GANGSTER SQUAD : SHOOTS WITH ALL THE GENRE’S CLICHE ELEMENTS

GANGSTER SQUAD

Sutradara : Ruben Fleischer

Produksi : Village Roadshow Pictures, Warner Bros, 2012

Gang18

            Buat sebagian orang, genre ‘Gangster Movies’, with big names in an ensemble cast digeneralisasi sebagai sebuah kualitas. Tak sampai kualitas award pun, tetap berkelas. Film mafia, katanya. Patokan untuk sebuah keseriusan plot seputar temanya. Dalam variasi apapun. Apalagi sejak ‘The Godfather’ yang dianggap jadi pionir bagi genre-nya. Bagi sebagian lagi, ia lebih berupa excuse untuk bisa nyaman menyaksikan film-film berkualitas award, karena betapapun berat-berat penyampaiannya, genre ini tak pernah sekali pun kehilangan adegan action yang universally bisa memuaskan penonton awam. Bahkan ‘The Untouchables’ kelihatan seperti sebuah sajian pop dibalik kualitas award-nya, yang lagi-lagi turut dibangun oleh ensemble cast itu. Well, tak salah juga. Rata-rata, yang banyak dikenal orang, memang seperti itu.

Gang1a

            Tapi jangan salah juga. Sedalam apapun pencapaian-pencapaian itu, ia sekaligus mengandung banyak sisi klise yang seakan sudah jadi resep wajib di film-filmnya. Mafia kelas berat yang biasanya menyenggol karakter villain-villain historikal legendaris. Polisi idealis yang mati-matian ingin menumpasnya, antagonis atau protagonis, kalau perlu, menyusup jadi salah satu dari mereka. Traitor characters from both sides. Fedora, rompi, jas panjang dan senjata-senjata submachine guns keren. Lovely loyal wife. Cewek cantik dan seksi diantara hukum dan kejahatan, mostly asDamsels In Distress’. Mobil antik. Remarkably old sets. Badges. And many more. Name all.

Gang19

        So, kalau sesekali semua itu diarahkan jadi homage yang sangat pop tanpa berserius-serius membelit plot atau dialognya, tapi bukan juga parodi atau komedi, apalagi sekarang pendekatan ‘meta’ sedang hangat-hangatnya jadi trend, tak salah juga kan? Ah, anyway, if you’ve seen one of its 90s kind, ‘Mobsters’, you won’t lose track toGangster Squad’. Tergantung ekspektasi, and even the worst parts in any genres, cliche ones, bisa jadi sebuah meta dari penggunaan-penggunaan referensi yang ada. ‘Cabin In The Woods’ pun sudah melakukannya bagi genre horor dengan sentilan. Baiknya, jangan sekali-sekali percaya pada kritikus serius dengan kadar cerewet tomat busuk. Bagi mereka, kedangkalan tematik, adalah sebuah failure. Tapi bagi penonton lain, those styles over substance, is a celebration. Dan ‘Gangster Squadis all about that. Bukan film serius, atau mencoba jadi serius. Poster, termasuk font dan juga trailer-nya saja, sudah menyiratkan itu.

Gang17

           Ber-setting di tahun ‘40an pasca PD II, Mickey Cohen (Sean Penn) owns Los Angeles. Mafia kelas kakap yang terus mengembangkan bisnis underworld-nya, dan punya segudang pendukung baik di pemerintahan sampai ke polisi di tiap distrik. Kekuasaannya membuat gerah kepala LAPD Bill Parker (Nick Nolte) yang kemudian membentuk divisi rahasia di bawah pimpinan polisi jujur Sersan O’Mara (Josh Brolin) untuk merekrut anggota-anggotanya. Walau dikhawatirkan sang istri, Connie (Mireille Enos) yang kemudian malah membantunya dalam keputusan rekrutmen itu, O’Mara lantas memilih anak buah sekaligus sahabatnya, womanizer perlente Jerry Wooters (Ryan Gosling) yang terlibat hubungan backstreet dengan pacar Cohen, Grace Faraday (Emma Stone), officer Coleman Harris (Anthony Mackie), petugas ahli penyadap Conway Keeler (Giovanni Ribisi), serta jago tembak tua Max Kennard (Robert Patrick) beserta partnernya, rookie Navidad Ramirez (Michael Peña) yang memaksa ikut bergabung. Misi mereka mengobrak-abrik kerajaan Cohen yang sangat licin ini pun dimulai. Dengan resiko apapun. No names. No badges. No mercy. All in the name of law.

Gang2

       See how easy that plot is. Itulah ‘Gangster Squad’, dibalik skrip adaptasi bebas dari  ‘Tales From The Gangster Squad‘, artikel ber-seri L.A. Times karya Paul Lieberman yang ditulis seorang LAPD homicide detective turns writers, Will Beall, yang dalam waktu singkat sudah dikontrak untuk menulis skrip ‘Justice League’ dan rebootLethal Weapon’ setelah ini. Pengalaman pribadi Beall mungkin membuatnya sangat leluasa bicara tentang seluk-beluk masalah kriminal, mafia dan kepolisian. Apalagi, tendensinya memang bukan buat berserius-serius. Tak ada konflik dan karakterisasi mendalam, semua tokohnya tergambar dengan komikal, pun tanpa dialog yang mencoba sedikit kelihatan lebih cerdas. Bahkan, penekanan over-nya memenuhi seluruh film untuk membangun intensitas seru-seruannya. One on one muscle fights, shootouts, explosives, dan kadar gory-ness yang lumayan dengan muncratan darah disana-sini. You’ll find heroes that couldn’t get shot biar dihujani ratusan peluru dan ledakan, sampai adegan melahirkan di tengah-tengah penembakan. Dengan sisipan-sisipan komedi pula. Begitupun, penggarapannya bukan juga asal-asalan. Set Los Angeles ‘40an-nya benar-benar dibangun dengan authentic taste dari tim art dan production design Maher Ahmed, termasuk kabarnya adegan penembakan dalam Kodak Chinese Theatre yang terpaksa di-cut akibat kasus penembakan Aurora, Colorado, tempo hari, mengakibatkan jadwal rilisnya tertunda dari September 2012 ke Januari 2013 untuk di-syut ulang.

Gang6

         Dan kekuatan jualan utamanya jelas ada pada ensemble cast yang dari tampilan posternya saja sudah sangat menarik. Sean Penn, seperti biasa, tampil pas di peran-peran keras dengan makeup prostetik menokohkan Mickey Cohen yang diilhami dari karakter asli mafia terkenal di Los Angeles era itu. Ryan Gosling sebagai penarik penonton wanita di tengah sosok perlentenya dengan suara lembut ala 40-50’s idol, ladykiller dengan kadar gallant yang cenderung kemayu, bersama Emma Stone yang dibatasi di karakter damsels in distress-nya itu sebagai pemanis. Pendukung lain juga cukup mencuri perhatian dibalik karakterisasi mereka, dari Anthony Mackie, Michael Peña, Giovanni Ribisi, Nick Nolte sampai Robert Patrick yang tampil paling menarik diantara mereka. Namun kredit terbesar harus diberikan pada Josh Brolin. Terlihat bagai Lee Marvin atau Nick Nolte muda di film-film straight action mereka, Brolin tampil solid dan intens menunjukkan kualitas badass-nya.

Gang4

           But the best thing aboutGangster Squadis they never did try to look any smarter diggin’ all those cliche elements from its genre. Ketimbang berserius-serius membangun plot, dialog dan tetek-bengek pendalaman yang lain, Beall bersama sutradara Ruben Fleischer yang sudah melakukan geberan penuh referensi dibalik faktor hiburan-nya di ‘Zombieland’, malah membidik unsur-unsur paling klise dari genre ‘Gangster Movies’ ini, hampir tanpa kompromi. Bagaikan versi contemporary jazz dari ‘The Untouchables’, if you consider it a standard jazz, bahkan lebih ringan dari ‘Public Enemies’ atau ‘Mobsters’ sekalipun, but with more punches, bullets and explosions. So, tak usahlah mengharap macam-macam. ‘Gangster Squad’, memang murni sebuah hiburan. Just enjoy the bold rounds of action, and feel the celebration of this genre! (dan)

Gang16

Gang1

~ by danieldokter on January 12, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: