ATAMBUA 39˚ CELCIUS : AN ORIGIN KNOWS NO BOUNDARIES

ATAMBUA 39˚ CELCIUS

Sutradara : Riri Riza

Produksi : Miles Films, 2012

Sebagai penonton Indonesia, kita harusnya senang melihat kolaborasi ini kembali. Riri Riza dan Mira Lesmana, memang tak pernah main-main mengerjakan sebuah karya. Still comes from the heart, inilah ‘Atambua 39˚ Celcius’, sebuah potret kehidupan masyarakat perbatasan Timor Leste pasca referendum 1999. Walau murni sebuah fiksi, Riri memilih penyajian mirip dokudrama tanpa bintang, yang membuatnya terasa begitu personal. Di satu sisi, ini memang bukan sebuah tontonan komersil yang bisa akrab bagi semua lapisan penonton. Tapi di lain sisi, drama pengenalan lingkungan dan budaya, let’s admit it, juga masih diperlukan sebagai ragam informasi yang jarang-jarang kita dapat lewat sinema kita. Apalagi, konflik-konflik di Indonesia Timur memang selalu bisa jadi sorotan menarik. Selalu ada panorama keindahan dibalik pahit-pahit masalah pilihan hati yang memecah belah banyak hubungan personal masyarakatnya. Semua tentu kembali pada penontonnya, namun apapun alasannya, ini adalah sebuah niat baik, yang juga, digarap dengan baik. One that needs our support, sebagai bagian dari keragaman bangsa ini.

Referendum 13 tahun lalu di Indonesia Timur membuat Joao (Gudino Soares) terpisah dengan ibu dan dua adik perempuannya yang hidup di Liquica, Timor Leste. Bersama ayahnya, Ronaldo (Petrus Beyleto) yang memilih tetap jadi warga negara Indonesia, Joao tumbuh besar dibalik konflik kehidupan kota perbatasan Atambua. Ia tetap punya mimpi bertemu kembali dengan keluarganya, menyimpan kerinduan lewat rekaman kaset yang ditinggalkan sang Ibu, sementara Ronaldo justru larut dengan kehidupan kerasnya sebagai supir truk yang suka mabuk-mabukan. Hubungannya dengan Joao tak pernah harmonis. Satu-satunya pelarian Joao adalah Nikia (Putri Moruk), gadis misterius yang datang ke Atambua dari Kupang untuk sebuah ritual keluarga. Namun Nikia juga menyimpan trauma masa lalu yang membuatnya tak bisa menentukan pilihan hatinya.

Plot itu memang simpel. Tapi dibalik skrip yang juga ditulis oleh Riri sendiri, ada banyak permasalahan yang dimunculkan dari keterbatasan interaksi hubungan Joao – Ronaldo dan Nikia, yang sedikit banyak juga jadi wujud trauma banyak masyarakat mereka disana. Ini justru jadi kekuatan paling nyata dari ‘Atambua 39˚ Celcius’. Tentang jiwa-jiwa yang berjuang untuk tetap hidup di tengah harapan-harapan yang dipecah belah oleh keadaan. Keontentikannya muncul bak sebuah dokumenter dengan akting yang tak sekalipun terlihat canggung dari cast penduduk asli yang mereka pilih. Bahasa asli Tetun/Tetum yang digunakan juga semakin memberi penekanan otentik itu. Bagian pengenalan awalnya bisa jadi menyeret kita sama seperti dokumenter yang sedikit bergerak lamban buat diikuti, namun sekali konflik itu menyeruak dalam plotnya, ‘Atambua 39˚ Celcius’ sebenarnya mengalir cukup lancar dengan segala permasalahan yang ingin ditampilkan Riri.

Dibalik sosok kerasnya yang nyaris mirip aktor Latin Danny Trejo, Petrus Beyleto menokohkan Ronaldo dengan baik. Kadang keras, kasar seperti karakternya, namun tak sekalipun kehilangan sisi manusiawinya. Tanpa dipenuhi dialog, chemistry antara Gudino Soares, pemeran Joao, dengan Putri Moruk sebagai Nikia juga tampil dengan penerjemahan visual yang sangat kuat. Walau ada sedikit klise-klise pilihan konflik ala sinema kita yang jarang bisa ditinggalkan dalam membangun riwayat trauma sang karakter, subplot awkward love story itu pun tak lantas muncul sebagai tempelan, tapi ikut berbicara dengan paduan erat ke konflik utamanya. Ia bergerak perlahan, namun percikan getaran diantara keduanya muncul dengan solid.

Sinematografi dari Gunnar Nimpuno juga menjadi pemeran utama lain bersama skor dari Basri Sila yang kerap terasa menyayat. Visual-visualnya memang tampil dengan sentuhan panoramik seindah film-film pengenalan wilayah Indonesia Timur ala Alenia, tapi Gunnar tetap memberi penekanan di atmosfer pahit dalam interaksi karakter-karakter itu. Puitis, namun tak sekalipun jadi tak realistis. Ada sedikit resiko yang memang menyisakan resistensi bagi penonton untuk bisa merasakan ledakan konflik se-gerah pilihan judulnya, begitu juga dengan pilihan ending yang sedikit banyak seperti memilih jalan mudah, terlebih dengan narasi yang terasa sangat menjelaskan pesannya. Namun di lain sisi ini justru menjaga atmosfer semi-dokumenter dalam penyampaian informasi itu jadi terjaga rapi tanpa memaksa opini penontonnya menyalahkan pilihan-pilihan karakter yang mewakili kebanyakan masyarakat mereka.

Jadi begitulah. ‘Atambua 39˚ Celcius’ ini memang terlihat serba sederhana dari luarnya. Almost silent, tanpa mencoba memicu bombastisme di penyampaian konfliknya. Tapi bukan berarti niat baik ini jadi tak sarat makna. Open your heart, ambil informasi berharga yang bila tak disampaikan lewat medium seperti ini akan sulit menyita perhatian kita, dan rasakan pesan itu dengan hati. Bahwa tak ada batasan apapun yang bisa mengubah asal-usul kita. An origin, knows no boundaries. (dan)

 

~ by danieldokter on November 12, 2012.

One Response to “ATAMBUA 39˚ CELCIUS : AN ORIGIN KNOWS NO BOUNDARIES”

  1. […] Atambua 39 Celsius […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: