THE GRANDMASTER (一代宗师) : KUNG FU IN WONG KAR WAI’S MELANCHOLIA

THE GRANDMASTER (一代宗师)

Sutradara : Wong Kar-wai

Produksi : Block 2 Pictures, Sil-Metropole Organisation, Bona International Film Group, 2013

GM11

            It’s true. This long awaited movie is about Ip Man, a man we knew as the master of Wing-Chun kung fu and to others, Bruce Lee’s teacher. But note this. Ini adalah filmnya Wong Kar-wai yang lebih dikenal sebagai sineas arthouse. Seperti Terence Malick di Hollywood, film-film Kar-wai memerlukan keakraban dan pemahaman lebih dibalik visual art dan eksplorasi sinematiknya yang selalu cantik luarbiasa. Gaungnya yang terdengar sejak jauh-jauh hari hingga beberapa action sequence tampil ke press release-nya sedikit banyak membuat banyak orang bertanya. Visually it looks like Kar-wai, namun ia memang tak pernah teruji di genre martial arts. Bahkan ‘Ashes Of Time’ yang membahas tokoh-tokoh jawara kung fu tua dari wuxia Jin Yong hingga ke versi redux-nya yang beredar belakangan tak lebih dari sebuah perjalanan filosofi.

GM5

            Then note this again. Yuen Woo-ping, world’s most famous martial arts director and action choreographer, yang sentuhannya sudah kita lihat dari film-film yang mengantarkan Jackie Chan ke puncak karirnya sebagai bintang laga, Donnie Yen, Jet Li hingga ‘The Matrix’, ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’, ‘Kill Bill’ hingga ‘Kungfu Hustle’, memang jadi orang yang bertanggung jawab sebagai action director di adegan laga dengan visual khas-nya itu. Bahkan Tony Leung, Zhang Ziyi dan Chang Chen yang terlihat di dalamnya saja bisa dibuat beraksi setangguh martial arts hero, lengkap dengan penampilan Cung Le yang sudah dikenal sebagai MMA artist. More than that, ‘The Grandmaster’ juga diproduseri Ng See Yuen, produser legendaris yang sudah lama malang melintang di Shaw Brothers dan meng-internasional lewat film-film bujet kecil yang sebagian besarnya punya nafas action-oriented. Jadi ini bisa saja jadi film Kar-wai yang sedikit berbeda. Toh ia sebelumnya pernah melunak di ‘My Blueberry Nights’ yang normal-normal saja. Tapi apa benar seperti itu?

GM14

            At some parts, sama seperti ‘Ip Man‘-nya Donnie Yen versi Wilson Yip, ini juga sebuah biopik yang memuat kronologi kehidupan Ip Man dari awal karirnya di Foshan 1930 hingga hijrahnya ke Hong Kong pasca imperialisme Jepang, dengan beberapa flashback ke asal-usulnya. Adegan awal yang memunculkan martial arts rumbling Yuen Woo-ping secantik tetesan hujan dan percikan air dengan detil luarbiasa itu mengantarkan plot dimana Ip Man (Tony Leung) sebagai perwakilan dari Selatan setelah melalui serangkaian pertandingan harus menghadapi Gong Yutian (Wang Qingxiang), martial arts master dari Utara yang tengah mewariskan tahtanya pada Ma San (Zhang Jin) yang ambisius. Kemenangan Ip Man membuat Gong Er (Zhang Zhiyi), putri Yutian yang juga menyaksikan pertarungan dan tak bisa menerima kekalahan ayahnya menantang balik Ip Man demi kehormatan keluarga mereka. Ip Man mengalah demi filosofi sekaligus kekagumannya pada wanita muda ini, meneruskan hubungannya dengan Gong Er hingga perang bergejolak dan menempatkan Ip Man bersama istrinya, Cheung Wing-Sing (Song He-Kyo) dan anak mereka dalam penderitaan panjang. Di tengah gejolak itu pula, Ma San membunuh Yutian dan membuat Gong Er mengindahkan permintaan Yutian untuk mengejar Ma San demi membalaskan dendamnya. Meninggalkan keluarganya setelah dua anaknya menjadi korban kelaparan, Ip Man pindah ke Hong Kong untuk mengejar karirnya sebagai guru kung fu dan menghadapi lagi berbagai tantangan. Ia beberapa kali lagi bertemu dengan Gong Er yang akhirnya membuka perasaannya yang terpendam selama ini pada Ip Man, dibalik hubungan yang tak pernah jadi kenyataan.

GM6

            Yes, this is a biopic. Namun berbeda dengan pendekatan biasanya, Wong Kar-wai lagi-lagi memindahkan blueprint-nya pada sebuah kisah kasih tak sampai yang menampilkan detil-detil melankolis ala dia, full of soft lust and passionate gesture, only this time, dipenuhi metafora ke filosofi kung fu yang mungkin dirasakan Kar-wai ada dalam kisah hidup Ip Man saat menulis skripnya bersama Xu Hao-feng dan Zou Jing-zi. That your true love is your best opponent, dan hal-hal serupa lainnya dibalik ambisi-ambisi seorang grandmaster. So, ini tetaplah film Wong Kar-wai seperti biasanya, dengan visual-visual yang bergulir luarbiasa cantiknya dibalik pengarahan art serta desain kostum Tony Au dan William Chang, extraordinary cinematography dari Philippe Le Sourd dan deeply moving scores dari Shigeru Umebayashi. Dari shot-shot closeups ke obat nyamuk terbakar dan nyala api rokok, sentuhan-sentuhan tangan, detil-detil ekspresi hingga art accessories-nya, yang kadang bagi sebagian orang terasa eksperimental tanpa arah, but way beyond that, bekerja dalam eksplorasi emosi yang sangat dalam. Storytelling-nya pun sangat Kar-wai, maju mundur dan berbalik seenaknya, kadang malah lari dari koridornya dengan kemunculan karakter-karakter tak terjelaskan dalam final cut-nya, tapi tetap punya unsur penelusuran ide dalam sudut pandang-sudut pandang berbeda. Pendeknya, ‘The Grandmaster‘ tetap bertabur signature seorang Wong Kar-wai.

GM7

            Dan ada benarnya juga, hasil kerja Yuen Woo-ping membesut action sequences-nya yang visually stunning tapi tetap seru dengan koreografi-koreografi juara memang sangat membantu membuat ‘The Grandmaster’ sedikit terasa lebih ringan dari karya-karya Kar-wai lainnya, namun tetap dibatasi olehnya, terutama buat versi HK dan Cina yang entah mengapa, menghilangkan subplot penting dibalik karakter ‘RazormanYi Xiantian yang diperankan Chang Chen dengan keputusan yang juga terasa sangat kental dengan gayanya. Ketimbang menghilangkannya secara keseluruhan, Kar-Wai memilih tetap memasukkan sekuens-sekuens tak terjelaskan dibalik karakter Xiantian yang selain punya subplot lovestory dengan Gong Er, seharusnya adalah master Bagua kung fu dan punya hubungan misterius dengan imperialis Jepang, yang muncul melawan Ip Man dalam sebuah final showdown yang seru. However, scene-scene terbuang ini, termasuk extended scene Bruce Lee kecil,  kabarnya masuk ke versi international cut yang di-premiere-kan di Berlinale kemarin dan akan beredar luas beberapa bulan ke depan dengan distribusi The Weinstein Company dan Annapurna Pictures. That version could be a better one terutama bagi penonton yang tak akrab dengan penceritaan Kar-wai yang aneh dan juga lebih padat, walaupun kabarnya scoring Umebayashi diganti dengan komposisi Nathaniel Méchaly.

GM13

            Jadi begitulah. Ini adalah pilihan Wong Kar-wai dibalik status grandmaster di karya-karya arthouse-nya. Di satu sisi bisa jadi sangat mengecewakan banyak penonton awam, yang akhirnya hanya bisa menikmati action sequence Yuen Woo-ping, satu yang terindah dalam sejarah genre martial arts, bersama akting prima Tony Leung dan Zhang Zhiyi atau sekedar menikmati penampilan Song He-Kyo bersama Chang Chen yang cukup singkat. Bagi penggemar martial arts klasik, ada juga penampilan aktor Shaw Brothers pre-80s generation Lo Mang dan Chi Kuan-chun yang mungkin bisa sedikit membawa nostalgia dibalik fisik yang mungkin sudah sulit buat dikenali. Tapi untuk penonton yang lebih memahami style-nya Wong Kar-wai, don’t worry. Tanpa harus menunggu international cut-nya sekali pun, ini tetap adalah amazingly stylish treat yang luarbiasa cantiknya. Seperti blended-up biopik Ip Man dengan ‘In The Mood For Love’, this is Kung Fu in Wong Kar-wai’s Melancholia! (dan)

GM12

~ by danieldokter on February 24, 2013.

3 Responses to “THE GRANDMASTER (一代宗师) : KUNG FU IN WONG KAR WAI’S MELANCHOLIA”

  1. […] THE GRANDMASTER – Philippe Le Sourd […]

  2. […] THE GRANDMASTER – Philippe Le Sourd […]

  3. saya pusing nonton ini. pengambilan gambarnya terlalu dekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: