TAKEN 2 : STILL A BRAINLESS HIGH OCTANE ACTION

TAKEN 2

Sutradara : Olivier Megaton

Produksi : Europa Corp & 20th Century Fox, 2012

Tak ada satu pun yang menyangka bahwa seorang Liam Neeson menyimpan kualitas action hero dibalik akting seriusnya, sebelum Luc Besson memasangnya dalam ‘Taken’ di tahun 2008. Walau dengan premis mantan agen CIA menelusuri jejak putrinya yang diculik, ‘Taken’ ternyata muncul lebih sebagai high octane action ala Besson yang sangat terasa nuansa Eropa-nya dari sutradara Pierre Morel, ketimbang sebuah thriller biasa. Dalam sekejap, Neeson pun mulai memasuki turning point dalam karirnya, merambah genre yang selama ini hampir tak pernah mencatat namanya sebagai leading man. Kesuksesan yang sedikit banyaknya dimulai dengan ‘word of mouth’ ini pun membawa hasil box office worldwide lebih dari 200 juta dolar AS. So, tak ada alasan untuk tak melanjutkan petualangan karakter yang juga langsung jadi memorable ini, Bryan Mills, ke tingkat berikutnya. Apalagi, pemeran putri Neeson, Maggie Grace, sudah jauh lebih punya nama dan jadi primadona Besson pula dalam ‘Lockout’. Here comes the sequel.

Sesuai judulnya, sekuel ini juga masih bermain di premis culik-menculik. Setahun setelah peristiwa dalam ‘Taken’, Bryan Mills (Liam Neeson) yang ditugaskan ke Istanbul tak menyangka bahwa sekelompok mafia Albania masih menyimpan dendam atas amukannya setahun lalu. Putrinya, Kim (Maggie Grace) dan mantan istrinya, Lenore (Famke Janssen) yang menyusul ke Istanbul pun ikut jadi sasaran. Bryan dan Lenore kemudian berhasil diculik oleh mafia-mafia dibawah pimpinan Murad Hoxha (Rade Šerbedžija), menyisakan Kim yang harus mengambil tindakan di tengah pelariannya. Dengan panduan Bryan dan segenap skill agen CIA-nya, tentu saja.

Oh, c’mon! Apa sih yang kita semua harapkan dari sekuel film-film seperti ‘Taken’, atau sekalian film-filmnya Besson di dekade-dekade belakangan ini? Jelas bukan pendalaman plot, otak atau pameran akting. Dan ini jelas adalah aji mumpung dari kesuksesan tak terduga atas kiprah Liam Neeson dalam profesi barunya sebagai action hero semenjak ‘Taken’. Jadi resep-resepnya pun kurang lebih sama, tak peduli sudah seberapa lelah Anda, sama seperti misalnya menyaksikan tiga kali Jason Statham beraksi sebagai ‘The Transporter’. Dan Besson bersama co-writerTaken’, Robert Mark Kamen, penulis ‘The Karate Kid’ asli yang juga sudah berkali-kali berkolaborasi dengannya dari ‘Kiss Of The Dragon’ hingga trilogi ‘The Transporter’ memang memilih cara paling simpel untuk meneruskan plotnya. Benang merah lama dan tukar guling buat karakter yang menjadi objek dari judulnya. What left is, seberapa seru ‘Taken 2’ bisa disandingkan dengan film pertamanya? That’s it.

And note that, bahwa ini adalah filmnya Olivier Megaton, juga salah satu pion Besson dalam menyajikan pameran aksi. Berbeda dengan Pierre Morel yang sangat kental di nuansa Eropa-nya, Megaton yang lebih punya gaya Hollywood tak menyisakan kompromi sinematis lain untuk menggelar pacuan adrenalinnya. Cukup set-nya saja yang sedikit dieksploitir memberikan eksotisme yang berbeda. Toh ‘Taken’ juga menjadi sangat spesial karena menuju paruh film kita tetap tak menyangka setangguh apa Liam Neeson bakal beraksi, dimana akhirnya satu gerakan pun bisa jadi terasa benar-benar powerful dalam sajian aksinya. DoP-nya juga berganti dari Michel Abramowicz ke Romain Lacourbas. So yes, dari sisi itu, sekuel ini jelas beda. Begitupun, di luar beda-beda style sinematografi dan visualisasi action itu, Megaton tetap mempertahankan beberapa elemen penting karakter-karakternya.

 

Selain Maggie Grace yang jelas dieksplorasi lebih sebagai daya jual barunya, dan berhasil, porsi Famke Janssen yang kini jadi korban utama pun ditambah. Ada pula aktor lawas D.B. Sweeney yang sudah lama tak terlihat, ikut numpang lewat sebagai rekan CIA Mills. Dan Liam Neeson sebagai karakter utamanya, tetap digambarkan setangguh sebelumnya. Tak hanya dalam kemampuan tembak-menembak, old fashioned fighting choreography-nya pun tetap dimunculkan, plus adegan car chase yang cukup seru di sepanjang jalanan sempit Istanbul. Jangan lupa juga black leather jacket Mills sebagai trademark-nya sebelum membolak-balikkan targetnya. Dan Neeson memang bukan petarung seperti Jason Statham, jadi ya sah-sah saja, toh ‘Taken’ memang punya atmosfer aksi yang berbeda dibalik gambaran ketangguhan yang sama. Tak ubahnya ‘Taken’, kemungkinan eksplorasi itu memang membuat ‘Taken 2’ membutuhkan sisi brainless lebih. Menyampingkan logika demi menggelar aksinya secara maksimal. Tetap sah saja, karena memang itulah jualannya.

So like it or not, inilah Besson dengan ‘Taken’ yang sudah jelas berpotensi buat dijadikan salah satu franchise barunya. Walau kabarnya Neeson menolak tampil lagi di ‘Taken 3’ nanti, bukan tak mungkin mereka punya cara untuk kembali menyambung nyawa franchise itu. Dan apapun alasannya, ‘Taken 2’ sudah bekerja dengan baik dalam koridor aksi-aksiannya, yang juga sama sekali tak menurun dibandingkan pendahulunya. Fast paced, brainless and no compromise. Just like Besson. (dan)

~ by danieldokter on October 5, 2012.

3 Responses to “TAKEN 2 : STILL A BRAINLESS HIGH OCTANE ACTION”

  1. Setuju bro. I like this movie as much as the first. Thx for the review.

  2. Sekarang banyak orang yang membayangkan jika 18tahun lalu dia menerima peran sebagai James Bond

  3. […] Taken 2 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: