DEMI UCOK : IN ANY RELATIONSHIP, TERMS AND CONDITIONS APPLY

DEMI UCOK

Sutradara : Sammaria Simanjuntak

Produksi : PT Kepompong Gendut & Royal Cinema Multimedia, 2012

POSTER FINAL EDIT LSF_FINAL_TEKS_lowres

            I’d say this. Adat dan budaya Batak, adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk disentil-sentil. Bukan tak ada film kita yang melakukan itu, meski mungkin bukan sepenuhnya dibuat oleh etnisnya langsung. ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’, itu salah satu. Dan menuai protes keras dalam waktu instan. Seabrek film lain juga menyempalkan karakter Batak yang rata-rata hanya mentok jadi bahan bercandaan. Kadang malah terlihat over dan dibuat-buat. Mungkin adat dan budaya itu memang sangat-sangat khas, atau mungkin ada sisi yang lebih keras di dalamnya. Namun kunci sebenarnya, adalah bagaimana pendekatannya dalam sebuah storytelling.

DU14

         Dan Sammaria Simanjuntak, yang dalam gerilya lebihnya sebagai indie filmmaker sudah menghasilkan ‘Cin(T)a’ yang juga cukup berani, bisa dibilang, berhasil melakukan itu. Bahkan bicara lebih gamblang lewat satir dan sentilan-sentilannya dalam skrip yang ia tulis sendiri. Tentu bukan karena ia memang sedang bicara tentang adat dan budaya etnisnya sendiri, tapi lebih karena pendekatan yang sangat personal itu. Benar atau tidak, ‘Demi Ucok’, kabarnya sedikit banyak adalah cerita Sammaria sendiri. Bahkan pemeran sang Ibu disini, Lina Marpaung aka Mak Gondut yang baru saja memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Terbaik (oh ya, kategori aktor/aktris ini di FFI memang yang lebih jujur dan lepas dari kepentingan-kepentingan), juga notabene ibunya sendiri. Well then, karena ini film, tak mungkin juga tanpa banyak hiasan fiktif di dalamnya. But I’ll tell you this. Ain’t nothing like a storyteller yang membuat sasaran sentilannya bisa bukan marah tapi malah sibuk menertawakan diri mereka sendiri.

DU5

        Katanya, hanya ada tiga tujuan hidup seorang perempuan Batak. Menikah dengan orang Batak, punya anak Batak, dan cari menantu Batak. Jadi itulah yang ditanamkan Mak Gondut (Lina Marpaung) pada putri semata wayang-nya, Gloria Sinaga/Glo (Geraldine Sianturi) sejak kecil, karena ia sendiripun, meninggalkan impiannya untuk tujuan itu. Sekarang Mak Gondut yang sudah ditinggal mati sang suami bingung karena Glo yang sudah mencapai usia ke-29 tak juga mendapat pasangan. Apalagi dirinya sudah divonis dokter hanya punya usia setahun lagi di tengah usahanya yang seabrek, menjadi anggota partai, dalang Wayang Golek Bahasa Batak dan menjalankan MLM demi menghidupi Glo. Sementara Glo, yang seorang sutradara, lebih suka tenggelam dalam impiannya memproduksi film keduanya secara lebih serius tanpa memikirkan pernikahan. Berpegang pada ucapan sutradara idolanya, Qazrina Umi, yang mengatakan bahwa membuat film serius butuh uang 1 M, Glo pun berjuang untuk itu. Dan inilah yang dimanfaatkan Mak Gondut lewat simpanan asuransinya. Tapi tentu dengan syarat. ‘Asal… kawin kau sama Batak’. In any relationship, terms and conditions, apply. Dan perang antar anak dan ibu ini pun pecah.

DU9 DU6

     Of course, meski dilahirkan di Bandung, Sammaria bisa dengan leluasa mengeksplorasi keterkungkungan dari adat dan budayanya sendiri. Apalagi ada Mak Gondut yang memang asal Medan yang sangat kental dengan budaya ini. Disitulah letak keunggulan utama ‘Demi Ucok‘ membangun konflik dalam bangunan drama komedinya yang membumi, kerap jadi masalah kebanyakan orang, bukan hanya Batak, dengan penuh sentilan. Gambaran adat, budaya dan kehidupan keluarga Batak-nya, those if you’re the one atau mengenal dekat etnis mereka, belum pernah setepat ini dalam film-film kita. Selagi Sammaria sibuk mengeksplor idealismenya, menyindir carut-marut dunia perfilman kita dan luar negeri termasuk idola-idolanya lewat tokoh Glo yang juga diperankan cukup lepas oleh Geraldine Sianturi, Mak Gondut berjaya memerankan sosok ibu yang manipulatif demi tujuannya di tengah sindiran konvensionalisme adat dan budaya Batak itu, tanpa harus kehilangan penekanan rasa sayangnya juga terhadap sang putri satu-satunya.

DU3

         Dialog-dialog cerdas dan segar di interaksi penuh celetukan itu tampil sehangat apa adanya hubungan seorang anak dan ibunya di tengah kehidupan etnis Batak, memancing kelucuan tanpa harus sekalipun jatuh ke slapstick-slapstick kelewatan, tapi tetap dengan halus mengalir tanpa kehilangan feel indie ala Sammaria yang sangat kental. Begitu pula sisi dramatisnya, sesekali menyempil tanpa harus memancing airmata-airmata yang sering jadi eksploitatif di film-film kita. Bahkan part-part penyakit terminal yang hadir tak pernah dibahas detil jadi sorotan dramatisasinya, which is, very tactical, untuk menghindari masalah-masalah kecermatan visual yang maunya bombastis tapi malah salah kaprah di film-film kita. Restrained at times, tapi wajar apa adanya.

DU7

         Pengadeganannya untuk memunculkan dramatisasi itu juga dibangun lewat simbol-simbol komedi yang sangat fresh, termasuk  beberapa adegan Glo dan Mak Gondut bicara di pusara sang ayah, saling meneropong saat Glo minggat, dengan karakter-karakter sampingan yang sangat mendukung storytelling-nya juga. Ada Niki (Saira Jihan), sahabat Glo yang lesbi namun tengah hamil karena mendambakan anak, tante Glo yang senasib dengan dirinya, A Cun (Sunny Soon), sahabatnya, dan sutradara idola Glo, Qazrina Umi (Nora Samosir) yang dihadirkan dengan tribute yang meskipun penuh banyolan, tapi tetap terasa penuh hormat pada sosok alm. Yasmin Ahmad, sineas negeri tetangga yang sangat dikenal dengan keberaniannya mengangkat topik-topik sensitif perbedaan etnis dan reliji lewat film-filmnya.

DU4

           Di departemen teknisnya pun, dari sinematografi Hegar A.Junaedi, tata artistik dari Rezki Ridha hingga skor dari Muhammad Betadikara, semuanya tampil proporsional tanpa harus mencoba menghadirkan atmosfer berlebihan sesuai dengan feel indie-nya yang tetap dipertahankan Sammaria. Trust me, ini indie. Bukan keterbatasan ala FTV. Namun yang terbaik dari ‘Demi Ucok’, tentulah eksplorasi Sammaria sendiri dalam menyorot dan menggambarkan konflik anak dan ibu di tengah benturan adat dan budaya itu. In this case, biar bukan terletak pada konflik adat yang serupa, coba lihat ‘Brave’-nya Pixar, yang mengetengahkan konflik hampir sama tapi sebagai film yang harusnya bisa dinikmati anak-anak jadi terlihat punya dua karakter ibu dan anak yang sama mengerikan dalam mempertahankan tujuan mereka.

DU10

          ‘Demi Ucok’ ini tak begitu. Walau kenyataannya dalam 79 menit durasinya konflik itu tetap berada di koridor sempit, pertentangan ibu dan anak itu tampil sangat manusiawi dan apa adanya. Di tengah dialog dan adegan-adegan paling kurangajar sekali pun, we can feel their love, their loss, their fear, and also their anger, tanpa harus dipaksa jatuh ke dramatisasi mainstream. Tetap pakai hati, tapi tanpa airmata, emosi ataupun joke-joke berlebih. Again, restrained at times, just like indies, tapi wajar apa adanya. So, inilah hebatnya Sammaria, dan mengapa ‘Demi Ucok’ jadi salah satu tontonan paling wajib di pembuka tahun ini, terutama buat disaksikan anak dan ibunya bersama-sama. Baru di awal Januari dengan rilisan minggu pertama, kita sudah punya film dengan eksplorasi tak biasa tapi sekaligus luarbiasa dalamnya. Full of light gags, without ever losing the heart of its indie awkwardness.  Tak sia-sia rasanya jadi bagian dari usaha mengumpulkan 10.000 co-producer-nya lewat donasi Rp.100.000,- , bukan saja sebagai dukungan terhadap perjuangan Sammaria, but mostly, tentunya, film Indonesia! (dan)

DU1

~ by danieldokter on January 3, 2013.

3 Responses to “DEMI UCOK : IN ANY RELATIONSHIP, TERMS AND CONDITIONS APPLY”

  1. Review+ulasan yang sangat bagus sekali, saya hampir 3 tahun tinggal di kuala lumpur karena kebetulan ditempatkan disini, hobi nonton juga, dengan membaca ulasan anda jadi sangat ingin menonton film ini. Jujur saya sangat kurang tertarik dengan film-film indonesia, film indonesia yg saya tonton mungkin masih bisa dihitung dengan jari, AADC pas masa sekolah, jomblo, garuda didadaku, quickie express dan yg terakhir sang pencerah, mudah-mudahan tahun ini kebangkitan film-film nasional dan bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Thanks a lot bung, sukses terus. Salam.

  2. Secuil dari kehidupan Bang Uchok………. tapi siiiiiiip…….. lanjut…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: