THE IMPOSSIBLE : HEARTS BEYOND THE ULTIMATE PSYCHOLOGICAL HORROR

THE IMPOSSIBLE

Sutradara : Juan Antonio Bayona

Produksi : Apaches Entertainment & Telecinco Cinema, 2012

TI4

            Katanya, ‘Apalah manusia dibandingkan kekuatan alam?’. Dan kita semua tahu bagaimana bencana Tsunami 2004 sudah meluluhlantakkan alam serta kehidupan begitu banyak korbannya. Luka dan trauma yang bagi sebagian orang, tak akan pernah bisa sembuh lagi. Lantas, begitu banyak juga kisah sejati yang hadir dari peristiwa itu. In movies, ini adalah sebuah komoditas yang dari dulu-dulu, sangat layak dan luarbiasa menjual untuk dijadikan adaptasi. Tapi sineas Spanyol, Juan Antonio Bayona, yang sudah dikenal lewat horor remarkable-nya, ‘The Orphanage’ (2007) memang tak sedang sekedar main-main. Mengangkat kisah nyata keluarga Maria dan Henry Belon (aslinya berkebangsaan Spanyol) yang jadi korban hempasan tsunami di Thailand saat itu, ia meracik sebuah kisah sejati yang sama sekali bukan sebuah ‘banting stir’ dalam genre. I’ll warn you. Walau tampilannya adalah sebuah drama dan tak berbekal hantu-hantuan, pendekatannya adalah genre yang membuat Bayona mendapat predikat spesialis dalam ‘The Orphanage’. This is by far, uniquely, one of the most frightening psychological horror ever made dalam tiap menit penerjemahannya. I warned you.

TI5

            Keluarga Inggris Maria dan Henry Bennett (Naomi Watts & Ewan McGregor) beserta tiga putranya, Lucas (Tom Holland), Thomas (Samuel Joslin) & Simon (Oaklee Pendergrast), tak pernah menyangka bahwa liburan Christmas Eve mereka di kawasan resort Khao Lak, Phuket, Thailand akan berubah jadi mimpi buruk. Tepat di pagi tanggal 26 Desember 2004, bencana tsunami itu memisahkan mereka dalam sebuah perjalanan panjang penuh penderitaan. A journey of hope, love and survival against the impossible.

TI6

            I’d say, beyond many true stories of disaster, ‘The Impossible’, yang memang adalah produk dari negeri Bayona sendiri, Spanyol, bukan Hollywood (Warner Bros dan Summit hanya membeli rights-nya masing-masing buat distribusi ke AS dan Asia), adalah satu yang terbaik sekaligus paling unik yang pernah ada. Sebagian kritikus boleh saja menuduhnya sangat manipulatif dalam pemaparan dramatisasinya membangun esensi ‘The Impossible’ sesuai judulnya. Namun apapun itu,  pendekatan yang dilakukan Bayona dan rata-rata tim yang sama termasuk skrip yang ditulis Sergio G. Sánchez, yang juga menulis ‘The Orphanage’ memang berinteraksi bagai ramuan ampuh yang menghempaskan penontonnya ke dalam rasa campur aduk yang sulit untuk dilukiskan. Sangat horor dalam arti luarbiasa menakutkan, tapi bangunan karakterisasi itu sekaligus memancing emosi terdalam dari tiap penontonnya buat merasakan penderitaan mereka. Saking komunikatifnya, seolah kita penontonnya, langsung merasa berada di tengah-tengah bencana itu.

TI3

        Dengan kecermatan tinggi, mereka membangun sebuah rekonstruksi dengan detil luarbiasa terhadap bencananya. Sebuah kekuatan observatif yang sangat hati-hati, meyakinkan dengan menampilkan detil-detil tak terpikirkan dalam penggambarannya, tapi tetap terjaga mengarahkan penonton ke dramatisasi karakter-karakter intinya. Dari serangan air bah bercampur lumpur yang memang jadi hempasan dari titik awal pemicunya dari kawasan perairan berbeda, keakuratan berbagai gambaran medis dibalik art direction plus efek dan sinematografi Óscar Faura yang juga sangat, sangat, luarbiasa menampilkan detil-detil kehancuran alam hingga luka-luka dan efek fisik bagi korbannya. Hampir tak sekalipun mereka salah menampilkan gambaran penanganan bencana secara sebenar-benarnya, dimana dalam serangan sebesar itu dengan fasilitas penanganan darurat serba terbatas, hanya nyawa yang menjadi titik krusial ketimbang luka-luka kecil korbannya ataupun pertimbangan sterilitas di tengah-tengahnya, sementara tiap korban harus menunggu giliran, meregang nyawa dengan resiko tak terselamatkan. Dari sini, Bayona dan timnya sudah membuat atmosfer itu bekerja memicu feel sebuah horor psikologis, which deep down, more frightening than any ghost stories, apalagi bagi orang-orang yang pernah mengalami peristiwanya sendiri. Disturbing at many times, bahkan setelah filmnya berakhir dengan nuansa penuh harapan yang sangat ditonjolkan.

TI8

      Lantas dalam memberikan great dramatic effect-nya, Bayona tak perlu menunggu lama. Hanya dalam hitungan belasan menit, ia sudah berhasil menumpahkan airmata penonton lewat interaksi humanis karakter ibu dan anak yang saling melindungi dalam sebuah system of survival paling mendasar, yang diperankan dengan emosi luarbiasa oleh Tom Holland dan mostly, Naomi Watts, permainan redemption dan perenungan lewat reaksi-reaksi kecil namun membuat kita percaya bahwa tindakan heroik bisa ada di saat-saat paling parah sekali pun lewat karakter-karakter sampingannya termasuk Johan Sundberg, pemeran si kecil Daniel dan cameo aktris senior legendaris Geraldine Chaplin yang sudah sangat lama tak muncul, hingga akhirnya menghantam kita lewat gelaran human spirit di saat satu sisi gambaran korbannya berjuang menemukan orang-orang kesayangannya tanpa mau berhenti oleh alasan apapun. Ewan McGregor meski bagus mungkin tak tampil se-spesial Watts, tapi buat keseluruhannya, this will rip your heart out, merobek-robek hati dan perasaan dengan airmata yang betul-betul sulit buat dielakkan dibalik suatu kedekatan emosional yang sangat berhasil dibangun Bayona bersama skor dari Fernando Velázquez yang sama menyayatnya.

TI

      Now go ask yourself. Anda boleh tak percaya dan menganggap ‘The Impossible’ adalah sebuah fiksi yang dibesar-besarkan dengan penuh kebetulan dibalik jualan true story of survival-nya, tapi kapan sebuah film tentang bencana bisa membuat penontonnya bisa sekaligus merasa takut setengah mati melebihi horor paling mengerikan sekali pun, sementara dramatisasinya menghantam hati dan perasaan Anda begitu keras hingga benar-benar sulit untuk tak membiarkan airmata menggenang di pelupuk mata kalaupun Anda setengah mati menahannya untuk jatuh? So percayalah. Jauh dibalik tampilannya sebagai sebuah melodrama pemancing airmata, ‘The Impossible’ sebenarnya adalah horor psikologis yang sangat taktis. And in the end, saya hanya punya satu pesan terhadap sineas dan segenap kru film yang terlibat dalam sebuah film kita tahun kemarin, tak usah disebutkan judulnya, yang sama-sama berkisah tentang perjuangan penuh harapan dibalik bencana yang sama, tapi dengan ketulusan hati yang jauh berbeda. Watch this one, and I hope all of you won’t end up with suicidal things. (dan)

~ by danieldokter on January 8, 2013.

8 Responses to “THE IMPOSSIBLE : HEARTS BEYOND THE ULTIMATE PSYCHOLOGICAL HORROR”

  1. Wuuh.. gila ya emang ni film. Bukan horror hantu2an tapi seramnya, ampun deh. Merinding menyaksikan efek tsunaminya. *great work*

  2. Kondisi alam dan Cuaca ekstrim sekarang membuat film semakin relevan untuik ditonton.

  3. From all the tsunami pictured in movies this one was the best !

  4. Iya yah seandainya film kita di garap seserius itu, mungkin tak akan kalah dengan tuh film, secara menceritakan kisah yang hampir sama

  5. Itu salahnya film kita. Dengan macam2 alasan, masih sulit buat digarap serius. Tapi temanya maunya yg bombastis.

  6. […] Naomi Watts – THE IMPOSSIBLE […]

  7. TRUE sampe sekarang masih membekas perjuangan mereka.

  8. […] Naomi Watts – THE IMPOSSIBLE […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: