JAKARTA HATI : HEARTS LOST AND FOUND

JAKARTA HATI

Sutradara : Salman Aristo

Produksi : 13 Entertainment, 2012

Trend film-film omnibus, memang belum seharusnya mati. Di satu sisi, ia bisa jadi variasi untuk menghindar dari tema berikut elemen-elemennya, yang tak jarang, dalam film-film kita, hanya bolak-balik dari itu ke itu saja. Tanpa mencoba melompat terlalu jauh, penceritaan singkat memang bisa menghindari bias-bias tersebut. Apalagi ada satu hal menarik dalam penilaiannya, kesinambungan segmen-segmennya, apakah drama, thriller, horor atau bahkan crossover antara banyak genre, untuk menjadi gabungan yang utuh dalam sebuah penyampaian ide.

But however, kelemahannya juga bukan tak ada. Sisi negatif terbesar dalam sebuah omnibus, adalah ketidakseimbangan antar segmen-segmennya sendiri. I bet, jarang sekali kita bisa mendapatkan omnibus dengan kekuatan segmen yang berimbang. Walau bukan berarti harus sama bagus, karena resep rata-ratanya memang harus seperti itu, seperti makanan, dengan atau tanpa dessert, dimana appetizer-nya haruslah menu yang mengundang dan main course-nya harus berjalan dengan intensitas menanjak ke menu ter-enak sebagai penutup, ini yang justru jadi bumerang. Filmmaker-nya, terutama pada omnibus dengan single director, akan punya pembatasan untuk pengaturan susunannya. Buat sebuah karya, ini tentu bukan ‘goal’ yang baik secara semua karya itu harusnya punya sasaran jadi yang terbaik.

Dan seorang Salman Aristo, penulis skrip yang selama ini sudah menelurkan karya-karya yang, ah, jangan ditanya lagi kualitasnya, kini kembali tampil menyutradarai tulisannya sendiri. Seperti ‘Jakarta Maghrib’, debut penyutradaraan pertamanya, juga sebuah omnibus, this is another intimate looks about hearts, dibalik hiruk-pikuk kehidupan Jakarta yang punya pandangan dan permasalahan beragam. Dibanding ‘Jakarta Maghrib’, tampilannya jauh lebih sinematis dengan eksplorasi lebih luas, namun sama-sama bertabur bintang. Let’s take a deeper look to each segments.

Orang Lain

Seorang laki-laki (Surya Saputra) di sebuah bar kecil didatangi oleh seorang wanita muda (Asmirandah) yang membuka percakapan. ‘Istri Anda selingkuh dengan pacar Saya’. Dari situ, kisah ini bergulir mempertanyakan hati masing-masing serta arti ‘orang lain’ di tengah perjalanan mereka menyusuri tengah malam Jakarta.

Mengawali ‘Jakarta Hati’, segmen ini muncul dengan dialog-dialog bagus dan dalam di skripnya bersama tone visual yang muram namun cantik di tangan penata kamera Joel F. Zola. Sayang, chemistry Surya dan Asmirandah, yang seperti biasa menaburkan dayatarik luarbiasa dibalik paras cantiknya, masih turun naik dibalik kecanggungan yang memang dibutuhkan dalam interaksi awal karakter mereka, tapi tak bisa berkembang secepat durasinya. However, ini adalah ‘appetizer’ yang cukup menarik sebagai awal.

Masih Ada

Marzuni (Slamet Rahardjo Djarot), seorang anggota DPR bergegas dengan cara apapun buat bisa tiba secepatnya di sebuah pertemuan tak resmi yang menyangkut idealisme dan masa depannya sebagai anggota dewan. Namun di perjalanan itu ia justru menemukan hal-hal baru dari sudut pandang orang-orang di luar lingkungannya.

Tak hanya bicara cinta, Salman juga menyentuh sindiran politik dalam kisah ini. Klise, tapi tetap berarti. Slamet Rahardjo masih tetap konsisten seperti biasanya. Ada pula Didi Petet dan Agus Kuncoro sebagai pendampingnya yang juga bermain serba santai, plus Ence Bagus yang belakangan ini mulai diperhitungkan performanya.

Kabar Baik

Segmen ini mengisahkan Bana (Andhika Pratama), seorang polisi idealis yang berurusan dengan kasus penipuan seorang lelaki paruh baya (Roy Marten). Lelaki itu ternyata ayahnya yang selama ini menghilang tanpa jejak meninggalkan ibunya dalam harapan panjang. Kemarahan Bana berbaur dengan idealisme-nya untuk tetap bisa memproses sang ayah dalam profesionalitas kerja, dan ia harus memilih salah satunya ketika proses itu juga melibatkan seorang anak kecil yang menanti hadiah di hari ulang tahunnya.

Kabar Baik’ bisa jadi lagi-lagi melibatkan tema perselingkuhan dalam plot klise ala film Indonesia, namun Salman membalutnya dengan dialog-dialog dan simbol yang menyentuh hati atas konflik ayah dan anak menjadi sebuah premis yang luarbiasa kuat melebihi segmen lainnya . Dan Roy Marten menerjemahkan setiap line itu dengan sempurna dibalik ambiguitas karakternya. You will still touched, bahkan dengan mata berkaca-kaca, tapi tetap ada sedikit resistensi dengan mimik tipikal Andhika Pratama yang membuat interaksi akting itu jadi terlihat kelewat tak seimbang, dan ini jadi berpengaruh ke feel di penutup segmennya.  Sayang sekali.

Hadiah

Lewat sebuah percakapan lewat telefon dari sahabatnya, seorang penulis skrip ambisius, Firman (Dwi Sasono), berada di ambang keputusan antara idealisme atau menyerah pada kepentingan industri untuk bisa bertahan hidup di tengah kondisi keuangan yang tengah kritis-kritisnya. Sementara anaknya justru merengek buat membeli hadiah dan menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya, Firman juga merasa harus melakukan sesuatu untuk menolong si sahabat yang tengah berada dalam masalah serius.

Bicara masalah integritas dan idealisme penulis, ‘Hadiah’ sebenarnya bisa jadi segmen yang sangat bagus. Dialog-dialognya penuh sentilan terhadap carut-marut industri film kita, dan Dwi Sasono, seperti biasa, bisa masuk ke karakternya dengan sempurna. Namun arah ke konklusi itu sayangnya sedikit terdistraksi dengan tema klise antara kaya dan miskin. Penutupnya pun terasa lewat begitu saja.

Dalam Gelap

Di tengah pemadaman listrik, di atas ranjang kamar tidur mereka, sepasang suami-istri (Dion WiyokoAgni Pratistha) saling menumpahkan masalah dalam hubungan mereka. Bicara blak-blakan bagai bom waktu yang meledak dari permasalahan yang sudah tersimpan lama, namun selama ini teralihkan oleh pelarian masing-masing di bawah terang-benderang lampu.

Without a doubt, inilah segmen paling juara dari ‘Jakarta Hati’. 19 menit yang dibesut dengan one shot (dan kabarnya dengan sejumlah 26 kali take), membuat permasalahan klise dari perselingkuhan hingga getar-getar cinta yang menguap dalam sebuah hubungan marital muncul sewajar ledakan konflik kehidupan rata-rata kaum urban, lengkap dengan mocking ke berbagai rutinitas ‘wajib’ termasuk kebutuhan social media. Reaksi, gestur sampai ke dialog-dialognya muncul dengan kecanggungan yang wajar, gamblang dan mengalir apa adanya. Sebuah inovasi mengangkat permasalahan klise jadi tak lagi terasa basi. Luarbiasa.

Darling Fatimah

Di tengah hiruk-pikuk aktifitas subuh Pasar Senen, seorang janda penjual kue keturunan Pakistan, Fatimah (Shahnaz Haque) beradu mulut dengan Ayun (Framly Nainggolan), anak muda keturunan Cina. Mereka bicara blak-blakan dengan bahasa kasar, namun permasalahannya, adalah cinta. Satu titik dimana hubungan dua manusia harus mengambil keputusan, di tengah benturan adat serta tetek-bengek lain yang selama ini menghalangi cinta mereka.

Dengan atmosfer cukup kontras dari segmen sebelumnya, ‘Darling Fatimah’ menampilkan chemistry juara dibalik akting lepas Shahnaz yang sudah lama tak muncul bersama Framly yang masuk ke karakternya dengan pas. Dialognya kasar, lepas dan menggelitik namun tak sekalipun keluar dari jalurnya yang juga jadi kenyataan yang tak jarang kita temui dalam potret kehidupan pasaran yang ada di sekitar kita. Ini sekaligus jadi ‘dessert‘ yang pas untuk meninggalkan penontonnya dengan sebuah ‘feelgood’ segmen yang sangat menyenangkan.

Begitulah. Walau masih punya kekurangan di beberapa segmen termasuk jomplang-jomplang yang kadang terasa tak seimbang, ‘Jakarta Hati’ sudah cukup sukses memotret cakupan luas tiap-tiap segmentasi kehidupan di jantung ibukota dengan keintiman yang mendalam ala Salman. Pesan-pesan dibalik konfliknya, meski kadang klise, tapi digarap dengan pendekatan yang mengena. Unsur-unsur sinematis dan production values lainnya, termasuk kontras-kontras emosi dan detil-detil pengadeganannya, juga rata-rata tergarap dengan baik. This is all about hearts that got lost and found. Bahwa terkadang kerasnya kehidupan itu memang membuat kita kehilangan hati, tapi selalu ada cara untuk menemukannya kembali, dimanapun ternyata ia mendarat. Dan ‘Jakarta Hati’ sudah menjadi cara bagi Salman untuk selalu mengingatkan kita kembali. (dan)

~ by danieldokter on November 11, 2012.

One Response to “JAKARTA HATI : HEARTS LOST AND FOUND”

  1. […] Jakarta Hati […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: