A GOOD DAY TO DIE HARD : WHY JOHN MCCLANE’S A JOHN MCCLANE

A GOOD DAY TO DIE HARD

Sutradara : John Moore

Produksi : Dune Entertainment, Media Magik Entertainment, Origo Film Group, 20th Century Fox, 2013

DH14

            Unless you’re a true fan of ‘Die Hard’, not many of you might know this. Bahwa dalam pengembangan 4 sekuelnya sebagai Hollywood’s action franchise yang solid serta sebuah trendsetter, dari komik ke videogames, instalmen-instalmen film ‘Die Hard’ tak pernah punya skrip dengan source orisinilnya sebelum ini. Thus, karakter Bruce Willis yang sama legendarisnya itu, John McClane, tak pernah ada dalam source-source aslinya. ‘Die Hard’, who started the phenomena without warnings, diangkat dari novel ‘Nothing Lasts Forever’ karya Roderick Thorp, awalnya dimaksudkan jadi sekuel dari ‘The Detective’ yang diangkat dari novel Thorp dengan karakter sama yang sebelumnya diperankan Frank Sinatra, selain sempat juga direncanakan jadi sekuel ‘Commando’-nya Arnold Schwarzenegger. ThenDie Hard 2 : Die Harder’ diangkat dari novel ’58 Minutes’ karya Walter Wager, ‘Die Hard With A Vengeance’ dibuat berdasar skrip ‘Simon Says’ karya Jonathan Hensleigh yang awalnya dimaksudkan jadi sekuel keempat ‘Lethal Weapon’, dan ‘Live Free Or Die Hard’ diangkat dari skrip berdasar artikel ‘A Farewell To Arms’ karya John Carlin untuk Wired Magazine yang berjudul ‘WW3.com’ oleh John Marconi.

DH2

            So maybe it’s time, bagi franchise ini untuk punya skrip orisinilnya sendiri. Skip Woods, penulis ‘Swordfish’, ‘X-Men : Wolverine’, ‘Hitman’,  ‘G.I. Joe : Rise Of The Cobra’ dan ‘The A-Team’ pun didapuk bersama sutradara John Moore dari ‘Behind Enemy Lines’, ‘Flight Of The Phoenix’, ‘The Omenremake dan ‘Max Payne’. Mereka memang tak sedang membidik sekuel berkualitas award, tapi menyambung benang merah-benang merah yang berjasa membesarkan jiwa karakter dari franchise ini. Jadi kiprah Woods dan Moore di sejumlah film dengan aura aksi yang kental itu agaknya cukup memenuhi syarat. Konsep ‘the wrong man in a wrong place at the wrong time’ bagi karakter John McClane yang sangat bisa dikembangkan sangat luas dengan tetap mempertahankan elemen-elemen wajibnya, walaupun timeline dan karakternya sudah berkembang kemana-mana.

DH4

            Sekarang, John McClane harus menghadapi situasi yang sama di tempat berbeda. Terperangkap diantara konspirasi dua orang teroris Rusia, Yuri Komarov (Sebastian Koch) dan Chagarin (Sergei Kolesnikov) atas kasus kebocoran radiasi nuklir dalam eksperimen mereka di Chernobyl, sambil berusaha menyelamatkan anak laki-lakinya, Jack McClane (Jai Courtney), yang menyimpan sebuah rahasia di tengah-tengahnya, ia pun harus sekali lagi menggunakan kemampuan destruktifnya buat bisa keluar hidup-hidup bersama Jack. Dari gedung, bandara, New York dan Washington DC, kini giliran Moskow yang dibuat porak-poranda oleh ulah McClane. Dari kebut-kebutan Mercedes-Benz – G Wagen vs. MRAP (Mine-Resistant Ambush Protected) di tengah jalan raya Moskow hingga helicopter aerial stunts di tengah-tengah ChernobylExplosive. Just like any other ‘Die Hard’ franchise.

DH7

            Now let me ask you. Fans atau bukan fans, apa yang jadi ekspektasi Anda ketika datang ke bioskop untuk menyaksikan franchise ini? Name it. Action, dan kalaupun ada yang lain, tentu segmented ke fans-nya, bahwa mereka sekali lagi ingin menyaksikan John McClane sebagai ‘the wrong man in the wrong place at the wrong time’. Motivasinya bisa berbeda, but mostly, family. Dan disini, skrip Skip Woods memunculkan Jack McClane yang lebih mewarisi karakter the other McClane junior ketimbang anak perempuannya, Lucy yang diperankan Mary Elizabeth Winstead dalam ‘Live Free Or Die Hard’ dan ikut tampil singkat disini. Apalagi, Jai Courtney yang naik daun dari serial TV ‘Spartacus : Blood & Sand’ diikuti ‘Jack Reacher’, memang sedikit punya similaritas bentuk dengan Willis, ber-chemistry dengan baik selain tentunya gestur yang kokoh sebagai action hero. But the plot, anyway, sejauh tetap menampilkan kekacauan akibat salahpaham ini dan itu dari keberadaan McClane, mostly in one day sets, sungguh bukan sesuatu yang layak dinilai dengan anggapan dangkal, predictable atau segala macam. Oh come on, tak pernah ada orang yang menilai instalmen-instalmen ‘Die Hard’ jadi bagus karena plot atau twist-twist-nya, biarpun ‘Die Hard With A Vengeance’ pernah menampilkannya secara lebih detil. Tak juga di masalah lokasi. Mau Moskow, Atlantis atau luar angkasa sekalipun, asalkan penerjemahan ‘at the wrong place’-nya terwakili, sah saja.

DH1

            But ok, ada benarnya juga, dari elemen-elemen wajibnya yang tipikal, memang ada unsur yang tak cukup terpenuhi disini, bahwa villain instalmen-instalmen-nya yang jadi center buat pengembangan kekacauan dalam plotnya, juga harus punya kualitas lebih. Harus diakui, meski sudah dibantu oleh beberapa dialog dramatis dan twist yang tak terlalu spesial bahkan cenderung klise, ‘A Good Day To Die Hard’ tak punya itu. Di tangan Sebastian Koch, aktor Jerman yang sangat dikenal lewat ‘Black Book’ dan ‘The Lives Of Others’, karakter Komarov tak bisa menyaingi kualitas villain-villainDie Hard’ sebelumnya, sekalipun William Sadler di ‘Die Hard 2’ yang masih terbantu dengan kehadiran Franco Nero. Pemeran putrinya Irina, Yuliya Snigir pun tak mampu berbuat banyak kecuali mencuri perhatian sebatas paras cantik dan tubuh seksinya, dan begitu pula tampilan algojo-algojo antagonisnya yang tak diberi kesempatan lebih kecuali mungkin satu yang diperankan oleh Radivoje Bukvic. Dan sejak karakter pendampingnya yang biasanya juga punya dayatarik lebih sudah terwakilkan oleh Courtney, no wonder then, penampilan Cole Hauser yang sebenarnya cukup dikenal jadi terasa sia-sia.

DH9DH12

            So, kalau faktor ini akhirnya menimbulkan kekecewaan bagi sebagian pemirsanya yang sudah mengenal what ‘Die Hard’ franchise was all about, apa boleh buat. However, semua itu sebenarnya ada di lini kedua kekuatan franchise-nya. Yang terpenting adalah gelaran action dengan faktor hi-tech yang semakin menanjak di setiap instalmennya. Bahwa kualitas destruktif seorang McClane, apalagi di dua instalmen terakhir didampingi junior yang berbeda, berhasil ditampilkan dengan inovasi-inovasi action scene yang baru dan tak repetitif. ‘A Good Day To Die Hard’, jelas punya itu. G-Wagen vs. MRAP chase along the streets of Moscow yang harus diakui, sangat-sangat monumental, nonstop showdown sepanjang durasi hingga klimaks aerial stunts eksplosif bersama jargon ‘Yippee-ki-yay, mother fucker’-nya, yang disini juga jadi tambah seru dengan scoring Marco Beltrami, sepanjang tetap mampu membuat adrenalin penontonnya terpicu sambil menggumamkan sesuatu dari mulut mereka untuk menunjukkan excitements, itu artinya bagus. Well, the rest, adalah pengenalan wajib tentang siapa McClane. Dan lagi-lagi, ‘A Good Day To Die Hard’ sudah cukup menggambarkan kesetiaan penuhnya di elemen paling wajibnya ke tema ‘the wrong man in the wrong time at the wrong place’ tadi. Inilah yang paling penting tertuang dalam instalmennya. Why John McClane’s a John McClane. And for that, sulit untuk mengatakan instalmen kelima ini sebagai sebuah kegagalan. The blast might be from the past, apalagi dengan usia Willis yang tambah menua. But let’s just say, the sparks, forever stay. Yes, ini belum cukup. We still need another ‘Die Hard’. (dan)

DH13

~ by danieldokter on February 7, 2013.

3 Responses to “A GOOD DAY TO DIE HARD : WHY JOHN MCCLANE’S A JOHN MCCLANE”

  1. Pantas saja tidak ada promo gencar film ini afaik. Saya kira pembuatnya udah nyadar it’s gonna suck. Waktu saya baca sinopsis saya sudah agak kuatir. Waktu liat trailer di utube, kekuatiran saya makin bertambah. setelah baca review bang Daniel saya pun semakin ragu. Lalu saya buktikan sendiri. This is not Die hard. Nggak pantes masuk serial Die Hard. For me, Die Hard should not only about action. Ini cuman spt video game, atau mungkin memang generasi penonton skrg prefer it that way? bang2 boom2? Gone all the grittiness and thrill we experienced in the previous trilogy, even from the 4th one. Tidak ada John McClane yg ketakutan, panik, stress, murka, atau babak belur. Ini seolah2 jadi Super McClane. Di franchise sebelumnya, McClane selalu dalam keadaan kepepet sampai2 penonton pun mikir “bgmn bisa menang?” Berjuangnya pun selalu susah payah. ketegangan itu terbangun terus. Di sini? McClane petentang petenteng dari US lalu “ngacak2” kampung orang? begitu mudah dapat senjata berat? Seandainya film ini ga bawa2 Die Hard, mungkin baru terasa menghibur. The scriptwriter should be nuked.

  2. Mas Daniel. Saya suka dg review Anda.
    Tapi akhir2 ini saya terganggu dg cara penulisan Anda yang pake huruf kapital semua. Pusing bacanya lho dan kesannya Anda lagi berteriak2..

    • Ahaha. Saya jg baru ngeh nih. Di PC tulisannya banyak yg blg terlalu kecil jd font headingnya saya naikin satu ukuran. Ternyata di smartphones dan tablet tampilannya jd huruf kapital semua🙂. Ill try working that out. Thanks ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: