GENDING SRIWIJAYA : KESERIUSAN PENGGARAPAN DI TENGAH BENTURAN LATAR HISTORIS

GENDING SRIWIJAYA

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Putaar Productions & Pemprov Sumsel, 2012

GS19

            Sekali waktu dulu, perfilman kita pernah berjaya sekali dengan trend film-film silat dengan setting zaman kuno. Our period version of martial arts action, dari zaman kerajaan ke zaman penjajahan Belanda, yang kebanyakan juga diracik dengan bumbu fantasi, walaupun yang diangkat adalah legenda-legenda daerah atau punya sisi historikal. Dan banyak sekali sebutan yang muncul buat genre ini dari silat legenda, silat historis, silat kolosal dan segala macam. Sebagian dibuat dengan keseriusan total, berkelas kolosal, bahkan melahirkan adaptasi-adaptasi komik silat legendaris macam ‘Panji Tengkorak’, ‘Si Buta Dari Gua Hantu, ‘Jaka Sembung’, ‘Si Pitung’ dan lain-lain. Tak jarang juga sampai menggamit aktor-aktor Hong Kong dari Shaw Brothers. Namun dalam perkembangan selanjutnya, lebih dari separuhnya, ternyata keterusan di aji mumpung eksploitasi seks dan penggarapan asal-asal, termasuk beberapa adaptasi ‘Wiro Sableng’ sebelum akhirnya betul-betul mati bersama masuknya trend film semiporno kita di tahun ‘90an.

GS5

       Di tengah-tengahnya, masih ada yang memunculkan trend adaptasi sandiwara radio, juga dengan penggarapan kolosal seperti ‘Saur Sepuh’, ‘Tutur Tinular’ atau ‘Misteri Dari Gunung Merapi’ a.k.a. ‘Mak Lampir’, yang lebih kental lagi elemen fantasinya, dan selebihnya, mentok di sinetron-sinetron acak kadut ala Indosiar sekarang. In general, genre ini bisalah disebut sebagai adventure fantasy-nya Film Indonesia. Karena rata-rata tak hanya menawarkan aksi bela diri, tapi juga legenda-legenda bersama elemen fantasi atau fantastik itu dalam racikan keseluruhannya. Dan satu yang perlu diingat, dalam sejarah film kita, ini merupakan genre yang sangat dikuasai oleh banyak sineas yang terlibat di dalamnya. Satu kekuatan sinema kita dibanding tema-tema lain yang belum juga bisa terlalu maju. Apalagi, ia mengangkat budaya kita yang kaya, sejauh digarap dengan serius seperti dulu-dulu.

GS22

            So, sudah seharusnya kita bersyukur masih ada sineas yang mau kembali mengangkat genre ini kembali ke layar lebar dalam rentang waktu mati suri yang sudah sangat lama itu. Apalagi, Hanung Bramantyo, sang sutradara, yang baru saja menuai kontroversi dalam ‘Cinta Tapi Beda’ bersama timnya, juga adalah seorang sineas yang cukup visioner dalam keragaman genre di banyak film-filmnya. Dibuat dengan sokongan dana cukup besar dari Pemprov Sumsel pula, setelah ‘Pengejar Angin’ tempo hari, dalam ikhtiar mengangkat budaya setempat mereka, termasuk satu legenda kerajaan yang juga cukup dikenal di seluruh lapisan masyarakat, sayangnya, mau tak mau akan banyak menimbulkan benturan, terlebih untuk ukuran penonton sekarang yang sudah jauh lebih cerdas menilai kecermatan dibalik penggarapan sebuah film. Walaupun keseluruhannya adalah fiksi, selain latar historis yang tetap dipertahankan membawa-bawa nama Kerajaan Sriwijaya serta tarian-lagu budaya mereka yang dipakai sebagai judul, ‘Gending Sriwijaya’ ,mau tak mau mengundang penelusuran penuh bias. Dan penggunaan bahasa dengan dialek setempat juga akan jadi sebuah kesulitan lain.

GS15

            Then again, sebenarnya ini sah-sah saja, secara ‘Saur Sepuh’ pun membawa latar kejayaan Kerajaan Majapahit untuk membangun plot fiktifnya. Dalam standar sekarang, keseriusan menampilkan dialog yang membawa dialek-dialek kedaerahan itu pun jadi sesuatu yang mutlak buat ukuran keseriusan penggarapan, tak seperti zaman dulu yang dialog-dialog dalam skrip film-film sejenis dibiarkan saja menggunakan bahasa-bahasa nasional secara kaku. Mungkin seharusnya Hanung beserta timnya tak ngotot membawa atribut atau ikon-ikon historis yang lagi-lagi membawa sejumlah protes dari para budayawan setempat mengenai keakuratan sejarah sampai pemilihan kostum, meskipun filmnya didukung pemerintahnya sendiri. Atau sekalian menggunakan bahasa daerah, bukan hanya dialek, yang di sisi lain juga akan punya resiko resepsi lebih sulit oleh masyarakat luar Sumatera Selatan, selain akan berdampak banyak bagi proses produksi. Tapi begitulah. Semua adalah pilihan.

GS11

            Di latar Nusantara abad ke-16, dimana kerajaan-kerajaan kecil di wilayah kedatuan Sumatera Selatan bermunculan setelah keruntuhan Sriwijaya oleh serangan kerajaan luar, banyak terjadi perebutan kekuasaan termasuk dalam kerajaan-kerajaannya sendiri. Salah satu kedatuan itu, Kedatuan Bukit Jerai, yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Mahawangsa (Slamet Rahardjo) dengan permaisurinya Ratu Kalimanyang (Jajang C. Noer), tengah menghadapi konflik internal dalam pewarisan tahta. Ketimbang anak sulungnya yang ambisius dan memiliki kemampuan militer, Awang Kencana (Agus Kuncoro), Dapunta lebih memilih mewarisi kerajaannya pada si bungsu Purnama Kelana (Sahrul Gunawan) yang lebih intelektual dan baru kembali menuntut ilmu dari Cina. Kecemburuan Awang membuatnya merancang fitnah pada Purnama yang lantas melarikan diri dari istana. Kekasih Purnama, Endang Wangi (Hafsary Thanial Dinoto) juga dipersunting Awang yang menunggu pewarisan tahta dari Kalimanyang. Sementara, kerajaan masih harus menghadapi komplotan perampok Ki Goblek (Mathias Muchus) dengan dua tangan kanannya, Srudua (T. Rifnu Wikana) dan cewek jagoan Malini (Julia Perez). Di tengah pengkhianatan Srudua bersama Paru Hitam (Qausar Harta Yudana) terhadap Ki Goblek yang membuat pasukan kerajaan menghabisi seluruh kelompoknya, Purnama dan Malini menyadari bahwa mereka punya musuh yang sama. Selagi Purnama mengumpulkan kekuatan untuk memulihkan nama, merebut tahta dan menuntaskan dendamnya pada Awang, Malini bersama pasukan janda-janda perampok yang tersisa pun mulai  merancang penyerbuan ke istana.

GS2

            Oke. Ketidakakuratan sejarah beserta penggunaan istilah ‘Gending Sriwijaya’, walaupun sebagai judul sangat menarik, yang aslinya baru diciptakan tahun ‘40an, yang dianggap keliru menerjemahkan keluhuran budaya mereka lewat tari dan lagu untuk upacara penyambutan resmi itu sedikit banyak memang akan jadi masalah bagi sebagian penonton yang memahami benar sejarahnya. Alasan bahwa ini adalah murni sebuah pelarian fiksi atas penjelasan Hanung karena menyadari riset mereka tak bisa benar-benar lengkap juga tak akan sepenuhnya bisa melunturkan tuduhan atas penggunaan istilah-istilah ikonik itu. Penggunaan bahasa-bahasa modern yang sulit dihindari untuk kepentingan plot dibalik dialek kedaerahannya juga seringkali terdengar sangat mengganggu. Pasalnya, Hanung yang juga menulis langsung skripnya memang terlihat seolah ingin menyampaikan sebuah relevansi masalah-masalah pemerintahan sebagai borok-borok dibalik keruntuhan kerajaan-kerajaan kuno dengan masalah negara kita di zaman sekarang dalam plotnya. Namun mendengar karakter-karakter dalam set abad ke-16 itu menggunakan istilah-istilah seperti pejabat, korupsi, dan sejenisnya, walaupun dengan dialek yang terjaga rapi, tetap terdengar rancu.

GS3

            Namun di luar itu, memang sulit untuk menampik bahwa ‘Gending Sriwijaya’ secara filmis digarap dengan keseriusan tinggi. Walau sebagian props tetap tak punya akurasi dengan sejarahnya, bangunan set dan pilihan lanskap-nya, tata kostum dan make-up dari Retno Ratih Damayanti hingga artistik dari Budi Riyanto Karung beserta teknis-teknis lain menunjukkan detil-detil yang sangat baik. Koreografi silatnya tertata dengan baik walaupun tak digeber kelewat spesial, penggunaan efek dalam sejumlah besar adegannya juga tampil sama baiknya. Unsur-unsur sinematis lain termasuk tata kamera dari Ipung Rahmat Syaiful bersama skoring Djaduk Ferianto juga bekerja dengan padu memberi thrill di dramatisasi dan adegan aksinya.

GS16

           Nilai plus lain, tentu ada pada susunan cast yang didukung nama-nama senior. Selain Slamet Rahardjo, ada Jajang C. Noer yang sayangnya di beberapa bagian terlihat sedikit kurang nyaman dan tak lepas dibalik kostum songketnya, Yati Surachman yang tampil singkat tapi tetap, emotionally powerful, berikut Mathias Muchus yang sedikit mengulang perannya di ‘Pengejar Angin’ dalam remarkable makeover yang beda. Pemeran pendukung lain seperti T.Rifnu Wikana, Qausar Harta Yudana dan Hafsary Thanial Dinoto juga dimanfaatkan secara cukup efektif. Hanya sayang pasukan Gending Sriwijaya itu harusnya bisa mendapat ekspos lebih ketimbang sambil lewat.

GS17

        Deretan cast utamanya masing-masing pun masih punya keunggulan lain dibalik skrip Hanung yang terus terang, dramatically intriguing membangun batas tipis hitam putih karakternya dengan motivasi-motivasi berbeda. Bahkan durasi panjangnya tak lantas membuat storytelling-nya jadi draggyAgus Kuncoro tampil se-powerful seperti biasanya terlebih di scene-scene akhir yang sangat emosional menampilkan ambiguitas pilihan-pilihan dan ambisi dalam suatu suksesi pemerintahan sekaligus keluarga. Sahrul Gunawan yang sudah lama tak kelihatan di layar kaca juga tak sekalipun dibiarkan lari dari koridor sosoknya memerankan Purnama yang lembut namun terjebak dalam konflik hidup mati itu, and mostly, Julia Perez dalam pembuktian bakat aktingnya yang sering sekali selama ini tersia-sia oleh kenakalan produser yang memakainya semata-mata untuk jualan seksi-seksian. Begitu bersinarnya Jupe disini menanggalkan tampilan glamor seperti biasanya, tampil dekil, kotor, tapi tetap tak kehilangan aura seksinya sekaligus memperlihatkan ketangguhan alami sosok heroine genre ini dalam akting dan adegan aksi yang menempel di benak penonton bahkan pantas-pantas saja bila ingin dilanjutkan ke spin-off-nya nanti.  Siapa tahu.

GS4

            So inilah ‘Gending Sriwijaya’ dengan keseriusan penggarapan dibalik pilihan serta benturan kontroversial latar historisnya yang memang sulit untuk dihindari. For a restart, ini mungkin tak sempurna, tapi usaha Hanung untuk membawa kembali genre adventure fantasy, silat-silat legenda itu,  dalam perfilman kita, dengan keseriusan, bukan eksploitatif, sungguh layak dihargai lebih, sekaligus sayang sekali buat dilewatkan. Untuk penonton sekarang yang belum pernah akrab dengan genre yang dulu pernah membawa film kita ke salah satu puncak kejayaannya, don’t miss this one, or you might just skipped our movie history dengan tampilan-tampilan kacrut genre-nya di layar televisi. (dan)

GS20

~ by danieldokter on January 11, 2013.

2 Responses to “GENDING SRIWIJAYA : KESERIUSAN PENGGARAPAN DI TENGAH BENTURAN LATAR HISTORIS”

  1. barusan nonton film ini karena kangen dengan film2 berlatar kerajaan saat kecil dulu. ceritanya lumayan bagus…

  2. Mas Daniel yg baik, saya sengaja menyempatkan untuk menonton film ini, hanya karena judulnya memakai nama Sriwijaya. Saya kira penonton akan banyak, tapi faktanya sy jadi kecele betul. Film yg digarap mahal, dgn cerita yg terkait Nusantara di masa lalu ini ternyata tdk dpt menggiring penonton ke bioskop. Sebentar kemudian pun lenyaplah ia dari peredaran. Apa boleh buat. Dialog dgn dialek setempat yg mixed-up dgn bahasa Indonesia standar memang mengganggu. Mestinya adegan aksinya bisa dikurangi dan dgn flashback runtutan peristiwa sejarah keagungan Sriwijaya bisa ditambahkan utk menggambarkan zaman keemasan Nusantara di waktu itu. Anyway, film ini patut diapreasi karena telah memberi warna lain dari tren film kita yg itu-itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: