LOE GUE END : PESAN PENYULUHAN YANG DISAMPAIKAN BERBEDA

LOE GUE END

Sutradara : Awi Suryadi

Produksi : Ganesa Perkasa Film, 2012

Tak ada yang salah dengan film yang dijadikan media penyampai pesan moral. Sesekali, dari banyak tendensi yang beda-beda dibalik pembuatan sebuah film, silahkan saja. Tak perlu juga kita selalu tertawa dibaliknya. Apalagi kalau film itu berupa adaptasi dari source asli yang jelas-jelas mengusung pesan. Namun yang jauh lebih penting, adalah menyiasati  cara penyampaiannya dalam keseimbangan wujudnya tetap sebagai produk hiburan. Lalu, tentu saja persyaratan sinematis yang baik, tak boleh dikesampingkan. Ini yang masih sering salah kaprah dalam perfilman kita. Kebanyakan film, mau fiksi atau based on true story yang ditunggangi kepentingan yayasan ini dan itu, seringkali malah muncul dalam bentuk khotbah. Serba preachy, tanpa lagi mementingkan plot dan unsur sinematis, dari masalah perek, human trafficking, narkoba atau apalah, yang sudah jadi pesan sejuta umat, tak juga beres-beres bisa tertangani dan sudah hampir membuat kita jengah mendengarnya terus-terusan. Yang lebih parah, sebagian film kita malah menggunakan kepentingan itu sebagai kesempatan mengeksplorasi kenakalan otak para sineasnya dengan pengadeganan yang vulgar bukan main serta tak lagi relevan dengan cerita yang ada.

In that case, ‘Loe Gue End’ yang hadir minggu ini sedikit terasa lebih unik. Diangkat dari novel besutan Zara Zettira ZR, penulis novel remaja yang sangat terkenal di tahun 80an dulu yang juga sudah lama malang-melintang di penulisan skenario, tone-nya memang tak lagi murni berupa real-life drama walau kita pasti sudah tahu keberadaannya (lagi-lagi) adalah kecerewetan yang mengusung pesan buat antinarkoba dan meskipun bisajadi searah, adalah sindiran sana-sini terhadap kehidupan gemerlap sosialita. Malah, wrapping keseluruhannya jadi jatuh ke thriller supranatural, yang sudah pasti menyedot banyak pemirsa film nasional, di luar deretan cast yang luarbiasa rupawan semuanya. Katanya lagi, novel ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata. Benar atau tidak, tapi Zara memang ikut jadi salah satu karakter penting disini, sekaligus menyinggung-nyinggung sedikit kisah kehidupan pribadinya setelah lama tinggal di luar negeri pasca pernikahannya.

Kehilangan gairah menulis sejak lama setelah berkeluarga, Zara Zettira (Amanda Soekasah) kembali ke Indonesia untuk memulai hidup baru setelah perceraiannya. Bujukan mantan publicist-nya untuk kembali menulis pun tak membuatnya bergeming, hingga serangkaian email misterius dari seorang wanita bernama Alana (Nadine Alexandra) menarik hatinya. Alana yang hidup sebagai model bagian sosialita jetset ibukota, produk dari kesibukan ayah singleparent yang dokter bedah plastik sukses (Ray Sahetapy) dan kurang meluangkan waktunya, saban hari melewatkan kesibukannya dengan dunia gemerlap alkohol dan narkoba. Gang-nya punya Timo (Dimas Beck), anak mantan Jaksa Agung yang kecanduan obat-obatan terlarang, Lina (Kelly Tandiono), lesbian bandar narkoba, Fifi (Moudyzanya), desainer terkenal, Vira (Manohara) yang image-bitch dan shopaholic, Yosi (Martina Tesela), yang berprofesi sebagai guru TK dibalik kecanduan drugs-nya, dan Radit (Dion Wiyoko), pegawai kantoran yang paling bersih diantara semua serta menaruh hati juga pada Alana. Masalah mulai muncul kala kegilaan mereka bergantian mengantarkan satu-persatu pada musibah, sementara semua selalu diawali visi Alana akan gadis misterius menyeramkan bernama Santika (Tracy Shuckleford). Di tengah sempitnya waktu menghindari satu-persatu tragedi itu, Alana mulai menelusuri misteri dibalik kemunculan Santika, sekaligus juga masa lalunya.

Tanpa bisa dipungkiri, membalut kampanye antinarkoba lewat plot thriller supranatural berisi tampilan kemewahan yang serba eye-candy dalam production sets-nya, memang menarik. Apalagi Awi Suryadi bersama penata kamera Enggar Budiono membesut adegan-adegannya dengan sinematografi stylish dibalik pilihan soundtrack industrial rock dari ‘Koil’ dan nuansa elektronik dari ‘Agrikulture’. Penggunaan beberapa efek spesial yang kabarnya juga tergolong baru dari perfilman kita bekerja cukup baik di sebagian adegannya.

Di departemen cast, semua pendukungnya rata-rata bermain sesuai porsi dengan pilihan cast yang pas. Nadine Alexandra cukup bersinar membawakan karakternya sebagai storyteller setelah penampilannya yang tak bisa terekspos lebih baik dalam ‘Sang Martir’ minggu lalu, sementara wajah-wajah kapstok yang lain di luar Kelly Tandiono, Dimas Beck dan Dion Wiyoko yang mendapat porsi lebih, tampil dalam porsi yang pas sebagai penghias dalam atmosfer sosialita-nya. Ada juga Claudia Hidayat yang sayangnya terdistraksi dengan make-up over dan contact lens-nya, dan Tracy Shuckleford yang harusnya ditahan cukup tanpa dialog dibalik sosok asli dan karakternya yang memang ‘creepy’ itu.

Sayangnya, lagi-lagi kesalahan cukup serius terletak pada skripnya yang ditulis oleh Zara Zettira sendiri bersama Archie Hekagery. Mereka kelihatannya masih belum mau membiarkan penonton bisa menyerap sendiri usaha kombinasi penyampaian penyuluhan serta informasi itu dengan proporsional. Mungkin menganggap penyampaian informasi masih jadi hal mutlak buat skenario film-film kita, aspek-aspek penyuluhan yang menerangkan sisi kimiawi obat-obatan (walaupun yang ini disiasati Awi jadi sedikit lebih menarik) hingga info-info populer soal twist metafisika atau supranatural-nya yang dipaksa hadir dengan dialog-dialog awkward serta kaku juga jadi terasa sedikit konyol tanpa bisa membuat penyuluhan itu cukup muncul dalam selubung-nya sebagai latar. Dan ini masih sedikit diperparah lagi dengan ‘happily-bright ending’-nya yang lagi-lagi makin menekankan sisi pesan moral serba preachy itu.

But however, usahanya penyampaian pesan antinarkoba-nya buat tampil beda, paling tidak sudah disiasati oleh Awi dan timnya untuk tak lantas kelihatan terlalu jelas seperti apa yang kita jumpai dalam film-film sejenis. Konten utamanya boleh-boleh saja menyentuh hal-hal yang berbau sejuta umat itu lagi. Satu tema bernama narkoba yang membuat keragaman tema dalam film kita tak bisa move-on dari dulu hingga sekarang. Tapi paling tidak, ada kreatifitas untuk sebuah sisi penyampaian yang beda. Dan ini, perlu dihargai lebih. (dan)

PS : Sayang sekali official poster yang terpilih bukan yang ini, which is, much better than the one we’ve seen on theatres.

~ by danieldokter on November 4, 2012.

One Response to “LOE GUE END : PESAN PENYULUHAN YANG DISAMPAIKAN BERBEDA”

  1. […] Loe Gue End […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: