SANG MARTIR : TAK CUKUP HANYA BEDA

SANG MARTIR

Sutradara : Helfi Kardit

Produksi : Starvision, 2012

Sebagai sutradara yang sering menulis film-filmnya sendiri, Helfi Kardit memang kerap terkesan sangat ambisius dibalik promosi-promosi atau press release film-filmnya. Dari ‘Miracle’ yang sayangnya kelewat terang-terangan menjiplak ‘Final Destination’ hingga ‘Broken Hearts’ dan juga ‘Sang Martir’ yang kabarnya sudah disiapkannya sejak 2008 dengan judul ‘Musuh Negara’ tapi selama ini ditolak produser karena dianggap kelewat provokatif. Dia memang bukan filmmaker idealis,  dan sederet film-film ‘Hantu’ atau ‘Setan’-nya pun menunjukkan itu. Tapi kita juga bisa melihat Helfi sebenarnya punya niat untuk membuat film-film komersil itu menjadi lebih baik dengan pendekatan storyline atau penyampaian pesan-pesan moral yang agak beda. Satu-dua mungkin berhasil, but however, kenyataannya lebih sering tak sejalan dengan apa yang disampaikannya dibalik ambisi-ambisi itu. Hanya beda, itu belum cukup buat menghasilkan film yang layak. Kenyataan.

Rangga (Adipati Dolken) yang sejak kecil tinggal bersama adiknya Sarah (Ghina Salsabila) dan sahabatnya Arman (Fauzan Smith) di panti asuhan Haji Rachman (Jamal Mirdad) – Hajjah Rosna (Henidar Amroe) mengamuk ketika mendapati Lily (Widy Vierra), salah seorang anak panti asuhan itu diperkosa oleh Jerink (Edo Borne), adik Rambo (Tio Pakusadewo), preman yang menguasai wilayah panti. Jerink yang tewas di tangan Rangga membuatnya dihukum penjara selama 3 tahun. Selama Rangga dipenjara, panti asuhan itu dilanda kekacauan. Haji Rachman terbunuh oleh Rambo dan anak-anak panti dijadikan pengemis jalanan. Maka setelah ia bebas, Rangga pun berniat untuk mengakhiri semua kejahatan Rambo yang juga masih mengincar nyawanya. Apalagi, preman berdasi musuh bebuyutan Rambo, Jerry (Ray Sahetapy), turut memanfaatkan keadaan ini dengan melindungi Rangga. Disitulah kemudian Rangga bertemu dengan Cinta (Nadine Alexandra), gadis misterius dengan masa lalu pahit yang kerap berdoa dari luar gereja, dan carut marut ini berlanjut ketika Rangga tak lagi bisa melarikan diri dari ancaman Rambo terhadap Hajjah Rosna dan anak-anak panti. Satu-satunya cara adalah dengan menerima tawaran Rambo untuk jadi martir meledakkan gereja di wilayah Jerry.

See that plot. Memang ada banyak sekali aspek yang mau dibicarakan Helfi dari skenarionya. Seakan jadi sebuah protes akan pandangan Helfi terhadap kekacauan yang terjadi di sekitarnya, konflik agama, sosial, hukum, narkoba, hingga premanisme. Belum lagi kompromisme sinematis-nya untuk menghadirkan sebuah lovestory di tengah pertentangan-pertentangan itu termasuk reliji, yang semakin dilebarkan pula dengan pandangan Helfi terhadap karakter-karakter klasik film kita, ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ merujuk ke nama Rangga dan Cinta yang dianggapnya mewakili pemuda pasca reformasi negeri ini dalam bentuk (katanya) tribute namun hasilnya jadi salah kaprah, walaupun sudah memuat penggalan skor comotan dari salah satu lagu di OST ‘AADC’. Ini semua akhirnya menjadi tumpang tindih baik dalam skrip dan penggarapannya. Bila ingin membandingkan, dalam kelas berbeda, paduan konflik serta protes-protesnya sebenarnya mirip dengan salah satu film terbaik kita dulu, ‘Opera Jakarta’ (1986) yang disutradarai Syumandjaja dari novel Arswendo Atmowiloto. Namun film itu tergarap dengan pendalaman luarbiasa. Ini tidak.

Satu lagi kesalahan terparah dari ‘Sang Martir’ adalah tak adanya konsistensi dalam satu-persatu subtema itu, serta kontinuitas yang berantakan di dalam skripnya. Tak jelas mau memberikan pesan kerukunan beragama, antiterorisme, antipremanisme, antinarkoba, carut-marut politik, penekanan arti martir atau jihad, atau kejahatan-kejahatan murahan seperti perkosaan. Atau malah murni sebuah lovestory, yang ah, juga jauh. Dialog penuh sindiran yang seharusnya bisa jadi amunisi yang baik buat mengantarkan nada protesnya juga jatuh ke pembicaraan preachy secara berlawanan dengan bangunan karakter-karakternya yang dikembangkan secara luarbiasa dangkal. Sebagian dari karakter dan interaksi pentingnya pun seakan timbul tenggelam, kadang dimunculkan cuma sekilas termasuk nama Widy Vierra yang jadi penipuan promosi di posternya, sementara ada karakter tambahan yang jadi menambah penuh sesak ide bejibun itu, menyisakan motivasi dan reaksi-reaksi karakter yang akhirnya tak lagi jadi masuk akal. Elemen premanisme-nya pun hanya dibesut dari sudut pandang dangkal dan cenderung tolol yang melulu hanya ada di bisnis narkoba, eksploitasi anak jalanan, berbagai asesoris klasik serta yang lebih parah, perkosa dan perkosa lagi di 2/3 latar konfliknya.

And above all, orang-orang ini seharusnya dididik lebih untuk mencari cast yang believable ketimbang memaksakan diri masuk ke karakter yang tak pantas dengan sosoknya. That’s for Adipati Dolken yang menerjemahkan modal jagoannya hanya dengan mata serba melotot dibalik posturnya yang ceking, dan chemistry-nya dengan Nadine Alexandra dibalik nama karakter Rangga dan Cinta itu pun sama sekali tak terasa. Bukan berarti aktor-aktor senior dari Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, Henidar Amroe sampai Adi Kurdi tak bermain bagus, namun ini justru jadi satu contoh lagi keanehan sinema kita dimana aktor-aktor berkelas ‘dewa’ itu malah mau-maunya diajak menampilkan akting cemerlang tanpa berusaha selektif terhadap skrip dan penggarapan yang berantakan. Hanya satu dan dua adegan aksi pun tak lantas membuat genre Anda jadi sebuah drama action, termasuk eksekusi ending yang maunya jadi sangat dramatis dengan bumbu twist namun justru jadi serba tak masuk akal. Jadi begitulah, tak cukup hanya beda, ada banyak unsur yang dibutuhkan untuk menghasilkan film bagus. ‘Sang Martir’ jelas bukan salah satunya. (dan)

~ by danieldokter on November 3, 2012.

One Response to “SANG MARTIR : TAK CUKUP HANYA BEDA”

  1. […] Sang Martir […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: