ‘Dredd’ ber-set di Mega-City One, satu-satunya metropolis di Amerika yang sebagian besarnya sudah berubah menjadi kawasan mati post-apokaliptik akibat radiasi nuklir dan penuh dengan kejahatan. Satu-satunya kekuatan untuk melawan kejahatan itu adalah satuan yang disebut ‘The Judges’ yang berfungsi sekaligus sebagai hakim, juri dan eksekutor. Judge Dredd (Karl Urban) ditugasi untuk mengevaluasi Judge wanita junior, Anderson (Olivia Thirlby), yang punya kemampuan paranormal dalam ujiannya. Misi mereka adalah menggerebek ‘Peach Trees’, bangunan blok 200 tingkat yang menjadi markas drug lord Madeline Madrigal / Ma-Ma (Lena Headey) dan begundal-begundalnya memproduksi sebuah obat bius bernama ‘Slo-Mo’, yang ternyata berlangsung tak semudah yang diperkirakan.

 

Seperti yang dikatakan Garland jauh sebelum rilisnya, ‘Dredd’ memang tak punya premis mendalam yang membahas semua aspek Dredd dan The Judges dalam komiknya. Tak juga penggarapan sinematis berlebih kecuali dalam hal visual. Bersama Travis, ia lebih memilih penyampaian yang sangat pop, tapi bukan dalam skala produksi yang asal jadi. Call it, kompromisme yang bagus, dimana saat visualisasi aksi itu di-push sejauh mana ia bisa, sama seperti ‘The Raid’, you’ll get good receptions, tak seperti rata-rata film action tanpa isi lainnya. Secara hampir nonstop, ‘Dredd’ memang menyajikan sisi itu dengan kecermatan penuh. Tak hanya seru, gunfights serta body combat showdown-nya muncul dengan detil luarbiasa. Keren dan stylish, dibalik sinematografi Anthony Dod Mantle, peraih Oscar di ‘Slumdog Millionaire’ dan juga membesut ‘127 Hours’ serta ’28 Days Later’. Di tangan Mantle, single set ‘Peach Trees’ itu benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Koreografi aksi, body parts berserakan, tubuh-tubuh terlempar, desingan peluru, ledakan hingga efek obat bius ‘Slo-Mo’ yang divisualisasikan dengan unik, berbaur bersama permainan plot saling sandera antara para villain dengan penghuni sipil di tengah serangan para judges ini. Mega-City One, senjata dan equipment lain termasuk motor gede Judge Dredd pun seakan jadi pendukung yang solid di tengah dentuman visualisasi penuh aksi plus opening chase-nya, bersama gimmick 3D yang juga mantap. Jangan lupakan pula skoring Paul Leonard-Morgan yang sangat bernuansa industrial-electronic dalam membangun feel futuristic action-nya.

Then among the cast, Karl Urban, walaupun terlihat sangat mirip Stallone dibalik helm yang menyembunyikan mata dan hampir seluruh hidungnya, memainkan mimik terbatas dengan gerakan bibir dan suara berat-nya untuk menunjukkan ketangguhan sosok Dredd. Luarbiasa keras namun sesekali tetap menunjukkan sisi yang membuat kita mengenal bahwa Dredd bukanlah RoboCop atau superhero rekayasa, namun hanya seorang lawman futuristik biasa dibalik seragamnya. Olivia Thirlby juga tampil baik sebagai sosok wanita yang berbaur dengan kekerasan pria tanpa sekalipun melepas sisi manusiawi feminin-nya. Namun yang paling bersinar adalah Lena Headey sebagai Ma-Ma yang terlihat sangat menakutkan dengan scar-nya di pipi. Tampil nyaris tanpa ekspresi dan tak juga beraksi berbaku hantam sebagai villain wanita di film penuh kekerasan seperti ini jelas tak mudah, namun Headey bisa meyakinkan kita bahwa ia adalah drug lord seimbang buat jadi lawan para jagoan ini.

So yes, dari luar, ‘Dredd’, mungkin hanya punya visual dan action buat jualannya. Namun dengan penggarapan taktis serta tekanan yang benar-benar maksimal ke amunisi itu, sebuah action visual pun bisa jadi terasa visceral dengan elemen-elemen yang ada. Ini jelas adalah sebuah reboot yang tak hanya setia dengan source aslinya, tapi juga salah satu adaptasi paling jagoan memanfaatkan atmosfer serta esensi komiknya. Dan menikmatinya dalam sajian 4D adalah sebuah ultimate experience yang tak bisa sering-sering didapat, apalagi kabarnya yang diimpor kesini hanyalah versi non 3D-nya entah atas alasan apa. Violent, brutal and gore, but in style. Just brilliant! (dan)

 

 

~ by danieldokter on October 5, 2012.

3 Responses to “DREDD : THE ULTIMATE 4D EXPERIENCE”

  1. wah, film ini nonton di mana, Bang? aku belum nonton.. tapi kayaknya bagus.. kalo ngeliat awal trailernya, sepintas bikin inget sama film The Raid gitu.. apa cuma perasaanku aja kali ya, hehehe..

    ohya, kalo sempet mampir ke movie blogku ya, bang.. tapi aku belum serajin dan sekeren abang sih reviewnya hehehe~

    http://cinemalone.wordpress.com/

  2. sip! di -link sekalian ntar blognya deh🙂

  3. […] Dredd […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: