THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY ; THE ULTIMATE RIDE OF VISUAL EXCITEMENT

THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY

Sutradara : Peter Jackson

Produksi : New Line Cinema, MGM, WingNut Pictures, Warner Bros, 2012

hobbit20

Welcome back to Middle-Earth. Setelah menempuh waktu lama dengan intrik perebutan copyright novel ‘The Hobbit’ karya J.R.R. Tolkien antara MGMNew Line Cinema dan banyaknya masalah lain, termasuk keluarnya sutradara Guillermo Del Toro dibalik kebangkrutan MGM, prekuel ‘Lord Of The Rings’ yang sudah lama ditunggu-tunggu ini akhirnya hadir juga. Tak tanggung-tanggung, Peter Jackson yang akhirnya kembali mengambil alih kursi penyutradaraan, juga memutuskan membagi prekuel ini ke dalam tiga bagian yang akan disyut back to back dan beredar dalam tiga tahun berturut-turut di Desember 2013 dan Juli 2014. For some, ini jadi keputusan aji mumpung yang tak diinginkan, namun buat real fanLord Of The Rings’, lebih dari tiga film pun, tentu tak mengapa.

hobbit12

The problem, berbeda dengan ‘Lord Of The Rings’ yang memang lebih diperuntukkan untuk kalangan semua umur, ‘The Hobbit’ yang mengawali kesuksesan fenomenal Tolkien itu memang lebih ke pangsa bacaan anak-anak. So, di luar yang benar-benar fans dan mengerti esensinya, akan muncul pertanyaan, sejauh mana Jackson bisa membawa prekuel ini menyaingi pencapaian teknis ‘Lord Of The Rings’? Atau bisa semenarik apa petualangan Bilbo Baggins, yang notabene hampir tak punya nilai jual dari karakternya di trilogi ‘Lord Of The Rings’ membantu 13 kurcaci melawan naga raksasa bersama sang penyihir Gandalf? . I’d say, see it with your eyes open wide. Apalagi, peredarannya jadi momentum buat sebuah milestone sinematis terbaru, teknologi HFR 48 fps yang menjanjikan tampilan visual sejernih high definition presentation dengan motion rates tinggi. But beware. Kejernihannya memang benar. Namun di sisi lain, teknologi ini juga menghilangkan batas-batas sinematis yang selama ini ada dalam presentasi layar lebar biasanya. Not only loose the popped-up 3D dalam versi HFR 3D-nya, visual 48 fps itu juga akan membuat feel-nya jadi se-mati film-film cable TV macam Hallmark atau bila Anda pernah menontonnya, deretan Cannon Movie Tales yang marak di penghujung ‘80an. But however, ini juga suatu titik historikal dalam perkembangan sinema.

hobbit1

So here everything you’ve seen in ‘Lord Of The Rings’ begins. Lewat tulisan Bilbo Baggins sang Hobbit (Ian Holm) pada keponakannya Frodo (Elijah Wood), sejarah hidupnya digelar. Kehidupan Bilbo muda (Martin Freeman), hobbit yang hidup damai dan tak pernah bertualang seketika berubah saat ia mendapat kunjungan dari Gandalf The Grey (Ian McKellen), sang penyihir. Gandalf meyakinkan Bilbo untuk merekrutnya ikut serta sebagai pencuri dalam misi 13 kurcaci dari Erebor demi merebut kembali kekayaan wilayah mereka di Lonely Mountain yang di suatu waktu sebelumnya dihancurkan oleh naga raksasa, Smaug dari kekuasaan Raja Thror.

hobbit1a

Dipimpin Thorin Oakenshield (Richard Armitrage), cucu Thror, pasukan kurcaci ini ; Dwalin dan Balin (Graham McTavish & Ken Stott), Kili dan Fili (Aidan Turner & Dean O’Gorman), Dori, Nori dan Ori (Mark Hadlow, Jed Brophy & Adam Brown), Oin dan Gloin (John Callen & Peter Hambleton), serta Bifur, Bofur dan Gombur (William Kircher, James Nesbitt & Stephen Hunter) pun memulai petualangan mereka menuju Smaug dan Lonely Mountain. Menghadapi Trolls, Orcs dan Wargs, Goblins dan Azog dibalik dendam lamanya pada Thorin, serta kalau perlu, meminta bantuan pada kaum peri (elves), Elrond (Hugo Weaving) dan Galadriel (Cate Blanchett) di Rivendell. Sementara Bilbo yang sempat terpisah dari rombongan atas keraguannya, jatuh ke sebuah gua dimana ia bertemu dengan Gollum (Andy Serkis) untuk pertama kalinya.

hobbit17

Oh, yes. Konten novel ‘The Hobbit’ memang lebih diperuntukkan bagi pembaca belia, itu benar. Namun Jackson dengan tim penulisnya, Fran Walsh (the real life Mrs. Jackson), Philippa Boyens dan Del Toro sebelum hengkang, hanya menggunakan atmosfernya untuk menggelar introduksi awal bak adaptasi dongeng anak-anak ala ‘Snow White & The Seven Dwarfs’ di momen-momen memorable novelnya seperti adegan dinner kacau balau yang ternyata muncul sangat menarik di bagian awal ‘The Hobbit’ versi film, plus sepenggal adegan musikal para kurcaci menyanyikan hymnMisty Mountains’ yang jadi theme song filmnya. Walau bagi penonton non-fans introduksi ini sedikit kelewat draggy – maklum saja, karakter yang ada di adaptasi ini memang seabrek jumlahnya – namun skrip itu harus diakui cukup sukses dan efektif menerjemahkan detil-detilnya.

hobbit4

Then comes the second half dari durasi panjangnya yang mencapai hampir tiga jam, dimana Jackson dan tim teknisnya, tetap dengan Andrew Lesnie, DoP, dan effects company WETA Digital dari trilogi ‘Lord Of The Rings’ ternyata membawa pencapaian visual melebihi trilogi ‘Lord Of The Rings’ sendiri. Set tiap-tiap lokasi Middle-Earth, detil karakter hobbit, witch, elves, dwarfs, Gollum and the other creatures, tampil semegah film-film sebelumnya. Karakter-karakternya juga tetap dipertahankan sekuat trilogi sebelumnya sekaligus punya potensi untuk membawa trilogi baru ini ke bagian-bagian berikutnya, dengan Thorin – Kili-nya Richard Armitrage dan Aidan Turner yang menempati porsi lead Aragorn dan Legolas, para dwarves yang mengambil porsi the hobbits dengan Bilbo muda-nya Freeman di porsi Frodo, dan tentunya, karakter-karakter lama yang tetap dimunculkan, dari Gandalf, Saruman The White (Christopher Lee), Bilbo tua (Ian Holm), Frodo (Elijah Wood), Elrond (Hugo Weaving), Galadriel (Cate Blanchett) and above all, jagoan visual mereka, Gollum, yang belum pernah terlihat sedetil ini dibalik tampilan 3D-nya. Last but not least, masih ada Lee Pace sebagai Thranduil The ElvenkingSylvester McCoy sebagai Radagast The Brown Witch, dan ‘TheBenedict Cumberbatch, partner Freeman dalam miniseri ‘Sherlock’ yang menyumbang performance capture-nya sebagai Necromancer, yang di-twist sebagai hubungan ke main villain kisah epik ini, Dark Lord Sauron. Jangan lupakan juga skor Howard Shore yang semakin memberi penekanan ke feel majestis di tiap pengadeganannya.

hobbit7

Namun tak ada yang lebih menghentak dari dua adegan klimaks di penghujungnya, yang sekaligus jadi highlights paling eye-poppin’ dari ‘The Hobbit’. Adegan ‘Giant Stones Battle’ dan final showdown di ‘Goblin’s Lair’ dalam durasi lebih dari cukup untuk mengundang decak kagum (terutama bila Anda tak memilih presentasi 48 fps untuk mendapatkan feel popped-up 3D-nya dengan sempurna ; which IMAX-3D is one of its best treatment), rasanya sudah cukup buat menempatkan ‘The Hobbit’ sebagai salah satu pencapaian sinematis terbaik dalam teknologi efek visual, sekaligus satu dari cinematic experience terbaik di tahun ini.  Goes beyond any expectations, tak hanya sebuah holiday gift yang sangat keren di penghujung tahun, ‘The Hobbitis an ultimate ride of visual excitement! (dan)

hobbit22

~ by danieldokter on December 20, 2012.

3 Responses to “THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY ; THE ULTIMATE RIDE OF VISUAL EXCITEMENT”

  1. […] The Hobbit: An Unexpected Journey […]

  2. […] THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY – Dan Hennah (Production Design); Ra Vincent and Simon Bright (Set Decoration) […]

  3. […] THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY – Dan Hennah (Production Design); Ra Vincent and Simon Bright (Set Decoration) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: