THE TWILIGHT SAGA : BREAKING DAWN PART 2 : A POWERPACKED FINALE

THE TWILIGHT SAGA : BREAKING DAWN PART 2

Sutradara : Bill Condon

Produksi : Lionsgate & Summit Entertainment, 2012

Like it or not, ‘Twilight’, adalah sebuah fenomena. Batas tipis yang menunjukkan tipe penonton masa kini, diantara benci, gengsi dan keinginan jadi bagian dari cinematic hype yang ada. Sebagian, malu meninggalkan status penonton pintar. Sebagian penonton laki-laki, merasa takut dicap kurang jantan. Sebagian lagi, mengaku dengan malu-malu, meskipun sederet Hollywood’s sweethearts pernah jadi bagian dari franchise-nya. Dari Kristen Stewart, Ashley Greene, Maggie Grace, Dakota Fanning, bahkan Anna Kendrick dan Bryce Dallas Howard. Tapi yang jelas, buat penonton wanita, no matter dua heartthrob Hollywood barunya, Robert Pattinson dan Taylor Lautner diterima dengan resepsi berbeda-beda, ‘Twilight’, adalah special treat buat mereka. Ah ya, sensitifitas yang dihadirkan sang penulis yang juga wanita, Stephanie Meyer, yang tetap menulis skripnya bersama Melissa Rosenberg, memang cenderung sangat girly dan penuh menye-menye.

But let’s admit. For a lower budget franchise yang langsung jadi jagoan studio indie Summit Entertainment, daya saingnya berhadapan dengan blockbuster-blockbuster andalan, dari Harry Potter, Batman, The Avengers, Spider-Man bahkan James Bond, juga bukan main-main. Nanti dulu hasil akhirnya, kenyataannya, deretan antrian ada di banyak negara juga menunjukkan kehebatan itu. Boleh saja menganggap penonton wanita lebih ampuh menggiring jumlah penonton lebih masif ke bioskop, namun lagi-lagi, instalmen terakhir dari perjalanan panjangnya, ‘Breaking Dawn Part 2’ ini, juga sudah dengan cepat bertengger di rekor posisi ketiga pertunjukan midnight di belakang ‘Harry Potter And The Deathly Hallows Part 2’ serta ‘The Dark Knight Rises’. What else can you say? Bukan hanya memang berhak membawa status Saga, ‘Twilight’, jelas adalah sebuah fenomena.

ContinuingBreaking Dawn Part 1’, dimana Bella Swan (Kristen Stewart) terpaksa ditransformasi Edward (Robert Pattinson) menjadi vampir demi keselamatannya saat melahirkan Renesmee (Mackenzie Foy) yang kini tumbuh besar dengan cepat, keluarga Cullen masih menyimpan ketakutan terhadap anggapan pengkhianatan dari pimpinan klan vampir, Volturi. Apalagi, Irina (Maggie Grace) yang masih menyimpan dendam terhadap mereka melaporkan kecurigaannya tentang Renesmee yang mereka anggap sebagai ‘immortal child’ yang punya potensi membahayakan Volturi. Sementara Jacob (Taylor Lautner) yang tak sengaja meng-‘imprint’ Renesmee di saat kelahirannya bergabung dengan keluarga Cullen demi menjaga keselamatan Bella bersama sebagian klan ‘werewolf’ juga jadi masalah lain bagi Volturi, dan Bella pun masih harus beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai vampir. Satu-satunya cara adalah dengan mengumpulkan dukungan klan vampir dengan kemampuan spesial dari seluruh belahan dunia untuk menjadi saksi bahwa Renesmee bukanlah sebuah pelanggaran. Dari Amerika, Eropa, Amazon hingga Mesir, Edward dan Bella pun siap menghadapi takdir mereka melawan Volturi, apapun resikonya. Fought their final battle, for love, is forever.

Franchise yang sudah dimulai dengan baik oleh Catherine Hardwicke di instalmen pertama namun menurun jauh dalam ‘New Moon’-nya Chris Weitz, walau sesuai dengan tempo novelnya, untungnya terselamatkan oleh David Slade di ‘Eclipse’ yang lumayan seru tanpa meninggalkan bagian-bagian penting novel aslinya. Namun Bill Condon, sutradara yang ditunjuk buat meng-handle dua instalmen final franchise ini, ternyata benar-benar merupakan pilihan tepat. Condon yang sebelumnya lebih banyak bermain sebagai sineas di wilayah film-film berkualitas awards, dari ‘Gods And Monsters’, ‘Kinsey’, penulisan skrip ‘Chicago’ hingga ‘Dreamgirls’, tanpa disangka bisa menyeimbangkan romantisme dan intensitas pace-nya dalam bagian terpenting franchise ini. Kehebatannya benar-benar terlihat dalam ‘Breaking Dawn Part 2’ ini, dimana lebih dari setengah tone-nya berubah drastis bak sebuah genre superhero yang tergarap dengan luarbiasa baiknya.

Seabrek karakter-karakter baru yang muncul sekelebat dengan cepat, tak sekalipun tersia-sia seperti apa yang jadi kegagalan dalam ‘The Matrix Revolutions’ atau ‘X-Men 3 : The Last Stand’. Semua mendapat porsi stealer dibalik pemilihan cast dan visualisasi karakter yang menarik. Ada duo vampir Amazon (Judith Shekoni & Tracey Heggins), American nomads (Erik Odom, Valorie Curry, Toni Trucks & Bill Tangradi), vampir Denali/Alaskan (Lee Pace, Mia Maestro & Andrea Powell), Egyptian (Rami Malek, Omar Metwally, Angela Sarafyan & Andrea Gabriel), European nomads (Joe Anderson), Irish (Marlane Barnes, Lisa Howard & Patrick Brennan), Romanian (Noel Fisher & Guri Weinberg) hingga Nahuel dan Huilen (J.D. Pardo & Marisa Quintanilla) yang muncul paling akhir dalam konklusinya. Belum lagi kemunculan wajib keluarga Cullen (Peter Facinelli, Elizabeth Reaser, Kellan Lutz, Ashley Greene, Nikki Reed, Jackson Rathbone), klan werewolves (Kiowa Gordon, Chaske Spencer, Bronson Pelletier, Alex Meraz, Julia Jones & Booboo Stewart), serta Volturi (Michael Sheen, Dakota Fanning, Jamie Campbell Bower, Christopher Heyerdahl, Cameron Black, Daniel Cudmore) dan tentunya Charlie Swan (Billy Burke) dibalik tiga pentolan utamanya, Pattinson, Stewart dan Lautner yang tetap menyambung benang merah interaksi dan chemistry mereka yang kian erat, sekarang ditambah Mackenzie Foy sebagai Renesmee, bersama daya tarik fisik jelas walaupun aktingnya tetap begitu-begitu saja.  Ini jadi part tersulit yang ternyata bisa di-handle dengan sangat baik oleh Condon, sampai-sampai sebagian kritikus meng-kandidat-kannya untuk menjadi pertimbangan para produser buat membesut film-film bergenre superhero dengan banyak karakter.

And still, Twilight universe was written all over it, tapi penontonnya seakan dibawa menyaksikan hingar-bingar film-film seperti ‘X-Men’ terutama dalam final battle yang stylish secara visual serta menyisakan ultimate twist, which none of you will see it coming. Play it safe atau membuka kemungkinan sekuel bahkan spin-off, bisajadi, terutama bagi fans setia franchise-nya, walau kenyataannya novel itu sudah berakhir, namun ini juga jadi bagian terbaik dalam ‘Breaking Dawn Part 2’, yang mengundang aplaus emosional dari penontonnya. Selipan efek spesial dari Phil Tippett bersama sinematografi cantik dari Guillermo Navarro, yang mengungguli semua instalmennya, juga muncul dengan solid.

Soundtrack-nya pun masih tetap memikat sebagai salah satu kekuatan seperti dalam instalmen-instalmen sebelumnya. No more Muse or Bruno Mars, tapi tetap ada skor Carter Burwell yang sangat menyatu dengan universe-nya, dan tak ada yang lebih baik dari versi repriseA Thousand Years’, which instantly became the universal wedding montage all over the world, yang kali ini dibawakan lewat duet Christina Perri dengan Steve Kazee. Love theme cantik inilah yang pada akhirnya mengantarkan kita ke sebuah pre-end credits panjang yang memunculkan semua aktor dari instalmen pertama hingga terakhirnya, mengingatkan kembali nama-nama yang mungkin sekarang sudah semakin dikenal, bahwa mereka pernah menjadi bagian dari ‘Twilight’, untuk semakin menjelaskan hype dan fenomena itu dengan luarbiasa cantik. So there you go. Like it or not, ‘Twilight’ sudah menjadi sebuah saga yang menggoreskan sejarahnya dalam industri sinema. With a salute to Bill Condon, ‘Breaking Dawn Part 2’, surprisingly adalah sebuah powerpacked finale, sekaligus instalmen terbaik dari keseluruhan franchise-nya. (dan)

~ by danieldokter on November 18, 2012.

10 Responses to “THE TWILIGHT SAGA : BREAKING DAWN PART 2 : A POWERPACKED FINALE”

  1. Dan kebanyakan teman saya yang haters memuja-muji film ini. And it’s surprisingly good🙂

  2. boleh tukar link gak? http://seputarmovies.blogspot.com/

    saya akan pasang link blog ini.

  3. the best of bad franchise is mediocre thing….
    #hater, hahahaha

    thank God, it’s over

  4. Congrat!!! opening review Anda bagus sekaligus kritis! dan sejalan dengan pengamatan saya melihat posisi penonton film saga vampire ini. saya pribadi mungkin akan memposisikansebagai penikmat film berkualitas saja. Dan standar referensi saya untuk breaking dawn part 2 lumayan masuk dalam hitungan film yang cukup berkesan untuk enjoy ditonton. Terus terang ada dua film di bulan ini yang membuat saya ingin tahu banyak atensinya dari reviewer film (skyfall dan breaking down 2)
    Karena skyfall menyisakan banyak komentardan analisis positif dan negatif yang cukup beragam..dan di breaking down 2 ini juga sama yaitu adanya berbagai type penonton terkotak kotak karena begitu hotnya isu cerita saga ini. Ulasan anda kena banget dan membedah banget..semoga demikian juga di film lainnya.

  5. […] The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 […]

  6. Wow, ? ! ! Gue banyak banget mengoleksi kaset Film ini. . .

  7. kapan lanjutan breaking dawn 3

  8. wow ,aku bakal jadi penggemar berat nya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: