RECTOVERSO : A PHILOSOPHY OF HEARTS

RECTOVERSO

Sutradara : Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia, Happy Salma

Produksi : Keana Production & Communication, 2013

RV14

            WhyRectoverso’? Mungkin karena satu sisi, tak akan pernah lengkap. Dan itu juga mungkin yang jadi alasan seorang Dewi Lestari, better known as Dee, merilis karya hybrid sesuai dengan profesinya di dunia entertainment selama ini. Penulis, dan musisi. With each as a companion to other, ‘Rectoverso’ hadir sebagai album dan novel antologi yang masing-masing berisi 11 lagu dan kisah dengan konsep kontradiksinya. Cinta Yang Tak Terucap.

Rv20

     Then comes the movie adaptation, buat peringatan Valentine’s Day tahun ini, yang mengambil 5 dari 11 segmen itu, dengan kelimanya disutradarai oleh wanita sebagai karakter yang mendominasi karya aslinya. Ada Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia dan Happy Salma yang menyajikannya ke dalam bentuk omnibus. Tapi ini bukan omnibus biasa. Seperti ‘Kuldesak’ dan ‘Dilema’, 5 omnibus itu di-interwoven ke dalam sebuah gambaran yang membentuk benang merahnya. Ini adalah sebuah kecenderungan unik yang masih jarang-jarang disentuh sinema luar. Meramu omnibus dengan unsur hyperlink meskipun bukan punya hubungan di karakter-karakternya, but note this. Even with the same crew, treatment dari sutradara beda, pasti membuat tingkat kesulitannya semakin tinggi buat diaduk bersama-sama. Yang jelas, ini adalah lagi sebuah pengalaman berbeda dalam melengkapi hybrid novel dan albumnya, yang sudah menelurkan beberapa karya terbaik yang pernah ditulis DeeNow let’s go to each segments.

MALAIKAT JUGA TAHU

RV11

            Di tengah autisme-nya, Abang (Lukman Sardi) yang mengurus kost-kostan milik Bunda-nya (Dewi Irawan) diam-diam menyimpan rasa pada Leia (Prisia Nasution), salah satu anak kost yang memberinya perhatian lebih. Namun kehadiran Han (Marcell Domits), adik Abang yang mencuri hati Leia, membuat kekhawatiran Bunda selama ini memuncak. Dan taruhannya adalah hati Abang.

RV7

            Lewat skrip Ve Handojo, Marcella Zalianty mengantarkan segmen paling memikat dari keseluruhannya. Bukan saja karena lagu itu, yang dalam film ini menghadirkan versi Glenn Fredly, memang kelewat monumental, one of the greatest Indonesian lovesongs ever written, tapi lebih dari itu, karakter remarkable Lukman Sardi sebagai penderita autisme dari videoklipnya, akhirnya mendapatkan kisahnya lewat visual lebih. Dan Lukman, dalam penampilan terbaik di sepanjang karirnya,  memainkan karakter Abang dengan kecermatan pendalaman yang luarbiasa. Dengan simbol-simbol dan akting luarbiasa itu, we’ll feel him, understand him and even hurt for him. Jangan lupakan juga penampilan Prisia Nasution dan mostly, Dewi Irawan, dalam interaksi akting yang dengan dahsyat meluluhlantakkan hati semua penontonnya di scene-scene akhir segmen ini. A very, very, heartbreaking one.

FIRASAT

RV10

            Sebuah trauma membuat Senja (Asmirandah) bergabung dalam Premonition Club dibawah bimbingan Panca (Dwi Sasono), lelaki kharismatik yang memiliki ketajaman intuisi seperti dirinya. Bersama anggota lainnya mereka berkumpul tiap minggu untuk berbagi cerita dan menelusuri pertanda, hingga hubungan mereka mencuat dibalik suatu firasat buruk dengan rencana kepergian Panca mengunjungi ibunya yang sakit.

RV9

            Sebuah kisah unik dibalik lagu yang juga sama uniknya. Bahwa firasat tak pernah berbohong buat orang-orang yang kita cintai. Skrip Indra Herlambang dalam penyutradaraan Rachel Maryam ini mungkin tak terlalu spesial, tapi Asmirandah dan Dwi Sasono bermain dalam chemistry yang cukup baik, dan ada penampilan Widyawati disini. Twist di ending-nya juga muncul dengan tone heartbreaking yang cukup kuat.

CURHAT BUAT SAHABAT

RV4

            Love doesn’t come until you realize it. Sebuah kisah tentang Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo) yang terbentang panjang dengan sebuah pengertian cinta paling simpel. Bahwa pilihan, terkadang membuat kita salah membaca sebuah ketulusan hati, hingga semuanya sudah terlambat.

RV3

            A runner-up between all segments. Dari sutradara Olga Lydia dan skrip Ilya Sigma – Priesnanda Dwi Satria, segmen ini begitu bersinar dengan penampilan lepas Acha Septriasa dan dukungan Indra Birowo. Flashback-flashback, love symbols-nya, dan theme song yang dinyanyikan Acha Septriasa bersama penampilan khusus Tohpati bergulir menarik mengantarkan tema miris dan menyentuh tentang sebuah ketulusan hati bernama cinta. Satu yang mungkin paling sering dialami banyak orang.

CICAK DI DINDING

RV5

            Di sebuah bar, seorang pelukis muda introvert, Taja (Yama Carlos) bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), wanita free-spirit dengan tato cicak yang merubah hari-harinya. Namun lantas Saras pergi begitu saja dari kehidupan Taja hingga pertemuan mereka kembali membuat Taja menyadari pencariannya selama ini.

RV18

            Dari Cathy Sharon dan skrip Ve Handojo, ‘Cicak Di Dinding’ tampil secantik latar tema lukisannya. Comeback Sophia Latjuba terasa fresh dibalik karakterisasi yang pas, Yama Carlos dan Tio Pakusadewo ikut memberi warna bersama cameo ke-5 sutradaranya plus Julie Estelle, tapi yang paling menarik adalah simbol cicak dan theme song unik dari Dira Sugandi untuk menjelaskan tema lust and love dalam segmennya. Cantik!

HANYA ISYARAT

RV15

            Di suatu malam, lima orang backpackers (Fauzi Baadila, Rangga Djoned, Hamish Daud, Kims & Amanda Soekasah) yang berkumpul di sebuah pantai mengadakan permainan kecil. Semua punya latar berbeda yang mengantarkan mereka ke hobi itu, namun ada sebuah kisah isyarat yang tak pernah bisa terbaca. Cinta yang juga tak pernah bisa terbalas.

RV16

            Penyutradaraan Happy Salma dan skrip dari Key Mangunsong bergulir puitis di segmen yang juga punya simbolisme sangat poetical ini. Dari dialog ngalor ngidul penuh metafora hingga ke konklusi akhirnya yang cukup hurtful, ‘Hanya Isyarat’ juga bisa jadi menarik. Amanda Soekasah dan Hamish Daud muncul jadi pencuri perhatian yang memikat disini, bersama theme song berjudul sama dari Drew.

            Ok. I could easily say, bahwa dalam treatment omnibus yang melengkapi antologi hybrid karya Dee, di tangan lima sutradara wanita ini, ‘Rectoverso’ adalah sebuah kesuksesan. Bahwa mereka bisa membaca makna mendalam dari tiap filosofi sisi-sisi hati dalam kisahnya, dengan visualisasi dibalik kerja sinematografi Yadi Sugandi yang cantiknya bukan main, itu hebat. Ensemble cast-nya tak main-main, soundtrack-nya se-menawan lagu-lagu yang ditulis Dee, scoring dari Ricky Lionardi juga membawa emosi dan hampir setiap segmen punya kelebihan dalam tiap sentuhannya yang berbeda.

RV19

          Namun yang paling layak mendapat kredit teknis adalah editing dari Cesa David Lukmansyah dan Ryan Purwoko dalam meracik interwave omnibus ini dengan kontinuitas yang rapi di tiap perpindahan adegannya. Lebih dari sebuah omnibus biasanya, penyatuan penggalan-penggalan segmen ini mampu mengantarkan kita lebih dalam ke sebuah heartbreaking experience yang sangat menyentuh. You’ll fall in love and even cry with it, hingga scene-scene ending tiap segmennya bergantian menggempur kita dengan twist berisi konklusi tentang hati dibalik penempatan lagu-lagu yang diakhiri dengan ‘Firasat’ versi Raisa di guliran end credits-nya. Then trust me, you’ll be on your verge of breaking down. Now see it with hearts, agar maknanya kian terasa. Dan Malaikat pun akan tahu, bahwa ‘Rectoverso’ itu cemerlang, rupawan, juga juara! (dan)

~ by danieldokter on February 17, 2013.

6 Responses to “RECTOVERSO : A PHILOSOPHY OF HEARTS”

  1. boleh minta tanggapannya kang? siapa contek siapa? http://www.mylifetime.com/movies/five

    • Jelas beda. Film Five tentang kanker. Rectoverso tentang Cinta Tak Terucap. Kalo omnibus mah ya filmnya bisa ada 3 cerita, 4 bahkan 5 atau lebih.
      Dan kalo sutradaranya cewek semua tuh mah bukan kesamaan.
      Kalo contek tu 100% sama. Contoh anak sekolah ujian tapi copas. IMO

    • Nope, cuma teaser posternya aja. Ga ada kemiripan lain dan wajar aja dlm ngambil template poster yg udh lazim berisikan characters in pose spt ini. Not guilty🙂

  2. saya belum bisa menyanggah kalo dari cerita. karena dua-duanya belum saya liat.🙂
    tapi untuk poster itu saya bisa pastikan ada salah satu yang terinspirasi. hal yang normal. lazim.🙂

  3. Firasat! yang lebih saya suka😀

  4. […]  8.      RECTOVERSO […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: