LES MISÉRABLES : AN EXPERIENCE BEYOND WORDS

LES MISÉRABLES

Sutradara : Tom Hooper

Produksi : Working Title Films,  Cameron Mackintosh Ltd, Universal Pictures, 2012

LM16

            Diangkat dari novel legendaris Victor Hugo di tahun 1862, tak hanya belasan adaptasi film sejak awal 1900-an, versi pertunjukan musikalnya juga sudah menghasilkan fenomena monumentalnya yang bahkan lebih besar lagi melampaui status klasik novel aslinya. It’s one of the longest running musicals ever, dari original French Production, London, Broadway, hingga internasional ke lebih dari 20 bahasa, yang masih terus di-revival hingga sekarang. ‘Les Misérables’ versi 2012 ini sendiri merupakan adaptasi dari pertunjukan musikal itu, yang sudah direncanakan melewati beberapa dekade, dari 1980, namun baru terlaksana sekarang. Yang masih diingat penonton kita mungkin adaptasi novel versi 1998-nya, dari sutradara Bille August dengan cast Liam Neeson, Geoffrey Rush dan Uma Thurman. Adaptasi yang bagus, namun kehilangan beberapa esensi, bagian dan karakterisasi penting dari novel atau musikal yang lebih dikenal banyak orang itu, secara ‘Les Misérables’ memang bicara tentang redemption dan pembebasan di tengah konflik penuh penderitaan karakter-karakternya sesuai judul itu, lebih dari persteruan dua karakter utamanya ; Jean Valjean dan Inspector Javert, lovestory serta tema perjuangan dan kekacauan sosial dengan latar Revolusi Perancis novelnya.

LM11

       Versi 2012 ini langsung diproduseri Cameron Mackintosh Productions yang juga produser versi Inggris dan Broadway-nya, dengan skrip besutan William Nicholson bersama trio penulis musikal aslinya, Claude-Michel Schönberg (musik) dan Alain BoublilHerbert Kretzmer (lirik). Bahkan pemeran Valjean serta Éponine dalam musikal London dan Broadway aslinya, Colm Wilkinson dan Frances Rufelle, juga ikut di-cast. Dan sutradara Tom Hooper (‘The King’s Speech’) memindahkan musikal itu ke layar lebar dengan kesetiaan penuh sampai ke ‘sung-through’ dialognya yang hampir semua berupa line-line yang dinyanyikan. Hampir seluruh lagu dalam musikalnya tetap digunakan, namun sebagian besarnya dikomposisi ulang bersama sebuah lagu baru yang ditulis khusus untuk adaptasi ini, ‘Suddenly’, yang juga masuk dalam nominasi Best Original Song untuk Oscar 2013. Bukan ini tak memiliki resiko, karena selain pemilihan cast yang harus memiliki kemampuan bak pemain opera, audiens di luar fans musikal-nya juga tak akan seluruhnya bisa langsung merasa akrab. Namun Hooper memang bersikeras, penyampaian musikal secara total akan lebih efektif ke storytelling-nya. Di sisi lain, ini justru jadi letak kekuatannya sebagai adaptasi ‘Les Misérables’ yang beda. Apalagi, sejak teaser trailer-nya di-launch dengan penggalan scene Anne Hathaway menyanyikan nomor paling terkenalnya, ‘I Dreamed A Dream’ dengan penjiwaan sangat mengagumkan, termasuk merelakan rambutnya dipotong pendek, hype-nya pun semakin besar.

LM1

           Dibebaskan dari hukuman 19 tahun akibat mencuri roti dengan persyaratan wajib lapor oleh polisi pengawas, Javert (Russell Crowe) yang membencinya, terpidana Jean Valjean (Hugh Jackman) yang terus-menerus terusir ditolong oleh seorang Uskup (Colm Wilkinson) yang memberikannya makanan dan penampungan. Valjean yang lantas malah mencuri barang-barang perak sang Uskup lantas tertangkap oleh polisi, dan lagi-lagi Sang Uskup memaafkannya dengan membohongi polisi, membiarkannya memiliki barang curian itu dibalik sebuah janji bahwa Valjean harus bersedia mengubah hidupnya. Valjean yang tersadarkan oleh niat baik itu lalu melupakan persyaratan lapornya, mengubah identitasnya hingga menjadi seorang walikota terhormat pemilik pabrik di sebuah daerah kecil di Perancis. Namun 8 tahun berselang, kala Javert yang sudah menjadi inspektur polisi menyambangi kotanya, Valjean lagi-lagi harus melarikan diri.

LM10

Bukan hanya karena penyelidikan Javert yang awalnya meragukan ingatannya pada Valjean, namun ia berada dilema antara ingin berbuat benar mengakui identitasnya atas tertangkapnya seorang gelandangan yang diadili karena pelariannya, sementara salah satu pekerja pabriknya yang terusir dan terpaksa menjadi pelacur jalanan demi mengirim uang pada putrinya yang jauh, Fantine (Anne Hathaway) membuat Valjean merasa bertanggung jawab, terlebih saat Fantine meninggal secara mengenaskan. Melarikan diri dari Javert yang terus bersumpah untuk menangkapnya, ia pun menjemput putri Fantine, Cosette (Isabelle Allen) dari rumah penampungan pasangan licik Thénardier (Sascha Baron Cohen & Helena Bonham Carter) dengan putri mereka, Éponine (Natalya Wallace) dan memulai hidup baru bersama Cosette yang dicintainya seperti anaknya sendiri. 9 tahun kembali lewat, dan Valjean kini berada di tengah-tengah perjuangan revolusi mahasiswa melawan tirani pemerintah di Paris. Cinta Cosette dewasa (Amanda Seyfried) pada salah satu mahasiswa itu, Marius Pontmercy (Eddie Redmayne), yang juga dicintai Éponine (dewasanya diperankan Samantha Barks) membuat Valjean terpaksa terjun ke tengah perang demi menyelamatkan Marius. Dan takdir mempertemukannya kembali dengan Javert yang masih terus terobsesi untuk meringkusnya.

LM15LM6

            Way beyond words, Tom Hooper dan timnya ternyata berhasil menyajikan sebuah adaptasi sinematis yang luarbiasa dari karya musikal legendaris ini. Tak hanya kesan kolosal dibalik production design berskala grande, sinematografi Danny Cohen (‘The King’s Speech‘), set artistik, tata kostum hingga tata riasnya yang tertata dengan detil dari rentang waktu panjang kisahnya, ’sung-through musicalstyle-nya juga tampil dengan komposisi musikal sangat megah. Kombinasi lirik dan musik yang direkam secara live recording (jarang-jarang untuk sebuah musikal ; bukan lyp-sinc) untuk memberikan kesan raw tapi lebih spontan itu pun sangat berhasil memberi penekanan emosi lebih dari kekuatan baris-baris dialog, dan barisan cast-nya juga benar-benar bersinar menerjemahkan baris demi baris lirik itu membawa re-tellingLes Misérables’ dalam durasi lebih dari dua jam menjadi tontonan yang sangat memikat, tanpa sekalipun gagal menyampaikan esensi utama dari plot berlapis penuh konflik yang masing-masing menggambarkan beban berat dibalik penderitaan masing-masing karakternya mencari jalan ke bentuk-bentuk pembebasan yang berbeda. Bahkan karakter-karakter tambahannya, dari Enjolras (Aaron Tveit), pemimpin pemuda revolusi hingga bocah kecil Gavroche (Daniel Huttlestone) yang mengalami perombakan karakter dari novel, sebagian musikal ke versi filmnya juga terasa cukup efektif masuk ke dalam plotnya dan mencuri perhatian atas penampilan mereka.

LM2

            Hugh Jackman dan Anne Hathaway muncul paling menonjol menunjukkan kombinasi akting dan kemampuan bernyanyi mereka dengan penghayatan penuh. Sementara Amanda Seyfried yang sebelumnya sudah menunjukkan kepiawaiannya bernyanyi dalam ‘Mamma-Mia’, walau tampil tak terlalu banyak, ber-chemistry cukup bagus dengan Eddie Redmayne, aktor muda yang kelihatannya belakangan ini cukup jeli memilih peran, dan bisa membawakan part musikalnya dengan baik. Sascha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter juga memberikan touch komikal yang sangat menyegarkan dibalik karakter keluarga Thénardier yang jadi salah satu highlight di pertunjukan musikalnya. Namun yang benar-benar menjadi scene-stealer diantara mereka adalah Samantha Barks. Mengalahkan banyak kandidat untuk peran Éponine, diantaranya ada Lea ‘Glee’ Michelle, Scarlet Johannson dan Taylor Swift, Barks yang memang penyanyi dan pernah tampil dalam peran yang sama di ‘Les Misérables 25th Anniversary Concert’ (2010) tampil ekspresif dibalik keindahan suaranya membuat karakter Éponine ini begitu melekat di benak penontonnya.

LM7

            So, yang tertinggal hanya Russell Crowe. Dilatarbelakangi karirnya yang juga vokalis dari band rock-nya, ‘The Ordinary Fear Of God’ dan tentunya akting berkualitas Oscar, Crowe jelas bukan tak pantas di-cast sebagai Javert. Suara tipis namun punya kemampuan di nada-nada tinggi ala rocker-nya sebenarnya memberikan balance yang variatif diantara suara-suara vibra pendukung lain, terlebih lagi karena versi ini bukan dinyanyikan dengan gaya opera, namun sayangnya, di beberapa scene penting yang memerlukan emosi lebih, Crowe seakan tak seimbang dengan Jackman yang intensitas aktingnya kelewat luarbiasa disini. Walau aslinya karakter Javert hanya dibatasi garis tipis dibalik motivasi karakternya sebagai tokoh antagonis, Crowe seringkali terlihat terlalu lembut menyajikan ekspresi terhadap ambiguitas itu, terlebih di sebuah scene akhir yang harusnya bisa jauh lebih dramatis. Sayang sekali.

LM12

            But however, note this. Bahwa dibanding musikal-musikal lain, ‘Les Misérables’ dengan jumlah lagu, karakter serta rentang waktu panjang dan perpindahan set-nya, memang punya faktor kesulitan jauh lebih besar.  Apapun kekurangan-kekurangan kecil termasuk tampilan musikalitas lewat live recording yang memang beresiko tak sempurna namun bagi sebagian orang lebih spontan dalam penyampaian emosi itu, ‘Les Misérables’ musikal versi layar lebar ini sudah menunjukkan keberhasilan luarbiasa dalam meng-handle kerumitan yang tak terbayangkan bisa tertuang ke sebuah adaptasi dari versi aslinya. Being a very powerful adaptation of that beloved musical, one of the all time’s best, I’d say, this is an experience beyond words! (dan)

LM13

~ by danieldokter on January 13, 2013.

One Response to “LES MISÉRABLES : AN EXPERIENCE BEYOND WORDS”

  1. […] LES MISÉRABLES – Tim Bevan, Eric Fellner, Debra Hayward and Cameron Mackintosh […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: