RUMAH KENTANG : STEREOTIP HOROR KITA YANG AJAIB

RUMAH KENTANG

Sutradara : Jose Poernomo

Produksi : Hitmaker Studios & Soraya Intercine Films, 2012

Yup. Selain etnis dan suku yang begitu beragam, salah satu keajaiban Indonesia adalah mitos-mitos mistis yang juga terbentang dari Sabang sampai Merauke. Begitu gemarnya penduduk kita dengan urban legend-urban legend ini sampai-sampai sebagian diantaranya bukan lagi terdengar mengerikan, tapi tolol. Disini juga mungkin satu-satunya kita bisa menemukan kentang dikait-kaitkan dengan setan-setanan, seperti yang diangkat jadi tema film ini. Tapi yang jelas, ini adalah komoditas jualan yang bagus bagi sebuah genre film kita yang sangat stereotip serta tak juga bisa beres dari dulu. Sama seperti kegemaran terhadap mitos itu, selera penonton kita juga sama. Yang penting, ditakut-takuti, dengan cara apapun juga. Then again, ada yang bilang, asal horor tak disangkut-pautkan dengan seks, seperti film-film KK Dheeraj, maka berkualitaslah dia. Ah, I disagree with that. Seabrek film-film, maaf, Nayato alias Koya Pagayo, juga tak semua punya kenakalan sama. Tapi tetap jauh dari kata layak. However, dari segi bisnis, jelas tak ada salahnya mengangkat hal-hal yang serba ajaib ini.

Now here comes the stereotype. Saya tahu, filmmaker kadang tak sepenuhnya bisa disalahkan atas adanya demand dari stereotip penonton kita. Lagi-lagi, keajaiban itu milik kita. Sama seperti film-film tearjerker kita yang aneh, dalam konteks bukan menjual kesedihan dalam cara sebagaimana film-film luar bahkan Asia kebanyakan bekerja, penonton kita digiring pada kesedihan dan tangis-tangisan dari tampilan karakter-karakter filmnya yang juga merengek-rengek dari awal sampai akhir. Horor kita pun begitu. Ketimbang berpegang pada atmosfer atau tampilan setan-setan yang memenuhi syarat mock-up sinematis, kita digiring pada ketakutan dengan melihat karakter-karakter yang sedang ketakutan setengah mati di layar lebar. Bukan atmosfer, bukan pula tampilan setan-nya. Malah, geberan musik-musik yang (maunya) terkesan mengejutkan, ngejreng ngejreng di sana-sini itu, lebih beralasan buat menimbulkan suasana seram. Tapi catat. Ini filmnya Jose Poernomo. Bukan KKD atau Nayato, which is, dari penggarapan serta sinematografi, kelasnya beda. Tapi itu saja jelas tak cukup untuk membuatnya seperti harapan film ini, ‘Horor Indonesia Yang Berkualitas’, apalagi bila unsur-unsur stereotip tadi tak juga mau dilepaskan.

Sepeninggal sang ibu dalam sebuah kecelakaan, Farah (Shandy Aulia) yang kuliah di Melbourne terpaksa kembali ke Jakarta. Bukan saja karena adiknya, Rika (Tasya Kamila) yang memiliki indera keenam mengalami depresi atas kejadian itu, tapi mereka hampir tak lagi punya biaya untuk hidup,  sementara rumah yang selama ini mereka tempati juga sudah hampir berakhir masa kontraknya. Namun kemudian mereka mengetahui bahwa ibu mereka meninggalkan sebuah warisan rumah elite yang tak pernah mau ditempati karena adanya mitos ‘Rumah Kentang’ yang juga sudah mengambil nyawa seorang remaja sebelumnya. Mau tak mau, Farah dan Rika pun terpaksa pindah ke rumah itu. Farah yang awalnya skeptis perlahan mencoba percaya ketika arwah penasaran dari mitos itu mulai mencelakai Rika hingga koma, diikuti banyak kejadian aneh seperti lantai yang penuh dengan kentang dan kuali besar yang bisa memasak sendiri kentang-kentang itu. Segala cara mereka lakukan dari berusaha menjual rumah itu hingga memanggil paranormal, bahkan Arman (Gilang Dirgahari), pacar Farah datang membantu dari Melbourne. Namun teror yang mereka alami justru semakin parah. Bersama Arman, Farah pun mulai menyelidiki apa yang ada dibalik mitos ini, sebelum semuanya terlambat.

Oh ya. Ini memang produksi Soraya Intercine Films, yang sudah lama tak berproduksi buat layar lebar. Dari film-film Warkop di masa kebesaran mereka dulu, satu blunder tipikal rumah produksi ini memang ada di masalah skrip, yang tak jelas ditulis oleh siapa, tapi kerap dikredit sebagai ‘Tim Soraya Intercine’. Jadi tak usah heran, kalau dari awal plotnya saja sudah berantakan tanpa punya sinkronisasi sama sekali. Bukan berarti dalam horor-horor dengan tendensi jualan seperti ini kewajaran plot jadi masalah penting karena urban legend-nya saja sudah tak realistis, namun ada cara agar plot itu bisa terlihat sedikit bisa dipercaya. Mulai dari ketidaksinkronan mahasiswi yang kuliah di luar negeri dengan beratnya beban ekonomi hingga konflik bolak-balik yang malah mengesankan karakter-karakternya adalah orang-orang tolol luarbiasa. Dan tak ada yang lebih parah dari dialog-dialog yang bergulir dari awal hingga akhir. Selain seringkali satu arah dan tak ada hubungannya dengan cerita, interaksi nol serta diucapkan dengan luarbiasa datar pula oleh para pendukungnya, termasuk Shandy Aulia. 50 persen-nya mungkin adalah teriakan ketakutan, namun 50 selebihnya benar-benar merupakan dialog yang luarbiasa konyol. Seperti menanyakan alamat ‘psikiater’(?) pada tukang listrik yang diperankan oleh Daus Separo untuk mencoba-coba berkomedi? Are you kiddin’ me?

Dan Jose agaknya terlalu fokus pula pada satu hal yang memang keahliannya, sinematografi, tapi membiarkan keseluruhannya di-handle dengan berantakan. Padahal set, props hingga cast-nya, dari Shandy, Tasya, hingga cameo-cameo yang bertaburan dari pelawak sampai paranormal sebenarnya punya potensi untuk digarap jadi lebih benar, tanpa terpaku ke stereotip horor-horor kita kebanyakan. Shot-shot Jose, walau kadang terasa agak mengeksploitasi Shandy, juga masih tergolong sangat lumayan. Tapi begitulah, apa yang muncul akhirnya tak jauh beda dari kekonyolan tipikal yang hanya beda dari kemasan luarnya saja. Masih tetap mendorong ketakutan dari tampilan karakter-karakter yang juga ketakutan, musik-musik mengejutkan secara berlebihan hingga jadi mengganggu, kadang malah terlihat mengejutkan karakter-karakternya sendiri lebih ketimbang atmosfer horor-nya, termasuk juga plot yang terlihat seperti dibuat asal jadi. Sekali lagi, ini memang lebih layak dari film-film kacrutnya KKD atau kebanyakan horor Maxima-Nayato, namun untuk bisa disebut horor Indonesia berkualitas, wah, nanti dulu.

However, kembali lagi ke keajaiban-keajaiban itu, mau tak mau harus diakui juga, bahwa Soraya dan  Jose memang jeli melihat pasar. Mau bagus atau tidak, unsur-unsur yang ada dalam ‘Rumah Kentang’ memang sangat sejalan dengan ke’ajaib’an mitos-mitos mistis serta selera penonton kita yang memang hobi sekali disuguhi menu seperti ini. Dua hari pemutaran perdananya sudah menunjukkan jumlah penonton sekarang yang jarang-jarang memenuhi bioskop sampai full house. I don’t know if this supposed to be good, tapi ya begitulah. Kesimpulannya, kita masih serba stereotip, dan jalan di tempat. (dan)

~ by danieldokter on October 5, 2012.

2 Responses to “RUMAH KENTANG : STEREOTIP HOROR KITA YANG AJAIB”

  1. HUAHAHAHHAHAHAAAA…. *udah segitu aja.😀

  2. […] Rumah Kentang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: