THE TOWER (타워) : K-MOVIE CLICHÉ BEYOND AWESOME TECHNICAL ACHIEVEMENT

THE TOWER (타워)

Sutradara : Kim Ji-hoon

Produksi : The Tower Pictures, CJ Entertainment, 2012

tower2

            Di luar beberapa yang lari dari jalurnya, masing-masing perfilman suatu negara itu punya ciri khas-nya. Bagus atau tidak, mencerminkan budaya atau tidak, ini lebih ke sebuah pattern. Dan disana juga sinema Korea menemukan jati dirinya untuk bisa jadi arus mainstream yang disukai banyak orang bahkan mendunia. Mengadaptasi banyak unsur-unsur luar termasuk Hollywood, yang untungnya bisa dikejar mereka dari sisi teknis dan kemajuan teknologi, berikut banyak pola-pola sinema Asia yang kuat di melodrama. Tentu tak ada yang salah dengan ini. Namun, seperti kebanyakan sinema Asia, mereka juga sering tak bisa menghindari sempalan komedi yang kadang mubazir bahkan merusak. However, secara sasaran arus mainstream ini adalah selera penonton kebanyakan, bukan kritikus serius, yang datang ke bioskop demi sebuah hiburan lengkap, bisa membuat mereka sedih sekaligus senang, racikannya tak pernah dipandang jadi kesalahan fatal. Yang penting, mau menjual tampang-tampang pelawak sekalipun, mau menurunkan pace ketegangan atau se-tak relevan apapun, komedi itu tetap harus bisa memancing tawa. Emosi campur aduk yang seringkali jadi kunci sukses sebuah film. Kenyataan.

tower13

            And here comesThe Tower’, yang lagi-lagi menunjukkan bahwa dari skala produksi dan pencapaian teknisnya, mereka tak kalah dengan Hollywood. Dibesut sutradara Kim Ji-hoon dari horor ‘May 18’ dan ‘Sector 7’ yang juga punya keunggulan di faktor teknis itu, ‘The Tower’, walau bukan official remake, diakui Ji-hoon sebagai ‘inspired product’ dari disaster klasik Hollywood-nya John Guillermin dan Irwin Allen, one of their masters, ‘The Towering Inferno’ (1974) yang sangat terkenal dengan ensemble cast dan juga salah satu pionir di genre-nya. Tak heran, salah satu sourceThe Towering Inferno’ yang diangkat dari dua novel ‘The Tower’ dan ‘The Glass Inferno’ juga sekaligus diambil jadi judulnya. Blockbuster yang pastinya akan sangat menjual, mencampurkan genre disaster penghancuran sebuah gedung dengan sisi melodrama yang lengkap dari karakter-karakternya. Seperti ‘The Towering Inferno’, you’ll be having it all. Jagoan-jagoan firefighters, single father and a beauty love interest yang berjuang demi keselamatan anaknya, lovers, struggling mothers and a bunch of families. Dan balutannya dengan efek spesial yang digarap dengan serius, jelas adalah sebuah cinematic power yang sangat menjelaskan kehebatan film mereka.

tower12

            Di sebuah pesta malam natal yang mempertontonkan teknologi canggih di atas Tower Sky, Seoul, pencakar langit mewah 108 tingkat, kekacauan itu terjadi. Pasalnya, helikopter yang bertugas melemparkan salju ke tengah-tengah puncak pesta terseret angin menabrak gedung dan menyebabkan kebakaran besar, sementara sistem pipa air pengaman kebakaran yang mengalami kerusakan tak ditanggapi pemilik gedung (Cha In-pyo). Ratusan korban yang terperangkap dan terluka mulai panik bersama api yang semakin membesar dan tak punya jalan lain buat dihentikan. Di tengah-tengah bencana ini, manager gedung Lee Dae-ho (Kim Sang-kyung) berusaha menemukan putrinya Ha-na (Jo Min-ah) saat terpisah bersama manager restoran Seo Yoon-hee (Son Ye-jin) yang baru menjalin hubungan dengannya, sementara petugas senior pemadam kebakaran Kang Young-ki (Sol Kyung-gu) dengan berani mengorbankan malam natal bersama keluarganya untuk memimpin regunya mengevakuasi korban selamat sejauh mana mereka bisa. An act of bravery. A hope for survival.

tower1

            Anyone who have seenThe Towering Inferno’ pasti bisa merasakan banyak kesamaan dalam ‘The Tower’, mulai dari tahapan-tahapan penghancuran gedung hingga ke karakter-karakter kecilnya. Namun inilah kreatifitas sineas Korea. Dalam template-template serupa, mereka membuat kritikus serius sekalipun akan  terdiam melihat rombakan-rombakan perubahannya, and mostly, bagaimana proses-proses penciptaan emosi yang beda itu dibangun dengan style khas mereka. Di tangan Ji-hoon, kombinasi karakter-karakter ini cukup berhasil menampilkan racikan campur aduk itu dengan lapisan emosi yang berbeda tanpa harus mencoba lebih untuk menempatkan filmnya keluar dari ranah blockbuster hiburan. He made us feel and care to the main characters, tersentuh terhadap interaksi mereka di banyak adegan, turnover-turnover manusia biasa yang terpaksa melakukan tindakan heroik di tengah usaha-usaha survival, termasuk pada konklusi masing-masing karakternya di penghujung film, meski sebagian besar jelas tertebak.

tower9

            Namun jangan tanya masalah klise-klise tipikal sinema Korea. Seperti penulis skrip dengan visi hiburan murni yang seenak perutnya memainkan nasib karakternya, begitu jugalah ‘The Tower’. At many times, meski keakuratan sains dibalik tema disasternya masih terasa cukup cermat, tapi nasib para karakternya digagas dengan brainless. Bukan berarti deretan cast-nya tak bermain bagus terutama Sol Kyung-gu (‘Public Enemy’), Kim Sang-kyung (‘Memories Of Murder‘) dan Son Ye-jin (‘A Moment To Remember’) yang memegang peran utama dengan chemistry cukup baik. But  like a kid playing toy soldiers, mereka bebas menjatuhkan dan mendirikan mana yang disuka. However, dalam konteks pop blockbusters, ini sama sekali tak membuat ‘The Tower’ jadi jelek. Hanya sayang sempalan beberapa adegan komedi yang tak pada tempatnya berikut sorotan terhadap beberapa karakter tak penting sedikit menurunkan pace dalam intensitas ketegangannya. Let’s just say, mereka tahu memberikan apa yang diinginkan penontonnya, lewat thrill-thrill dalam karakterisasi tokoh-tokoh sentral serta highlight di beberapa adegan seru dari lift meledak terjun bebas hingga penghancuran skywalk glass bridge yang bisa memicu emosi yang diharapkan.

tower8

            And then again, let’s realize apa yang kita inginkan ketika melangkah ke bioskop demi sebuah disaster movie dalam skala produksi sebesar ini. Ji-hoon bersama krunya memang menggagas sisi teknis ‘The Tower’ sama sekali tak main-main. Like a giant rollercoaster ride on fire, mereka membangun 26 set untuk dua blok pencakar langit itu, dari ribuan sekuens berpoles CGI, miniatur skyscraper hingga sebuah kontainer raksasa untuk adegan yang melibatkan kobaran api, peledakan tangki air sampai gedung runtuh di tengah kota. Hasilnya pun sama tak main-main dalam memicu ketegangan. You’ll be amazed, berkali-kali berdecak kagum sambil menahan nafas, dan disitulah letak keberhasilan ‘The Tower’ membawa genre ini kepada penontonnya. Full of K-movie cliché, but gripping beyond awesome technical achievement! (dan)

tower7

~ by danieldokter on February 12, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: