DEAD MINE : A JOINT VENTURE HORROR ADVENTURE THAT COULD’VE DONE MORE

DEAD MINE

Sutradara : Steven Sheil

Produksi : HBO Asia & Infinite Frameworks Studio, 2012

dm9

            So, seperti pertanyaan banyak orang, apakah ‘Dead Mine’ film Indonesia atau film luar? I’ll assure you, both might be wrong. ‘Dead Mine’ yang merupakan produksi film panjang pertama HBO Asia dengan afiliasinya bersama Infinite Frameworks Studio Indonesia yang berlokasi di Batam, adalah sebuah joint venture, meski kita mungkin tak tahu sejauh mana batas kerjasama itu. Yang jelas, film ini memang diproduksi di studio yang penonton-penonton Indonesia di luar media dan pemerintah saja belum ‘ngeh’ kita sudah punya studio film bertaraf internasional di Batam itu. Oh ya, meski berada di bawah naungan studio pusatnya yang berlokasi di Singapura dan sudah jadi production house bagi banyak produk-produk internasional, seperti animasi ‘The Garfield Show’, ‘Lucky Luke’ bahkan animasi-animasi Eropa, Infinite Frameworks (IFW) Indonesia ini dimotori oleh Mike Wiluan yang asli Indonesia.

dm3

Selain sudah banyak berkiprah di animasi-animasi luar, mereka juga sudah menggarap ‘Sing To The Dawn’, sebuah animasi produksi Singapura yang di-dubbing ke Indonesia dengan judul ‘Meraih Mimpi’(2009) diproduseri oleh Kalyana Shira Films tempo hari. Ke depannya, kabarnya, ‘Man Of Tai ChiKeanu Reeves dan Iko Uwais itu pun sebagian proses produksinya akan dilakukan disini. So yes, dengan eksistensi studio yang dibangun di Nongso, Batam, dengan luas 10 hektar bersama fasilitas internasional dari replika-replika setting, dua panggung besar berukuran 14.000 dan 30.000 sqf, workshops, efek visual, 3D hingga studio animasi, yang juga digerakkan oleh pekerja-pekerja lokal, plus tercatat juga sebagai program promosi kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kita, tak salah juga kalau ‘Dead Mine’ bisa digolongkan sebagai film nasional. Dan Wiluan sendiri memegang jabatan produser bersama Robert Ronny (‘Dilema’, ‘Hattrick’).

dm2

Sebagai produksi HBO Asia yang memang disiapkan untuk pasar Internasional dan sudah terjual ke beberapa negara termasuk Singapura dan AS (walaupun kabar akhirnya mengatakan HBO Asia tak lagi ambil bagian dalam promosi dan peredarannya karena masalah-masalah intern yang belum jelas), produksi joint venture ini memasang bintang-bintang lintas negara. Ada Sam Hazeldine, aktor asal Inggris yang belum lama ini kita lihat sebagai main villain dalam ‘The Raven’-nya John Cusack, Les Loveday, aktor Inggris/Amerika yang sebelumnya sudah pernah muncul dalam peran kecil di ‘Stardust’ dan ‘Sweeney Todd’ , dua aktor Jepang James Taenaka dan Miki Mizuno yang sudah lebih dikenal lewat sederetan film-film sci-fi fantasy, sebagiannya gore-fest Jepang (‘Hard Revenge Milly’, ‘Sasori : Prisoner 701’ versi 2008 dan ‘Guilty Of Pleasure’-nya Sion Sono), aktris Chinese Malaysia Carmen Soo yang dikenal lewat film-film komedinya Afdlin Shauki (‘Baik Punya Cilok’ dan ‘My Spy’) plus ‘Sayang You Can Dance’ (film Malaysia yang memasangkan Samuel Rizal dan Sharifah Amani), serta tentu saja 4 aktor Indonesia ; Ario Bayu, Joe Taslim, Mike Lewis dan Djaitov Yanda aka Bang Tigor yang melompat dari peran tipikal komedinya di ‘Suami-Suami Takut Istri’ ke genre action dengan badan binaraga-nya. Sutradaranya juga diimpor dari luar, meski baru menghasilkan satu debut penyutradaraan  layar lebar yang kurang dikenal, Steven Sheil, yang juga menulis skripnya, sementara astrada-nya adalah salah satu sineas kita, Dom Dharmo. Kru dan para figurannya juga bercampur-baur dalam percampuran lintas negara itu.

dm12

Ah, tak peduli dari dulu sinema kita memang sudah banyak berkutat di produksi joint venture, dari era ‘70an dengan Shaw Brothers, ‘80an dengan aktor-aktor Amerika seperti Chris Mitchum, John Phillip Law, David Bradley, Frank Zagarino atau sejumlah film-filmnya Cynthia Rothrock, paduan bintang lintas negara ini, supposed to be very interesting. Apalagi, genrenya sungguh menawarkan sesuatu yang beda dibalik highlight set dan efek yang dari press release awalnya pun sudah kelihatan sangat menjanjikan walaupun menjelang peredarannya promosinya benar-benar hampir bisa dikatakan nol besar. Sebuah horror adventure dengan premis sekumpulan serdadu bayaran melawan zombie-zombie rekayasa kolonialisme Jepang. Wah!

dm5

Direkrut oleh seorang milyuner, Pryce (Les Loveday) yang membawa serta pasangannya (Carmen Soo) dan seorang peneliti Jepang, Rie (Miki Mizuno), lima tentara bayaran (Sam Hazeldine, Ario Bayu, Joe Taslim, Mike Lewis dan Djaitov Yanda) memulai misi mereka ke Pedalaman Sulawesi tanpa tahu tujuan sebenarnya adalah untuk mencari harta karun dari legenda emas Yamashita yang terkenal. Serangan perompak membuat mereka terperangkap ke dalam sebuah goa tambang yang ternyata bekas bunker militer Jepang di masa Perang Dunia II. Alih-alih mencari jalan keluar di tengah kondisi kacau-balau tanpa persiapan, mereka malah menemukan kenyataan mengerikan disana. And now, they’re fighting for their lives.

dm8

Dalam template genre-genre sejenis, ‘Dead Mine’, jelas bisa jadi sajian eksplosif yang punya kans buat di-push habis-habisan, bahkan dalam intensitas sebesar ‘The Raid’. Imagine how cool that was. Miki Mizuno bersama serdadu-serdadu bayaran yang diperankan dengan gestur pas oleh Ario Bayu, Joe Taslim, Djaitov Yanda aka Bang Tigor plus Sam Hazeldine yang punya sosok sangat mirip dengan Steve McQueen, dan Mike Lewis yang kebagian porsi pelengkap tanpa dibiarkan beraksi terlalu banyak, beraksi melawan monster-monster mutan hasil eksperimen dalam berbagai bentuk untuk sebuah survival-fest. Dari tentara Jepang, pasukan samurai hingga ‘Gollum-like creatures’ ala ‘The Descent’ dengan masker Bane atau Hannibal.

dm6

Namun entah kenapa, Steven Sheil dan para produsernya lantas menyia-nyiakan potensi besar ini. Bukan saja tak ada part yang membuat penonton bisa connect ke karakter-karakter yang bahkan sebagian besar tak pernah bakal diingat namanya kecuali karakter Stanley yang diperankan Sam Hazeldine, yang memang tampil lebih fully-charismatic dengan ketangguhan sosok soldier-nya bersama Miki Mizuno yang sedikit diberi porsi lebih, trio Ario Bayu-Joe Taslim-Djaitov yang sebenarnya sama-sama punya potensi besar dibiarkan tersia-sia begitu saja. Lupakan saja soal plot dan eksplorasi njelimet lainnya yang memang tak diperlukan dalam genre-genre seperti ini, namun dialog-dialognya yang dibesut dalam bahasa Inggris untuk penekanan produk internasionalnya juga terasa dipaksakan. Rasanya akan lebih baik meminimalkan dialog untuk menggeber adegan-adegan aksinya, tapi sayangnya, tak begitu. Setelah berlambat-lambat di bagian awal, semua dibiarkan lewat begitu cepat tanpa kesan sedikit pun menuju ending yang maunya uncompromised tapi malah terlihat terburu-buru.

dm4

However, jangan tanya set, efek dan production values lainnya. Begitu bagusnya detil-detil produksi teknis itu hingga akhirnya bisa menyelamatkan ‘Dead Mine’ sebagai salah satu produk joint venture yang sedikit lebih layak dibanding produk sejenis film kita lainnya. Mulai dari set tambang bersama batu-batuan goanya, efek-efek prostetik creatures-nya, mock-up cukup rapi hingga ke tata artistik yang cermat sampai ke penempatan props yang sangat detil, semuanya bekerja membangun feel suspense yang sebenarnya tak lagi ter-handle oleh sebagian besar cast dengan porsi aksi seadanya itu. Apalagi pameran gore-fest nya tak dibiarkan lebih menghentak.

dm11

So apa boleh buat. Mike Wiluan bersama Infinite Frameworks sudah menunjukkan kemampuan staf dan studio mereka membesut technical side yang bagus dari sebuah film bergenre fantastik, sebagai satu harapan bagi masa depan perfilman kita untuk semakin dikenal dunia internasional, tapi sayangnya, tidak didukung oleh pengarahan yang baik dari Steven Sheil. For any of you, yang masih penasaran, I’m gonna tell you this. ‘Dead Mine’ masih sedikit lebih baik dari kualitas rata-rata film-film joint venture kita sebelum-sebelumnya, and might be, bila dibandingkan dengan produk-produk homevideo atau TV cable luar yang aji mumpung me-rip-off film-film blockbuster kebanyakan. Enjoy the sets and effects yang masih bisa membuat suspense-nya bekerja dalam kadar minimal, tapi jangan harapkan aksi yang seru dan lebih lagi. Selebihnya, ya begitulah. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on January 4, 2013.

2 Responses to “DEAD MINE : A JOINT VENTURE HORROR ADVENTURE THAT COULD’VE DONE MORE”

  1. Oh god why? ternyata tidak seperti yang di harapkan, menurut saya pribadi, lebih baik tidak terlalu membanyakan dialog inggrisnya, memperkenalkan budaya kan boleh.
    dan sayangnya lagi action horor nya saat di pertengahan, dan asal muasal monster-monsternya pun masih rahasia (meskipun kata di atas hasil percobaan).
    So, lumayan lah buat menggeser perfilman indonesia ke manca negara, biar genre horor di indonesia tuh berubah gk gitu” aja, kaya Suster keramas, emang udah mati bisa keramas ya?
    So, Lanjutkan kreasi mu!

  2. ya, tetep perlu dihargai, dan kita perlu bangga punya studio dengan fasilitas sebesar itu di negeri sendiri. mudah2an ke depan produksinya lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: