LIFE OF PI : A SPIRITUAL JOURNEY BEYOND CINEMATIC GREATNESS

LIFE OF PI

Sutradara : Ang Lee

Produksi : Rhythm & Hues, Fox 2000 Pictures, 2012

LOP14

Here’s a phenomenon, mostly, kalau Anda rajin menonton film-film India. Kenapa India? Ada satu budaya disana, tak peduli negara itu juga tak luput dari pertentangan agama antara Hindu dengan Islam, rata-rata masyarakat modern-nya memperjuangkan ideologi mereka lewat film. Dimana tak ada dinding batas reliji untuk sebuah kepercayaan terhadap kekuatan yang lebih besar dari kuasa manusia. Dan sejak era 70an ini sudah berjalan dalam film-film mereka. Saat di negara-negara seperti kita film dengan tema cinta beda agama sampai sekarang diintervensi oleh banyak pihak jauh-jauh dari pembuatannya agar tak menimbulkan faham yang dianggap salah, mereka dengan kukuh memilih cinta sebagai pemenangnya. Tak jarang, dalam satu film yang sama, karakternya punya bias reliji yang luas. Bisa berdoa saat bertemu gereja, sembahyang dalam kuil bahkan sholat di atas sajadah, dengan penekanan tak ada jalan khusus untuk menuju Tuhan. Karena itu juga, ajaran-ajaran seperti spiritual seperti misalnya yang dibawa oleh Sai Baba, bisa tumbuh subur disana.

LOP12

So here’sLife Of Pi’, adaptasi novel tahun 2001 karya penulis French-Canadian Yann Martel, yang selain best seller juga sudah banyak memenangkan awards dan bertengger di list-list referensi bacaan terbaik. Rencana adaptasinya sudah menarik banyak perhatian sejak 2003, dengan deretan sutradara bergonta-ganti dari M. Night Shyamalan, Alfonso Cuarón, Jean-Pierre Jeunet, lalu semakin gede kala Ang Lee dipastikan masuk sebagai kandidat pasti. Selain karena kandungan ceritanya yang filosofis, visual juga jadi unsur penting yang diharapkan banyak pembacanya. Dan Rhythm & Hues (R&H) yang sebenarnya merupakan visual effect company yang berpusat di Kalifornia juga jadi salah satu studio utamanya. You might hardly heard about this studio, but let me tell you. Sejak kiprah mereka meraih Oscar untuk ‘Babe’ (1995), perusahaan yang punya jaringan studio dari India, Cina hingga Malaysia ini sudah malang-melintang di puluhan blockbuster raksasa, baik sebagai mitra ataupun kreator utama, dari ‘Lord Of The Rings’, ‘Superman Returns’ sampai franchise ‘X-Men’. Termasuk juga ‘Hulk’ 2003-nya Ang Lee yang sayangnya, kacau-balau itu.

LOP8

Untuk menyempurnakan unsur lainnya, dari skrip yang ditulis oleh David Magee (nominee Oscar di ‘Finding Neverland’) serta menggamit sinematografer Claudio Miranda dari ‘The Curious Case Of Benjamin Button’ dan ‘Tron : Legacy’, cast utamanya, Suraj Sharma sebagai Pi pun dipilih dari 3000 kandidat open casting. Syutingnya sendiri mengambil set asli di Pondicherry (Puducherry), India Selatan dengan beberapa aktor aslinya (Irrfan Khan dan Tabu diantaranya) hingga Taiwan dan Kanada, plus ocean set berupa wave-tank raksasa berkapasitas 1.7 juta galon yang dibangun di sebuah airport mati di Taiwan. Hasilnya, absolutely a pay-off dari semua pengharapan-pengharapan itu. ‘Life Of Pi’ dibesut Ang Lee dengan sangat mengedepankan visual luarbiasa bahkan layak disandingkan dengan ‘Avatar’-nya James Cameron in visuals. Hanya sayang, kita tak mendapat kesempatan menikmati versi IMAX-nya yang enggan diimpor pihak 21, yang jelas-jelas lebih memanjakan mata ketimbang sekedar 3D.

LOP2

Lewat interview Pi Patel (Irrfan Khan), seorang imigran India di Kanada, oleh seorang novelis (Rafe Spall), masa lalu Pi pun bergulir. Lahir dengan nama Piscine Molitor Patel yang diilhami dari sebuah kolam renang berair jernih di Perancis, nama ini justru membuatnya malu karena kerap diplesetkan teman-temannya menjadi Pissing. Ia pun lantas mengganti namanya menjadi ‘Pi’ berdasar rumus matematika lingkaran untuk menghindari ejekan itu. Sejak kecil, Pi yang hidup di lingkungan kebun binatang yang dimiliki ayahnya (Adil Hussain) sudah tertarik dengan seekor macan Bengali bernama Richard Parker, dan hidup dengan tiga reliji ; Hindu, Kristen dan Islam dengan dukungan ibunya (Tabu) yang mengajarkannya untuk memilih pelan-pelan. Pi remaja (Suraj Sharma) juga menjalin hubungan dengan seorang penari, Anandi (Shravanti Sainath) di sanggar tempatnya bermain gendang, namun semuanya baru benar-benar bermula dari gejolak politik yang mendorong kepindahan keluarga mereka menuju Kanada. Membawa serta hewan-hewan itu untuk dijual di Amerika, kapal mereka karam dihantam badai besar. Dalam sekejap, Pi kehilangan ibu, ayah, kakaknya, Ravi (Vibish Sivakumar) dan mendapati dirinya terdampar dalam sekoci di laut luas bersama seekor zebra, hyena buas dan orangutan yang bergabung kemudian. Dan semuanya makin kacau ketika Pi menyadari bahwa Richard Parker juga ternyata bersembunyi dalam sekoci itu. Hukum alam mulai menghabisi satu-persatu isi sekoci, dan sambil menunggu bantuan, Pi sekarang harus memutar otak demi keselamatannya dari Richard Parker yang juga mulai kelaparan.

LOP5

It may sounded like an adventure, tapi percayalah, esensi ‘Life Of Pi’ sama sekali bukan terletak disana. Lebih dari sebuah adventure dalam kepentingan sinematis sebuah tontonan, detil-detil lifestory Pi yang digelar sejak awal dibangun Ang Lee dengan filosofi mendalam tentang hidup dan kepercayaan. Seperti novel Martel juga, ia menghadirkan semua benturan bahkan simbolisasinya dengan cermat. Dari pilihan karakter hewan-hewan yang bermunculan di sepanjang plot, penelaahan sains sebagai metafora dari nama Pi (π) ke gambaran teoritis ‘survival of the fittest’ yang kerap bertentangan dengan prinsip-prinsip reliji, semuanya tertuang nyaris sempurna dalam durasi sepanjang 127 menit menuju konklusi umum sebuah pilihan keyakinan yang hadir bagaikan sebuah twist tanpa memerlukan lagi visual secara lebih panjang. You will be moved dengan sebuah perenungan, even after the movie ended.

LOP3

Then in the cast, Suraj Sharma yang membawa hampir keseluruhan filmnya, benar-benar menjadi pilihan tepat dalam open casting itu. Sosoknya yang sangat membumi, gestur dan detil ekspresi yang sempurna menokohkan Pi saat berjuang dengan kesadarannya menghadapi Richard Parker, juga merupakan keunggulan bagi adaptasi ini. Suraj sampai-sampai harus mempelajari berbagai jenis meditasi untuk pendalaman perannya. Irrfan Khan, Tabu, Adil Hussain, Rafe Spall serta pemeran lainnya juga bekerja dengan ketepatan proporsi buat membangun benang merah-nya ke gelaran panjang lifestory penuh inspirasi itu. Dan masih ada skor yang hadir begitu menyentuh dari Mychael Danna yang juga pernah beberapa kali bekerjasama dengan Ang Lee di film-film sebelumnya. Bersama theme songPi’s Lullaby’ yang dibawakan oleh Bombay Jayashri dalam bahasa Tamil sesuai dengan latar set dan etnis tokohnya, Danna juga jadi unsur terpenting buat tiap feel ke pengadeganannya.

LOP4

But above all, elemen yang benar-benar merupakan pemeran utama dalam ‘Life Of Pi’ adalah visual garapan tim Rhythm & Hues dibawah supervisi Bill Westenhofer. Sebagai salah satu pencapaian tertinggi dalam sejarah sinema dunia, Ang Lee bahkan memilih 3D bukan hanya mentok sebagai gimmick, namun bekerja dengan sinergisme penuh untuk penekanan penyampaian pesan-pesannya. Bersama sinematografi dari Claudio Miranda dan garapan efek tim R&H, ‘Life Of Pi‘ juga mengikutsertakan hingga lebih dari lima visual effect company pendukung untuk bekerjasama mengerjakan frame demi frame efek visual berikut animasi CGI-nya.Tak hanya buat tampilan Richard Parker yang terasa begitu hidup bagaikan sosok macan asli, eksplorasi visual lainnya juga dikerjakan dengan detil penuh bak sebuah lukisan artistik yang saling berganti memanjakan indera visual penontonnya. Art with Visual Effect, that is, dengan pendalaman artistik yang membuat bahkan unsur terkecil dalam adegannya, dari langit, awan beserta bintang-bintangnya, seawaves, badai dan setiap ocean shots berikut fauna-fauna laut itu turut menjadi karakter penting dalam keseluruhan plotnya. Efek 3D-nya juga tak ketinggalan menjadikan layar bioskop seolah pintu buat berkomunikasi dengan penontonnya. Not only obviously became the greatest in years, akan salah sekali rasanya bila juri-juri Academy Awards tak mengindahkan unsur-unsur teknis ini dalam deretan nominasinya nanti.

LOP11

So be it. Ang Lee sudah mempersembahkan mahakarya-nya di penghujung tahun ini, sekaligus satu persembahan visual yang terbaik dalam sejarah sinema. Tak hanya bakal terkagum-kagum dengan visual itu, sebagai sebuah spiritual journey yang luarbiasa cantiknya, ‘Life Of Pialso will leave you moved. Membawa kita semua hanyut dalam perenungan panjang bahkan lama setelah film ini berakhir. Tentang hidup, tentang kepercayaan, and mostly, bahwa ada hal berbeda yang tak bisa saling dipertentangkan dalam sebuah keyakinan dan pilihan hati. Ini benar-benar luarbiasa. (dan)

LOP10

~ by danieldokter on December 2, 2012.

5 Responses to “LIFE OF PI : A SPIRITUAL JOURNEY BEYOND CINEMATIC GREATNESS”

  1. thanks atas recomendasinya,,,,,kalo ga baca mungkin gw ga nonton nieh film,,,,benar2 banget seperti di ulasan ini,,,,,,,fantastik,,,,,benar2 indah visualisasi nya,,,,,2 jam ga terasa di bioskop,,,gile nieh ang lee,,,kudu dapat oscar nieh untuk cinema art atau Special effecct atau best picture,,,kalo ga terlalu deh,,,,,😀

  2. […] LIFE OF PI […]

  3. […] Life of Pi […]

  4. […] LIFE OF PI – Gil Netter, Ang Lee and David Womark […]

  5. […] LIFE OF PI – Gil Netter, Ang Lee and David Womark […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: