LINCOLN : THE LONG HARD JOURNEY ON THE HISTORY OF HUMAN RIGHTS

LINCOLN

Sutradara : Steven Spielberg

Produksi : DreamWorks Studios, Reliance Entertainment, Amblin Entertainment, The Kennedy/Marshall Company, Touchstone Pictures, 20th Century Fox, 2012

L12

            Hollywood has produced many biopics. But they missed one area. Their own presidents. Bukan selama ini tak banyak biopik tentang Presiden mereka. Namun kebanyakan yang diangkat adalah sebuah kontradiksi. If not politics, love affairs, mereka membahas kisah sejati dibalik tindakan dan kebijakan yang justru rata-rata antagonis untuk membangun dramatisasinya. Padahal, ada sisi baik yang layak mereka angkat dari nama-nama pemimpin terbaik mereka dengan sejarah besar yang digoreskannya, ketimbang melulu bicara kontroversi. One name, JFK, sudah dilarikan Oliver Stone pada sebuah whodunit courtroom drama instead a biopic. So now that Spielberg aim Lincoln, ini tentu jadi sesuatu yang beda. Biopik ‘Abraham Lincoln’ sendiri sudah pernah dibesut tahun 1930 oleh sutradara D.W. Griffith, and it’s been totally a long time ago. Lincoln memang bukan founding father mereka, tapi jasanya meneruskan legacy konstitusi terhadap Declaration Of Independence, that all men created equal, dengan amandemen penghapusan perbudakan, sudah membuat sosoknya tak kalah dengan itu.

L1

            However, Spielberg juga tak mau begitu saja menuangkan biopik ke keseluruhan kehidupan Lincoln. More to a courtroom drama, tapi dalam poin terpenting yang dimiliki Lincoln dalam perdebatan panjang perjuangan menghapuskan perbudakan. Spielberg memilih pendekatan historical drama tanpa menghilangkan faktor biopic-nya sama sekali. And no, ini juga bukan menyorot  perang konfederasi dengan taraf kolosal ala ‘Saving Private Ryan’, if you did hope so.  Sejak jauh-jauh hari, yang paling menarik perhatian tentunya adalah pemilihan Daniel Day-Lewis untuk memerankan Lincoln. Tanpa foto press release perdananya pun, walau kita semua tahu Day-Lewis bukan American actor, ia punya shape sempurna buat menokohkan Presiden ke-16 Amerika Serikat itu. So here it is, diangkat dari bagian biografi Lincoln karya Doris Kearns Goodwin, ‘Team Of Rivals : The Political Genius Of Abraham Lincoln’ yang berfokus ke perjuangan Lincoln memenangkan suara ‘Amandemen ke-13’ Konstitusi Amerika Serikat oleh House Of Representatives mereka di Januari 1865, oleh penulis ‘Munich’, Tony Kushner, ‘Lincoln’ adalah saingan terberat ‘Argo’ dalam Academy Awards tahun ini, sekaligus melampauinya dengan perolehan nominasi terbanyak, total 12 nominasi yang memang pantas didapatkannya. Jangan lupakan juga, ia mencetak perolehan box office yang tergolong besar untuk film-film nominee Oscar.

L3

            Dibawah pertentangan dari banyak pihak, Presiden Abraham Lincoln (Daniel Day-Lewis) dilanda kekhawatiran bahwa menjelang berakhirnya Perang Sipil, Proklamasi Emansipasi yang disahkannya dua tahun sebelumnya, yang membebaskan budak untuk tak kembali ke Utara tak akan bisa dijalankan atas keadaan saat itu. Ia percaya, bahwa satu-satunya cara adalah dengan menghapuskan perbudakan melalui Amandemen ke-13 yang juga  belum tentu semudah itu diloloskan oleh Kongres/Dewan Perwakilan Rakyat. Ditentang oleh negara-negara bagian Selatan, suara dari Partai Republik juga terbelah menjadi dua antara kubu radikal yang mendukung sementara konservatif menolak. Harapannya ada pada founder Partai Republik Francis Preston Blair (Hal Holbrook) dari kubu konservatif untuk mempengaruhi anggotanya mendukung amandemen itu, dengan imbalan meminta Lincoln mau melakukan negosiasi perdamaian terhadap pemerintahan Konfederasi, serta Thaddeus Stevens (Tommy Lee Jones), wakil kubu radikal Partai Republik di Kongres. Selain itu Lincoln juga masih membutuhkan suara dari Partai Demokrat, namun kekalahan mereka dalam re-election tahun 1864 juga membuat ini usaha ini berjalan sulit. Walau begitu, Lincoln bersama Sekretaris Negara sekaligus orang kepercayaannya, William Seward (David Straithairn), tak menyerah dan terus melakukan negosiasi termasuk lewat usaha Seward membentuk tim pelobi W.N. Bilbo (James Spader), Richard Schell (Tim Blake Nelson) dan Kol. Robert Latham (John Hawkes) dari Republik yang bekerja dengan cara mereka masing-masing. Istri Lincoln, Mary Todd (Sally Field) juga terus mendukung perjuangan sang suami di tengah trauma kehilangan anak bungsu mereka akibat sakit. Proses perdebatan ini berlangsung panjang diwarnai perkembangan Civil War yang kian menyulitkan usaha Lincoln, belum lagi mulai banyak pihak termasuk dari Kongres sendiri yang meminta penangguhannya. Tapi Lincoln tetap tak berhenti hingga akhirnya pengumpulan suara berhasil mensahkan Amandemen tersebut. Perbudakan dihapuskan, namun tak lama kemudian, Presiden Lincoln menjadi korban penembakan saat menyaksikan sebuah opera. Though so, sebuah tahapan panjang yang merubah wajah emansipasi antar ras dibalik penderitaan perbudakan, sudah berhasil dilalui lewat amandemen itu.

L4

            Being the highest acclaimed Spielberg’s movies in years after ‘Saving Private Ryan’, ‘Lincoln’ memang menunjukkan sebuah kesempurnaan penggarapan dalam taraf luarbiasa. Production design yang juara bersama production values lainnya termasuk tata rias dan kostum yang sama-sama memiliki kekuatan tak main-main, sinematografi Janusz Kaminski yang dipenuhi nuansa serba coklat memadukan lumpur, batu dan warna-warna kayu di sepanjang atmosfer filmnya yang kebanyakan ber-setting dari ruangan ke ruangan, sisi drama historikalnya tak pernah sekalipun jadi kedodoran. Tanpa harus menghadirkan adegan-adegan perang kolosal, semua aspeknya terasa begitu hidup, apalagi dengan score John Williams yang memang sangat pemilih tapi hampir tak pernah gagal bertengger di nominasi piala-piala bergengsi.

L7

            Dan skrip Tony Kushner memang menerjemahkan source tentang perjuangan panjang menuju pengesahan amandemen itu sungguh-sungguh jadi menarik. Orang-orang yang tak pernah mengenal betul sejarah Amerika mungkin akan sedikit kesulitan mengikuti plotnya, namun disinilah karakter-karakter yang jumlahnya segudang itu justru ditampilkan dalam detil-detil yang sangat membantu storytelling-nya tanpa jadi sekedar pajangan dan lepas tersia-sia. Kisah pribadi tentang keluarga Lincoln juga ikut memberi warna terhadap penekanan perjuangannya, sementara kebanyakan scene yang berfokus di perdebatan ala courtroom drama di-tackle Kushner dengan dialog-dialog cerdas dan informatif. Politik debat dan lobi-melobi itu justru jadi hadir luarbiasa menarik, kadang komikal dengan humor-humor kecil, namun intensitas ketegangannya begitu terasa di beberapa bagian.

L6

            Then the rest, but also above all, adalah star-studded cast-nya yang membentuk ensembel yang sangat kuat. Daniel Day-Lewis jelas paling bersinar memerankan Lincoln dari gestur dan intonasi suaranya. Di tour de force performance itu, sosok Lincoln tak lantas berubah menjadi superhero tapi menunjukkan keteguhan luarbiasa dibalik kerapuhannya sebagai manusia biasa sekaligus politisi yang terus sibuk menyusun strategi tanpa pernah menyerah. Sally Field sebagai pendampingnya juga menghadirkan powerhouse act bersama Tommy Lee Jones yang sudah cukup lama tak kelihatan sehebat ini. Masih ada juga James Spader yang bertransformasi secara komikal bersama Tim Blake Nelson dan John Hawkes yang masing-masing sangat mencuri perhatian lewat karakter mereka. And name the rest. Joseph Gordon-Levitt yang muncul dalam subplot konflik keluarga Lincoln sebagai putranya yang berambisi menjadi prajurit, Lee Pace, David Straithairn, Walton Goggins, Hal Holbrook, Jackie Earle Haley, termasuk tentara-tentara union yang tampil bak sebuah cameo tapi cukup memberi kesan dari Lukas Haas, Dane DeHaan, David Oleyowo dan Jared Harris. In each details, ensemble cast ini menjadi salah satu faktor terkuat dalam ‘Lincoln’.

L10

            So yes. If you asked me, yay or nay, it’s absolutely a yay. ‘Lincoln’, dibalik semua kesempurnaan sinematisnya, punya semua persyaratan untuk mendapatkan nominasi terbanyak sekaligus kesempatan besar untuk memenangkannya. Bukan hanya sekedar bagian singkat sebuah biopik, ini juga momentum besar dalam sejarah manusia. A long hard journey on the history of human rights yang sangat layak dihargai, tak peduli Anda bukan bagian dari bangsa yang memulai perjuangan itu. Lincoln may have soft voices, but the movie talks so loud about how one man can save a nation, and most of all, being a history comes alive, jarang-jarang sebuah sejarah bisa menjadi sehidup ini! (dan)

L8

~ by danieldokter on February 24, 2013.

One Response to “LINCOLN : THE LONG HARD JOURNEY ON THE HISTORY OF HUMAN RIGHTS”

  1. […] LINCOLN – Steven Spielberg and Kathleen Kennedy […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: