DJANGO UNCHAINED : TARANTINO UNLEASHED

DJANGO UNCHAINED

Sutradara : Quentin Tarantino

Produksi : A Band Apart, The Weinstein Company, Columbia Pictures, 2012

django14

            Selain Clint Eastwood lewat ‘Man With No Name Trilogy’-nya (‘A Fistful Of Dollars’, ‘For A Few Dollars More’ dan ‘The Good, The Bad and The Ugly’), genre Koboi Itali atau Spaghetti Western identik dengan nama ‘Django’. Karakter yang dihidupkan oleh sutradara/scriptwriter Sergio Corbucci lewat aktor Franco Nero dalam ‘Django’ (1966) dengan nama terinspirasi dari gitaris jazz terkenal dengan disabilitas beberapa jarinya, Django Reinhardt, ini memang begitu melegenda tak hanya di Eropa, tapi juga seluruh dunia. Terhitung sudah puluhan rip-off  ataupun unofficial sequel-nya yang diproduksi berbagai negara Eropa, termasuk di perfilman kita lewat komedi Benyamin S., hingga akhirnya Corbucci membuat juga official sequel-nya di tahun 1987, ‘Django Strikes Again’ tetap dengan Franco Nero sebagai Django. Ciri khas-nya juga menginspirasi banyak western modern hingga sekarang. Namun yang diketahui banyak orang, selain sosok Franco Nero tentunya, adalah koboi jagoan yang membawa peti mati berisi senjata kemana-mana demi sebuah pembalasan dendam, atau menegakkan keadilan. However, se-legendaris apapun, status film-filmnya memang bukanlah masuk ke dalam award quality, tapi hanya sebatas cult movie yang malah banyak dianggap picisan oleh para kritikus.

django3

            Until 2012, seorang Quentin Tarantino mengubah semuanya. Dengan rencana remake yang sudah dipublikasi sejak jauh-jauh hari, Tarantino yang memang sangat menggemari genre-genre cult sebagai basis karyanya menghidupkan kembali karakter ini ke layar lebar. But wait. Ini bukan sebuah remake yang loyal meski elemen-elemen tribute bertaburan di dalamnya, termasuk dengan penampilan cameo Franco Nero. Lebih dari itu, Tarantino yang memang sering mengeksplorasi film-filmnya secara sakit jiwa, menggagas sesuatu yang jauh lebih gila. Nama karakter utamanya tetap Django, tapi ini adalah kombinasi referensi dari banyak genre serta film lain termasuk film-filmnya sendiri yang bahkan saling tak berkaitan. Sosok Django ditransformasi, bukan lagi koboi Italia, tapi menjadi seorang budak Afro-Amerika yang diperankan oleh Jamie Foxx setelah Will Smith melepas perannya. Dengan perubahan timeline di setting plotnya yang berpindah dari revolusi Meksiko ke era perbudakan deep south meski tetap dengan unsur old west. Supporting cast yang awalnya bertabur banyak nama tenar dari Kevin Costner, Kurt Russell, Sacha Baron Cohen, Joseph Gordon-Levitt yang urung tampil dengan berkali-kali rombakan skrip pun tak membuatnya gentar. Malah, Tarantino membawa derajat ‘Django’ ke kelas award dengan nominasi serta kemenangan-kemenangan yang diraihnya di festival-festival berkelas termasuk nominasi Best Picture Golden Globe dan Oscar. So yes. Kegilaan eskplorasi Tarantino membuat ‘Django Unchained’ benar-benar mengundang rasa penasaran.

django1

            Perkenalan Django (Jamie Foxx), seorang budak Afro-Amerika yang baru dibeli oleh Speck Brothers (James Russo & James Remar) dengan dokter gigi imigran  Jerman, King Schultz (Christoph Waltz) yang justru berprofesi sebagai bounty hunter, membawanya ke sebuah kehidupan baru. Bertualang membantu Schultz sebagai orang bebas sambil berusaha menemukan istrinya, Broomhilda (Kerry Washington) yang terpisah dalam pelarian mereka. Pencarian itu akhirnya berujung ke Mississippi, di perkebunan milik Calvin Candie (Leonardo DiCaprio) yang gemar mengadu budak-budaknya dalam pertarungan brutal ‘Mandingo Fights’, dimana semuanya meledak dibalik rentetan pembalasan dendam Django demi mendapatkan Broomhilda kembali ke sisinya.

django9

            Oh yes. I hate to say this, but being different to other remake movie cases, ‘Django Unchained’ justru menjadi sangat spesial dengan ketidaksetiaan terhadap source-nya. Pemindahan set ke era perbudakan itu sepertinya memang sudah digagas Tarantino sejak awal untuk menggelar kegilaannya mencampuradukkan rasa hormat terhadap seleranya sendiri terhadap genre-genre yang berbeda. Bukan saja memang ‘Django’ orisinil memang punya elemen perbudakan itu, termasuk yang lebih kuat lagi di sekuel 1987-nya, namun Tarantino memasukkan juga elemen-elemen dari ‘Mandingo’, sebuah epik perbudakan tahun 1975 yang dibintangi petinju profesional Afro-Amerika Ken Norton dengan nickname ‘Black Hercules’ dengan Perry King, hingga ‘Hercules Unchained’, 1959 sword and sandal epic untuk membangun atmosfer era itu, tanpa menghilangkan taste wild west yang berjalan sama kuat dengan referensi-referensi lain termasuk dari franchise official dan unofficialDjango’ sendiri, plus ‘The Great Silence’ sebuah snowblizzard spaghetti western Corbucci tahun 1968 yang dibintangi Klaus Kinski dan Jean Louis-Trintignant. Lantas seperti biasa, genre blaxploitations sebagai ciri khas film-film Tarantino kebanyakan. Serta seperti yang diakui Tarantino sendiri, sisi plot yang berjalan bak sebuah road movie through states dibalik vengeance theme itu juga sedikit banyak memasukkan tribute ke ‘bikers genre’, salah satunya ‘Angels Unchained’, biker cult movie Amerika tahun 1970 tentang bikers vs rednecks yang turut mengilhami judulnya. Karena itu juga mungkin Tarantino mengabaikan beberapa elemen penting dalam ‘Django’ seperti petimati berisi belt-fed machine gun yang cukup diterjemahkannya ke dalam wooden ‘hotbox’ tempat penghukuman budak (here, Broomhilda untuk menggantikan senjata kesayangan seperti istri itu), but if you did pay attention, tangan Django yang selalu jadi sasaran metafora disabilitas jazz guitarist inspirasi asli Django itu, cermat ditampilkan Tarantino lewat cameo Franco Nero. Let’s just say, pilihan-pilihan eksplorasi dengan referensi ini, kurang lebih, comes in balance.

django2

            Dan satu faktor terkuat ‘Django Unchained’ datang dari hasil kombinasi referensi dalam skrip itu. Dengan jahitan-jahitan koneksi yang cerdas, Tarantino juga memuat banyak elemen-elemen gila lainnya di dalam dialog-dialog yang sangat mencerminkan ciri khas nyeleneh-nya. Dari literatur klasik ‘The Three Musketeers’ (yang secara disengaja adaptasinya punya degree games ke Leonardo DiCaprio dan Christoph Waltz) dan author Perancis-nya, Alexandre Dumas yang kenyataannya punya seperempat darah budak Afro-Amerika dari sang nenek, hingga ke ilmu ‘Phrenology’, pseudoscience tentang otak dan tengkorak kepala manusia dan fonetik dibalik pengucapan Django yang jadi sangat ikonik buat film ini – The ‘D’ is silent. Ah, seperti singa lepas keluar kandang, Tarantino memang menunjukkan kejeniusannya membesut sebuah skrip yang benar-benar jagoan. Itu masih ditambah lagi dengan banyak tribute-tribute konektif ke film-filmnya sendiri, termasuk ciri khasnya menampilkan mindfuck factor dari karakter Zoe Bell (stunt double Uma Thurman di ‘Kill Bill’), wanita misterius bertopeng yang seakan sengaja dibuat mengambang dibalik, kabarnya, perombakan skrip.

django7

                Hingga ke desain kostum dan OST-nya, ‘Django Unchained’ dipenuhi banyak referensi-referensi berbeda seperti lukisan terkenal ‘The Blue Boy’ (1770) karya Thomas Gainsborough untuk blue suit Django, ‘Bonanza’, ‘Gone With The Wind’, ‘Miami Vice’ sampai ‘Kojak’ plus kacamata bulat yang diambil dari western Charles Bronson, ‘The White Buffalo’, sementara OST itu berisi nomor-nomor dari OST film-film western klasik seperti ‘Two Miles For Sister Sara’, ‘The Day Of Anger’, nama-nama legendaris seperti Ennio Morricone dan Luis Bacalov yang juga tampil dengan theme song asli ‘Django’ yang dibawakan oleh Bacalov bersama Rocky Roberts. Masih ada pula komposisi-komposisi klasik dari Beethoven (‘Fur Elise’), Verdi (‘Requiem’), country star Johnny Cash, RZA’s rap, John Legend hingga score ‘Nicaragua’-nya Jerry Goldsmith dan Pat Metheny dari ‘Under Fire’-nya Roger Spottiswoode, yang lagi-lagi, seperti kombinasi playlist sesuka hati tanpa rentetan benang merah jelas, namun bergabung jadi sebuah kekuatan tak main-main dalam memberi emosi di tiap scene-nya.

django16

            Ensemble cast juga menjadi faktor yang sangat tak adil untuk tak mendapat pujian buat keberhasilannya. Jamie Foxx, while on one side benar-benar tak seperti Django yang diinginkan banyak orang, menunjukkan keberanian totalnya di inverse full-frontal nude scene yang menghebohkan itu, Kerry Washington, Walton Goggins, plus Don Johnson, Bruce Dern, Dennis Christopher dari Oscar’s ‘Breaking Away’ dan ‘Chariots Of Fire’, James Russo, James Remar (in double role), Michael Parks yang langganan di film-film Tarantino, Russ Tamblyn dari ‘Son Of A Gunfighter’ bersama putrinya Amber Tamblyn, Don Stroud, Zoe Bell, Robert Carradine, cameo Franco Nero and even Jonah Hill in a very minor role berikut Tarantino sendiri, semua jadi penghias menarik . Tapi tak ada yang lebih baik dari Samuel L. Jackson, and mostly Leonardo DiCaprio dan Christoph Waltz yang sudah memenangkan banyak award lewat perannya sebagai Schultz dalam membuat ‘Django Unchained’ jadi begitu hidup.

django15

            So yes, durasi hampir 3 jam dengan seabrek perombakan skrip dan pertimbangan itu memang ditangani Tarantino dengan kecermatan luarbiasa di semua elemennya. With never a dull moment slavery western campur aduk berujung ke showdown climax, a bloodbath gorefest tanpa kompromi yang luarbiasa serunya, Tarantino sudah melahirkan lagi sebuah karya klasiknya. A crazy mash-up and a meta of many genres, ‘Django Unchained’ is Tarantino Unleashed. Luar biasa! (dan)

django11

~ by danieldokter on February 13, 2013.

One Response to “DJANGO UNCHAINED : TARANTINO UNLEASHED”

  1. […] Waltz – DJANGO UNCHAINED […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: